
“Mohon maaf, tuan Zayn saat ini sedang kritis karena sebuah peluru hampir mengenai jantungnya!” jelas Dokter membuat semua orang yang ada di sana terdiam tak percaya.
“Tidak mungkin dokter! Bagaimana bisa ada peluru, sedangkan di sana terjadi bom bunuh diri bukan tembak menembak! Dokter jangan mengada-ada! Atta pasti baik-baik saja kan dok! Iya kan! Dokter pasti bercanda, kami akan menikah hari ini dok, mana mungkin Atta kritis!.. Hiks.. hiks, Atta..” Tasya berteriak tak percaya dengan apa yang baru saja dokter sampaikan.
Tasya bahkan sampai memukul-mukul pelan dada sang dokter, membuat semua orang yang ada di sana kembali terisak merasa kasihan pada nasib dua pasangan kekasih yang tinggal beberapa menit lagi akan menjadi pasangan suami istri.
Sayangnya takdir berkata lain, tapi mereka berharap jika Zayn akan kembali pada mereka.
Sang dokter terdiam, ia sama sekali tak marah saat dirinya menjadi pelampisan dari kekecewaan Tasya. Dokter yang seumuran ayah Tasya tersbut justru menatap iba padanya. Sekali melihat saja ia sudah bisa menebak jika mereka akan menikah hari ini atau justru mereka sudah menikah, karena Tasya masih berbalut pernak pernik seorang pengantin.
“Sayang, tenangkan dirimu.. biar dokter menyelesaikan penjelasannya dulu,” ucap ibu Tasya yang langsung memeluk anak kesayangannya.
“Tapi, Mah.. Atta.. Atta sudah janji akan membuat Tasya bahagia dan menikahi Tasya tapi kenapa dia ada di dalam, Mah! Dia bohong lagi!.. hiks.. hiks..”
Abi terdiam melihat Tasya yang menangis terisak dipelukan ibunya. Ingin sekali ia memeluk dan menenangkan Tasya, tapi ia tak bisa melakukannya. Dia bukan siapa-siapa dan tak mempunyai hak apa-apa.
Abi memjamkan matanya, berusaha untuk menenangkan hati yang sakit melihat orang yang dia sayangi begitu rapuh.
“Apa kakak saya masih bisa selamat, dok?” Tanyanya yang sedari tadi diam membuka suaranya membuat atensi semua orang terfokus padanya dan menatap penuh harap pada sang dokter.
Sang dokter menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Abi. “Sangat tipis, karena peluru itu hanya berjarak satu centimeter dari jantungnya. Dia masih bisa bernafas sampai saat ini pun itu adalah sebuah keajaiban dan semoga keajaiban terus menghampiri tuan Zayn. Baiknya kita semua sama-sama berdoa agar tuan Zayn bisa kembali berkumpul bersama kita seperti dahulu lagi.” Tutur sang dokter membuat semua orang terisak.
“Kami akan segera melakukan oprasi untuk mengangkat peluru tersebut. Tapi oprasi kali ini sangat beresiko, semoga tuan Zayn bisa melewati masa kritis ini.” Lanjut sang dokter sambil menghela nafasnya berat.
Tasya yang tak sanggup mendengar penjelasan dokter pun jatuh pingsan dan ia pun harus dirawat di rumah sakit tersebut karena keadaanya yang sangat lemah.
Setelah memastikan Tasya baik-baik saja, Abi kembali ke ruang rawat Zayn, tepatnya ruang ICU. Zayn masih dalam masa kritis setelah sempat membaik dan dokter pun bisa melakukan tindakan oprasi padanya. Sayangnya, pasca oprasi tubuh Zayn kembali melemah dan harus di larikan ke ruang ICU dan Abi masih setia melihat Zayn dari balik kaca.
Abi menatap Zayn dengan sendu, ia menempelkan tangannya di kaca seolah tengah menyentuh wajah Zayn. “Kak.. Apa ini maksud dari yang kakak katakan padaku tadi malam? Kalau iya, kakak harus bangun karena aku menolak apa yang kakak pinta itu. Kakak harus bangun dan melihat anak kalian tumbuh dewasa.” Ujar Abi.
