
"Eh.. Ekhem.. Kalau gitu gue ke kamar mandi dulu." ujar Disty gugup kemudian ia segera beranjak dan meninggalkan teman-temannya tanpa menunggu jawaban mereka. Berada di dekat Zayn sungguh membuat jantung Disty bedetak tak normal. Sebisa mungkin Disty menghindari tatapan heran dari Tasya dan juga Zayn.
Setelah Disty pergi, Tasya hendak membuntuti Disty dan mencuri dengar apa yang akan Disty ucapkan. Karena ia yakin sekarang ini Disty pasti ingin melaporkan informasi yang baru saja ia dapatkan pada sekutunya. Tasya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menangkap basah Disty. Tapi agaknya tak semudah itu untuk mendapatkan bukti, karena saat ini Zayn malah membuat keributan yang mau tak mau menghentikan aksi menguntitnya karena takut ketahuan oleh Disty.
"Sayang! Tunggu!" Panggil Zayn, dia takut Tasya salah paham dengan yang baru saja di lakukannya. Apalagi melihat Tasya yang pergi begitu saja dari kantin meninggalakan makan siangnya yang baru tersentuh setengah. Hal itu menambah ketakutan dalam dirinya. Sedangkan Nakula hanya terdiam melihat teman-temannya yang malah pergi begitu saja. Ia kemudian melanjutkan makan siangnya.
Kesal, Tasya pun berhenti dan melayangkan tatapan tajam pada Zayn. "Bisa diem ngga?!!" Ketus Tasya membuat Zayn mematung di tempat. Apa kekasihnya itu sungguh marah? Kenapa Tasya sampai membentaknya? Apa kesalahannya kali ini sungguh besar? Itu lah yang saat ini ada di pikiran Zayn.
"Kok kamu galak sih, yank? kamu marah ya? Aku minta maaf deh.. Tadi tuh beneran aku ngga sengaja!" keluh Zayn namun sama sekali tak di tanggapi oleh Tasya. Gadis itu justru berjalan meninggalkan Zayn yang masih di landa rasa bersalah. Rasa penasaran sekaligus geram membuat Tasya tak mempedulikan apa pun yang di katakan oleh Zayn.
"Sayang!! Kok aku di tingal sih?" Keluh Zayn lagi.
Saat ini Disty berjalan ke arah parkiran kantor, bukan untuk mengambil kendaraannya. Tapi, di sana lah tempat di kantor yang paling sepi dan aman. Seperti dugaan Tasya, Disty memang hendak melaporkan informasi yang baru saja ia dapatkan.
Sementara itu, Tasya sudah berada di lobby. Ia kehilangan jejak Disty karena sempat di ganggu oleh Zayn. "Haish.. Kemana dia?" gumamnya sambil melihat ke kanan dan kirinya mencari sosok Adisty. Zayn yang berada di belakang Tasya pun ikut merasa heran.
"Cari siapa, yank?" Tasya tersentak saat mendengar suara Zayn di belakangnya. Ia mengusap dadanya pelan.
"Bisa ngga sih, jangan ngagetin?" keluh Tasya.
"Lagian kamu fokus banget. Aku di kacangin! Nyari apaan sih?"
"Sttt! Kalau mau ikut ngga usah berisik!" setelah mengatkan hal itu, Tasya langsung menarik tangan Zayn untuk mengikuti langkahnya. Entah kenapa ia memiliki firasat bahwa Disty saat ini ada di parkiran.
Benar saja, tiba di sana ia bisa melihat Disty sedang bersandar di bawah pohon palem yang letaknya ada di pojok parkiran motor. Posisi parkiran yang terbuka membuat Tasya kebingungan untuk mendekat.
"Kamu dari tadi ngikutin Disty?" Tanya Zayn heran dan hanya di angguki kepala oleh Tasya.
"Ya ampun, sayang! Kamu kalau cemburu itu liat-liat tempat dong. Masa sahabat sendiri di cemburuin sih?" mendengar ucapan Zayn seketika membuat Tasya terngangga tak percaya.
"Ya ampun! kalau cemburu itu liat-liat tempat dong, masa adek sendiri di cemburuin sih!." ketus Tasya mengikuti ucapan Zayn dengan wajah yang di jelek-jelekkan meledek pria itu.
Zayn yang merasa tersindir pun tersenyum canggung karena yang di ucapkan Tasya itu benar. "Tapi kan yank.. Kita mau ngapain sih?" keluh Zayn lagi karena ia mulai merasa panas.
"Kita harus mendekat, tapi gimana caranya biar ngga ketahuan?"
Usai Tasya mengatakan hal itu, Disty membalikan badannya untuk melihat sekeliling nya memastikan keadaan aman. Reflek Tasya menarik tangan Zayn untuk sama-sama berjongkok bersembunyi di balik motor-motor yang berjajar rapih. Beberapa saat kemudian ia kembali melihat ke arah Disty. Memastikan jika Disty tak menyadari kehadirannya.
Pukk
Baru saja Tasya dan Zayn melangkah dengan posisi masih berjongkok, keduanya di kejutkan dengan sesuatu yang terjatuh di pundak mereka. Namun, akhirnya mereka bisa bernafas lega saat orang yang memergoki aksinya itu adalah Nakula.
"Kalian ngapain?" Tanyanya dan dengan sigap Tasya menarik tangan Nakula agar pria itu pun ikut jongkok bersama mereka.
