I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 96



Di dalam ruangan sebuah cafe yang baru saja di buka hari ini, seorang pemuda tengah bersiap-siap. Pemuda itu memakai kaos putih yang ia padukan dengan jaket birunya. Celana jeans panjang dan sepatu snekers menambah cool tampilannya. Rambut yang biasa hitam kini ia warnai dengan warna biru dan abu senada dengan warna matanya.


Pemuda yang tak lain adalah Reyvan itu tampak gugup. Beberapa kali ia menarik nafas dan menghembuskan nafasnya pelan.


Malam ini ia akan bernyanyi di cafe yang baru saja ia resmikan pagi tadi. Ya, cafe yang di beri nama LaDis Caffe n Resto adalah miliknya. Hasil dari kerja kerasnya selama berkarir di dunia Entertaiment.


"Bisa diem ngga sih! Kakak pusing liatnya!" keluh Rizla yang sedari tadi melihat adiknya itu mondar mandir seperti setrikaan sambil mengigiti kuku jarinya. Ciri khas Reyvan saat sedang gugup.


"Ngga! Aku gugup banget, kak," sahut Reyvan membuat Rizla memutar bola matanya malas. "Apa sih yang membuatmu gugup? Bukannya kamu sudah pernah merasakan konser di tujuh provinsi? Kakak rasa saat itu kamu ngga segugup ini?" tanya Rizla heran.


"Kakak jangan pura-pura ngga tau!" sahut Reyvan ketus hal itu membuat Rizla terkekeh karena apa yang di ucapkan adiknya memang benar. Rizla tahu pasti apa yang membuat adiknya seresah ini.


Drttt..


Ponsel Rizla tiba-tiba berdering membuatnya yang sudah buka mulut hendak meledek sang adik dengan terpaska harus ia urungkan. Ia merogoh saku jasnya dan mengambil ponselnya, tertera nama sang manager adiknya disana.


"..."


"Datanglah ke Cafe milik Reyvan bersamanya, sekarang!" tukas Rizla dan mengakhiri panggilan itu lebih dulu. Setelah meletakkan kembali ponsel di jasnya, Rizla mendongakkan kepala dan mengrenyitkan dahinya saat melihat Reyvan sedang memperhatikannya dengan begitu serius.


"Apa?" Reyvan mendengus saat sang kakak malah bertanya bukannya memberi tahu apa yang baru saja managernya sampaikan.


"Apa katanya?" tanya Reyvan penasaran.


"Siapa?" bukannya menjawab Rizla justru balik bertanya dengan raut wajah yang terlihat bingung tentu saja hal itu membuat Reyvan ingin sekali memukul kepala kakaknya. Jika saja ia tak ingat Rizla lebih tua darinya sudah pasti Reyvan tak ragu untuk melakukan hal itu.


"Iya, oke.. Oke.. Dia sudah dalam perjalanan bersiaplah!" ujar Rizla saat melihat raut wajah adiknya yang sudah nampak kesal. Ia tak ingin membuat Reyvan tersinggung lagi, cukup waktu dulu saja yang membuat Reyvan kabur.


Sementara itu di dalam mobil, Disty duduk dengan gelisah ia takut apalagi saat mendengar orang yang ada di sampingnya ini selesai menelfon seseorang yang mungkin bosnya.


Disty ingin melarikan diri tapi tubuhnya terasa begitu lemah bahkan saat ini wajahnya terlihat pucat. Sekarang Disty merutuki kebodohannya karena sengaja tak mengisi tenaga hanya untuk menagisi nasibnya yang baru saja di tinggal ibu dan Nakula.


"Nakula? Cih! Dia bahkan tak ada di sini dan semua yang terjadi padaku adalah kesalahannya. Tapi tetap saja hatiku memanggilnya! Kesal sekali!" seru Disty dalam hatinya.


Tak lama kemudian mobil yang membawanya sampai di pelataran sebuah Cafe.


"Kenapa aku di bawa ke sini? Cafe ini baru saja di buka? Banyak sekali karangan bunganya. LaDis? Nama yang unik. Tapi.. Jangan-jangan aku mau di jual?" Disty memperhatikan sekelilinganya sembari mengikuti kemana pria bermata sipit yang menculiknya ini membawanya.


Mereka tiba di dalam cafe yang sangat ramai oleh anak muda. Dalam hatinya, Disty kembali berfikir jika ia memang akan di jual kenapa transaksinya harus di tempat umum? Dan lagi di sini terlalu ramai.


