I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 31



Di kantin rumah sakit HR Medika, dua orang dokter muda tengah menyantap makan siang mereka. Setelah melakukan tindakan tadi pagi, baik Rizky maupun Hendra seharusnya sudah bisa kembali ke rumah mereka masing-masing. Namun, karena sama-sama tidak ada yang menunggu akhirnya mereka memutuskan untuk nongkrong-nongkrong gagah di kantin.


Walau mampu, baik Rizky maupun Hendra lebih suka nongkrong di taman atau alun-alun dari pada di cafe. Mereka sama-sama menyukai suasana alam. Karena itu mereka berdua terlihat sangat dekat.


Hendra memperhatikan gerak-gerik sahabatnya itu dengan seksama. Masih punya pertanyaan kenapa Rizky bisa sampai kenal dengan keponakan dari pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja. Padahal tadinya ia ingin mendekati Angel tapi, sepertinya Rizky lebih dulu mencuri start. Tak ingin persahabatan di antara mereka bubar hanya gara-gara satu wanita, Hendra memilih mundur sebelum tempur.


Merasa di perhatikan, Rizky menghentikan aktivitas makannya dan membalas tatapan Hendra yang ternyata sedang melamun.


"Woy!!" Sentak Rizky sembari memukul meja membuat Hendra sontak terkejut dan nyaris terpelanting ke belakang jika saja ia tak reflek pegangan pada sisi meja.


"Astaga!!! Hampir roboh jantung gue!" Gumam Hendra sambil memegang dadanya yang berdetak dengan cepat.


"Ngelamun aja kerjaan Lo! Kasian tuh makanan di anggurin, nanti kalau ada setan lewat bisa basi entar. Gagal makan Lo" Ujar Rizky tanpa mempedulikan raut kesal dari sahabatnya itu.


"Ngga bakal ada setan yang berani buat ngambil makanan gue, kan raja setannya di sini" Ujar Hendra sambil menunjuk tepat di depan hidung Rizky yang sontak saja membuatnya mendelik kesal. Ia menampik kasar tangan Hendra yang sudah lancang menunjuk-nunjuk wajahnya.


Plaakkk


"Sembarangan kalau ngomong. Gue bukan rajanya setan ya, enak aja!!" Bentak Rizky karena merasa tak terima wajah tampannya justru di samakan dengan setan. Hendra tak peduli dengan ocehan sahabatnya itu, ia justru terkekeh karena berhasil menggoda Rizky.


"Ngga usah ketawa, orang-orang di sini bisa kabur nanti denger tertawaan Lo yang sumbang itu, bahkan suara Squidward yang lagi main clarinet lebih bagus dari pada suara lo" Cibir Rizky, tak ingin kalah.


"Wah.... Lo tuh ya jadi sohib... Suka bener" ujar Hendra sontak membuat mereka berdua tertawa.


"Eh.. Ngomong-ngomong Lo ketemu di mana sama Dokter Angel?"


"Haishh... Ngga usah bahas tuh cewek jadi-jadian. Bikin mood gue anjlok aja" ujar Rizky ketus. Ia yang masih di buat kesal oleh Angel jadi tak ingin mendengar namanya. Entah kenapa ia bisa sekesal itu, padahal sebelumnya ia tak pernah ambil pusing. Yang lalu ya udah, biar berlalu. Tapi, dengan perempuan yang satu itu rasa-rasanya mendengar namanya saja seolah gejolak dalam dadanya membara. Bukan cinta tapi, lebih ke emosi.


Tidak ada yang bisa membuatnya seperti ini kecuali satu wanita yang selalu menemaninya sejak mereka masih bayi. Siapa lagi jika bukan Tasya.


"Woy!!! Malah ngelamun. Dengerin gue ngomong ngga sih" Ujar Hendra kesal. Ternyata sedari tadi ia mengajak Rizky berbicara tapi malah yang di ajak bercerita sama sekali tak mendengarkannya.


"Bod* ah! gue mau pulang!" Ujar Rizky kemudian langsung beranjak meninggalkan Hendra yang sudah menekuk wajahnya.


"Dasar sohib ngga ada ahlak!! gue lagi curhat malah di tinggal kabur!"


.


.


.


.


Sementara itu rombongan karyawan Herold Grup sudah sampai di hotel tempat mereka menginap. Deburan ombak dan angin sepoi-sepoi di suasana malam ini menyambut kedatangan mereka.


Rombongan tiba pukul tujuh malam. Tasya dan rombongan yang berada di bus ke empat turun dengan membawa barang masing-masing. Senyuman di wajah cantiknya tak pernah surut. Ia merasa bahagia karena bisa menginjakkan kaki di kampung halamannya.


Tasya memejamkan matanya menikmati angin pantai yang menerpa kulitnya membuat rambut yang ia gerai beterbangan indah seolah tengah melambai-lambai. Hal itu tak luput dari pandangan Zayn. Entah kenapa dalam pandangannya, seolah ada lampu yang menyinari Tasya malam itu.


"kayanya gue udah gila" Gumamnya setelah tersadar dari lamunan. Ia menggelengkan kepalanya guna mengusir bayangan yang aneh.


