
Aku terperangah mendengar ucapannya, namun detik selanjutnya aku menyemburkan tawa karena merasa lucu dengan spontanitas dari pak Zayn. Pria dingin nan kaku menyatakan suka nya pada gadis seperti ku? Ku rasa ada yang salah dengan otaknya.
Apa sebenarnya dia keracunan makanan dari luar tadi? makannya ucapannya melantur begitu.
Pak Zayn menatap ku dengan tatapan yang entah. Seketika aku menutup mulut yang masih tertawa. Dari balik tangan, aku masih terkekeh kecil.
"Apa ada yang lucu dengan ucapan ku?" Tanyanya datar sedatar wajah nya.
Buru-buru aku menggelengkan kepala, takut menyinggung perasaannya. Bisa bahaya kalau sampai dia mengamuk soalnya ancamannya suruh lembur pasti.
"Maaf, pak. Ada apa ya bapak ke ruangan saya?" Tak ingin memperpanjang atau membahas ucapannya barusan, aku lebih memilih mengalihkan pertanyaan yang lain.
"Buatkan saya kopi!" Pintanya.
Setelah mengatakan hal tersebut, pak Zayn kembali ke ruangannya dan aku langsung menuju pantry.
Di pantry sebenarnya sudah tersedia air panas tapi kata mamah kalau membuat kopi lebih enak air yang mendidih dari kompor. Jadi, aku memilih memanaskan air terlebih dahulu.
Saat menunggu air mendidih, Ponsel yang di letakan di meja makan nampak menyala menandakan ada sebuah pesan masuk. Gegas ku buka setelah membaca nama yang tertera di sana, Mamah.
"Sayang...Apa kabar mu? kenapa susah sekali di hubungi?"
Sebuah pesan singkat yang membuat sudut bibir ku terangkat membentuk sebuah lekukan senyum.
"Tasya baik mah... Mamah jangan khawatir,"
"Bagaimana mamah ngga khawatir. Punya anak satu-satunya gadis lagi malah kabur. Udah gitu jarang kasih kabar."
"Yang penting kan Tasya ngga lupa punya orang tua mah,"
"Kamu pulang ya? mamah kangen!"
Satu kalimat yang berhasil membuat sudut hatiku terasa nyeri. Sebagai anak aku tahu apa yang ku lakukan memang keterlaluan. Tapi, aku juga tak mau mereka mengatur hidupku sesuka hati! Aku juga berhak bebas.
Aku kembali teringat pada saat itu. Dimana aku yang baru saja pulang setelah Wisuda harus di suguhkan dengan masalah yang sebenarnya tak terlalu besar.
Saat itu kotak rahasia yang selalu ku simpan rapih tanpa ada yang tahu isi di dalamnya, kecuali aku sendiri berhasil di temukan oleh Ayah dan membuatnya meradang saat itu juga.
Ayah membuang isi di dalamnya ke tempat pembakaran sampah dan membakar semuanya. Sebuah buku Diary yang ku tulis menceritakan tentang perasaan ku pada seseorang, boneka yang dia buat sendiri saat pelajaran prakarya nya dulu, switer dan sapu tangan dengan inisial ZP di salah satu sudutnya. Beruntung saat itu aku masih bisa menyelamatkan gelang pemberiannya.
Aku percaya ia akan kembali seperti janjinya waktu itu. Selama itu pula aku akan menunggu.
Sejak kejadian itu, aku yang masih di bakar emosi pergi dari rumah. Namun sayangnya Rizky selalu bisa menemukan ku dimana pun aku berada. Satu tahun aku di larang kemana pun.
Hingga puncaknya nenek yang saat itu ingin menjodohkan ku dengan cucu dari sahabatnya yang katanya orang kaya ku tolak dengan keras. Aku mencintainya, sangat mencintainya walau terlambat tapi aku berharap ia kembali dan menepati janjinya padaku, membuat ku bahagia setiap hari.
Untuk pertama kalinya, aku membantah apa kata orang tua. Aku kembali mendapatkan celah untuk bisa kabur dari rumah. Berbekal nekat aku mencoba mengadu nasib di sini. Berharap bisa bertemu dengannya suatu hari nanti.
Jika saja ia melupakan ku setidaknya aku tahu dengan mata kepala ku sendiri bahwa ia sudah bahagia, maka akan ku lepaskan. Tapi sesungguhnya aku belum mempersiapkan hati jika sampai hal seperti itu terjadi.
