
Aku memfokuskan diri dan melakukan apa yang biasanya aku lakukan. Entah kenapa hari ini perasaanku begitu senang dan ceria, seolah beban yang ku tanggung selama ini, terangkat begitu saja ke udara.
Sama seperti saat-saat sebelumnya ketika melakukan pertemuan dua makhluk beda dunia, aku akan membuat tali aura ketika aku melepaskan peganganku pada keduanya. Tak ada yang berbeda dengan caranya. Aku hanya memperhatikan percakapan mereka berdua dan menjaga konsentrasi, supaya tidak membuyarkan semuanya. Semoga misi kali ini dapat berjalan dengan lancar, amin.
"Nak! Ini kamu?! Bay Ardanitara?! Anakku?" tanya ibu kak Bay histeris. Nada bicaranya tinggi, bukan marah tapi seperti kaget dan tak percaya lalu ingin memastikan yang sebenarnya.
"Nama aku memang Bay Ardanitara, tapi.... ibu aku bukan anda, jadi aku bukan anak anda" sahut pocong kak Bay. Air mata seketika luluh dari pelupuk mata ibu kak Bay, dia terduduk lemas menatap buntalan putih di hadapannya. Rasa takutnya sepertinya kalah dengan rasa rindunya, namun ketika bertemu dengan orang yang di rinduinya, malah harus dengan kondisi sudah beda alam dan tidak mengingat dirinya. Suami ibu kak Bay berjongkok, berusaha menenangkan istrinya sambil memapahnya berdiri.
"Dia nggak inget aku pah?! Gimana aku nggak sedih?" bentak ibu kak Bay kepada suaminya yang meminta dirinya untuk tenang dan membimbing ingatan pocong kak Bay perlahan-lahan. Ibu kak Bay kemudian memelankan suaranya ketika mengucapkan kalimat kedua, bahkan nyaris suara tersebut tidak dapat di dengar.
"Nak...kalau boleh om tahu, siapa nama orang yang sudah merawatmu?" tanya ayah kak Bay pelan, nada bicaranya lebih tenang dan lembut kepada pocong kak Bay.
"Anira Scartira dan Tino Handoyo" orang tua kak Bay tersentak dan menatap satu sama lain mendengar jawaban pocong kak Bay.
"Nira dan Tino?" tegas ibu kak Bay.
"Iya, apa kalian mengenali orang tuaku?" tanya pocong kak Bay.
"Mereka.... apa kamu masih ingat alamat rumahmu?" tanya ibu kak Bay. Apa yang akan di ucapkannya pada kalimat pertama?, sepertinya Nyonya Nira dan Tuan Tino adalah kawan dekat orang tua kak Bay. Itu hanyalah analisisku, tapi...siapa tahu itu benar.
"Masih. Tapi, letaknya sangat jauh dari sini, sekitar empat jam setengah lama perjalanan jika dari kota ini ke kota tempatku tinggal" ujar pocong kak Bay.
"Dimana itu?" tanya ayah kak Bay lagi.
"Komplek Daun Ijo. Untuk nomor rumahnya, aku sudah tidak hafal lagi, tapi aku masih hafal bentuk rumahnya dan pagar serta cat yang di gunakan" terang pocong kak Bay sedangkan ayah kak Bay langsung mengangguk-anggukan kepalanya.
"Sudah cukup nak Risa" ujar ayah kak Bay yang membuatku langsung menghentikan pertemuan ini. Setelah itu tubuhku terasa terhenyak sedikit kebelakang. Itu hal biasa yang kurasakan setelah melakukan pertemua dua dunia.
"Kita sudah dapatkan alamat Ardani. Kita harus segera ke sana sekarang" ujar ibu kak Bay.
"Maaf tante jika saya lancang, saya mau bertanya. Tadi, ada kata yang tidak di lanjutkan, itu maksudnya apa ya?" tanyaku heran. Akhirnya pertanyaan yang ku pendam sedari tadi, bocor juga ku tanyakan. Sepertinya lemku kurang kuat.
"Mereka berdua Anira Scartira dan Tino Handoyo adalah sahabat dan rekan kerja tante dulu, sebelum mereka berdua memutuskan untuk pindah kota setelah menikah" ujar ibu kak Bay. Benar kan analisisku bahwa mereka berdua pasti memilik hubungan dekat. Tapi, kata Zara ketika memiliki penglihatan saat menyentuh kalung pocong kak Bay. Pocong kak Bay meninggal karena di bunuh, jika dia meninggal karena di bunuh. Apa mungkin jika pembunuh yang mengenakan jubah tersebut adalah salah satu sahabat orang tua kak Bay yang di sebutkan tadi atau malah mereka berdua pelakunya. Jika iya, itu semua pasti sudah di rencanakan, tidak mungkin jika itu terjadi secara cepat dan tanpa pemikiran.
