I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 81



Lenny Agustina Herold POV


Tiga puluh dua tahun yang lalu....


Saat itu.. Harusnya menjadi hari bahagia kami. Aku dan Robert akan menyatukan cinta kami dalam ikatan suci pernikahan. Tapi, rupanya apa yang kami rencanakan tak sesuai harapan.


Tepat saat malam sebelum akad, orang tua Robert datang ke rumahku, mereka mengabarkan jika Robert telah membatalkan pernikahan ini tanpa alasan yang jelas. Betapa hancurnya aku saat itu. Kasih dan cinta yang ku gantungkan padanya, akhirnya harus kandas juga.


Undangan telah di sebar, tenda juga sudah terpasang di depan rumah ku. Bahkan kamar ku pun sudah di hias untuk malam pertama kami besok. Saat itu aku sungguh bingung apa yang harus ku lakukan? Jika ku batalkan pernikahan ini tentu keluarga lah yang akan menanggung malunya. Jika ku teruskan dengan siapa aku akan bersanding nantinya?


Di tengah kebingungan ku, sosok laki-laki yang selama ini pun menemani hari-hari ku, datang dan menawarkan dirinya untuk menggantikan Robert menjadi pengantin pengganti nya. Tentu hal ini mengejutkan kami, apalagi mendengar pengakuannya yang katanya mencintaiku.


"Maafkan aku jika tadi sempat menguping pembicaraan kalian. Tapi.. Izinkan lah aku untuk mengantikan Robert menjadi imam mu, Lenny. Aku memang tak sekaya Robert tapi aku berjanji, aku akan membuat mu bahagia dan nyaman bersama ku. Walau aku tahu di hatimu tak ada namaku di sana, tapi aku akan berusaha membuatmu mencintaiku. Sama seperti aku yang mencintaimu sejak kita pertama bertemu..." Katanya waktu itu.


Akhirnya dengan banyak pertimbangan dari kakak-kakak ku.. Pernikahan itu tetap di langsungkan dengan Aku, Lenny Agustina yang menjadi mempelai wanitanya dan juga Baron Pranata menjadi mempelai pria nya. Itu artinya detik itu juga aku telah resmi menjadi istri dari Baron. Aku juga telah wajib untuk patuh padanya, karena kini surgaku ada padanya.


Baron memang benar, aku sama sekali tak mempunyai rasa untuknya. Untungnya ia mengerti keadaan ku dan tak memaksakan diri ku untuk mencintainya.


Baron sosok pemuda yang baik dan tanggung jawab, itu yang ku tahu selama aku mengenal nya. Sikapnya yang penyayang dan juga lembut membuatku tak butuh waktu lama untuk menerimanya. Walaupun ku akui sulit sekali untuk mencintainya karena hati dan cintaku telah sepenuhnya di bawa oleh Robertino Herold.


3 bulan kemudian aku akhirnya mendapatkan anugerah yang teramat indah. Di rahimku kini telah tumbuh makhluk hidup sebagian dari jiwaku dan juga jiwa Baron. Walau aku tak mencintainya, tapi aku tak mungkin bisa menghindari kewajiban ku. Hingga tercipta lah makhluk mungil yang sangat tampan.


Sembilan bulan kemudian bayi itu lahir. Aku begitu bahagia mendapatkan malaikat kecil yang teramat tampan wajahnya persis seperti Baron dan ku beri dia nama Zayn Pranata.


Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Sejak aku hamil, sosok Baron yang penyayang dan penuh cinta kasih itu perlahan berubah. Ia jadi suka pulang larut dan kadang ia pulang saat matahari sudah terbit. Dan ketika ia pulang Baron pasti selalu dalam keadaan mabuk.


Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang dia alami hingga membuat nya berubah menjadi sosok yang tak lagi ku kenal. Tak jarang ia menjadi sosok yang kasar jika menurutnya aku tak sesuai dengan apa yang dia inginkan.


Berbagai kekerasan fisik mulai ku alami, sejak awal kehamilan ku. Dan dia semakin menjadi ketika aku sudah melahirkan.


