
Daniel melangkah dengan tergesa-gesa menuju ke resepsionis. Ia ingin bertemu dengan calon tunangannya. Yah, sekarang dia sadar diri hanya sebatas calon. Tapi tak apa, ia yakin pada akhirnya nanti dialah yang akan jadi pemenangnya, seperti apa yang di janjikan oleh sang ratu siapa lagi jika bukan nenek Anita.
Aneh! Tak biasanya dia mengalah seperti ini. Daniel adalah sosok yang arogan, keras kepala dan egois. Ia harus mendapatkan apa yang di inginkan. Tapi untuk masalah yang satu ini entah kenapa dia seperti tidak ingin terburu-buru. Menurut nya apa salahnya menunggu selama satu bulan, hanya satu bulan bukan waktu yang lama kan?.
Daniel menekan angka di dalam lift untuk mengantarkan nya ke lantai di mana Tasya bekerja. Setelah sebelumnya resepsionis mengatakan jika ia bisa menemui Tasya di ruangannya.
Beberapa saat kemudian, Daniel sudah berada di dalam ruangan Tasya dan duduk manis di depan wanita itu.
"Ada apa, Niel? Tumben kamu mampir?" Tasya yang heran atas kunjungan mendadak dari Daniel pun bertanya ia yakin pasti Daniel ingin membahas masalah pribadi.
"hm.. Apa kamu baik-baik saja? luka di lengan mu bagiamana?" Sebenarnya Daniel tak ada hal penting yang ingin dia sampaikan, hanya saja mendengar kebenaran di balik insiden di atas perahu yang menimpa Tasya membuatnya ingin melihat sendiri bagaimana keadaan Tasya. Ia tak ingin wanita itu berbuat lebih nekad lagi.
"Aku? Baik.. seperti yang kamu lihat"
"Syukurlah.. Pulang nanti aku jemput ya?" Tasya semakin di buat bingung, bukannya dia tahu jika saat ini Tasya ingin menjaga jarak dengannya, tapi kenapa Daniel seperti lupa ingatan?
"Tidak bisa! setiap hari dia akan pulang dan berangkat bersama ku!" Sebuah suara mengejutkan keduanya. Siapa lagi pemilik suara itu jika bukan Zayn, dia kan memang suka sekali keluar masuk ruangan Tasya seenaknya.
Daniel memutar bola matanya jengah. Selalu saja dia datang di saat yang tidak tepat. Baru juga ingin pendekatan dengan cara yang halus tapi sudah di ganggu.
"Ya terserah lah.. Yang penting Lo bisa menjaga nya dengan baik" Ucapnya malas.
"Aku pulang dulu, Sya. Selalu jaga dirimu baik-baik apalagi jika saat bersamanya" Sebuah peringatan yang serius sebenarnya. Karena ia tak bisa menebak apa yang akan di lakukan wanita itu pada Tasya. Walau tak di jelaskan apa alasannya ia sangat tahu kenapa wanita itu membuat Tasya celaka, dan Jawaban nya adalah karena Zayn.
Sedangkan Zayn yang tak paham pun salah sangka. Ia mengira jika maksud dari ucapan Daniel adalah dirinya akan berbuat hal yang melewati batasan saat mereka bersama. Hampir saja perkelahian terjadi jika saja Tasya tak mencegah dan Daniel yang pergi begitu saja dari ruangan itu.
"Ngapain sih dia kesini?" Tanyanya kesal.
"Ngga tau, dia cuma nanya keadaan aku doang" Ujar Tasya menjelaskan. Ia pun bingung maksud kedatangan Daniel menemuinya. Jika hanya bertanya kabar bukannya akan lebih mudah jika menggunakan ponsel? Ia tak tahu saja Daniel pun ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri jika calon tunangannya baik-baik saja.
"Cih! Cari muka!"
