I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 87



Di lain tempat, Celin yang mendengar suara Abi pun di buat emosi karena rencananya gagal. Sedangkan Daniel yang kebetulan ada di ruangan Celin pun tersenyum mengejek saat melihat Celin yang sedang uring-uringan.


"Kan gue udah bilang.. Rencana lo itu payah!" ujar Daniel membuat Celin semakin emosi.


Bruk..


Prang..


Saking emosinya ia sampai melempari Daniel dengan dokumen-dokumen yang ada di mejanya bahkan vas bunga pun tak luput dari amukan Celin. Melihat itu bukannya marah Daniel justru semakin terbahak, menertawakan kebodohan Cellin.


"Berhenti tertawa!! Lo pikir ini lucu?!" sentak Celin tak terima.


"Tentu saja lucu. Lo dan mata-mata lo itu sama bodohnya!" ucapan Daniel membuat Celin terdiam. Ya, dia terlalu menganggap remeh rivalnya. Belum apa-apa kini dirinya sudah di waspadai oleh Zayn dan sudah di pastikan Zayn tak akan mudah percaya pada dirinya.


"Ck! Terus lo punya rencana apa?"


Daniel menyeringai mendapatakan pertanyaan dari Cellin. Ia akan memanfaatkan orang tua Tasya untuk melancarakan rencannya.


"Lihat ini!" Ujar Daniel menujukan sebuah kontak di ponselnya tapi cellin sama sekali tak mengerti.


"Apa?!!" tanya Cellin ketus.


"Ck! Dengarkan! Biar mereka yang bekerja dan gue cuma tinggal terima beres." Daniel kemudian menekan tombol panggil pada kontak tersebut, tak butuh waktu yang lama panggilan pun tersambung.


"Siang, nek. Apa Daniel ganggu waktu nenek?" tanya Daniel sopan pada nenek Tasya. Hal itu dia lakukan hanya pecitraan di depan keluarga Tasya agar ia mendapatkan dukungan penuh dari calon mertuanya.


"Tidak sama sekali, nak. Bagaimana kabarmu?" Jawab nenek Anita yang masih bisa di dengar oleh Celin karena Daniel sengaja meloudspaker panggilanya.


"Kabar buruk, nek," ujar Daniel dengan nada sedih.


"Apa yang terjadi?"


"Zayn, dia berhasil menemukan ibu kandungnya. Kini hanya tinggal menemukan dimana ayah nya. Bagaimana ini, nek? Bukannya nenek sudah janji untuk tetap menikahkan kami?" ujar Daniel masih dengan nada sedih agar mendapatkan simpati dari nenek Anita.


"Siapa Zayn?" Tanya nenek Anita bingung. Karena Zayn memang di kenal dengan nama Atta bukan Zayn, maka wajar jika nenek Anita tak tahu.


"Maksud nya Atta, nek."


"Seperti itu.. Kamu tenang saja, nenek pastikan semua akan baik-baik saja. Tak perlu risau lagi pula hanya tinggal dua minggu lagi dan dia hanya baru menemukan ibunya. Nenek sangat yakin kalau dia akan gagal." Jelas nenek Anita.


"Kalau dia berhasil?"


"Ya apa boleh buat.. Kita gunakan cara yang lebih menantang! Pokoknya kamu tenang saja, biar ini jadi urusan nenek!." tukas nenek Anita membuat Daniel tersenyum.


"Terimakasih, nek," Panggilan pun terputus dan Daniel pun tersenyum penuh makna pada Celin yang masih terdiam memperhatikannya.


"Lihat! Ini masalah yang mudah. Dan gue minta lo tetap dekati Zayn tapi kali ini lo harus hati-hati biarkan ini terlihat natural. Kalau bisa lo harus bisa buat mereka bertengkar." ujar Daniel membuat Cellin memutar bola matanya malas. Bukankah itu yang memang tengah ia lakukan, apa Daniel itu pikun?


****


Di perusahaan Herold Grup, lebih tepatnya di taman Disty yang sudah merasa lebih baik mengurai pelukannya pada Nakula. Kini kemeja biru muda yang di pakai Nakula benar-benar terlihat basah hingga Disty merasa tak enak.


"Maaf kemeja lo jadi kotor gara-gara gue," ujar Disty sambil menunduk malu. Ia malu karena menangis di depan seorang pria dan malah memeluk Nakula cukup lama. Sedangkan Nakula hanya tersenyum tipis sambil membebarkan kacamatanya yang sebenarnya sama sekali tidak bergeser.


