
Pov Author.
"Masuk" ucap Risa ketika teman-teman nya malah berhenti didepan pintu masuk.
"Diluar aja aura hantu nya udah kerasa banget" ucap Lala.
"Sok-sok an lu bahas aura-aura segala" Glen menoyor kepala Lala gemas.
"Udah ayuk buruan masuk, keburu malem. Aku dibelakang" ujar Risa lalu terkekeh.
"Dih! Dasar! Kan lo yang ngajak, lo depan" Glen menarik tangan Risa dan membawanya berdiri didepan.
"Ok.. ok.. kapten Risa akan memimpin, perhatikan perintah dan laju kalian. Jika ada yang merasa pusing, segera katakan pada saya" ucap Risa berlagak seperti seorang pemimpin profesional.
"Iya kapten Risa..."
Risa mulai memasuki bagian dalam rumah hantu yang dibuat seperti labirin. Kondisi cahaya yang tamaram dan warna hitam serta merah yang dipakai membuat suasana bertambah mencekam.
Krietttt... brak!!
Pintu tertutup dengan kencang membuat semuanya terperanjat kaget.
"Baru permulaan" gumam Risa sudah mulai merasa pusing dan ketakutan. Padahal dirinya lah yang mengajak kawan-kawannya memasuki rumah hantu ini. Mereka melanjutkan jalan saat Risa berucap.
"Apaan tuh?" ucap Lala terkejut sambil menengok kebelakang. Ia baru lima langkah berjalan setelah pintu tertutup. Lagi-lagi jalan terhenti. Semuanya fokus menatap lantai.
"Ada apa si La?" tanya Glen.
"Tadi gw kayak denger suara sesuatu yang jatuh".
"Aku juga denger kok" sahut Ais.
"Nggak ada apa-apa, yuk lanjut jalan" ucap Risa lalu berbalik diikuti yang lain. Baru akan melangkah, sebuah kepala dengan rambut hitam panjang muncul dihadapannya.
"Kyaaa!!!" semuanya berlarian tak tahu arah. Bahkan Adam dan Wisnu yang biasanya akan tahan dengan hal-hal seperti ini, ikut berteriak dan berlari. Hingga mereka bersembilan tiba disebuah lorong panjang yang memiliki banyak tikungan.
"Ambil jalan mana nih?" tanya Ais.
"Ngatur nafas dulu" sahut Glen.
Beberapa menit setelah nafas kembali teratur. Mereka mulai menyusuri lorong tersebut dan mengecek setiap tikungan yang juga akan menyajikan lorong panjang lagi yang memiliki banyak tikungan. Sama dengan lorong yang sekarang mereka bersembilan lalui.
Terdengar suara seperti benda jatuh dan menggelinding menghampiri Risa dkk. Benda berbentuk bulat seperti kelapa itu berhenti didepan Glen yang berdiri ditengah-tengah. Mereka semua mengamati benda tersebut yang dalam posisi terbalik. Saat mata mereka semakin mendekat dengan benda bulat tersebut, benda tersebut membalikkan posisinya yang langsung menampakkan seringai lebar dan kedua bola matanya yang hilang entah kemana.
Risa dkk berlari lagi saat hantu tersebut mengejar mereka dengan cepatnya seperti buah kelapa yang terjatuh dibidang menurun dari pohonnya yang cukup tinggi.
Setelah dirasa hantu tadi tidak lagi mengejar mereka. Mereka duduk bersender pada tembok dibelakangnya.
"Feeling gw bilang kalau dua hantu yang udah bikin kita jantungan tadi, itu beneran hantu, bukan manusia yang menyerupai hantu" ujar Glen.
"Iya, gw setuju. Mana daritadi ketemunya hantu kepala mulu lagi" sahut Lala.
"Kok lu bisa lihat mereka La?" tanya Wisnu.
"Nggak tahu, tapi gw pernah denger kalau hantu akan bisa dilihat oleh manusia tanpa indra keenam jika hantu tersebut mengizinkan dirinya untuk dilihat. Mungkin itu, ngeri banget gw lihat mereka. Gw yang baru dua kali lihat hantu secara langsung tanpa bantuan kalian aja udah pengin pingsan, nggak bisa bayangin deh jadi kalian" sahut Lala sambil mengusap keringat yang mengalir membasahi pelipis, jidat dan lehernya.
