I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 125



Suara adzan subuh terdengar mengema di seluruh penjuru kota, Abidzar terlihat baru saja masuk ke dalam apartemennya. Satu minggu ini ia selalu pulang larut dan menjelang subuh. Dia sengaja menghabiskan waktunya dengan menyibukkan diri pada pekerjaan agar hati dan fikirannya tak selalu terpaut dengan Tasya yang tinggal menghitung menit akan menjadi kakak iparnya.


“Ya Allah, kenapa perasaan ini tak juga hilang? Aku sudah berusaha untuk tak memikirkanya tapi ketika aku teringat akan satu hal tentangnya maka hatiku menjadi tak karuan seperti ini. Hah!” keluh Abi sambil menempelkan kartu akses di samping pintu apartemennya.


Setelah memasukkan beberapa digit angka sebagai kode sandinya, pintu pun terbuka dan kembali kesunyianlah yang menyambut kedatangannya.


Abi berjalan dengan gontai menuju pantry, kerongkongannya terasa kering. Saat ia melewati ruang bersantai antara ruang tamu dan pantrynya ia seperti melihat bayangan seseorang dan ketika lampu di nyalakan ternyata memang benar, diapartemennya kini ia tak sendirian. Ada seseorang yang ternyata sedang menunggunya.


“04:10, kau baru pulang?” tanya suara baritone yang sangat Abi kenali. Itu adalah tuan Robertino Herold. Papah Abi rupanya mengendus ada yang tak beres dengan anaknya beberapa hari ini dan tuan Robert hari ini datang ke apartemen Abi khusus untuk menemui sang anak dan berbicara dari hati ke hati.


Sebagai seorang pria tentu sang papah tahu apa yang menyebabkan anaknya menjadi galau seperti ini. Awalnya itu adalah praduga semata, namun melihat gelagat Abi akhir-akhir ini, ia menyadari jika anaknya memang mencintai Tasya.


“Sejak kapan papah di sini?” tanya Abi heran sambil berlalu dan melanjutkan langkahnya untuk mengambil segelas air putih. Tuan Herold pun mengikuti sang anak, hingga kini mereka tiba di ruang makan.


Abi menekan keran untuk air dingin dari dispensernya dan mengisi gelasnya hingga penuh. Tuan Robert memperhatikan apa yang dilakukan Abi sambil duduk memangku dagunya dengan kedua tangan dan sikunya yang bertumpu pada meja makan.


“Apa kau mencintai, Tasya?” Pertanyaan tuan Robert yang to the point itu tentu saja sangat mengejutkan Abi. Ia yang baru saja menengguk air dari gelas keduanya pun tersedak mendengar pertanyaan tersebut.


Uhukk..


Uhuk..


“Melihat dari responmu yang seperti itu, papa rasa jawabannya adalah iya.” Tukas tuan Robert lagi .


“Papah apa-apaan sih? Mana mungkin Abi mencintai wanita aneh itu! Dan juga tentang respon Abi yang sampai terbatuk seperti tadi, itu karena papah bertanya pertanyaan yang sangat tidak masuk akal! Ya kali, Abi mencintai gadis sinting itu, seperti tidak ada wanita lain saja. Jika di dunia ini hanya ada dia seorang lebih baik Abi tak memiliki pasangan hidup! Asal papah tahu itu!” sahut Abi tegas dan sangat meyakinkan, namun tuan Robert justru tesenyum mendengar jawaban dari Abi.


“Papah hanya minta jawaban ya atau tidak. Kenapa jawabanmu sepajang itu? Kau tahu, nak? Tanpa sadar dari jawabanmu itu sudah menjelaskan apa yang sebenarnya ada di hatimu. Lidahmu mungkin bisa berbohong, tapi perasaan seorang ayah dan juga bahasa tubuhmu tak bisa membohongi papah. Apalagi dari sorot matamu setiap kali papah menyebutkan nama Tasya, matamu berbinar namun ada sedikit sorot kekecewaan di sana!” tukas tuan Robert membuat Abi tertegun untuk sesaat.


“Papah sok tahu!” kilahnya.


“Papah sudah bertemu banyak orang dan memahami setiap karakter orang, nak. Papah akui kau memang pandai menyembunyikan perasaan mu dari orang lain. Tapi sekali lagi, perasaan seorang ayah itu nyata dan itu benar!”