Aku menghela nafas panjang...
"Belum waktunya Tasya pulang, mah. Mamah dan Ayah jaga kesehatan yah. Tasya kerja dulu,"
Akhirnya lagi-lagi aku memilih menghindar dari pada harus memberi harapan yang tak pasti.
Aku membawa kopi pesanan pak Zayn ke ruangannya dengan hati-hati. Mengetuk pintunya terlebih dahulu sebelum membukanya. Aku melihat pak Zayn sedang sibuk dengan tumpukan berkas seperti biasa. Ia menggunakan kacamata yang bertengger dengan nyaman di pangkal hidungnya.
Aura pak Zayn nampak lebih mempesona kala serius dengan pekerjaannya. Apa di kantor ini semua laki-laki nya tampan? atau justru mata ku yang sedang bermasalah? Ah entahlah.
Saat meletakkan cangkir kopi pesanannya di meja, tak sengaja aku melihat sebuah foto hitam putih yang terbingkai indah. Posisi foto itu sedikit menyamping seolah sengaja agar aku melihatnya.
Sebuah foto hitam putih yang nampak buram bahkan tak terlalu jelas. Aku bahkan kesulitan melihat wajah yang berada di dalamnya. Walaupun begitu aku yakin jika yang ada di dalam foto tersebut adalah seorang gadis atau lebih tepatnya seorang anak perempuan. Yang jadi pertanyaan.. itu foto siapa, adiknya kah? Tapi, kalau itu adiknya kenapa fotonya seolah sudah lama. Jika itu adiknya pasti ia punya foto terbarunya kan? Jadi, sebenarnya apa itu foto kekasihnya?
Ah entahlah, lagian apa peduli ku? Tapi, kalau di lihat lagi... Aku seperti pernah melihatnya tapi, dimana ya? Huft ingatan ku sungguh buruk! benar-benar tak bisa di andalkan.
"Berapa lama lagi kamu mau pandangi foto saya seperti itu?"
Aku terperanjat mendengar suara pak Zayn. Karena terlalu memaksa ingatan di otak ku, aku tak menyadari jika sudah terlalu lama berada di ruangannya. Dan parahnya lagi malah aku kepergok tengah memperhatikan barangnya, seperti itu.
Semakin memaksa untuk mengingatnya, justru kepala ku terasa pusing. Apa lebih baik ku tanyakan saja pada Pak Zayn? Aku sungguh penasaran. Tapi, apa dia akan tersinggung nantinya? Aku tidak akan tahu jika tidak di coba.
"Maaf pak. Ini foto siapa yah? ko saya kaya ngga asing?" Ujar ku seraya menunjuk pada foto yang ku maksud.
Mendengar pertanyaan dariku, Pak Zayn mengganti pandangan nya pada ku. Ia menatap ku dengan tatapan yang sulit ku artikan.
"Bukan urusanmu!" Katanya ketus.
"Kamu pikir saja sendiri! Sebaiknya sekarang kamu kembali bekerja dari pada ngurusin urusan orang lain!!" Katanya ketus. Aku mencebikan bibir mendengar jawaban nya. Tentu saja tanpa sepengetahuannya kalau sampai dia tahu mungkin aku akan kena hukuman, kalau dia memotong gajiku kan bahaya, bisa gagal beli AC nanti.
Akhirnya aku pun kembali ke ruangan, menyibukkan diri dengan berkas yang ada di atas meja. Aku harus segera menyelesaikan ini tak ingin pulang terlalu malam agar tak terlalu lalah nantinya.
Semalam aku sudah mendapat kan chat dari Kak Sarah katanya Bude di perbolehkan beraktifitas seperti biasa paling tidak satu Minggu. Itu artinya masih ada enam hari lagi aku bekerja part time seperti ini. Oke lah tak masalah cuma satu Minggu.
***
Pukul tujuh malam aku sudah berada di apartemen tuan Abi. Sepi, karena tuan Abi sendiri belum pulang.
Setelah mengganti pakaian kerja dengan seragam rumahan, aku mulai melakukan pekerjaan rumah sebagai mana mestinya.
Pukul sembilan malam aku sudah menyelesaikan semuanya. Tapi, aku sama sekali belum mengantuk. Lebih baik aku memasak sesuatu untuk Tuan Abi sebagai ucapan terimakasih karena mau menampungku di sini.
Aku mengeluarkan beberapa bahan makanan dan mulai meraciknya. Tak butuh waktu lama karena hari ini sudah malam jadi aku putuskan untuk membuat menu yang simpel.
