
Korban sudah dibawa kerumah sakit untuk diurus lebih lanjut. Pihak keluarga juga sudah dihubungi, hanya saja bianglala sudah tidak diaktifkan lagi untuk menghindari kejadian serupa.
Beberapa pengunjung ada yang memutuskan untuk pulang, tapi kebanyakan masih bertahan karena pasar malam dipusat kota hanya dua minggu sekali ada.
"Daritadi aku nggak lihat mbak Sekar, kemana ya dia?" tanyaku pada kawan-kawan sambil menyisir kawasan pasar malam mencari keberadaan mbak Sekar.
"Ris!".
"Mbak dari mana aja?" tanyaku khawatir.
"Mbak dari kamar mandi, terus pas keluar udah nggak ada kalian. Jadi mbak mutusin buat mainan kaleng susun, gemes banget mbak Ris kalah terus. Tapi akhirnya menang juga, tadi mbak udah izin kok sama... Zara kalau mbak mau kekamar mandi" aku menatap Zara yang langsung mengiyakan.
"Maaf ya mba tadi nggak kepikiran buat ajak mbak ke rumah hantu" ujarku merasa bersalah.
"Rumah hantu? Ha-ha-ha, syukur mbak enggak diajak. Udah nggak papa, kalau diajak mbak juga nggak bakal mau".
"Kamu kok nggak ngomong sama aku Ra kalau mbak ngomong sama kamu kalau dia pergi ke kamar mandi?" tanyaku menatap Zara.
"Lupa".
"Main lagi yuk" ajak mbak Sekar yang langsung mendapat anggukan dari kami semua. Setelah membayar makanan dan minuman yang dibeli, kami berjalan-jalan mengelilingi pasar malam sambil melihat-lihat berbagai macam jenis makanan, minuman dan suvenir yang dijajakan.
Bruk!
"Kalau jalan liat-liat dong, buta lo ya?!" bentak lelaki yang sudah menabrakku tadi.
"Eh... cantik, maaf ya, mas tadi bentak-bentak. Kamu nggak papa?" tanyanya spontan melembut saat melihat wajahku.
"Nama saya Risa, bukan Cantik" sahutku datar.
"Ah cantik bisa aja si, mas jadi gemes deh pengen main sama cantik" ujarnya sambil mencolek daguku. Wah... kurang ajar banget dia.
"Mau main mas?" tanyaku mengikuti nada bicaranya.
"Ho'oh, yuk. Mas punya tempat yang bagus lhoh" ia mengulurkan tangannya.
Aku mengangkat perlahan tanganku untuk menerima uluran tangan lelaki genit didepanku.
"Jangan sembarangan sama cewek gw!!" sergah Adam.
"Woaahhhhh... cowoknya nih! Gaya banget lo cah, bisa apa lo sama gw ha?" tantang lelaki tersebut dengan nada sombong. Sial! Adam bikin rencana ku gagal.
"Kamu buat rencanaku gagal Dam" geramku berbisik dibelakang telinganya.
"Rencana apa?" tanya nya berbisik juga.
"Aku niatnya mau pakai cara yang kaya dipolisi-polisi gitu, yang muter tangannya kebelakang".
"Nggak usah, aku nggak mau pegang-pegang lelaki lain selain aku" ucap Adam.
"Ihhh kamu mah" kesalku.
"Ais, temenin aku beli minuman yuk" ajak Zara.
"Yuk".
Mereka berdua pergi ke stand pameran yang berada dibelakang lelaki genit ini. Kenapa sih Zara? Orang suasana lagi mencekam gini malah beli minuman, dia kira sekarang lagi dibioskop?.
"Gini aja broo, siapa yang menang, siapa yang bakal dapetin cewek ini" ujar si lelaki.
"Dia bukan manusia taruhan" ucap Adam datar dan dingin.
"Dam! Sadar Dam! Jangan begini dong, kamu kenapa sih?" aku menepuk-nepuk pundak Adam yang berdiri didepanku.
"Jangan mengganggunya atau kau akan celaka" tubuh Adam tiba-tiba terangkat dengan asap hitam yang mengelilingi tubuhnya.
"Enggak! Jangan! Jangan Dam!" pekik Wisnu.
"Kenapa Nu?" tanyaku panik.
"Emosinya, emosinya sudah berada dipuncaknya. Jika Adam sudah sangat emosi, aura jahat dari makhluk halus disekitar sini akan terserap olehnya. Ini bahaya! Hanya lo yang bisa sadarin dia!".
"Caranya?".
"Aduh!! Gw lupa... bentar bentar gw inget-inget dulu. Ah iya! Gw ingat sekarang, caranya.. lo serap aura baik dari makhluk halus disekitar sini, buat aura baik yang lo serap lebih banyak daripada aura jahat yang Adam serap. Lo kan keturunan ratu Ila, dia aura nya putih, lo udah punya lima puluh persen aura putih itu. Aura jahat yang udah Adam serap sekarang, sudah mencapai delapan puluh persen, jadi lo harus serap kira-kira empat puluh persen biar jadi sembilan puluh persen" jelas Wisnu.