"Udahlah, kantin yuk.. Ini kan udah waktunya makan siang"
Akhirnya kini mereka menuju kantin untuk makan siang. Di kantin mereka melihat Disty dan Nakula yang lebih dulu sampai. Mereka bahkan sudah menyantap makan siang masing-masing.
"Sayang, lihat!!" Ujar Tasya menunjuk tempat dimana dua sahabat nya duduk.
"Kita duduk di sana ya?"
"Iya, kamu duluan aja.. Aku ambilkan makan siang kita" Tasya mengangguk dah berjalan menuju meja sahabatnya.
"Pacaran Mulu!!" Ujar Tasya yang langsung duduk di samping Nakula.
"Dih ngga ngaca!" Cibir Disty.
"Ho'oh mana cowok Lo?" Nakula mengedarkan pandangannya mencari sosok Zayn. Karena biasanya Tasya dan Zayn itu tak terpisahkan. Kemana-mana selalu berdua.
"Dia lagi ambil makan siang"
"Eh, Sya! Gue penasaran deh, kok elo bisa sih Deket bahkan deket banget sama pak Zayn? bukannya elo baru satu bulan kerja di sini ya?" Akhirnya pertanyaan yang selama ini Disty pendam keluar juga. Jiwa keponya meronta-ronta. Lumayan kan dapat bahan gibahan untuk ia share di grup.
"Gimana ya?" Ujar Tasya melirikkan bola matanya ke atas, tengah berfikir.
"Panjang ceritanya. Intinya kami bahagia dan gue beruntung bisa dapetin hatinya" Ujar Tasya lagi dengan mata yang berbinar, kala membayangkan wajah Zayn.
"Bukan kamu yang beruntung, sayang. Tapi, aku. Aku beruntung bisa ada di hatimu" Tak tahu sejak kapan Zayn sudah ada di belakang mereka. Pandangan ketiga nya beralih menatap Zayn yang tersenyum manis pada Tasya. Ia meletakan nampan yang berisi makanan di atas meja kemudian duduk di depan Tasya lebih tepatnya di samping Disty.
"Zayn..."
"Sayang, katanya.." Cibir Disty lagi. Terlihat sekali jika Disty sedang kesal, entah pada siapa? Mungkin karena dia tak punya gandengan.
"Hem.. Ini makan lah.." Zayn menyodorkan sepiring menu makan siang untuk Tasya tanpa mempedulikan wanita di sampingnya yang sudah mencetutkan wajahnya.
"Aku ingin mengajak mu malam ini ke suatu tempat. Kamu ada waktu?" Ujarnya lagi hingga mendapatkan deheman keras dari Disty dan juga Nakula.
"Yang lagi terkena virus bucin serasa dunia milik berdua. Lah kita malah di kira obat nyamuk" Ujar Disty lagi dan kali ini ia mendapatkan anggukan kepala dari Nakula tanda setuju. Sejak Zayn dan Tasya menjalani hubungan, dua orang itu tak lagi segan dengan Zayn. Apalagi di luar jam kantor seperti ini.
"Apaan sih! orang kita ngga ngapa-ngapain juga. Udahlah ayo makan lagi"
"Inget ya! Kasmaran boleh tapi jangan sampai performa dalam bekerja menurun. Jangan sia-sia kan kebebasan yang udah perusahaan kasih" Nakula mulai berdiploma. Di antara Dua wanita sahabat nya memang hanya Nakula yang berfikiran dewasa. Biasanya dia banyak bekerja sedikit bicara.
.
.
.
.
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa matahari sudah kembali ke peraduannya di gantikan oleh sang bulan yang bersinar terang di langit gelap.
Zayn menggenggam tangan Tasya dan membawa gadis itu ke sebuah taman. Di sana terdapat danau buatan yang di hiasi lampu-lampu taman di beberapa sisi danau. Sinar bulan memantul di permukaan danau membuat suasana malam ini semakin indah.
Sesaat Tasya terpaku dengan pemandangan yang ada di depannya.