"Tunggu lah di sini, jangan kemana-mana!" ujar pria bermata sipit yang tak lain adalah maneger Jery pada Disty saat mereka sudah berada di meja khusus yang sebelumnya sudah di hias sedemikian rupa. Meja itu ada di tengah menghadap ke panggung.


Disty semakin terheran saat ada buket mawar di meja itu.


Jrenggg...


Suara petikan gitar membuat perhatian Disty terarah pada sosok pemuda di atas panggung yang sedang duduk sambil memangku sebuah gitar.


"Selamat malam semuanya," Sapa pemuda itu membuat beberapa pengunjung berteriak histeris.


"Rey.."


"Rey.."


"Rey.. I love you!"


Pekik para pengunjung meneriakan nama pemuda itu. Rupanya malam ini pengunjung di dominasi oleh wanita. Tentu saja mereka semua adalah fans fanatiknya Rey. Siapa yang tak mengenal sosoknya, artis dengan suara merdu yang mampu menghipnotis setiap orang. Apalagi di tunjang dengan wajah tampan dan tubuh yang proposional idaman kaum hawa.


Namun, sudah satu tahun lebih idola mereka itu tak pernah lagi menampakkan dirinya di depan kamera hingga para fans pun di landa penasaran. Ada yang berasumsi jika idola mereka telah menikah dan pindah ke luar negri, ada pula yang berasumsi jika idolanya bermasalah dengan manajemen yang menaunginya dan masih banyak asumsi-asumsi lainnya namun tak ada kejelasan lebih lanjut. Pihak Rey tak ada yang mengklarifikasinya.


Malam ini sesuai dari isi video yang Rey up di sosmednya bahwa dia akan mengatakan kemana perginya ia selama satu tahun ini. Bertepatan dengan pembukaan cafenya yang pertama.


"Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya saya akan mengatakan alasan mengapa satu tahun ini saya tak lagi menghiasi layar kaca kalian. Jadi.. Memang benar saya mempunyai masalah pribadi dengan kakak saya, Rizla. Saat itu saya yang masih kekanak-kanakan merasa jengkel dengan semua aturannya dan sebagai bentuk protes, saya berhenti dari manajemen nya. Tidak! Bukan berhenti, tapi lebih tepatnya melarikan diri." Rey mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, semua yang ada di sana mendengarkan dengan serius begitu juga Disty.


Disty tak mengenal sosok Rey itu siapa karena selama ini ia hanya tahu kerja, kerja, dan kerja. Jadi ia tak mengikuti perkembangan dunia hiburan tanah air. Namun, suara itu mengingatkannya pada seseorang yang amat ia rindukan.


"Siapa dia? Kenapa suaranya mirip dengan Nakula? Tapi, Nakula itu rapih tidak urakan seperti dia. Rambutnya warna warni udah kayak lolipop, norak! Dan lagi ngapain juga gue ada di sini?" Sembari memperhatikan apa yang Rey katakan Disty terus menggerutu dalam hatinya.


"Satu tahun, saya sembunyi dan bekerja menjadi salah satu staf di sebuah perusahaan besar. Saya nyaman dan saya memutuskan malam ini adalah malam terakhir saya menyanyi untuk kalian. Maafkan saya, jika selama saya berkarya banyak menyinggung kalian dan terimakasih untuk suport nya selama ini," Semua pengunjung berteriak histeris mendengar penuturan Rey yang mengejutkan itu. Mereka tidak terima jika idola mereka benar-benar akan berhenti menghibur mereka.


"Tapi kenapa, Rey? kami semua akan kecewa jika kamu berhenti," Ujar seorang wanita yang duduk paling depan mewakili pertanyaan dari semua fansnya.


"Karena... Karena saya ingin menjaga satu hati yang akan menemai saya selama sisa hidup saya," Tukas Rey dan pandangannya terarah pada sosok Disty yang sedari tadi hanya diam memperhatikan.


Rey tersenyum manis pada Disty membuat pandangan semua orang terarah padanya. Disty semakin di buat bingung oleh keadaan yang sedang di alaminya sekarang.


"Untuk itu, sekali lagi saya minta maaf,"


"Huaaaa... Rey.. Jangan tinggalkan kami!"


"Rey.."


"Huaaaa... Aku akan selalu menjadi fans mu, semoga kamu bahagia dengan pilihan mu." Pro kontra mengiringi keputusan yang di ambil Rey. Beruntung fansnya bukanlah fans yang bar-bar mengekang keputusannya. Meski masih ada yang kecewa namun mereka mencoba pasrah dan mendukung apapun keputusan sang idola.