"Ngga apa-apa. Maaf juga gue udah lancang tadi, lo jangan marah ya?" Disty menggeleng untuk menjawab ucapan Nakula dan memalingkan wajahnya karena kini wajahnya terasa memanas.


"Ayo!" Ajak Nakula sambil menarik tangan Disty agar mengikutinya. Meski heran tapi Disty sama sekali tidak protes ia mengikuti langkah Nakula. Tanpa di sadarinya ia tersenyum sambil memandangi tangannya yang di genggam Nakula.


Beberapa saat kemudian mereka tiba di parkiran kantor lebih tepatnya di samping motor butut milik Nakula. Disty yang sudah sangat penasran pun tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


Nakula tak langsung menjawab, dia jutru memakaikan Disty helm membuat Disty semakin bingung. "Ikut saja! gue mau tunjukin sesuatu ke elo."


Kini mereka pun sudah dalam perjalanan, Nakula membawa Disty ke mall tak jauh dari kantornya berada. Ia lebih dulu izin pada kepala timnya untuk pulang awal bersama Disty. Jadi kini mereka akan menghabisakan waktu siang ini dengan memainkan semua permainan yang ada di wahana permainan di mall tersebut untuk membuat suasana hati Disty membaik.


"Ayo kita bermain! Kita lupakan sejenak masalah yang ada. Di sini kita bebas meluapkan emosi kita. Ayo!" Ujar Nakula lagi dan kini senyum Disty benar-benar merekah sempurna hingga membuat Nakula mematung melihatnya.


"Cantik," Tanpa sadar satu kata itu meluncur begitu saja keluar dari bibirnya hingga membuat Disty yang masih bisa mendengarnya tersipu.


"Terimakasih. Ayo! sampai kapan lo liatin gue kaya gitu? Hati-hati nanti naksir." celetuk Disty menyadarkan lamunan Nakula. Dan kini Nakula terlihat salah tingkah karena kata yang ia pikir hanya ada di hatinya malah keluar begitu saja.


"Ah.. Emm.. Ayo!"


Kini Nakula dan Disty sedang bermain bersama. Berbagai wahana permainan mereka mainkan. Disty untuk sesaat bisa melupakan kesedihannya dengan tertawa bersama Nakula. Memang hanya dengan Nakula Disty merasa nyaman, beban yang ada di pundaknya serasa lebih ringan saat Nakula di sampingnya. Tanpa di sadarinya ia selalu bergantung pada sosok Nakula, sahabatnya.


Tanpa mereka sadari hari rupanya sudah menunjukan waktu pukul Tujuh malam. Keasyikan bermain membuat mereka lupa waktu.


"Huft, capek!" keluh Disty sambil mengipasi wajahnya dengan tangan padahal sama sekali tak ada keringat yang membasahi dahi atau lehernya. Meski mengeluh namun senyumnya tak pernah luntur dari wajah cantiknya.


"Nih," Nakula menyodorkan minuman kemasan pada Disty. Saat ini keduanya sedang duduk di bangku yang ada di depan wahana bermain tempat mereka bersenang-senang tadi.


"Makasih," Disty langsung meminum minuman berperisa teh itu dalam sekali teguk. Ia benar-benar haus beberapa jam ini bersama Nakula hanya tertawa dan berteriak membuat tenggorokannya kering.


"Udah? Kita makan dulu yuk" Ajak Nakula dan di angguki Disty. Mereka berjalan mencari restoran dengan menu masakan Sunda. Karena Disty ingin memakan nasi tutuk oncom yang sudah lama ia idam-idamkan.


"Wah.. Wanginya enak banget," ujar Disty menghirup dalam-dalam aroma masakan yang di pesannya sedangkan Nakula hanya tersenyum melihat wajah Disty yang sudah kembali ceria.


"Makan yang banyak ya," Ujar Nakula di angguki kepala oleh Disty. Mereka berdua pun makan dengan lahap karena sama-sama kelaparan setelah bermain.


Di tengah makan mereka, ponsel Disty tiba-tiba berdering. Dengan tergesa-gesa Disty menjawab panggilan tersebut setelah membaca nama kontak si penelfon.


"Hallo," sapanya dengan wajah tegang dan perubahan ekspresi itu tak lepas dari pandangan Nakula.


"...."


"Apa!!! Saya kesana sekarang!" pekik Disty panik.


"Kenapa?"


"Nakul... Ibu.. kondisi ibu memburuk.." Suara Disty kini sudah terdengar parau ia belum siap untuk kehilangan satu-satunya orang yang teramat berharga dalam hidupnya.


"Kita ke rumah sakit sekarang!"


.


.


.


.


.


Bersambung...


...----------------...