"Sttt.. Udah ikut aja!" Ujar Tasya dan sesaat kemudian mereka sudah berada di belakang Disty hanya terhalang oleh pohon palem dan juga satu motor.
Dari tempat mereka menguping, suara Disty masih terdengar jelas. "Lo kemana aja sih..!" Disty tampak mulai berbicara dengan lawan bicaranya di telpon. Sesekali Disty melihat ke kiri dan kanannya untuk memastikan lagi semua masih aman.
"...."
"Gue ada informasi penting!!"
"....."
"Zayn dan Abi, rupanya mereka adik kakak. Saat ini Zayn sudah menemukan ibu kandungnya, itu artinya hanya tinggal satu langkah lagi. Ini tidak bisa di biarkan!"
Ucapan Disty itu berhasil membuat Zayn dan Nakula sama-sama terkejut dan saling pandang satu sama lain. Mereka tak menyangka ada niat terselubung dari kedekatan mereka selama ini. Tapi, mereka tak bisa langsung menyimpulkan apa yang Disty inginkan. Sedangkan Tasya tersenyum karena rencannya berhasil dan lebih beruntungnya lagi, Tasya tak perlu susah-susah untuk memberitahukan siapa sebenarnya Disty pada Zayn dan Nakula karena mereka kini sudah mendengar sendiri.
"...."
"..."
"Gue udah berusaha membuat mereka berantem tapi sulit sekali. Udah gue bilang ganti targetnya, bod*h!! Tasya itu ngga mempan gue panas-panasi apalagi cuma foto kayak gitu."
"...."
"Itu sih terserah lo aja, yang penting gue udah kasih lo informasi yang begitu penting. Gue tunggu bayaran yang udah kita sepakati."
Belum sempat Disty mematikan panggilan itu seseorang lebih dulu mengambil ponselnya. Sontak saja hal itu mengejutkan Disty apalagi mendapati siapa yang mengambil ponselnya. Disty di buat membeku saat tahu jika ponselnya di ambil oleh..
"Tuan Abi.." gumamnya lemah, lebih terkejut lagi saat Tasya, Nakula, dan Zayn pun berdiri di balik punggung Abi.
Rupanya Abi sempat melihat saat Zayn dan Tasya berjalan keluar kantor dengan terburu-buru. Karena penasaran Abi pun imut membuntuti mereka dan Abi agak terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Kenapa memangnya kalau Kak Zayn berhasil menemukan ayah kandungnya? Apa itu masalah untukmu?" Tanya Abi datar membuat Disty tak bisa berkata-kata. Dalam keadaan mendesak seperti ini entah kenapa Disty yang manipulatif tak bisa berkutik. Ia tak bisa memikirkan alasan, otak nya tiba-tiba buntu.
"Jadi selama ini, lo yang udah berusaha mengadu domba gue sama Tasya?" Ujar Zayn tak habis pikir. Sedangkan Nakula hanya menatap Disty tak percaya, namun jauh di lubuk hatinya ia masih percaya jika Disty adalah orang baik. Hanya saja pasti ada alasan yang mendasarinya melakukan hal itu.
"Gu.. Gue... Maaf!" Akhirnya haya kata maaf lah yang bisa Disty ucapkan.
"Dan lo kerja kayak gini buat siapa? Kalau dengan sahabat sendiri aja lo bisa jadi penghianat gimana sama perusahaan?" Tanya Abi tak lagi bicara dengan nada fomal. Tasya sedari tadi hanya diam menyimak, karena semua pertanyaannya sudah di wakilkan oleh Zayn dan Abi.
"Tidak tuan! Saya bersumpah apa yang saya lakukakan murni karena hati tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan. Saya bekerja di sini karena saya menyukainya, bukan karena desakan seseorang." Ujar Disty yang matanya sudah memerah.
"Lalu apa alasannya?"
"Sa.. Saya.. Saya iri melihat kebahagaian Tasya!" Ujar Disty sambil melayangkan tatapan sinisnya pada Tasya yang sedari tadi hanya diam.
"Maksud lo apa?" Tanya Zayn masih penasaran dengan penjelasan Disty yang mengantung.
"Saya.. Saya sebenarnya sudah sejak pertama kali bekerja di sini mempunyai perasaan yang lain sama lo Zayn. Tapi kenapa sama sekali lo ngga ngelirik gue? Sedangkan dia yang baru satu hari masuk bisa langung dekat dengan lo dan tuan Abi. Apa hebatnya dia?"
"Gue semakin patah hati saat gue denger lo marah saat tahu Tasya begitu dekat dengan tuan Abi. Dari sana gue tahu kalau lo suka sama Tasya dan pada saat itu ibu gue masuk rumah sakit. Ibu gue harus segera menjalani operasi ginjal, karena penyakit ginjalnya sudah semakin parah."Jelas Disty bahkan ia kini sudah terisak mengingat kembali bagaimana wajah ibunya yang terbaring lemah di ranjang pasien.
"Saat itu ada seorang wanita yang menawarkan bantuan untuk mencari donor ginjal dan gue harus membayar ginjal itu dengan merusak hubungan kalian." Tutur Disty mengakhiri ceritanya.
"Maafin gue.."
Setelah mengatakan kejujuran itu, Disty pergi meninggalkan Abi, Zayn, Tasya, dan Nakula di parkiran yang masih mematung mencerna pengakuan dari Disty. Mereka terhanyut dalam lamunan masing-masing.
.
.
.
.
.
Bersambung...
...----------------...