INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Dinner dengan Adam (Season 1)



"Ditutup mulutnya nek, kak. Nanti lalat nya pada masuk lhoh" ucapku sedikit terkekeh kaku.


"Cucu tomboy nenek diajak dinner? Ini yang ngajak dinner seriusan?" tanya nenek.


"Entahlah, Adam yang ngajak" aku mengendikan bahu.


"Adam Yananda? Sahabat di Indigo Team?" tanya kak Ang. Aku mengangguk.


"Jangan-jangan dia suka sama kamu" ucap nenek dan kak Ang bersamaan setelah saling pandang.


"Terus gimana nek, kak?" tanyaku panik plus heboh.


"Ya biasa aja si, kan cuma makan malam, bedannya sama orang yang bikin jantungan. Udah.. tenang aja, nggak papa. Kalau dia macem-macem, pakai aja jurus silat yang diajari disekolah" ucap nenek sambil memeragakan gerakan-gerakan yang tidak diajarkan diekstra silat.


"Ya udah, nek, kak. Nanti kalau ada orang bilang ngirim paket baju, Risa bangunin ya. Risa mau istirahat sebentar" nenek dan kak Ang mengangguk. Aku lantas pergi ke kamar untuk beristirahat sebentar.


Sepertinya belum lama aku terlelap, aku sudah dibangunkan oleh nenek. Ia membawa sebuah kotak dengan pita hitam diatasnya. Nenek lalu keluar setelah menaruh kotak tersebut disampingku.


Aku yang perlahan mulai sadar, beranjak dan membuka kotak tersebut. Aku melihat sebuah dress hitam dengan high heales senada dengan bajunya, sebuah bandana dan tas selempang hitam yang memiliki magnet bergambar mawar putih untuk membukanya serta rante kecil yang menjadi talinya .


Aku terpana melihat outfit tersebut dan bergegas mandi. Selesai mandi, aku segera memakai drees, high heales, dan bandana tersebut lalu berkaca didepan kaca. Aku mengambil botol parfum kaca milikku dan menyemprotkannya ke beberapa bagian.


Selesai berkaca, aku keluar dan turun dari kamar. Nenek dan kak Ang yang sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton tv terpana melihatku.


"Ini Risa?" tanya nenek.


"Iya Risa nek".


Tin...!! Tin...!!


Aku mengernyit mendengar suara klakson mobil diluar rumah. Aku segera berlari membuka pintu untuk melihat mobil tersebut. Aku terkejut, saat melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam terparkir didepan pagar. Seseorang didalam mobil tersebut keluar dengan gagahnya.


"A-Adam?" ia menghampiriku dan memberikan sebuah buket bunga mawar putih dan coklat yang diberi pita dibawahnya. Aku menerimanya dengan tangan yang gemetaran.


"Udah siap?" tanya nya. Aku mengangguk kaku.


"Owh.... ini yang namanya Adam, ganteng banget kamu nak" suara nenek terdengar begitu dekat denganku. Saat aku putar tubuh, aku melihat nenek sedang berdiri dengan kak Ang disamping di belakangku.


"Berangkat gih, keburu malam. Sebelum jam sepuluh sudah harus pulang ya" ingat nenek.


Aku menyalami tangannya dan juga kak Ang, Adam mengikuti gerakanku.


"Gw titip Risa, jaga baik-baik dia. Kalau sampai-"


"Iya kak, Adam akan berusaha untuk menjaga Risa. Kakak tenang aja. Kami berangkat dulu" kak Ang tersenyum mendengat tuturan Adam.


"Bagus!"


"Iya nek, Risa berangkat dulu ya. Assalamualaikum" aku berjalan mendahului Adam dan masuk ke mobil.


"Hati-hati!" seru nenek diteras. Sebelum mobil melaju, Adam memencet klaskon dua kali.


"Lo cantik banget Ris" puji Adam.


"Ucapan kamu kaya permen karet, manis di awal, pahit di akhir".


"Lo yakin akan itu?" aku menoleh.


"Yakin untuk saat ini".


