INDIGO TEAM

INDIGO TEAM
Ruangan #part 1 (Season 2)



Happy Reading...


Sebuah benda tergulung dengan ikat ditengahnya jatuh menimpa kepala Rey. Sontak, mereka pun langsung menoleh ke sumber kegaduhan.


"Kepala lo nggak apa-apa, Rey?" tanya Glen dengan ekspresi khawatir. Hal itu membuat temannya yang lain mengerutkan dahi. Apa si? Hanya hal itu saja? Bagi mereka itu adalah hal yang baru, keperhatian Glen terhadap Rey bukanlah seperti nasi yang sering di makan, maksudnya terlalu sering terjadi. Tapi, ibaratnya seperti pisau yang digunakan untuk mencoret tembok. Jarang terjadi, mungkin saja.


"Gue.. gue gak apa-apa".


Glen menoleh ke arah benda yang menimpa kepala Rey lalu mengambilnya dan membukanya.


"Peta..! Katakan peta..!".


"Hah?".


Mereka semua menoleh ke sumber suara. Seorang anak kecil berambut pendek dan berponi yang menggendong tas bersama dengan seekor kucing berwarna biru laut dangkal dibeberapa bagian tubuhnya. Anak kecil tersebut mengulangi perkataannya selama beberapa kali hingga Rey geram lalu berjalan ke arahnya dan membekap mulut anak tersebut. Anak tersebut kemudian diam.


"Eh... Rey, jangan gitu! Nanti kalau dia mati gimana?" sentak Glen. Rey lalu menatap wajah anak kecil yang ia bekap mulutnya, sudah merah. Rey lalu melepaskannya.


"Peta! Katakan peta!".


"Peta!" Risa mencoba mengikuti.


"Lebih keras!".


"Peta!!"


"Sekali lagi..!!"


"PETA...!!!"


"Buka petanya! Ada jalan untuk menemukan kunci batu suci! Ayo... tunjukkan arahnya!".


"Kok mirip 'Dora The Explorer' si?" bisik Chalis.


"Iya nih, kayaknya bakal ngeselin deh" sahut Ais.


Glen selaku pemegang peta yang sudah terbuka itu, mengamatinya secara seksama. Garis-garis tipis, tebal, lurus, dan meliuk nampak di peta bersama dengan berbagai simbol suatu perairan atau daratan dan dataran. Diujung peta, sebuah benda berbentuk kunci terpampang dengan begitu gagahnya, namun garis yang menuju ke kunci tersebut dihiasi oleh simbol-simbol yang membuat merinding.


"Ruang kabar, ruang mawar, dan ruang cermin" ujar Glen.


"Di mana ruang kabar?!".


"Eh... Nama lo siapa si?" tanya Rey seraya menatap anak di depannya.


"Diora, panggil saja Ora".


"Owh.... Diora...." ujar semuanya serentak seraya manggut-manggut.


"Di mana ruang bawah tanah?!" tanya Ora lagi.


"Lurus, lalu belok kanan" sahut Glen seraya menunjukkan petanya.


"Di mana?!".


"Lurus, lalu belok kanan!".


"Baiklah, ayo kita jalan..." Diora memimpin bersama kucingnya. Risa dan kawan-kawan pun mengikuti dari belakang.


Setelah belok kanan, mereka langsung dihadapkan dengan tangga menurun dari besi yang sudah berkarat.


"Apa kalian melihat tangga?" tanya Ora seraya menatap Risa dan kawan-kawan.


"Disana, dibelakangmu!" sahut Ais.


"Di mana? Aku tidak melihatnya!".


"Di sana! Dibelakangmu, Ora!".


"Owh.. iya, dibelakangku.." Ora lalu berjalan menuruni tangga tersebut tanpa ragu sedikitpun bersama kucingnya. Nampak setia sekali kucing tersebut dengan Ora.


Seperti tadi, Risa dan kawan-kawan lalu mengikuti Diora dengan perasaan was-was menuruni satu demi satu anak tangga. Bunyi deritan memilukan terdengar berulang kali. Hingga akhirnya mereka akhirnya mereka tiba di bawah. Bunyi kecukapan air langsung terdengar tatkala Risa yang tadi berjalan di depan menginjakkan kaki di tempatnya sekarang ia berdiri. Agaknya di tempat berair.


"Kenapa waktu Diora sama kucingnya nginjek pijakan aku sekarang, nggak kedengeran bunyi kecupakan air ya..." batin Risa penuh tanya.


"Apa kalian melihat obor?!" Ora memulai.


"Dibelakangmu" sahut Ais.


"Ya iyalah kamu nggak lihat, orang kamu aja ngadep kita. Itu! Obornya dibelakang kamu, dasar!".


"Di mana?! Dibelakangku?!" seolah tak mendengarkan ucapan Ais yang sudah dibuat darah tinggi. Ora melanjutkan ucapannya, ia kemudian berbalik dan mengambil obor yang ditujukan oleh Ais.


Tiba-tiba makhluk yang berada dibelakang tubuh team Indigo memendarkan cahaya. Ruangan yang benar adanya terisi air itu mulai juga terisi kabut tebal.