Tapi lagi, jika sahabat orang tua kak Bay yang ternyata membunuh pocong kak Bay, kenapa bisa pocong kak Bay terkafani. Atau jenazah pocong kak Bay di bawa oleh seseorang dan di kafani oleh orang tersebut ya?? Atau mungkin si pelaku mengkafani jenazah pocong kak Bay untuk menutupi kelakuan mereka?? Apa ya kira-kira motif si pelaku?? Keji sekali dia, ketika sudah membunuh dan berpura-pura sedih di hadapan umum untuk menutupi apa yang sudah di perbuat.
"Tapi, karena kesalahpahaman. Persahabatan kita hancur, gelang yang aku berikan sebagai hadiah hari jadi persahabatan kita dan pernikahannya. Di bakarnya di sebuah tong yang sedang asik melahap daun-daun kering di dalam tong, dia melakukannya tepat di hadapanku sambil berkata bahwa dia akan menghancurkan kehidupanku melalui anak-anakku" lanjut ibu kak Bay, tatapannya berubah sendu dan sedih. Mungkin mengingat memori kelam di masa lalu yang masih menjadi duri untuk sekarang.
"Hingga suatu hari saat kami sekeluarga pergi berlibur ke kota sebelah. Bay Adanitara, terpisah dari kami dan hilang. Bertahun-tahun lamanya pencarian di lakukan, namun hasilnya nihil. Hingga para polisi menyerah untuk mengusut siapa yang sudah menculik Ardani" ibu kak Bay mulai terisak dan sesegukan di pelukan suaminya.
"Beberapa waktu yang lalu, saat teman saya menyentuh kalung di leher pocong kak Bay. Dia mendapat penglihatan sekilas tentang kejadian yang membuat pocong kak Bay meninggal. Apa om dan tante melihat kalung di leher pocong kak Bay tadi?" tanyaku. Mereka berdua mengangguk cepat.
"Apa.. apa yang menyebabkan Ardani meninggal?" sergah ibu kak Bay.
"Di bunuh, pocong kak Bay meninggal karena di bunuh oleh seseorang. Orang tersebut mengenakan jubah hitam yang menutupi wajahnya" lanjutku.
"Apa mungkin jika sahabat tante yang melakukannya? Dan dalang di balik penculikan beberapa tahun yang lalu juga dia?" terka ibu kak Bay. Aku menggeleng, karena belum memiliki kepastian dengan semua ini.
"Kita harus menyelidikinya dan menyelesaikan kasus ini secepat mungkin" ujar ibu kak Bay yang segera kami semua anggukan.
"Kalau begitu, mari! Sekarang juga! Kita pergi ke kota tempat tinggal Nira dan Tino!" seru ayah kak Bay dengan berapi-api dan semangat yang menggebu-gebu.
"Alamatnya di mana om?" tanya kak Ang dan Zara bersamaan. Wajar saja si, selaku supir, jika tidak tahu alamat yang di tuju pasti dia akan bertanya. Walaupun bisa mengikuti laju kendaraan ayah kak Bay, tapi jika sedang ramai dan tiba-tiba mobil ayah kak Bay hilang dari pandangan, kan gawat. Kalau seandainya sang supir sudah tahu kemana akan pergi, walaupun mobil ayah kak Bay hilang dari pandangan. Sang supir masih tetap bisa melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan. Kecuali, kalo mobilnya ayah kak Bay dipasangi GPS.
"Emang kamu nggak denger tadi saat pocong kak Bay ngomong alamat yang akan di tuju?" tanyaku.
"Emang dia ngomong apa?" tanya Zara balik sambil mengernyit penasaran.
"Ya aku nggak denger lah, aku kan nggak masuk lingkaran pertemuan" aku mengangguk tidak paham. Memangnya ada ya lingkaran pertemuan itu.
"Komplek Daun Ijo" ujar ayah kak Bay tepat saat aku akan bertanya tentang lingkaran pertemuan. Karena Zara mencegahku untuk bertanya tentang lingkaran pertemuan untuk saat ini, akhirnya aku memutuskan untuk bungkam sementara.
"Itu mah jauh banget, ada sekitar empat jam setengah, dari sini ke komplek Daun Ijo" keluh kak Anji.
"Kan yang nyupir bukan lo, kenapa lo ngeluh?" tanya kak Ang.
"Cape duduk gw, aura mobil lo nggak enak banget" keluh kak Anji dengan sedikit memelankan suaranya dan menempel pada kak Ang. Aku hampir tertawa di buatnya, bagaimana mau enak aura mobil kak Ang ketika ada empat lelaki indigo team. Wisnu dan Adam saja aura dingin nya sudah terasa di cuaca panas.
"Ya gitu nggak enak banget, kaya lagi di awasin. Ah tau ah pokoknya gitu" sahut kak Anji. Tatapan 2R.W.A memang cenderung transparan, atau hanya bisa di lihat jika diamati dengan jelas. Tapi bukan hanya 2R.W.A saja yang memiliki tatapan seperti itu. Zara, Ais, dan Glen juga memilikinya, tapi tidak denganku. Kata mereka, tatapanku itu cenderung ke ibuan dan lembut.
"Lo nanti nggak ikut mobil gw, tapi bareng sama Bay di mobil ayahnya" ujar kak Ang.