"Kita mau kemana?" tanyaku sambil mengamati lampu-lampu yang menerangi jalan. Malam ini jalanan lumayan ramai.


"Ada lah" aku mendengus.


Lumayan lama mobil ini melaju, hingga akhirnya berhenti didepan sebuah restoran mewah.


Adam membuka-kan pintu untuk aku keluar. Ia menekuk tangannya membuat lubang ditengahnya. Tanganku memasuki lubang tersebut. Kami berjalan beriringan layaknya pasangan baru. Padahal aku dan Adam hanya sebatas sahabat.


"Dam! Apa ini nggak terlalu berlebihan?" bisikku merasa tak enak padanya.


"Enggak, santai aja".


"Tapi Da-"


"Enggak ada yang terlalu berlebihan jika itu untuk bersama wanita yang menghiasi hari-hari gw" Adam menyergah dengan menempelkan ujung jari telunjuknya di bibirku. Aku pasrah.


"Tuan Adam dan Nona Risa?" tanya salah seorang pegawai.


"Ya" sahut Adam singkat.


"Mari saya antar, ruangan anda ada di lantai dua" pegawai tersebut mulai berjalan dengan anggunnya membimbing kami berdua menuju lantai dua dan berhenti didepan sebuah pintu hitam yang bertuliskan "VVIP 01".


"Ini ruangannya Tuan, nona. Jika anda membutuhkan bantuan, anda bisa langsung menghubungi saya dengan telepon yang ada di salah satu sudut ruangan. Semoga anda puas dan menikmati pelayanan kami. Saya pergi dulu" Adam mengangguk. Pegawai tersebut lalu pergi. Adam membuka pintu dan menyuruhku untuk masuk terlebih dahulu setelah menutup mataku.


"Kenapa harus ditutup dulu si Dam? Kan aku jadi nggak bisa lihat" keluhku.


"Biar lo penasaran".


Adam terus membawaku entah kemana, sampai ia menyuruhku untuk berhenti dan saat itu juga aku merasakan sepoi-sepoi angin malam yang berderu lembut.


"Ha?" aku terpana melihat pemandangan malam ini. Malam ini kembang api dipusat kota sedang dinyalakan. Lampu-lampu dari berbagai bangunan menyatu menjadi satu, pepohonan yang tinggi dan bergoyang tersapu angin membuatku merasa nyaman dan betah ada disini.


"Suka?" tanya Adam sambil menarik kursi didepanku dan ikut duduk memperhatikan kota dari lantai dua restoran ini.


"Suka, suka banget Dam".


"Sebelumnya gw mau ngomong, kalo gw bakal ganti bahasa yang mulanya gw-elo jadi aku-kamu kalau kita sedang berdua" ucap Adam.


"Kenapa?".


"Biar lebih enak bicara sama kamu".


"Hahaha, ok ok".


Tok! Tok! Tok.


"Masuk!" seru Adam.


"Maaf mengganggu waktunya Tuan dan nona, saya hanya mengantarkan pesanan anda" pelayan tersebut menaruh tiga jenis makanan diatas meja.


"Terima kasih" ucapku. Pelayan tersebut mengangguk dan berlalu pergi.


"Suapan pertama dinner malam ini, dari aku" Adam menyendok spageti diatas piring dan menyuruhku untuk membuka mulut.


"Enak?" aku mengangguk sambil mengunyah.


"Sekarang giliran aku" aku memotong steak dan menyuapkannya pada Adam yang menerimanya dengan senang hati.


"Terima kasih untuk waktunya malam ini Ris, ini pasti akan menjadi salah satu kepingan bongkahan kebahagiaan kita yang belum terangkai" aku tertawa mendengar ucapannya yang menurutku terlalu manis atau lebay mungkin.


"Makan saja ya? Jangan kebanyakan ngomong yang manis-manis, perut aku laper" aku menyendokan spageti dan mengarahkannya pada mulut Adam, saat ia sudah membuka mulut dan siap menerima suapanku, aku membalikan arah sendok tersebut menjadi kepada diri sendiri dan memakan spageti yang ada diatasnya.


