INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Poci baru di rumah Risa (Season 1)



Happy Reading...!!!


Kami semua sama-sama terdiam termasuk Cinta, namun hanya suaranya saja yang diam tidak dengan tingkahnya. Di diamnya aku, Ais, dan Glen yang berfikir tentang ceritanya tadi ia malah terdiam sambil memperhatikkan kami dan sesekali menjulingkan matanya, menggigiti kukunya, memainkan rambutnya dan tak lupa mengacak-ngacak meja belajarku. Akibat ulahnya konsentrasi kita bertiga menjadi hancur seketika.


"Cinta diamlah!" pintaku geram, namun dia hanya acuh tak acuh sambil melanjutkan kegiatannya.


"Huhhh.. Pusing." keluh Ais. Aku langsung panik ketika mendengar keluhannya.


"Kamu pusing? Bagian mana yang pusing? Cinta! Ada obat pusing nggak?" tanyaku bertubi-tubi saking paniknya. Bagaimana jika pusing Ais berlanjut dan dia pingsan, lalu aku dimarahi oleh Ibu. Oh.. No.. Jangan sampai.


"Apaan sih Ris? Aku cuma butuh istirahat aja, nanti tidur pasti mendingan." sahutnya lalu naik kekasur dan merebahkan tubuhnya. Di susul Glen kemudian.


"Ehh... Kalian udah ngomong belum sama orang tua di rumah, kalau kalian nginep di sini?" tanyaku sambil menghadap mereka berdua.


"Sudah." sahut Ais dan Glen.


"Aku pergi dulu ya!" pekik Cinta lalu pergi dengan membuka pintu kamarku.


"Kenapa juga dia harus buka pintu kalau nembus aja dia bisa." gumamku lalu beranjak untuk menutup pintu, mematikan lampu dan menyusul Ais serta Glen yang sudah terlelap.


...----------------...


Aku menggeliat di atas kasur sambil mengucek mataku. Jam berapa ya? Aku beranjak usai menyadarkan diri untuk melihat pukul berapa sekarang. Jam enam? Jam enam?!! Aku kalang kabut mencari handuk lalu pergi mandi. Selesai mandi aku segera memakai seragam lengkapku karena tidak sedang ingin di hukum.


"Ais sama Glen kemana ya? Baru sadar aku." aku keluar kamar sambil membawa tas sekolahku yang di tautkan ke pundak kiri.


Aku menuruni satu demi satu anak tangga sambil celingak-celinguk mencari Ais dan Glen. Jangan-jangan mereka punya jurus menghilang atau menyamar seperti benda?


Dorr!!!


"Whuaaa... Mati!! Pocong lewat." aku terkejut bukan main karena tiba-tiba ada sosok pocong yang lewat di depan anak tangga terakhir.


"Hahahahaha emang ya anak indigo itu latahnya suka nyeremin." tawa kak Anggres sambil berjalan menyalipku.


"Siapa yang ngelatah si? Orang tadi aku kaget tiba-tiba liat pocong loncat-loncat di depan situ." sahutku membuat kak Anggres tiba-tiba diam. Ia menoleh kearahku.


"Kenapa?" tanyaku heran.


"Pocong?" aku mengangguk.


"Itu pocong yang kemaren di kasih liat keayah bukan?" tanyanya. Aku berfikir sebentar.


"Bukan." sahutku mantap "Soalnya kalo yang tadi Risa liat, itu pocong kain putihnya masih bersih kalo yang kemarin di kasih liat keayah, 'kan dah banyak bagian yang kotor karena terus-terusan kena tanah kalo dia jatuh." tambahku. Kak Anggres seketika bergidik dan berjalan cepat menuruni tangga.


"Awas jatuh!" ucapku memperingati akan tetapi setelah aku selesai berucap kak Anggres tiba-tiba terjatuh tersungkur. Aku menatapnya. Dia terjatuh bukan karena jalan cepet melainkan kesrimpet.


"Kak!! Kakak nggak papa?!" tanyaku panik sambil berlari kearahnya dan membantunya berdiri.


"Nggak papa gimana? Kamu gak liat ini hidung Kakak sampe berdarah!" sahutnya kesal.


"Kok kakak bisa jatuh padahal Kakak jalannya liat-liat kok, walaupun tadi cepet tapi masih di perhatiin." tanyanya sambil menengok kearah kakinya yang menginjak kain milik Cinta.


"Tadi kakak kesrimpet kainnya Cinta, hahaha." sahutku lalu tertawa.


"Aduhhh.." rintih Cinta sambil memegangi pantatnya.


"Satu.." Kak Anggres mulai berhitung membuat Cinta bertambah panik.


"Satu setengah.."


"Dua..."


"Kak! Kalo kakak mau lewat tinggal lewat aja, gak bakal nabrak kok." sergahku.


"Owhh.. Begitu ya?" tanya kak Anggres, aku mengangguk. Ia lalu berjalan dengan berjingkit-jingkit sambil tengak-tengok.


"Aman Kak." Kak Anggres pun kembali berjalan seperti biasa.


"Huwaaaa... Kak Risa... Pantat Cinta sakit nih." rengek Cinta, aku hanya menggeleng dan membantunya berdiri.


"Ehh.. Cin masa tadi aku liat pocong baru di sini. Dia lompat-lompat kearah halaman depan, tapi kain putihnya masih bersih."


"Owh.. Dia namanya Kak Bay, dia poci baru. Baru mati kemarin. Aku ketemu sama dia di depan pagar, katanya dia lagi bingung mau kemana jadinya aku ajak dia aja buat nginep sementara di sini sampai urusannya selesai. Tapi dia maunya di pohon rambutan depan sana, katanya di berbagai pohon rambutan yang ia temui itu akan memberikan memori masa lalunya." terangnya.


"Wehhh.. Tapi kamu sembarangan dong Cin kalo begitu, masa kamu main ajak poci baru kenal buat tinggal di sini. Nanti tambah banyak hantu-hantu di sini." keluhku. Dia hanya cengengesan dan pamit pergi menemui kawan baru sebangsanya.


Aku melihat Ibu dan Ayah keluar dari kamar dan menuju meja makan.


"Bu! Yah!" pekikku. Mereka berdua saling pandang dan menghampiriku.


"Ada apa?" tanya ibu.


"Lihat Ais sama Glen nggak?" tanyaku, mereka berdua menggeleng.


"Ada apa lo cariin kita?" tanya Glen tiba-tiba dari dapur. Di tangannya ia membawa sebuah mangkuk besar berisi nasi goreng.


"Dari mana aja kamu?" tanyaku sambil berjalan kearahnya di ikuti Ibu dan Ayah.


"Bantuin nenek masak bareng Ais." sahutnya santai sambil meletakkan wadah tersebut keatas meja. Yang d isalah satu kursinya sudah di duduki Kak Anggres.


"Kamu sama Ais udah mandi?" tanyaku, Glen mengangguk.


"Nanti kita pulang dulu dan berangkat kesekolah nyusul." sahutnya.


"Nggak usah nyusul, kita bareng aja, Kak Anggres anter!" pekikku lalu goyang-goyang senang.


"Ehh masa-" ucapku terpotong.


"Lo mau kasih tahu tentang poci baru? Kalo emang itu gw udah tahu. Bahkan gw udah kenalan sama dia, namanya Bay." sergah Glen.


"Bay?" gumam Kak Anggres. Kami semua menoleh kearahnya.


Bersambung...