Setelah puas menghirup udara pantai malam itu, Tasya berjalan bersama Disty menuju kamar dimana mereka akan istirahat. Kamar dengan fasilitas double bad yang di dapat oleh karyawan yang pergi tanpa membawa keluarganya.


Di sebuah kamar dengan fasilitas president suite, Abi sedang duduk di balkon menikmati semilir angin pantai. Sedangkan di dalam kamar, sang asisten Rico tengah menyusun pakaian milik bosnya itu. Setelah selesai Rico menghampiri bosnya yang tengah memandangi langit yang gelap. Entah apa yang sedang di pikirkan laki-laki dengan sejuta pesona itu.


"Tuan... Ini informasi yang anda minta" Ujar Rico sambil menyodorkan sebuah dokumen kepada Abi.


"hmm" Seperti biasa Abi akan menjawab dengan sesingkat mungkin.


Ia menerima dokumen tersebut dan langsung membukanya. Bola matanya bergerak ke kanan dan kiri membaca setiap huruf yang ada di dalamnya dengan seksama. Sesekali terlihat ia mengernyitkan dahinya.


"Maaf tuan, hanya itu yang bisa kami dapatkan"


"Ck! kalau begini aku tidak perlu susah-susah bayar kalian. Informasi yang tidak penting sama sekali. Aku tidak mau tahu!! Segera dapatkan apa yang aku mau, sebelum kita kembali ke kota. Kamu pikir untuk apa aku susah-susah mengadakan acara tahunan ini di sini?" Sarkas Abi menatap tajam asisten nya itu.


Bukan tanpa sebab Abi merekomendasikan tempat yang jauh padahal masih banyak tempat yang bagus dan pastinya jauh lebih dekat. Ia ingin mencari sesuatu di sana dan hanya ia lah yang tahu, apa itu.


.


.


Satu jam setelah istirahat, semua karyawan tengah menunggu makan malam mereka di restoran yang tersedia di hotel tersebut. Seperti biasa Tasya, Disty, dan Nakula duduk bersama di meja makan yang kebetulan hanya ada empat bangku di sana.


"Wuih.... Gil* sih, meski udah malem pemandangan di sini keren banget" ujar Disty dengan mata yang berbinar.


"Gimana kalau nanti malam kita Barbequean di tepi pantai? Kayaknya seru deh" Nakula dan Disty memandangi Tasya dengan lekat membuat Tasya risih.


"Apa?"


"Ide bagus!!!" Ujar Nakula dan Disty kompak. Mereka bahkan sampai tertawa karena melihat ekspresi lucu Tasya.


"Kalian nakutuin, tahu ngga"


"Tapi ngangenin kan?" Goda Disty.


"Gue? Kangen sama lo? Ngga banget!!"


"Udahlah, Ayo kita makan dulu. Makanannya udah dingin nih" Ujar Nakula menyela ucapan dua gadis itu. Jika di biarkan bisa-bisa akan panjang urusannya dan Nakula sedang tidak ingin mendengar perdebatan tak penting keduanya.


Akhirnya mereka pun terdiam dan hendak menikmati makanan yang mereka pesan. Menu seafood yang telah mereka pilih, karena menunya sama Nakula mengambil piring milik Disty dan memberikan piringnya yang ternyata segala udang, kerang, dan kepiting sudah ia lepaskan dari cangkangnya.


Tentu saja hal itu membuat Disty tersipu, namun lain dengan Tasya. Gadis itu mencium aroma-aroma yang lain dari teman barunya itu. Hal yang membuat Tasya tersenyum sambil memicingkan matanya menatap ke arah Nakula yang dengan santainya kembali memisahkan cangkang beberapa kerang dan udang dari piring Disty.


"Kenapa lo liatin gue kaya gitu?" Tanya pemuda berkacamata itu tanpa mengangkat kepalanya.


"Lo nyium aroma bunga bermekaran ngga sih?" Ujar Tasya tanpa meninggalkan senyumnya.


"Maksud lo apa?" Tanya Nakula kali ini ia tatap mata Tasya yang tak henti-hentinya tersenyum kearahnya. Namun, senyuman itu berganti dengan wajah yang bingung. Pasalnya piring miliknya pun di tukar dengan piring Disty yang sudah selesai Nakula kupas. Ternyata perhatian laki-laki itu bukan hanya pada Disty tapi juga padanya. Kalau begini namanya apa coba?


Disty yang tadi pipinya sempat merona karena merasa tersanjung pun kini memerah karena malu.


"Ayo di makan, kenapa pada diem? apa perlu gue suapin?"


"Ngga perlu!!" ucap dua wanita itu kompak.


Mereka tak menyadari ada sepasang mata yang menatap ketiganya dengan tatapan yang entah di sudut meja restoran tersebut. Tangan orang itu terkepal karena menahan kekesalannya yang tak bisa berbuat apa-apa.


"Apa gue harus terbuka? Tapi... Ah sudahlah gue ngga tahan lagi. Sekarang atau tidak sama sekali!!!" Gumamnya kemudian beranjak pergi meninggalkan makanannya yang belum tersentuh.


.


.


.


.


Bersambung...