"Tadi ada yang bilang hantu kepala mulu... sekarang ganti deh jadi hantu sundel bolong" pemilik suara menunjukkan punggungnya yang berlubang, makhluk putih kecil menggeliat-liat disana bercampur darah yang sudah menghitam. Hantu sundel bolong tersebut tertawa cekikikan membuat belatung yang sudah hampir jatuh, kini jatuh mengenai kaki kami, ia lalu menunjukkan wajahnya yang menyeringai.
"Cantik kan saya?".
"Wuaaaaa!! Sundel bolong!!".
Lagi-lagi, untuk yang ketiga kalinya Risa dkk berlari. Rasa lelah dan takut kini sudah menjalar keseluruh tubuh. Mereka berhenti didepan sebuah lorong yang disisi kirinya menunjukkan sedikit cahaya namun terang.
"Pintu keluar bukan ya?" gumam Glen.
"Coba kita cek" usul Zara kemudian berjalan mengendap-endap dengan merapatkan diri pada tembok disisi kiri.
Risa, Glen, Ais, dan Lala mengintip dari sisi kanan pintu, sedangkan Reza, Rey, Adam, Wisnu dan Zara dari sisi kiri pintu. Mereka saling memberi kode untuk membuka pintu tersebut. Cahaya terang yang menyembul keluar membuat rasa penasaranku mereka bergejolak.
Kriett.....
Risa mendorong perlahan pintu kayu tersebut. Didalam ada sana ada sebuah kursi goyang yang bergerak cepat. Suara deritannya membuat ngilu dan merinding pendengarnya.
Risa dan yang lain belum memasuki ruangan. Tanpa mereka ketahui, dibalik pintu kayu tersebut, ada makhluk yang terbungkus kain putih seperti lontong sedang menanti mereka masuk. Senyum jahil pocong tersebut sudah merekah hebat.
"Gw kira jalan keluar, jalan lagi yuk.. ini bukan jalan keluar" ajak Glen.
Semuanya setuju dan memutuskan pergi dari tempat untuk mencari pintu keluar.
"Lhoh.. kok nggak ada yang masuk ya?" gumam si pocong bingung. Kawannya si mbak kunti yang memakai dress merah menghampirinya dan bertanya.
"Perasaan tadi gw denger pintu dibuka, kok nggak ada suara teriakan apa-apa, mereka nggak takut ya sama lo?" tanya mbak kunti merah.
"Gimana mau teriak, orang mereka nggak masuk" sahut si pocong merasa kesal karena tidak jadi mengageti sasaran.
"Hahahaha!! Kasian..." tawa mbak kunti merah terpingkal-pingkal hingga mengeluarkan air mata disudut matanya.
"Nggak usah ketawa lo! Nggak lucu" bentak si pocong yang justru membuat mbak kunti merah semakin kencang tertawa.
Dipapan kayu yang terpasang dipintu masuk tadi tertulis. Bahwa pintu keluar sama dengan dinding, maksudnya. Jika dinding tersebut dapat digeser, maka itu adalah pintu keluar. Tapi tentunya tak akan semudah itu menemukan pintu keluar, karena rumah hantu ini dibuat seperti labirin yang pastinya akan membuat pusing pengunjung, termasuk Risa dan kawan-kawan. Pintu keluar tersebut juga berada dibalik tirai.
"Ini rumah hantu apa rumah apa si? Heran dah gw, perasaan kita daritadi cuma keliling-keliling doang tapi nggak nemu pintu keluar" gerutu Glen.
"Sabar aja" ujar Zara sambil menepuk pundak Glen.
"Cu!".
"Siapa tuh yang manggil?" tanya Lala.
"Kalian denger juga kan?" tanya Lala yang langsung mendapat anggukan serempak dari kawan-kawannya.
"Saya disini cu" Risa dan kawan-kawan menoleh kebelakang. Dimana ada sebuah kursi goyang yang diduduki oleh seorang nenek-nenek berambut putih, dan setelan kebaya lengkap. Ia duduk sambil tersenyum menatap Risa dan kawan-kawan.
"Iya nek?".