"Ihhh Risa" aku terkekeh melihat ekspresi kesalnya yang lucu bagiku.


"Ini bener" aku menyendokan spageti lagi dan menyuapkannya ke mulut Adam.


"Nasi gorengnya enak nggak ya?" gumamku sambil menyendok nasi goreng yang membentuk hati dan menyuapkannya kedalam mulutku.


"Pe-des! Minum! Minum!" aku geligapan mencari minum. Saat mataku sudah tertuju pada segelas minuman, aku segera mengambilnya, saat aku sudah memegang gelas tersebut Adam ikut memegangnya secara reflek. Ini bukan sengaja untuk menciptakan suasana romansa, tapi karena Adam juga ikut panik melihatku kepedasan. Aku tidak memedulikan pegangannya dan segera meminum air tersebut sampai rasa pedas ini mereda.


"Biasanya kamu tahan aja kalo makan yang pedes-pedes, ini kok geligapan?" heran Adam.


"Pedes banget, kamu coba aja sendiri" Adam mencoba nasi goreng tersebut, wajahnya seketika memerah. Ia mengambil air minum yang tadi diminum olehku secara reflek dan meminumnya hingga habis.


"Pedes" ucapnya.


Kami tertawa bersama. Kembang api dan cahaya lampu-lampu bangunan kota menjadi penambah suasana indah malam ini, di restoran ini. Aku mencetak kebahagiaan bersama lelaki yang sangat dingin di Indigo Team. Ah! Rasanya seperti mimpi.


Sesekali kami saling menyuapi dan tertawa, hembusan angin yang tadi terasa dingin kini sudah tidak lagi terasa karena perlakuan Adam yang membuat hangat.


"Aku sudah kenyang".


"Sama aku juga" sahut Adam. Kami berdua duduk santai terlebih dahulu sebelum pulang, menikmati kembang api yang meletus dan buyar diatas sana ditemani taburan bintang dan cahaya bulan yang hampir bulat sempurna.


"Aku udah ngantuk, pulang yuk" Adam mengangguk. Ia menggandeng tanganku mengajak keluar.


Sesampainya ditempat pegawai yang membimbing kami ke ruangan "VVIP 01" ia memberhentikan kami dan menyerahkan sebuah kotak berwarna hitam berukuran sedang. Aku menerimanya dan mengucapkan terima kasih lalu pergi bersama Adam.


"Coba buka, isinya apa" titah Adam, aku menurutinya dan membuka perlahan kotak tersebut.


"Bandana?" aku melihat sebuah bandana berwarna hitam yang memiliki beberapa berlian diatasnya. Cahaya dari lampu jalan membuatnya berkilau.


"Bandana itu aku kasih buat kamu, karena aku lihat kamu suka pakai bandana. Dan juga... aku berharap, bahwa berlian yang bersinar diatas warna hitam itu seolah aku yang hadir memberikan sinar terang yang menerangi hitamnya hidupmu" ucap Adam. Lagi-lagi aku kalut karena ucapannya.


"Pakai ya kalau mau pergi".


"Pasti! Makasih yah" seruku senang.


Perjalanan memakan waktu cukup lama. Sesampainya didepan rumah, aku segera masuk setelah pamit dan berterima kasih pada Adam. Sampai dikamar, aku menaruh kotak pemberian Adam dan berganti pakaian lalu bersih-bersih di kamar mandi kemudian pergi tidur.


Bersambung...


Si Adam kayaknya udah mulai jago bikin hati Risa kalut tak menentu dan berdebar setiap waktu saat bersama dengannya nih.


Do'a in ya, semoga Adam dan Risa dapat bersatu tanpa ada suatu halangan apapun seperti orang ketiga yang hadir dikehidupan mereka berdua.


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.


Terima kasih.


Baju yang dikenakan oleh Risa



Untuk high heales, bandana, dan tasnya. Itu senada ya. Warnanya hitam dan juga ada pernik-pernik hitamnya.