
Akibat dari ucapan laki-laki di restoran tadi aku sudah tidak lagi bisa berkosentrasi dalam pekerjaan ku. Aku pun di buat bingung, apa jangan-jangan perjodohan itu memang benar sudah di realisasikan oleh nenek? Jika benar, habislah aku.
Tidak ada alasan untuk menolak, apalagi sampai sekarang aku belum mengetahui dimana keberadaan Atta. Rupanya nenek tua itu bergerak sangat cepat dari dugaan ku. Sepertinya usia yang semakin habis di makan waktu membuatnya tidak sabar untuk menjadi orang kaya. Ck, aku sudah seperti barang yang ia tukar dengan kenikmatan dunia.
Cucu kesayangan apanya, yang ada aku justru lebih mirip barang yang ia rawat kemudian ia jual pada kolektor.
Tut...
Tut...
Tut...
Terdengar suara yang menandakan panggilan tersambung. Dari pada banyak menerka dan berfikiran yang tidak-tidak lebih baik aku menanyakan kebenarannya langsung.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya terdengar suara yang merdu nan lembut dari wanita yang sangat aku sayangi.
'Iya, Sayang... Ada apa? Tumben kamu nelfon duluan?" Sindir ibuku karena aku memang tidak pernah menghubunginya terlebih dahulu. Terdengar keterlaluan memang.
"Mah, Apa perjodohan yang nenek ucapkan waktu itu benar sudah terjadi? benar sudah di sepakati?" Tanyaku tanpa basa-basi.
Hening. Tidak ada suara dari sebarang sana membuat ku semakin penasaran.
'Iya' Singkat ibuku terdengar lesu begitu juga denganku. Seketika tubuhku terasa lemas bagai tak bertulang.
"Tapi... Bagaimana bisa? sedangkan aku sendiri tidak tahu apa-apa... Kenapa nenek tua itu tidak bilang dulu dengan ku, mah" Protesku, karena terasa tak adil sekali. Aku kan sudah pernah bilang, aku tidak menyetujui perjodohan ini. Tidak saat aku belum menemukan keberadaan Atta. Aku bahkan sampai jauh-jauh kabur dari rumah untuk menunjukan protes ku. Tapi, rupanya apa yang ku lakukan tidak ada gunanya.
'Hei gadis nakal!!' Sentak sebuah suara berat dari sebarang telpon, siapa lagi jika bukan ayahku.
"Ayah juga, kenapa bilang "Iya" gampang banget? jangan bilang karena ayah di sogok segepok duit, makanya main iya-iya aja?" Tubuhku tak lagi mengingat sopan santun. Bukan seperti itu maksudnya, kami memang biasa saling ejek seperti itu.
'Hei!!! Dasar gadis kurang ajar.. Ayah sendiri di bilang kayak gitu? Sialnya benar.. Huft... Dah lah , kalau mau tau jelasnya lebih baik kamu pulang... Jangan nungguin rumah orang aja, rumah sendiri ngga pernah di singgahi' Putus ayahku. Aku mendengus mendengar jawaban dari cinta pertama ku itu. Sudah bukan hal yang aneh sih jika ayah akan berbinar melihat tumpukan uang. Buah jatuh memang tidak akan jauh dari pohonnya, kecuali jika pohonnya di pinggir jurang!
"Ngga bisa sekarang, yah. Pokonya Tasya ngga mau tau ayah harus batalin perjodohan itu titik ngga pake koma apalagi tanda seru" Putusku yang langsung di protes oleh Ayah. Terjadi perdebatan alot namun akhirnya aku mengalah.
"Ya udah Minggu depan Tasya pulang" Putusku akhirnya. Minggu depan kan acara kantor di sekitar daerah tempat tinggalku, jadi sekalian saja mampir sebentar mumpung weekend.
"Kamu serius, nak?" Tanya ibuku terdengar senang. Mungkin ibuku memang merindukan anaknya yang nakal ini, aku pun mengakui jika aku terlalu keterlaluan dengan orang tua yang seharusnya aku hormati, namun karena ego yang besar justru aku selalu melukai hatinya.
"Iya" Singkatku, dan kami pun mengobrol sebentar sebelum akhirnya aku mengakhiri panggilan tersebut dan kembali di sibukkan dengan pekerjaan yang sempat tertunda. Karena telah sedikit mengeluarkan uneg-uneg, aku bisa kembali fokus pada pelet yang sempat tertunda.