"Wahhhhh bersyukur banget gw. Alhamdulillah" sahut kak Anji senang, matanya berbinar layaknya seekor kucing yang mengejar sebuah mainan.
"Maaf ya kak Anji, teman-teman Risa sudah buat kak Anji nggak nyaman" ujarku penuh dengan rasa bersalah lalu menatap 2R.W.A dengan senyum manisku dan yang di micingkan. Sontak 2R.W.A yang melihatku menatapnya seperti itu, langsung mengubah pandangannya dan bergerak gligapan. Entah kenapa, anggota IT itu sangat takut dengan tatapanku yang seperti tadi, walaupun mereka takut akan tatapanku, tapi mereka suka sekali cari gara-gara denganku.
"Nggak.. nggak usah minta maaf. Nggak papa kok" sahut kak Anji.
"Ya sudah, mari sebelum hari semakin siang, kita mulai jalan saja sekarang" ujar ayah kak Bay.
"Memangnya kalau siang kenapa om? Kan pakai mobil, tidak akan kepanasan kan?" tanya Ais.
"Nanti kalau kita berangkatnya siang, pulangnya bakal malam. Katanya, kalau malam. Penghuni tol yang nanti akan kita lewati, suka mencari tumbal tepat pukul sembilan tiga puluh WIB".
"Owhh".
Setelah persiapan, kami semua memutuskan untuk langsung pergi menuju komplek Daun Ijo saat ini juga. Tak lupa, Raihan, Cinta, dan pocong kak Bay turut ikut serta, mereka mengikutiku kemanapun aku pergi. Mereka ku suruh duduk di bagasi dan menurut begitu saja. Tapi, salah satu dari mereka ada yang mbandel dan meminta sesuatu sebelum duduk di tempatnya. Ya... siapa lagi jika bukan Raihan, dia melihat gerobak penjual arum manis yang berukuran sangat besar menurutku. Ia merengek meminta arum manis bergambar doraemon yang di jajakan di sana.
Aku hanya bisa mengalah dan menuruti kemauannya. Aku dan Raihan berjalan menghampiri penjual arum manis tersebut setelah izin sebentar pada ayah kak Bay.
"Risaaa!! Aku beliin satu ya. Yang hello kitty!!" pekik Lala dari seberang. Aku mengangguk tanpa menjawab teriakannya.
"Doraemon sama hello kitty ini jadi berapa pak?" tanyaku sambil menunjuk dua arum manis yang akan di beli.
"Jadi delapan puluh ribu neng" aku merogoh tasku dan menyerahkan selembar uang seratus ribuan. Bapak tersebut menerimanya, kemudian menyerahkan kembaliannya bersama dua arum manis berukuran besar.
"Tolong pegang dulu pak, saya mau masukin uang ini" pintaku. Setelah uang tersebut masuk ke tasku. Aku mengambil arum manis yang di pegang bapak penjual arum manis tersebut dan mengucapkan terima kasih kemudian melenggang pergi.
"Katanya setiap hari Senin aja, makan arum manisnya" aku menatap Raihan yang menatap senang pada arum manis yang ku pegang.
"Ini kan hari Senin".
"Ini hari Selasa Raihan, bukan Senin".
"Bagiku, setiap hari itu hari senin".
Sesampainya di depan Lala. Aku kemudian menyerahkan pesanannya dan menyuruh Raihan masuk ke bagasi.
"Tembus aja lah!. Lo kan setan, manja banget sih!" bentak Glen pada Raihan yang memintaku untuk membuka bagasi.
"Brisik kamu!" sahut Raihan tak kalah membentak, bahkan suaranya terdengar lebih keras di telinga kami yang bisa merasakannya.
"Udah... udah... jangan berisik" aku berjalan menghampiri bagasi mobil milik Zara dan membukanya kemudian menyuruh Raihan untuk masuk. Ternyata Cinta dan pocong kak Bay sedang tertidur di sana, setelah Raihan masuk aku kemudian menutup bagasi mobil.
"Ini berapaan Ris?" tanya Lala sambil mengarahkan arum manis hello kitty nya.
"Empat puluh ribu" Lala kemudian merogoh tasnya dan menyerahkan selembar uang lima puluh ribu.
"Ganti yang beli cilok sama arum manis ini. Makasih ya" aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih kembali kemudian meletakkan uang tersebut di tas.
"Kita sudah di tungguin nona-nona, boleh masuk dan duduk tenang?" ujar Zara layaknya seorang dayang pada putrinya.
"Oh tentu yang" sahutku kemudian masuk diikuti yang lain. Setelah itu Zara memundurkan mobilnya di susul dua mobil yang lain. Nantinya, mobil Zara akan mengikuti dari paling belakang. Zara juga sudah memasang GPS pada bagian tertentu mobil ayah kak Bay dan juga kak Ang.
.
.
2R.W.A adalah sebutan dari anggota IT perempuan untuk anggota IT laki-laki. 2R.W.A berarti 2R : Rayyen dan Reza, W : Wisnu, A : Adam. Sedangkan titik di sebutan tersebut, di jadikan sebagai pengganti angka satu.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.