
"Aku...."
Tringg...tringgg...tringggg...
Belum sempat Raihan menyelesaikan ucapannya tiba-tiba bel sekolah berbunyi nyaring. Cepat sekali bel tersebut berbunyi, huh. Semua teman-teman kelasku termasuk glen dan yang ikut berkumpul tadi langsung menghamburkan diri untuk duduk di bangku masing-masing.
Bu Eri masuk ke kelas. Bu Eri adalah guru termuda di sekolah ini, ia mengajar bahasa inggris. Bu Eri kemudian meminta kami semua untuk meletakkan buku tugas bahasa inggris dua minggu yang lalu di atas meja. Aku menuruti perintahnya begitupun yang lain. Bu Eri kemudian berjalan ke satu demi satu meja dan menilai tugas bahasa inggris yang di berikannya. Selesai menilai, ia berdiri di depan papan tulis dan mengumumkan nilai tertinggi tugas bahasa inggris kali ini.
"Nilai tertinggi di tugas bahasa inggris kali ini diraih oleh.....Risa!" serunya membuat seisi kelas menatap takjub ke arahku sambil bertepuk tangan. Bu Eri pun sama tingkahnya, tak terkecuali poci di sampingku ini. Dia duduk di antara aku dan Lala, membuat Lala sedari tadi mengelus tengkuk dan sikunya. Raihan yang ikut senang juga menggerakan kepalanya membuat ikatan atasnya bergoyang-goyang. Ingin tertawa tapi takut di sangka gila.
Aku hanya tersenyum menanggapi mereka semua. Bu Eri kemudian berjalan ke sisi kiri papan tulis dan menempelkan satu bintang di bawah bintang lainnya atas namaku. Di seluruh kelas sekolah ini memang ada fitur seperti itu, siapa yang meraih nilai tertinggi di setiap mapel...maka mereka akan mendapatkan satu bintang.
"Wahhhhh bintang lo udah banyak juga ya?? Di jual kayaknya bakal kaya tuh" ujar Lala sambil tersenyum melihat lima belas bintang tertempel atas namaku.
"Hahahaha iya kalo bisa di jual, coba kalo enggak?".
"Paksa aja lah mba atau masa tokonya" sahutnya santai.
"Ada-ada aja kamu" aku terkekeh mendengar sahutannya.
Pelajaran di lanjutkan sampai akhirnya bunyi bel yang ku tunggu-tunggu berbunyi juga. Bel pulang sekolah!! Aku sangat menantinya. Aku memasukkan buku, pulpen dan kawan-kawannya ke dalam tas ku lalu ku gendong. Selesai berdoa aku berjalan keluar, melewati sekumpulan siswa siswi yang sedang piket.
Piket di sekolah ini di laksanakan dua kali, pada pagi hari sebelum pelajaran di mulai dan sepulang sekolah setelah selesai pelajaran. Aku terkejut ketika melihat Raihan sedang menyundul-nyundul bola basket di taman depan kelasku yang berhadapan dengan kelas 10A. Pantesan banyak orang yang menghindar, bahkan siswa siswi kelas 10A tidak ada yang keluar kelas.
"Raihan!" gumamku geram sambil berjalan ke arahnya lalu menendang kakinya hingga dirinya terjatuh dan bola basket yang sedang di mainkannya terjatuh menimpa perutnya.
"Aduyyyy" rintihnya.
"Lagian kamu ngapain si mainan bola basket di tempat ramai kaya gini?!" aku membantunya berdiri.
"Teman-teman dan guru-guru semua. Risa minta maaf ya atas perlakuan teman Risa" ujarku. Semua siswa siswi serta guru-guru yang melihat hanya mengangguk kaku. Aku lalu menarik ikatan atas Raihan dan membawanya menjauh dari tempat tadi.
"Kalau mau mainan...cari tempat sepi" ingatku ketika kami sudah berada di depan ruang laboratorium. Di ruangan ini sebenarnya auranya tidak enak sih, soalnya banyak makhluk jail yang suka mengganggu.