.
.
.
Hari demi hari berlalu begitu cepat, tidak terasa besok sudah weekend lagi, itu artinya pekerjaan tambahan ku akan segera berakhir. Huft... Leganya.
Kesibukan dalam bekerja membuatku tak memiliki waktu untuk menjenguk keadaan budhe sekarang. Tapi, aku selalu menyempatkan diri bertanya pada kak Sarah via chat, dan Alhamdulillahnya keadaan budhe semakin membaik. Sempat ku dengar budhe memohon pada Kak Sarah untuk bisa kembali bekerja karena katanya tak enak dengan ku namun kak Sarah belum mengizinkan karena keadaan budhe yang masih lemah. Aku pun memaklumi dan tidak masalah.
Sampai di apartemen, sepi lagi-lagi menyapa. Aku heran dengan Tuan Abi betah sekali dalam keheningan seperti ini. Apa ia tidak takut kalau tiba-tiba di sampingnya tidur ada Miss K yang menemani? Seketika aku bergidik ngeri membayangkan hal tersebut.
Saat sedang memasak makan malam untuk Tuan Abi, bel apartemen berbunyi. Aku mengernyitkan dahi karena selama tinggal di sini baru kali ini ada yang bertamu, siapa kira-kira ya?
Ceklek
Kubuka pintu perlahan menampakkan seorang wanita yang garis mukanya sedikit mirip dengan Tuan Abi, aku mengernyitkan dahi bingung begitu juga dengan ibu ini.
"Kamu siapa?" Tanyanya setelah cukup lama masing-masing dari kami hanya saling pandang.
"Oh.. selamat malam nyonya. Saya Tasya ART di sini" ucap ku sopan.
"Mari masuk, nyonya. Tuan Abi kebetulan belum pulang" lanjutku seraya bergeser memberikannya jalan.
Ia berjalan melewati ku dan aku segera menyambut barang yang ia bawa. Jika di lihat ia memang ibu dari Tuan Abi aku yakin seratus persen, makannya aku berani mempersilakan nya masuk.
"Kamu tahu siapa saya?" Tanyanya setelah duduk dengan nyaman di sofa.
Aku kembali mengangguk dan terus menunduk tak berani mengangkat wajahku.
"Maaf jika saya salah, nyonya. Anda ibu dari Tuan Abi?" Ia tersenyum lembut mendengar jawabanku.
"Eh.. em.. Bu..bukan begitu, nyonya. Saya sebenarnya karyawan di kantor Tuan Abi. Saya di sini menggantikan budhe untuk sementara waktu karena ia sedang sakit" tuturku menjelaskan lumayan gugup ternyata berhadapan dengan calon mertua. Haha!
"Oh pantas kamu masih muda. Kenapa kamu menundukkan kepala seperti itu. Jangan terlalu formal, saya malah jadi takut" Kekehnya membuat suasana canggung menjadi sedikit mencair. Ku rasa ibu tuan Abi orang yang baik dan ramah. Terbukti ia tak membeda-bedakan kasta.
"Biar saya siapkan minuman, nyonya. Permisi" Ia pun mengangguk.
Tak lama kemudian secangkir teh hangat sudah tersedia di meja. Ibu tuan Abi memintaku untuk menemani nya ngobrol sambil menunggu anaknya. Namun, karena aku belum selesai memasak akhirnya kami mengobrol di dapur. Lebih tepatnya sih ibu tuan Abi yang belum ku ketahui namanya ini sedang mengintrogasi ku. Mungkin sebagai orang tua ia juga merasa was-was anak nya tinggal satu atap bersama lawan jenis. Padahal kan kami jarang bertemu hanya waktu sarapan dan makan malam saja.
"Jadi kamu sudah hampir satu Minggu tinggal di sini?" Tanya Ibu tuan Abi yang selanjutnya akan ku panggil nyonya besar.
"Wah kenapa Abi sama sekali tidak memberi tahu kami? ngga bisa di biarkan ini... kalau terjadi fitnah bagaimana?" Tanya nya lagi nampak gusar, aku jadi bingung.
"Selama itu kalian ngapain aja?"
"Apa dia berbuat macam-macam? atau justru kamu yang malah menggoda putraku?"
