INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Khawatir (Season 2)



Kembali ke markas Indigo Team. Kedelapan teman Risa, menunggunya was-was. Berkali-kali panggilan dari mereka, tak ada yang di jawab.


"Ini si Risa kok tumben ngaret ya" ujar Ais di sepinya suara karena pikirannya melambung memikirkan keaadan terkini Risa.


Masalah jalan-jalan, mereka tepis dahulu. Kehadiran sang ketua adalah yang utama. Apalagi sampai ditelpon lebih dari lima puluh kali oleh kedelapannya, namun tidak ada jawaban. Spam-an pesan dari Ais, Glen, Chalis, Reza, dan Rey pun tidak ada yang dibaca. Jangankan dibaca, centang dua saja tidak.


"Mungkin ada urusan mendadak" sahut Zara tenang, walaupun dihatinya ia juga seperti yang lain. Gelisah dan khawatir karena tak ada kepastian.


"Masa nggak ngabarin" timpal Glen.


"Mungkin nggak sempet".


Mereka kembali terdiam, memandang pintu utama markas, berharap Risa akan segera muncul dari sana.


Lima menit..


Sepuluh menit..


Lima belas menit..


Tujuh belas menit..


Kekhawatiran mereka semakin membesar. Tujuh belas menit sudah mereka menatap pintu utama markas. Harapannya pupus seketika. Sosok yang mereka nanti kehadirannya tak kunjung muncul.


"Gw susul aja kerumahnya ya" ucap Rey panik. Ini adalah kali pertamanya Risa ngaret datang ke markas. Malam sebelumnya, ia sudah diberi info bahwa hari ini team Indigo berkumpul dimarkas. Tidak mungkin jika Risa lupa, pikir mereka semua. Bahkan, mereka Ais, Glen, Chalis, dan Reza sampai menghubungi kedua orang tua angkat Risa dan kak Ang untuk mengingatkan ketua team indigo tersebut.


"Nggak perlu, kita tunggu aja dulu sebentar lagi, gue ngerasa ada kendala dijalan" cegah Adam.


"Iya, mending tunggu sebentar, kalo kamu nyusul terus Risa datang. Itu malah akan membuang waktu" timpal Zara.


"Lebih membuang waktu jika kita terus menunggu tanpa bergerak!" Rey mulai terbakar emosi. Ia bahkan sampai meninggikan suaranya saat berbicara dengan Zara. Ais berdiri, mencoba menenangkan dengan memegang pundak kanan Rey. Rey menggerakan tangannya cepat sembari putar badan, itu membuat Ais terhempas hingga ia terjatuh dan kepalanya mengenai meja kayu hingga mengeluarkan darah. Reza menjadi naik darah, ia membentak Rey cukup keras seraya menunjuknya dengan jari telunjuk. Rey tidak membalas, ia berjalan keluar markas dan merenung diteras.


Sedangkan Ais didalam merintih kesakitan. Darahnya keluar semakin banyak. Matanya mulai kabur, pendengarannya mulai samar. Ia menutup matanya sambil memegangi bagian kepalanya yang mengeluarkan darah. Chalis dan Zara segera membawa Ais kerumah sakit terdekat. Sedangkan Glen keluar menghampiri Rey dan menamparnya kuat. Nampak jelas bekas merah dipipi kanan Rey. Rey tidak membantah, ia hanya menunduk meratapi kesalahannya.


"Gue tahu lo khawatir, tapi lo udah dewasa. Harusnya lo bisa redam sedikit rasa khawatir lo, supaya nggak buat celaka orang lain" Glen menekankan kata-kata nya, begitupun dengan ujung jari telunjuknya di dada Rey. Ia kemudian pergi mengajak Reza, Wisnu, dan Adam menyusul Zara yang membawa Ais kerumah sakit bersama Chalis.


"Bod*h..! Dasar Rey bod*h..! Bisa-bisa nya lo bertingkah kaya gitu, sampai buat Ais dibawa kerumah sakit. Lo bener Glen, harusnya gue bisa redam rasa khawatir itu, gue masih bocah Glen, bukan orang dewasa" rutuk Rey didalam hatinya. Sungguh, bukan main. Ia menyesali perbuatannya, namun ia masih enggan beranjak dari posisinya untuk menyusul ketujuh temannya dirumah sakit. Ia malu atas perbuatannya. Hingga sebuah suara sepeda motor menyadarkannya dari lamunan.