"Aku kesepian.....mainan bola basket sambil liatin siswa siswi yang berlalu lalang dan lagi belajar kan asik" sahutnya sambil menggerakan tubuhnya.
"Cari temen yang sealam" aku tiba-tiba teringat dengan Cinta. Kalau seandainya Raihan kubawa pulang terus di temuin sama Cinta....gimana ya??.
"Kamu nanti ikut aku pulang ya?" dia mendongak.
"Cius?" aku mengangguk.
"Boleh?" aku kembali mengangguk.
"Terus kapan pulangnya?".
"Se...!!"
"Risaaa!!! Hari ini jadwalnya ekstrakurikuler tata boga!!" tiba-tiba Ais berteriak sambil berlari menghampiriku ketika aku belum selesai berucap. Astaga!! Aku lupa hari ini jadwalnya ekstra tata boga.
"Kok kamu nggak bilang dari tadi sih?" kesalku.
"Lah kok malah nyalahin aku, seharusnya kan kamu sendiri yang ingat" balas Ais dengan nada tinggi.
"Udah lah ayok buruan, bentar lagi ekstranya mau di mulai" Ais lalu menggandeng tanganku dan menariknya.
"Tunggu dulu!...Raihan gimana?" tanyaku sambil menatap Raihan.
"Ayok Han kamu ikut" ujar Ais membuatku tersenyum begitupun Raihan. Raihan kemudian melompat mengikuti kemana arah pergi kami berdua. Sesampainya di depan kelas tata boga, aku dan Ais mengetuk pintu. Ketika kami sudah mendapat perintah untuk masuk, kami berdua pun masuk di ikuti Raihan yang melompat hingga menabrak tomat di salah satu meja di samping pintu. Tomat tersebut lalu terjatuh membuat seisi kelas termasuk aku dan Ais menatap tomat tersebut. Kasian sekali nasibmu wahai tomat, tidak sakit karena di potong tapi malah sakit karena jatuh kesenggol pocong.
"Ris!" guru pembimbing ekstra tata boga menyapaku. Dia namanya Bu Irni. Wajahnya manis, tubuhnya ramping, matanya berwarna coklat. Aku tersenyum canggung ketika menatapnya.
"Enggak kok...orang dari tadi aku diam aja" sergahnya. Aduhhhh...nggak bisa di ajak kompromi banget si. Aku kan begitu biar pada nggak takut. Aku menghela nafas sambil geleng-geleng kepala.
"Nggak papa bu, setannya nggak jahat kok" ujarku sambil cengengesan menatap bu Irni.
"Apa tidak menganggu?" aku menggeleng. Semoga saja.
"Baiklah....kalau begitu mari lanjutkan" bu Irni memulai ekstra hari ini dengan salam pembuka. Raihan hanya melompat-lompat sambil mengamati kegiatan kami semua, terkadang ia secara tak sengaja menjatuhkan barang membuat ekstra mengadat sebentar. Kalau di hitung si...mungkin ada sekitar enam kali sama yang awal tadi ia berulah menjatuhkan benda atau sayuran dan buah-buahan yang ada di kelas.
"Ok...anak-anak kita sudahi ekstra hari ini...sampai jumpa" bu Irni berjalan keluar di ikuti siswa siswi yang tadi mengikuti kegiatan ekstranya. Aku, Ais, Glen serta Zara masuk dalam dua ekstra yang sama yaitu tata boga dan silat.
"Lo tadi belum nylesain ucapan lo tentang hal yang buat lo belum pergi ke alam yang seharusnya" tagih Glen sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Ingat aja kamu" sahut Raihan.
"Berarti daya ingat gw masih bagus. Udah buruan apa hal yang buat lo belum pergi ke alam lo yang seharusnya. Gw mau buru-buru bantu lo pergi dengan tenang, biar lo nggak gangguin gw mulu di dunia" ujar Glen kesal.