“Lalu papah mau apa? Meminta Abi untuk melupakan perasaan Abi ini? Jika iya, sedang Abi coba, pah. Tapi untuk menghapus perasaan ini tak semudah ketika ia muncul. Sulit sekali Abi hilangkan, bahkan rasanya Abi sangat stres untuk menghapusnya. Abi harus apa pah?” keluhnya sambil tertunduk lemah dikursi tepat di samping sang papah.


“Jatuh cinta memang tak salah pun dengan cinta itu sendiri. Ia adalah prasaan yang suci, namun kau pun harus tahu batasan dan landasan agar cinta yang ada di hatimu tak menyakiti orang lain dan dirimu sendiri. Kau mencintainya itu wajar, namun bagaimana caramu mencintai itu lah yang harus kau benahi. Kau tahu, nak? Mengiklaskan adalah level mencintai yang paling berat namun ia paling mulia. Kau pasti bisa melewati ini. Jadikan cintamu menjadi perisai untuk melindungi mereka, nak. Papah yakin kau pasti bisa, kau adalah anak papah yang paling membanggakan, jadilah selalu seperti itu.” Ujar sang papah membuat Abi tertegun sejenak untuk mencerna apa yang papahnya katakan.


“Karena aku memang anak papah satu-satunya kan, tentu saja aku anak papah yang paling membanggakan!” ujar Abi sambil mendengus dan membuat sang papah terkekeh. “Tapi terimakasih masukannya, pah. Abi akan selalu mengingatnya. Dia ternyata bukan jodoh Abi!” imbuhnya dan tuan Robert pun tersenyum tulus pada sang anak tak lupa ia menepuk bahu Abi tiga kali sebelum beranjak dari duduknya.


“Sudah hampir pagi. Ayo kita pulang! Kau akan datang ke pernikahan mereka kan?” Abi mengangguk lemah dan mereka pun berjalan beriringan menuju mobil Abi dan melesatkan kendaraan roda empat tersebut dijalanan Ibu Kota yang masih sepi.


“Kak?” sapanya saat membuka pintu kamar Zayn perlahan. Ia sedikit mengrenyit ketika mendapati kamar Zayn yang tampak sunyi dan juga gelap padahal hari sudah menyejelang pagi.


“Apa dia belum bangun,” gumamnya. Abi kemudian berjalan menuju saklar lampu dan menyalkannya. Saat ia membalik badan, Abi sedikit tersentak mendapati Zayn yang ternyata sedang duduk termenung di ujung tempat tidurnya. Abi bahkan sampai mengusap dadanya karena begitu terkejut.


“Kak! Kau mengejutkan ku!” keluhnya dan Zayn hanya melirik Abi melalui ekor matanya.


“Apa ada yang sedang menagnggu fikiranmu, kak?” Tanya Abi lagi setelah ia duduk disamiping Zayn.


“Entahlah. Tapi, bisa kamu jawab pertanyaan kakak dengan jujur?” tanyanya membuat Abi semakin mengrenyitkan dahinya tak mengerti.


“Apa itu?”


“Apa kau sungguh mencintai Tasya?” lagi-lagi pertanyaan yang sama. Apa Abi memang tak bisa menyimpan perasaannya sendiri? Sepertinya dia memang tidak pandai berbohong.


“Kenapa bertanya seperti itu? Aku berjanji meski aku memang mencintianya aku tak akan mengangu hubungan kalian, jadi kakak tak usah berfikiran yang tidak-tidak. Bukankah hari ini adalah hari yang paling kakak tunggu-tunggu. Aku juga sudah melihat gedung resepsi kalian, tempatnya begitu indah. dia pasti akan sangat menyukainya.”


“Aku justru ingin memintamu menjaganya dengan sepenuh hatimu. Apapun yang terjadi kedepannya.. tolong jangan pernah membuat Sasyaku bersedih atau bahkan mengeluarkan air matanya.” Tukas Zayn benar-benar membuat Abi tak mengerti.


“Kakak ngomong apa sih?”


“Temani dia dalam suka dan dukanya, bahagiakan dia dan jangan pernah torehkan luka dihatinya seperti aku.”


“Kakak ngelindur ya? Udah ya, lebih baik kakak siap-siap karena sebentar lagi kita akan datang ke tempat akad!” ujar Abi dan Zayn pun menurut meski pandangannya masih kosong.


Setelah Zayn dan anggota keluarga yang lain telah selesai bersiap, mereka pun berangkat bersama-sama menuju tempat dimana Zayn akan mengikat janji suci bersama Tasya, kekasih hatinya.


.


.


.


.


.


Bersambung…