"Terimakasih semuanya, saya menyayangi kalian semua. I love all," Seru Rey dan di balas sorakan pengunjung hanya Disty saja yang terlihat seperti orang linglung. Tak tahu apa yang harus di lakukannya.


Jrenggg...


Rey memetik gitar akustik di pangkuannya dan mulai bernyanyi untuk para fansnya. Satu, dua lagu sudah ia nyanyikan namun agaknya fansnya tak ingin berhenti mendengar suara merdunya. Mereka serentak bersorak "Lagi.. Lagi.. Rey.."


"Udah ya, saya ingin mempersembahkan sebuah lagu istimewa untuk seseorang di sana yang juga begitu istimewa untuk saya." Lagi-lagi Rey melihat Disty ketika mengatakan hal itu. Tak lupa Rey juga memberikan senyum tulusnya.


"Untukmu,yang selama ini mengisi hari-hariku.. Aku memang bukanlah pria yang pandai merangkai kata, aku bahkan tak pandai bersikap romantis. Namun aku berjanji padamu untuk selalu menemanimu apapun yang terjadi." Rey turun dari atas panggung dan berjalan dengan perlahan menghampiri Disty. Kerumunan orang-orang yang tadi berdesakan untuk melihat perform nya pun perlahan bergeser dan memberi Rey ruang untuk berjalan.


Suara musik terdengar mengalun seiring langkah kakinya. Rey terus menatap wajah cantik pujaannya dengan penuh cinta dan itu bisa Disty rasakan. Entah mengapa hatinya berdesir dan ia sangat yakin jika laki-laki yang tengah menghampirinya ini adalah Nakula.


"You are the one girl


I'm feeling younger


Every time that I'm alone with you" Rey mulai bernyanyi dengan seluruh cinta yang dia punya, ia tuangkan perasaan itu lewat sebuah lagu.


"We were sitting in a parked car


Stealing kisses in the front yard


We got questions we should not ask but


How would you feel, if I told you I loved you?


It's just something that I want to do


I'll be taking my time, spending my life


Falling deeper in love with you


So tell me that you love me too"


Rey mengenggam tangan Disty saat sudah berdiri di depannya. Tersenyum saat melihat mata Disty yang tampak berkaca-kaca. Meski terlihat berbeda tapi hatinya tak bisa di bohongi, Disty sangat yakin jika laki-laki di depanya adalah Nakula. Ya Distu memang benar, Rey dan Nakula adalah orang yang sama.


"In the summer, as the lilacs bloom


Love flows deeper than the river


Every moment that I spend with you


We were sat upon our best friend's roof


I had both of my arms round you


Watching the sunrise replace the moon


How would you feel, if I told you I loved you?


It's just something that I want to do


I'll be taking my time, spending my life


Falling deeper in love with you


So tell me that you love me too"


Disty tak kuasa menahan tangisannya, ia memeluk Rey begitu erat. Pelukan yang masih sama terasa begitu nyaman dan hangat. Disty terisak dalam dekapan Rey.


"Aku merindukan mu, Nakula.. Aku merindukan mu.." Isaknya membuat senyum tergambar jelas di wajah Nakula. Ia melanjutkan lagu yang tinggal sedikit lagi selesai itu.


"We were sitting in a parked car


Stealing kisses in the front yard


We got questions we shouldn not ask


How would you feel, if I told you I loved you?


It's just something that I want to do


I'll be taking my time, spending my life


Falling deeper in love with you


So tell me that you love me too


Tell me that you love me too


Tell me that you love me too"


Sama seperti Disty, Nakula juga menetesakan air matanya dan berkali-kali melabuhkan kecupan hangat di ubun-ubun Disty.


"Aku mencintaimu, Adisty Narendra. Aku mencintaimu lebih dari apapun," ucap Nakula atau Rey itu masih memeluk erat Disty, seolah ia takut kembali berpisah dengan pujaan hatinya. Rey dan Disty bahkan sejenak melupakan banyak pasang mata yang memperhatikan mereka dengan tatapan iri, terutama yang tertuju pada Disty.


"Aku.. juga mencintaimu, Nakula atau Rey? Apa pun itu, aku sangat mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan aku lagi, aku takut,"


Malam itu, Disty dan Nakula yang sekarang merubah nama panggilannya menjadi Rey resmi menjadi sepasang kekasih.


.


.


.


.


.


Bersambung...


...----------------...


😁 Menepi dulu dari tokoh utama yah guys, kita selesaikan dulu dengan para tokoh pendukungnya. Karena, setelah ini kedepannya hanya akan muncul kisah segi tiga dari si pemeran utama.. Tungguin ya...


Happy reading all..