"Sebelum aku operasi. Aku janji sama ana kalau aku berhasil operasi, aku akan melamarnya..."
"Itu kan kalau berhasil, sedangkan kenyataannya lo malah jadi makhluk hologram gini jadi buat apa ngelamar ana. Lagian siapa juga si ana itu?" sergah Glen lalu bertanya.
"Ana itu pacar aku. Tapi kan itu yang buat aku belum pergi ke alam ku yang seharusnya. Siapa tau nanti kalo udah ngelamar ana, aku jadi tenang" ujar Raihan.
"Tapi lo udah mati. Nanti kalau lo ngelamar Ana, secara tidak langsung lo bakal terikat pertunangan sama dia. Mana ada si, cewek yang mau di lamar sama makhluk hologram. Kalau ada, berarti dia gila!" ujar Glen dengan nada meninggi. Kenapa sih? Dia suka sekali adu mulut dengan Raihan.
"Nggak usah ngomongin aku makhluk hologram kenapa si? Nggak nyaman banget di denger" ketus Raihan.
"Bodo amat".
"Risaa....bantuin aku ya...buat ngelamar Ana" aku ragu. Jika saja keluarga Ana atau Ana nya sendiri menolak bagaimana.
"Nanti kalau Ana menolak bagaimana?" tanyaku. Dia menunduk.
"Coba aja dulu".
"Tapi kan kalau nanti kamu ngelamar dia, kamu bakal terikat pertunangan sama dia. Terus Ana bakal jadi milik kamu, sedangkan kalian sudah beda alam. Ana juga perlu pasangan. Pasangan...yang selalu ada di sisinya dan dapat di liat mata manusia".
"Benar apa yang kamu katakan. Aku tidak mungkin melamar manusia, makhluk yang sudah berbeda alam denganku. Dia juga perlu pasangan...
"Jika....aku tak bisa melamarnya. Aku ingin memberikan kalung liontin yang sudah ku janjikan padanya" dia terdengar ingin menangis. Menahan air mata itu memang sulit. Aku pernah merasakannya.
"Makannya nggak usah janji janji segala. Sekarang lo mati baru tau rasa kan! Mati nggak tenang...harus penuhi janji lo dulu. Iya kalau nanti Ana nggak ikut mati juga liat lo yang udah jadi hologram!" entah kenapa dari tadi Glen sewot mulu. Mana ucapannya nylekit di hati lagi. Raihan berbalik, aku lalu berdiri di samping Glen. Raihan menatap sedih ke arah Glen. Apakah dia sedih...jika nanti tak bisa bertemu lagi dengan Glen??.
"Ngapa lo natap natap gw begitu?!".
"Aku sedih....kalau nanti urusanku sudah selesai di dunia maka aku tidak bisa bertemu lagi denganmu" Glen tersentak.
"Iya juga ya?" Glen berlari ke arah Raihan dan menubruk tubuhnya, memeluknya sambil terisak.
"Jangan nangis dong" ujar Raihan namun itu malah membuat Glen tambah menangis.
"Aku jadi pengen minta sama Allah. Untuk di berikan satu kesempatan hidup lagi jika itu bisa. Untuk memperbaiki hidup ku dan bertemu lagi sama Glen" ujar Raihan. Mereka baru bertemu dan langsung seakrab itu??. Baru beberapa jam yang lalu lhohh??.
"Woiii...udah woiii drama banget sih. Aku doa'in ya....ini ikhlas banget lhoh...Ya Allah...kabulkanlah doa hamba. Semoga Raihan memiliki kesempatan hidup yang kedua kalinya, supaya dapat memperbaiki kesalahannya dan bertemu lagi dengan Glen" ujarku. Aku serius dan dengan ikhlas berdoa, semoga saja doa ku terkabul. Raihan dan Glen kemudian melepaskan pelukan mereka berdua dan mengucapkan amin secara bersamaan.
Bersambung...
Jangan lupa like, kirim hadiah serta vote dan komen positif jika suka.