"Buat diri lo setenang mungkin".
"Gimana aku bisa tenang kalau lihat Adam begitu?".
"Tarik nafas, buang, ulang terus sampai lo tenang. Habis itu, lo pikirin hal-hal yang positif".
Aku menurut, setelah merasa tenang. Aku merasa tubuhku terangkat, saat mataku terbuka. Aku melihat tubuhku sudah sejajar dengan Adam diudara, tubuhku juga dikelilingi aura putih.
"Dam..." sapaku lembut.
"Dia... dia..." Adam menunjuk-nunjuk lelaki yang sudah bersikap genit padaku tadi. Lelaki tersebut berekspresi kebingungan.
"Aku tahu, tapi bukan begini caranya. Aku nggak papa kok".
"Nggak!".
"Dam... tenang ya".
Adam tidak menjawab apa-apa, aku melayang berusaha mendekatinya. Setelah jarakku sudah semakin dekat dengannya, Wisnu berteriak.
"Kalau lo peluk dia nanti aura nya berbenturan Ris, bahaya!".
"Aku yakin ini berhasil!" sahutku ikut berteriak juga. Aku lantas memeluk Adam sambil memejamkan mata, hembusan angin kencang menerpa kami berdua. Aku yakin Adam juga merasakannya, rasanya angin ini membawa ketenangan dan juga kedamaian.
Setelah angin berhenti berhembus, aku merasa kakiku menapak lagi ketanah masih dengan aku yang memeluk Adam.
Saat aku melepas pelukannya, Adam jatuh pingsan.
"Sebentar lagi dia akan sadar" ujar Wisnu.
"Aduh!".
Aku menoleh ke sumber suara dimana Zara yang berada dibelakang lelaki genit ini, ia menyentuh punggung lelaki tersebut sambil terpejam.
Beberapa menit kemudian, Zara tersadar. Matanya membola seolah tak percaya. Apa dia baru mendapatkan penglihatan?.
"Kamu harus ganti rugi ya cantik, karena udah bikin baju mas basah" ujar lelaki tersebut genit pada Zara.
"Ogah!".
Zara memberikan aba-aba padaku untuk melakukan hal yang biasa aku lakukan untuk menahan seseorang. Aku langsung menendang kaki lelaki itu hingga ia terjatuh, setelah itu ku putar tangannya kebelakang.
"Saya ada tali temali punya anak saya, pakai saja" ucap salah satu ibu-ibu sambil memberikan sebuah gulungan tali temali berwarna putih yang biasanya digunakan oleh anak pramuka untuk membuat tali simpul dan sebagainya.
"Terima kasih bu" aku menerimanya lalu mengikat tangan dan kaki lelaki tersebut, tak lupa. Mulutnya juga aku sumpal menggunakan roti.
"Keenakan dong dia Ris kalau disumpal mulutnya pake roti, kan bisa dimakan" protes Glen.
"Enggak apa-apa. Kita kasih sumpal roti yang akan dia makan sampai kenyang hingga tidur, supaya kita mudah urus dia nanti" sahutku.
"Kalau dia nggak mau makan?" tanya Glen.
"Kita bius" aku lalu tertawa membuat Glen memandangku ngeri.
"Kamu dapat penglihatan ya Ra?" tanyaku pada Zara. Ia langsung mengangguk tanpa berkata.
"Dia suka cari onar setiap ada acara pasar malam neng. Goda-goda in perempuan muda, dia bahkan tidak segan untuk mencium wanita incarannya dihadapan umum. Salah satu korbannya yang tadi jatuh dari bianglala" jelas si ibu yang memberikan tali temali padaku tadi.
"Owh... begitu, terima kasih info nya ya bu" ibu tersebut mengangguk.
"Tali nya pakai aja neng. Saya pergi dulu" aku mengangguk. Ibu tersebut lalu pergi sambil menggandeng anak perempuannya yang sepertinya sudah berumur sebelas tahun.
"Roti nya udah habis, aku beli roti dulu ya. Yang rasa coklat, atau keju, atau stroberi. Pokoknya yang enak-enak" ucap Ais lalu pergi diikuti Lala.
"Rey, Reza tolong kalian jaga lelaki ini ya" titahku yang langsung mereka berdua anggukan. Aku membawa Zara duduk bersama Glen.
"Tadi aku lihat, lelaki itu menganiaya dan juga memperkosa wanita-wanita muda yang cantik-cantik. Yang paling jelas aku lihat adalah salah satu wanita yang ia perkosa disebuah pabrik bekas, tapi untuk wanita ini.. bukan hanya dia perkosa dan aniaya, tapi juga dia bunuh. Mayatnya dikubur disalah satu tempat, saat aku lihat sekeliling tempat tersebut, aku yakin.. yakin sekali, bahwa tempat tersebut adalah daerah markas Indigo Team" jelas Zara.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.
Terima kasih.