"Nenek mau peluk kamu" nenek tersebut menunjuk Risa.
"Saya nek?" tegas Risa sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya kamu".
"Sini".
Dengan langkah ragu, Risa mendekat.
"Nenek mau peluk sebentar, kamu mirip sama cucu nenek".
"Sudah, terima kasih ya. Nenek bisa pergi dengan tenang sekarang" nenek tersebut melepas pelukannya, cahaya silau berpendar semakin besar.
"Kasian dah tuh nenek" gumam Ais.
"Kenapa sih?" tanya Lala.
"Lo nggak lihat?" tanya Glen.
"Kalau gw lihat, gw nggak tanya beg*!" sarkas Lala kesal.
"Tadi ada seorang nenek duduk diatas kursi goyang, dia minta pelukan sama Risa. Abis itu dia bilang terima kasih dan pergi" jelas Ais.
"Pergi kemana?" tanya Lala.
"Ke alam yang selanjutnya".
Mereka kembali melanjutkan mencari pintu keluar yang belum kunjung ketemu.
Huhuhuhuhu...
"Ini ada pintu, kayaknya pintu keluar" ujar Lala.
"Kan pintunya sama kaya dinding" sahut Risa.
"Coba aja, siapa tahu ada pintu lain" Lala membuka pintu tersebut perlahan dengan diperhatikan yang lain. Saat pintu sudah terbuka sempurna, kepala penuh darah yang kehilangan matanya muncul dari atas, bawah, kanan dan kiri mengejutkan semuanya yang langsung berlari tunggang langgang.
Setelah lelah berlari. Mereka memutuskan untuk istirahat sebentar. Istirahat lagi... entah sudah berapa kali mereka beristirahat.
"Cari lagi yuk, aku sudah nggak tahan kelamaan disini. Makin horor" ajak Risa sambil membersihkan ****** nya yang mungkin kotor.
Makhluk melompat yang terbungkus kain putih menghampiri mereka bersembilan. Wajahnya hitam seperti gosong. Badannya tambun. Saat ia sudah dekat dengan Risa dkk dan bersiap menakut-nakuti mereka. Risa yang melihat secara reflek langsung menendang perut si poci. Si poci langsung jatuh tersungkur dan mengaduh sakit. Risa dkk langsung pergi dari tempat.
"Aaaa!!" Lala menbrak tirai dibelakangnya yang membuat ia jatuh keluar.
"Aduh!! ****** gw!!".
"Jalan keluar!!" pekik Glen dan Lala senang lalu secara tidak sadar saling berpelukan.
Saat keduanya tersadar, Lala dan Glen langsung melepas pelukan.
Mereka semua keluar dari rumah hantu yang sudah menguji nyali. Membuat keringat mengucur deras diseluruh tubuh, membuat kerongkongan terasa sangat kering dan juga sakit.
Risa dan kawan-kawan segera menuju salah satu stand pameran yang menjual minuman dingin dan meneguknya hingga habis tak tersisa.
"Tolong...!! Aaa....!!".
Semuanya terkesiap, tak terkecuali Risa dan kawan-kawan yang sedang duduk-duduk santai dikursi salah satu stand pameran sambil menikmati makanan ringan.
Seorang wanita berumur 20-an menggelantung ditiang bianglala karena terpeleset saat ia sedang pindah posisi untuk mengambil gambar. Polisi sudah datang untuk mengamankan lokasi disusul oleh petugas damkar dan ambulans. Tapi karena tangannya sudah mulai terasa panas dan sakit, ia juga sudah tidak kuat untuk bergelantungan lagi. Akhirnya ia melepas pegangannya dan terjatuh. Kepalanya membentur batu besar hingga pecah dan mengeluarkan darah segar. Tubuhnya juga dapat dipastikan mengalami patah tulang karena terjatuh dari ketinggian lebih dari dua puluh lima meter, perlahan tapi pasti, kesadarannya mulai hilang.
Semua pengunjung pasar malam mulai mengerubungi sekitar lokasi yang sudah dipasangi garis polisi. Bianglala diputar lebih cepat untuk menurunkan pengunjung yang masih berada didalamnya. Setelah itu bianglala dimatikan.
Pov end Author.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.
Terima kasih.