"Kalian harus melewatiku terlebih dahulu, jika kalian tidak bisa melewatiku. Maka kalian akan mati disini" suara menggema itu terdengar setelah kabut tebal mulai mengurangi jarak pandang.


"Di mana kamu?! Apa maksudnya berbicara seperti itu?!" jiwa berani Zara menggetarkan jiwa teman-temannya. Beberapa kali jiwa berani Zara malah membawa suatu tragedi yang tidak pernah diinginkan kehadirannya oleh teman-temannya. Tapi, bukan Zara namanya.. Bila membuat masalah, tapi tidak bisa menghadapinya.


"Aku Dwi, penjaga ruangan Kabar. Disinilah kabar kalian akan ditentukan, jika kalian bisa mengalahkanku dengan menjawab pertanyaan yang aku berikan, maka kalian akan mendapatkan kabar baik. Dan....!! Jika sebaliknya, maka kabar buruklah yang akan kalian dapatkan".


"Apa pertanyaannya?!" tanya Zara dengan suara lantangnya.


"Jepang-900, Papua-100, Malaysia-400, kalau Indonesia?"


Zara terdiam mendengarkan pertanyaannya. Ia pernah melihat pertanyaan serupa di sebuah chanel yo*tub* seseorang.


"300!" seru Zara.


"Benar!".


Pintu besi di depan mereka kemudian terbuka, menampakkan lagi sebuah ruangan yang penuh dengan bunga mawar hitam.


"Jika kalian ingin keluar dari sini, jawablah pertanyaan dariku!" suara yang menggemas tanpa rupa kembali terdengar.


"Apa pertanyaannya?" tanya Risa.


"Ada urutan huruf, J, F, M, A, M, J, J, A, S, O. Dua huruf berikutnya apa?".


"Ini inisial nama bulan kan ya?" bisik Chalis di telinga Risa yang tengah berpikir.


"Coba deh pikir, J\=Januari, F\=Februari, M\=Maret, A\=April, M\=Mei, J\=Juni, J\=Juli, A\=Agustus, S\=September, O\=Oktober. Dua huruf berikutnya ya N sama D, November sama Desember. Iya kan?" mata Risa membola sempurna, mendengarkan penjelasan Chalis yang masuk akal.


"Coba kamu bicara!" titah Chalis, Risa pun menoleh ragu.


"A..!"


"Dua huruf berikutnya yaitu Naga sama Durian, bener kan?" sergah Reza.


"Salah!" bagaikan mendapat perintah, kelopak-kelopak mawar di dekat mereka terputus lalu membungkus mereka semua setebal hampir tiga puluh senti.


"Kalo gini terus, kita bakal mati. Ada yang tahu nggak jawabannya?" ujar Rey seraya menghemat udara yang ia dapatkan.


"Semoga ini bener" sahut Risa.


"Dua huruf berikutnya adalah N dan D!".


"Benar!" kelopak-kelopak mawar yang membungkus mereka tadi langsung terlepas dan kembali ke tempatnya. Mereka bergerak seolah mendapatkan sebuah perintah yang muncul kala jawaban team Indigo berikan.


"Kenapa pintunya tidak terbuka?!" tanya Ais.


"Masih ada yang harus kalian lakukan! Temukan kunci hitam merah darah, di antara mawar-mawarku, aku beri waktu dua puluh dua detik. Jika gagal, kalian harus menunggu sampai ronde baru dibuka, selama empat puluh delapan jam".


"Hah? Gila ya?! Waktunya cuma dua puluh dua detik?!" kesal Glen.


"Dimulai dari... Sekarang!".


Jantung berdebar seolah hendak melamar. Tubuh gemetaran seolah hendak menerima lamaran. Keringat dingin mengucur deras di mana-mana. Kecepatan mereka terus bertambah seiring dengan berkurangnya waktu.


"Lihat kebunku penuh dengan bunga. Ada yang putih dan ada yang merah. Mawar melati semuanya indah...".


Beberapa lirik lagu 'Lihat Kebunku' karya Saridjah Niung atau lebih dikenal dengan nama ibu Sud, terdengar mengalun merdu dinyanyikan oleh suara tanpa rupa. Suaranya terdengar menggema diruangan penuh bunga mawar ini, tapi rupanya entah sedang berada di mana.


"*Sejauh yang gue lihat, d*isini nggak ada bunga warna putih dan merah, apalagi bunga melati. Apa.... bunga mawar merah dan melati putih ya? Disitu mungkin ada kuncinya! Kalau bunga melati merah kan nggak ada, adanya putih" Adam memutar netranya, hingga matanya terhenti pada sebuah bunga yang berukurang sangat kecil namun memendarkan cahaya merah, putih, dan hitam yang menyatu. Kenapa yang lain tidak melihat?.


*****


Baca cerpen terbaru dari author yuk, judulnya 'Dia Idolaku'. Jangan lupa like, dan komen sebanyak-banyaknya.


Thank You All....


❣️❣️❣️❣️