
Matahari mulai menunjukkan sinarnya pertanda pagi telah menyapa. Berbeda dengan suasana pagi di kota yang sudah di temani ramainya suara kendaraan, kali ini pagiku di sapa dengan suara deburan ombak. Suara burung pun terdengar berkicau merdu.
Aku mulai membuka mataku dengan perlahan. Mengerjap beberapa kali, karena sinar dari mentari pagi yang sudah masuk ke dalam kamar membuat mataku terasa silau. Rupanya tirai di jendela sudah di buka oleh Disty dan gadis itu sekarang entah berada di mana tak ku lihat dia di sini, kamar mandi pun terasa sunyi. Apa aku bangun terlalu siang? Atau mungkin dia yang terlalu pagi? Ku rasa di luar belum terlalu terang.
Aku beranjak dari atas kasur menuju kamar mandi saat kesadaran ku sudah sepenuhnya kembali. Beberapa saat setelah itu, aku sudah rapi dengan baju kaos warna putih yang di berikan perusahaan. Ku padukan kaos tersebut dengan celana jeans warna hitam pendek di atas lutut. Rambut panjang kuikat ekor kuda membuat leher jenjangku terekspos. Aku juga megaplikasika make up tipis di wajahku dengan lipstik berwarna nude di bibir tipisku agar terlihat segar.
Ku gapai Snikers warna putih untuk menyempurnakan penampilan ku pagi ini. Setelah di rasa penampilanku sudah rapih, aku membuka pintu hendak menikmati udara segar di pantai. Namun, saat pintu sudah terbuka aku tersentak kala melihat seorang pria yang sudah memporak porandakan hatiku berdiri mematung dengan tangan kanan yang masih terkepal di udara.
"Astaga... Lo ngagetin aja sih, Ta" Keluhku sambil mengusap pelan dadaku. Ku lihat ia hanya tersenyum. Senyuman yang sama saat di pantai tadi malam. Wajah yang biasa terlihat datar, terlihat lebih berseri sekarang.
"Lo udah rapih aja. Mau ke mana? kenapa ngga ngasih tau gue? Kan tadi malem gue udah bilang kalau mau kemana-mana itu harus bilang dulu" Tutur nya membuatku menghela nafas panjang. Dia jadi terdengar posesif sekarang sejak tadi malam kami saling terbuka dengan perasaan masing-masing.
"Apa sih, gue mau ke bawah. Mau ngopi! Kalau Lo mau ikut ya udah ayo, jangan berisik!"
"Ck! ngga sopan banget, pacar sendiri di bilang berisik. Emang ngga kangen apa sama suara gue? Kan kalo orang pacaran tuh kaya gitu selalu terbayang-bayang. Ini mah boro-boro kangen, manggil pacar sendiri aja masih gue-elo, ngga ada romantis-romantis nya banget!" Gerutunya kesal tapi justru terlihat lucu di mataku.
Dia yang kami kenal dingin dan datar bisa jadi secerewet ini. Siapa sangka cinta bisa mengubah segalanya. Aku bukannya tak ingin memanggil nya dengan panggilan kesayangan, tapi rasanya akan menyenangkan jika kami seperti ini. Lebih nyaman. Aku juga tak suka panggilnnya yang merubah nama ku, Sasya. Terdengar menggelikan dan lagi itu mengingatkan ku pada kucing kesayangan yang sudah meninggal dulu, dan untungnya dia mau memanggilku dengan nama asliku.
"Bawel deh" Ujarku seraya melangkah lebih dulu meninggalkannya yang masih mematung.
"Ck! eh pacar! tungguin ngapa. Itu Lo ngga punya celana yang lain apa?" Ujarnya mengomentari penampilanku seketika membuat langkah ku langsung terhenti. Aku menatapnya dengan kesal. Tak tahu apa mengomentari penampilan adalah hal yang sangat tak ku sukai. Lagian aku juga masih di batas wajar.
"Kenapa emang? Gue nyaman-nyaman aja ko!" Ujarku ketus.
"Ck! Lo tuh ngasih makanan mata kami, kaum Adam. Akan lebih baik kalo Lo pake celana panjang, Sya" Ujarnya dan aku hanya mampu menghela nafas. Ya, aku tahu itu tapi ini kan tidak terlalu pendek. Ah! dia rese sekali.