"Kalau ayahnya tahu bagaimana"
Berbagai pertanyaan terus ia lontarkan hingga aku di buat pusing dan tak mampu menjawab. Yang ku lakukan hanya menatapnya cengo dan mulutku tak berhenti menganga setiap mendengar pertanyaan nya. Apalagi perkataan nya yang terakhir.
"Kalian nikah aja lah, biar ngga numpuk dosa" Aku mengerjap beberapa kali mencoba mencerna ucapannya.
Aku tak salah dengar? yang benar saja, walau aku memang suka cari perhatian di depan tuan Abi tapi untuk menikah... Big no!!!
"Nikah? siapa yang akan nikah, mah?" Tanya sebuah suara yang tiba-tiba muncul dari balik dinding membuat aku dan nyonya besar terperanjat kaget.
Tuan Abi berjalan menghampiri kami dan mencium tangan nyonya besar.
"Ya kamu lah. Nyimpen anak gadis orang tapi ngga mau laporan. kalau di grebek satpol PP gimana?" Ujar nyonya besar semakin melantur.
"Apa sih mah. Lagian ini kan apartemen bukan hotel" ketus Tuan Abi.
"oh benar juga ya" sahut nyonya besar polos membuat ku menahan senyum. Lucu juga perdebatan orang kaya.
"Lagian siapa yang mau menikahi wanita sinting kaya dia, mah? Abi sih ngga mau ya" Ujar pak Abi seenaknya. Ngga taukah ucapannya itu melukai perasaanku?
"Halah Sinting-sinting kaya gini juga bisa bikin air liur Tuan netes. Buktinya kemarin sore waktu saya ma... hmmmpppttt hemmmpttt" Ucapan ku terputus kala tangan besar Tuan Abi membekap mulut dan hidung, membuat pasokan oksigen ku terhenti.
"Stttt jangan ngomong yang nggak-nggak. Kamu mau ngomong kejadian kemarin sore di hadapan mamah? mau bikin mamah tambah salah faham" Bisiknya.
Apa sih yang di pikirkan nya? apa dia pikir aku akan menceritakan kejadian kemarin sore? oh ayolah aku bukan gadis polos. Mana mungkin aku berani mengatakan kejadian memalukan itu.
Kemarin sore, bukan sore sih sebenarnya sudah masuk waktu malam. Saat itu, aku sudah menyelesaikan pekerjaan rumah dan seperti biasa Tuan Abi belum pulang, jadi aku pergi mandi. Tapi, aku tak menyangka saat sedang mencari baju ganti dengan hanya handuk yang melilit di tubuhku Tuan Abi masuk begitu saja ke kamar ku tanpa mengetuk pintu. Tentu saja baik aku dan Tuan Abi sama-sama terkejut. Tapi, tak ada yang terjadi hanya itu. Kenapa dia seolah takut aku akan berkata macam-macam?
"Ma apa?" Tanya nyonya besar penasaran.
"Orang sinting jangan di dengerin, mah. Dia ngaco" Ujar tuan Abi.
"Hmmmpppttt.... hemmmpttt" Aku terus berusaha berontak karena ku rasa pasokan oksigen ku benar-benar telah habis. Menyadari mulut dan hidung ku masih tertutup, gegas ia melepaskan tangannya.
"Buaaahhhhhhh..." Aku menghirup nafas dalam dengan serakah.
"Tangan orang kaya mah beda ya? wangi... beda sama tangan sepupu saya, udah mah asin bau terasi lagi" kekeh ku.
"Kamu bisa aja, Sya?... tadi mau bilang apa? ma apa?" Tanya nyonya besar masih penasaran agaknya. Aku mengalihkan pandangan pada tuan Abi yang sedang mengancam ku dari tatapan matanya. Dia pikir aku takut apa?
"Waktu kemarin sore, saya lagi ma... makan mie instan di dapur, sebelumnya saya sudah menawari tuan. Tapi, katanya ngga sehat lah ngga enak lah, kotor lah, banyak penyedap lah, tapi waktu saya mau makan di ambil juga malah abis sama kuah-kuahnya. Kan kesel padahal saya udah laper banget" Keluh ku membuat Tuan Abi menghembuskan nafas lega. Dia sungguh berfikir aku akan mengatakan yang lain, padahal dari awal aku kan mau cerita yang ini.
Wajah panik tuan Abi lucu juga, sayangnya sebentar lagi aku tak bisa melihat tuan Abi dari dekat. Aku harus kembali ke tempat dimana seharusnya aku berada.
.
.
.
.
Bersambung....