“Kakak harus bangun dan menepati janjimu padanya. Kau tak mungkin terlelap dengan tenang setelah mengatakan janji yang begitu manis padanya tapi justru kau mengingkarinya lagi kan? Kau bukan pengecut kan kak? Kau harus bangun atau dia akan berada di tangan orang yang salah. Kau pasti tidak ingin hal itu terjadi kan?”
Setelah mengatakan hal tersebut, Abi berbalik dan meninggalkan lorong ICU tersebut hendak meihat keadaan keluarganya yang juga menjadi korban dari ledakan bom tersebut.
Peristiwa naas itu sungguh membuat Abi terpukul. Tak sedikit tamu yang terluka, baik luka ringan maupun luka yang sangat parah hingga harus di rawat dengan intensif. Tak sedikit pula korban yang meninggal dunia.
Abi merutuki kebodohannya yang terlambat menyadari bahaya yang sedang mendekat pada keluarganya. Jika ia sadar lebih awal mungkin semua ini tak akan terjadi. Andai ia menempatkan banyak penjagaan pada tempat itu mungkin orang-orang tak akan kehilangan nyawa mereka dengan sia-sia. Namun menyesal pun tak ada gunanya, ia tak mungkin bisa mengembalikan nyawa orang-orang yang datang dengan niat untuk melihat kebahagian mereka justru harus meninggalkan keluarga mereka selamanya.
Dan semua peristiwa ini terjadi karena ulah orang yang tidak tahu diri seperti..
Ya, Daniel lah yang ada di belakang orang-orang misterius itu. Keduanya sudah mengaku dan kini para polisi sedang mengejar Daniel untuk bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya. Namun tak semudah itu untuk menangkap dan menyeret anggota keluarga Wirasena, karena ternyata mereka kebal hukum. Dan hal itu membuat Abi semakin geram.
Abi mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. “Satu lagi aku ingin meminta bantuanmu,” ucapnya setelah panggilan terhubung.
“….”
“Ya, ini yang terakhir.. hari ini!’ tuas Abi sedikit jengkel karena orang yang di sebrang telfon ternyata menolak untuk membantunya.
“….”
“Sudahlah.. bantu aku kali ini saja. Kau bilang jika ada apa-apa, aku bisa menghubungimu. Mana janjimu itu tuan White yang terhormat!”
“….”
“Bagus! Aku ingin kau membuat seluruh usaha keluarga Wirasena hancur! Aku ingin membuat mereka tak berdaya dan semua kejahatan mereka terbongkar! Aku ingin membuat kehancuran yang setimpal untuk mereka!” ujar Abi dengan mengebu-gebu.
Setelah mengatakan keinginanya panggilan pun berakhir. Abi berjalan memasuki sebuah ruangan dimana di sana ada dua brankar serupa tempat tidur. Ia mendekat ke brankar salah satunya, dimana itu adalah brankar ibunya. Hatinya sungguh hancur melihat tiga orang, tidak! Maksudnya empat, lima, bahkan semua orang yang dia sayangi sedang terbaring lemah di brankar rumah sakit, termasuk Rico.
“Maafkan Abi, mah, Pah. Abi sungguh bodoh karena tak menyadari hal mengerikan ini akan terjadi. Maafkan Abi yang gagal menjaga kalian semua,” lirihnya.
Ia mengecup kening ibunya yang berbalut perban. Ibu Zayn dan Abi itu mengalami luka pada kepala, tangan dan kaki sebelah kiri. Sedangkan tuan Robert sendiri pun mengalami luka yang sama dengan sang istri. Beruntungnya luka mereka tak begitu parah.
Abi melakukan hal yang sama pada sang papah setelah itu ia memasuki kamar rawat Angel yang berada tepat di samping kamarr rawat orang tuanya. Sayang sekali nasib dokter cantik sekaligus sepupunya itu tak jauh berbeda dengan orang tuanya.
Hal yang sama ia lakukan pada keluarganya dan keluarga Zayn juga ayah Tasya. Usai menanyakan kondisi mereka pada dokter yang menangani, Abi berlalu dan beralih pada kamar rawat Tasya.
.
.
.
.
Bersambung...