Tanpa mempedulikannya, aku melangkah memasuki lift yang pintunya sudah terbuka. Atta pun juga tetap setia mengikutiku. Kami turun menuju ke restoran bersama. Dan ternyata dua makhluk astral sudah lebih dulu duduk di sana menikmati sarapannya bersama karyawan yang lain. Aku jadi berpikir kalau aku memang kesiangan.
"Eh, Dis! Ko gue ngga di bangunin sih?" Keluhku seraya duduk di sebelahnya.
"Lo aja yang tidurnya kaya ******. Gue udah bangunin, tapi Lo ngga bergerak." Ujarnya sambil menatap ku malas.
"****** emang Lo jadi temen!" Keluhku lagi sambil melemparinya dengan tissue.
"Udahlah ini masih pagi. Lo pesen sarapan dulu gih, Sya! Abis ini kita mau jalan-jalan naik perahu. Anak-anak mau Snorkeling katanya" Ucap Nakula. Aku pun mengangguk dan hendak beranjak tapi, aku kehilangan seseorang. Kemana perginya Atta? Bukannya tadi dia ada di belakangku?.
"Lo nyari pak Zayn? Gue liat dia tadi ke arah meja sana" Ucap Nakula sambil menunjuk kerumunan orang-orang yang mengelilingi sebuah meja panjang.
Restoran ini mempunyai konsep prasmanan dimana kita harus mengambil sendiri makanan yang sudah di sediakan di meja panjang. Ada macam-macam menu di sana, dari mulai makanan yang ringan sampai berat, makanan yang berbahan dasar hewan laut sampai hewan yang hidup di darat. Dari minuman yang hangat sampai yang dingin semuanya ada di meja panjang itu.
Karena karyawan perusahaan kami yang banyak jadi, hotel ini sudah di boking full untuk kami. Makannya di depan sana banyak orang yang mengelilingi meja prasmana tersebut membuatku malas untuk mengambil jatah sarapanku. Akhirnya aku kembali terduduk membuat dua temanku menatap bingung ke arahku.
"Kenapa duduk lagi? Udah sana!" Usir Disty.
"Males gue desek-desekan gitu, kaya ngantri sembako aja" Gerutuku. Walau tak sarapan tapi aku tak masalah. Karena memang aku jarang sekali sarapan. Kalau ada ya makan, kalau ngga ada ya udah. Kebisan buruk! jangan kalian ikuti yah guys!.
"Ngga boleh gitu. Sarapan tuh penting! Udah sana!" Ujar Nakula yang di angguki oleh Disty.
Belum sempat aku menjawab, sebuah nampan yang di letakan di sampingku oleh orang yang tadi ku cari-cari, membuat perhatian kami tertuju padanya.
Atta datang dengan nampan yang penuh dengan dua mangkuk yang berisi bubur ayam, dua gelas kopi dan juga dua gelas air putih.
"Satu mangkuk bubur ayam spesial untuk orang yang juga spesial" Ujar Atta membuat pipiku bersemu. Dia manis sekali, padahal sudah susah-susah aku menahan debaran jantungku dengan bersikap cuek jika berada di dekatnya. Dia justru bertindak semanis ini. Kalau kaya gini kan jadi... Ngga nahan.
"Hot cappucino coffee, kesukaan my pacar" Ucapnya sambil menyodorkan secangkir kopi di depanku.
"Hah!! Pacar!!!" Pekik dua teman ku serentak, agaknya mereka terkejut dengan ucapan Atta. Aku pun sama terkejutnya dengan mereka, tak menyangka dia akan mengakui hubungan kami secepat ini. Ada apa sebenarnya dengan pria ini, aku rasa dia kesurupan setan di pantai semalam. Kemana sikap cuek dan datarnya itu? Kenapa sekarang dia berubah menjengkelkan seperti ini.
"Iya kenapa? Kami udah jadi pasangan kekasih sekarang, dan Lo... Di harapkan Lo bisa jaga jarak sama pacar gue!" Ucap Atta sambil menatap tajam Nakula membuat pria berkacamata itu menelan salivanya dengan susah payah.
Sumpah pagi ini dia jadi aneh luar biasa, bukan tersanjung kenapa aku malah jadi takut begini?
.
.
.
Bersambung...