"Lhoh.. Rey, kok sendiri? Mana yang lain? Katanya suruh kumpul" tanya Risa seraya mengecek ruang tamu. Ia menelisik ruang tamu tersebut, hingga matanya tertuju pada meja kayu yang terdapat darah.


"Meja kayunya habis digorok apa gimana ya? Kok bisa keluar darah" batin Risa heran. Ia pun menatap Rey kembali yang masih diam mematung.


"Rey!" sentaknya.


"Meja kayunya kenapa ada darahnya?" tanya Risa. Hal itu, membuat Rey gelagapan tidak karuan. Ia bahkan belum sadar, ada Hanar dibelakang Risa.


"Rey...! Jawab dong, kok diem aja sih" kesal Risa, ia merasa diabaikan karena Rey tak kunjung memberikan jawaban. Padahal, Rey sedang memutar otaknya untuk mengatakan kejadian tadi. Berbohong? Sempat terlintas diotaknya, namun ia tepis saat mengingat Risa. Ia tidak ingin membuat masalah baru, apalagi jika sampai perempuan disampingnya ini membencinya. Ia tidak ingin itu, walaupun ia merasa. Bahwa nanti, setelah Risa mendengar ceritanya. Risa pasti akan marah kepadanya dan menjauhinya. Namun, semua berbanding terbalik dengan apa yang dipikirkan oleh Rey, setelah ia berhasil menceritakkan kejadian tadi.


"Mungkin salah satu teman kita sudah mengatakan ini padamu tadi, jadilah dewasa, yang mampu meredam khawatir, amarah, emosi dan hal-hal buruk lainnya. Walaupun aku tahu, itu sulit saat kamu mengkhawatirkanku. Intinya, jangan sampai pikiran negatif merebut pikiran positif hingga membuatmu hilang akal" Risa lalu menceritakkan pasal kecelakaan yang dilihat oleh Hanar tadi, hingga ia harus putar balik dan melalui jalan yang lebih panjang. Ia juga menceritakkan sosok Hanar.


"Ris..." panggil Rey pelan. Risa menyahut dengan deheman kecil.


"Kenapa Rey?" Rey malah terdiam membuat Risa mengernyit heran.


"Terima kasih" Risa mengangguk.


"Gue pengin ngomong satu hal sama lo, ini udah gue pendam selama beberapa tahun" Risa mengernyit penasaran.


"Apa tuh?" tanya nya.


"Gue... gue..."


"Ya.. gue? Gue apa?" potong Risa.


"Gue.. gue.." tangan Rey mulai gemetaran.


"Haduh... mau ngomong apa sih? Daritadi gue, gue, mulu" Risa menyangga dagunya, menatap wajah Rey dengan ekspresi datar.


"Gue.. suka.. sama lu.. Ris" Risa langsung terbatuk karena ludah sendiri. Ia mengernyit tak percaya.


"Sejak kapan kamu suka sama aku, Rey?".


"Beberapa tahun yang lalu, gue sebenarnya pengin ngomong ini dari dulu-dulu, tapi selalu nggak ada waktu" jujur Rey.


"Eumm... Rey" Rey menatap wajah cantik Risa yang tanpa polesan make up sedikit pun.


"Maafin aku, aku nggak bisa balas perasaan kamu. Aku... aku nggak ada rasa sama kamu, lebih dari seorang sahabat".


"Bila gue beri waktu?".


"Nggak ada saat untuk menjawab".


"Aku... nggak suka sama kamu Rey" lanjut Risa, membuat Rey menghela nafas. Hatinya terasa tercabik-cabik. Sakit.


"Gue sudah menduga" gumam nya pelan, namun masih bisa didengar oleh telinga Risa hingga membuat Risa bertanya menegaskan.


"Hah?".


"Gue udah duga, kalau lo emang nggak ada perasaan apa-apa sama gue, karena hati lo cuma buat Adam" kerongkongan Risa tercekat tak percaya dengan omongan salah satu sahabatnya itu.


"Ya kan?" Risa tak mampu menjawab, membuat Rey menguatkan pikirannya.


"Gue pulang dulu" Risa masih diam tidak bergerak, sedangkan Rey mulai mengeluarkan sepeda motornya dari garasi markas Indigo Team dan melesat pergi.


"Kakak... firasatku tidak enak padanya" ujar Hanar.


Bersambung...


Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka. Bunga dan kopi dari kalian sangat membantu keberhasilan Author.


***Thank You All...


❣️❣️❣️❣️***