"Atta.. Ini indah" Ujarnya dengan mata yang berbinar membuat Zayn ikut tersenyum melihat Tasya yang malam ini tampak semakin cantik kala sinar bulan juga seperti menyinarinya.
"Kamu suka?" Satu pertanyaan yang seharusnya tak perlu di tanyakan hanya di jawab anggukan kepala oleh Tasya.
Zayn duduk di atas rumput memperhatikan Tasya yang sedang tersenyum karena berhasil menangkap kunang-kunang yang berterbangan.
Tak pernah terbayangkan olehnya jika dia dan Tasya akan melangkah sejauh ini. Pernah terfikir kan untuk berhenti dan menghapus bayangan gadis di depannya. Tapi, sangat sulit. Ternyata penantian nya membuahkan hasil.
Namun, di balik itu selalu saja ada ujian yang menghadang. Sampai saat ini Zayn masih bingung harus memulai dari mana. Ia tak yakin jika orang tuanya masih hidup.
"Sayang!!!" Pekik Tasya di samping telinga Zayn, hingga membuat laki-laki itu terperanjat.
"Astaga, sayang!" Keluh Zayn sambil mengusap dadanya yang berdebar tak karuan.
"Iihh.. Kamu ngajak aku ke sini cuma mau liat kamu ngelamun?" Ujar Tasya kesal ia menyilangkan tangannya di depan dada.
Zayn tersenyum dan perlahan menarik tangan Tasya untuk duduk di sampingnya.
"Maaf, sayang. Aku ngga bermaksud seperti itu. Aku hanya terpana dengan kecantikan mu, malam ini." Ujarnya dan berhasil membuat Tasya tersipu. Padahal hanya di puji seperti itu, tapi Tasya sudah memerah.
"Sayang.. Berjanjilah untuk selalu ada di samping ku, apapun yang terjadi kedepannya. Aku sungguh mencintaimu, aku tak tahu akan seperti apa jadinya aku jika tanpamu." Zayn menggenggam erat tangan Tasya seolah ia benar-benar takut kehilangan wanita pujaannya itu.
"Hei!! Apa yang kau bicarakan? aku pasti akan selalu ada di sampingmu.. menemanimu.. menjadikan mu satu-satunya pemilik hati. Tanpa kamu minta pun, kamu adalah tujuan hidupku. Jangan pernah lelah untuk berjuang, yah sayang.. Aku berjanji tak akan pernah menetes kan air mataku aku justru akan selalu tersenyum padamu" Ucapan Tasya membuat Zayn mengembangkan senyum ia menarik tengkuk leher Tasya dan menyatukan kening mereka. Senyum terukir indah di bibir mereka.
Suasana yang syahdu membuat keduanya larut dalam cinta kasih yang mereka rasakan. Sesat yang lalu Zayn sedikit merasa ragu untuk mengambil sebuah langkah. Namun kini, ia yakin sangat yakin untuk kembali berjuang.
Cintanya yang berbalas bukan berarti ia bisa bernafas lega, justru perjuangan nya masih panjang dan jalan yang terjal harus ia lalui. Namun, bersama Tasya ia yakin apa pun rintangannya akan ia lalui dengan mudah.
"I Love you, Anastasya Putri"
.
.
.
.
.
Bersambung...
...----------------...
😱 (Nucha menarik kepala keduanya yang sedang bermain tatap-tatapan) Bukan muhrim!! Jangan deket-deket.. Nanti di tengah-tengah kalian ada setannya.
😡Elo setannya..
😤 Nucha elo ganggu banget sumpah, Pengen gue ceburin..
😝 Abaangg Zayn kesurupan!!
Hola hallo readers tercintah ❤️❤️❤️ jangan lupa lemparin Nucha jempol, bunga, sama kopinya ya.. Biar makin semangat ngetik..
Happy reading all ❤️❤️❤️