Tepat ketika makanan yang ku masak selesai, aku mendengar suara sepatu yang beradu dengan lantai. Tak lama kemudian muncullah seorang laki-laki gagah pemilik apartemen. Ia memandang ku dengan tatapan malas. Ya, aku tahu itu tapi aku tak peduli.
"Tuan sudah pulang, saya memasak makan malam untuk anda. Lihatlah.... Taraaaaaa," Ujar ku sembari tersenyum ceria. Ini ku lakukan untuk mengusir rasa canggung. Jujur sejak kejadian hari itu aku selalu merasa tak enak di dekat nya. Beruntungnya Tuan Abi tak membahas hal memalukan itu lagi, apalagi sampai mempermasalahkannya. Jika, saja hal itu terjadi bisa habis aku di hajar kak Sarah.
Tuan Abi memicingkan matanya menatap ku, entah apa yang di fikirkannya.
"Kamu menggunakan bahan dapur saya tanpa izin?" Tanyanya.
"Iya. Tapi kan untuk tuan juga. Saya ngga minta ko, suer deh." Ujar ku sembari mengangkat jari telunjuk dan tengah ku membentuk huruf "V"
"Yakin ini bisa di makan?" Tanyanya lagi terlihat ragu dengan masakan ku.
Aku mendesah pelan.
"Bisa kok, tuan. Di jamin seratus persen ini lezat, soalnya di bumbui dengan cinta. Tuan pasti ketagihan," Jawab ku yakin.
Tanpa mempedulikan ocehanku, Tuan Abi menarik kursi untuknya duduk kemudian memandangi ku sesaat. Aku yang mengerti maksud pandangannya itu segera melayani Tuan Abi. Persis seperti seorang istri yang tengah melayani suaminya atau sebenarnya lebih mirip pelayan yang melayani tuannya.
Tuan Abi mulai memasukan suapan pertama, dan aku menunggu dengan harap-harap cemas menanti reaksinya terhadap makanan hasil karya ku.
"Bagaimana tuan, apa bisa di makan?" Tanya ku karena dari tadi ia hanya diam saja padahal kan aku ingin mendengar pendapat nya.
"Hmmm... Lumaya," singkatnya.
"Jadi.... Apa saya sudah cocok di jadikan istri, tuan?"
Uhuk...
Ia menatap ku kesal. Padahal aku kan hanya bercanda, dia malah terkejut sampai tersedak seperti itu.
"Bisa tidak kamu itu kalau bicara jangan ngaco?" Tanya ketus.
"Apa salah saya, tuan? Saya kan cuma bertanya. Kalau tidak suka ya bilang aja tidak, ngga usah kaget seperti itu."
"Sudahlah saya mau ke kamar saja. Kamu jangan lupa beresin ini semua."
***
Di sebuah desa yang jauh dari bisingnya kendaran, seorang perempuan tua tengah menerima tamu jauh. Di temani oleh anak dan menantunya, perempuan yang sudah banyak kerutan di wajah nya namun masih terlihat cantik karena ia rutin melakukan perawatan itu tampak tersenyum bahagia.
"Sesuai dengan kesepakatan kita, mbak Nita. Saya datang kesini bersama anak, menantu dan cucu saya satu-satunya untuk melamar cucu mba Nita," Ujar sang tamu membuat sang nenek yang di sebut Nita itu tersenyum sumringah.
Keinginan yang sedari dulu ia inginkan akhirnya sebentar lagi akan terwujud. Sang anak pun tak jauh berbeda dengan nenek Nita senyum laki-laki itu tak lepas dari wajah nya. Namun, berbeda dengan pasangan ibu dan anak itu, sang menantu justru duduk dengan perasaan resah yang menghampiri hatinya.
"Tuan Alan, saya selaku orang tua meminta izin kepada anda untuk meminang putri anda untuk anak saya Daniel Wirasena Abbraham," kata seorang pria yang kemungkinan adalah ayah dari pemuda bernama Daniel.
"Ya, saya dan keluarga.... Setuju," Sebuah kata yang keluar dari mulut Tuan Alan membuat semua orang yang hadir mengucap syukur bersama, kecuali seorang perempuan yang duduk di samping tuan Alan.
.
.
.
Bersambung....
...----------------...
😁 Jangan lupa tinggalkan jejak cinta kalian yah phlen 👍⚘☕ lophe you phlen.🤗