Malam itu, dia datang dengan keadaan yang sama, mabuk. Dan saat itu aku baru saja selesai memberi ASI pada Atta kecil. Dia datang dengan tatapan laparnya kala sumber kehidupan Atta terpampang di depan matanya. karena saat itu Atta benar-benar baru melepaskan ASI-nya. Tentu saja kedua gunung yang selama ini tersembunyi selama hampir satu tahun darinya, terlihat kembali hingga membangunkan singa yang sedang hilang kesadaran itu.


Ia menerkamku dengan begitu buasnya, tak di pedulikannya rintihan ku walau saat itu aku masih dalam masa nifas. Untungnya tak ada lagi darah yang keluar. Tapi, perlakukan yang begitu kasar darinya membuatku ku mengalami guncangan psikis yang membuatku di rundung ketakutan saat melihat nya atau melihat seorang laki-laki.


Bulan demi bulan berlalu hingga tak terasa usia Atta kini sudah hampir menginjak usia dua tahun. Saat itu, pagi yang begitu cerah aku dan Atta tengah bermain di taman samping rumah kami. Tiba-tiba muncul beberapa laki-laki yang berbadan besar-besar bak seorang tukang pukul entah darimana.


Aku yang saat itu masih meraskan trauma pun seketika menjadi teramat takut, badanku penuh dengan peluh dan ku rasa wajahku pun memucat. Aku merasa begitu gemetar namun sebagai seorang ibu, aku berusaha menekan semua rasa yang bergejolak ini. Aku ingin melindungi Attaku.


Seorang kakek yang rambutnya sudah berubah warna berjalan mendekatiku. Di bantu dengan sebuah tongkat kayu ia memutari tubuh gemetarku.


"Katakan dimana suamimu!" Katanya datar dan aku masih saja bungkam. Tak ingin menjawab pertanyaan nya bukan karena menantangnya tapi karena aku memang tak tahu dimana keberadaannya. Yang ku tahu dia sudah tak lagi menampakkan batang hidungnya saat terakhir kali memaksa ku kala itu. Sejak hari itu, dia semakin menjadi-jadi, kadang beberapa hari kemudian barulah ia pulang itu pun hanya tidur dan kemudian pergi lagi.


"Jawab!!!" Bentaknya tepat di depan wajahku. Aku hanya bisa menggeleng sebagai jawaban. karena rasa ketakutan ini membuat lidahku terasa kelu. Atta menangis mendengar bentakan kakek tua yang tidak tahu siapa.


"Dasar istri tidak berguna!!" Kecamnya padaku. "Keberadaan suamimu sendiri pun kamu tidak tahu! pantas saja setiap hari suamimu selalu bersenang-senang di tempat ku. Tapi tak mau membayar. Dasar pasangan sampah!" Ketusnya menambah ketakutan ku.


"Baron, suamimu itu sudah berhutang padaku sebesar enam ratus juta. Bukannya bayar malah pergi begitu saja!" gerutunya.


"Maaf, tuan." hanya itu yang bisa ku katakan karena tak ingin lagi menambah kekesalan nya.


"Maaf kamu bilang?! apa dengan maaf mu itu uang ku akan kembali begitu saja, hah!!" Sentaknya garang namun sesaat kemudian ia tersenyum kala melihat Atta yang sudah ketakutan di balik tubuhku.


"Sayang sekali aku bukan lah seorang penjahat *******. Jika iya, mungkin aku akan meminta mu menjadi budak na*suku. Tapi ku rasa anak tampan itu bisa membayar semua hutang ayahnya" Ujar kakek tua ini sambil menyeringai membuatku semakin ketakutan hingga air mataku pun luruh begitu derasnya.


Entah dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu, tapi jika aku tak membayarnya maka mereka akan membawa Attaku. Tidak akan ku biarkan hal itu terjadi.


Esok harinya aku mencoba mencari pekerjaan tapi sulit sekali. Hingga tanpa sengaja aku kembali bertemu dengan cintaku, Robert. Dia mendengar kan semua ceritaku dan dia pula yang membantuku untuk melunasi hutang suamiku. Awalnya aku menolak, tapi dia bilang itu adalah bentuk dari rasa bersalah nya padaku.


Untuk pertama kalinya, aku tak lagi takut pada seorang makhluk yang di sebut laki-laki selain Atta. Hari demi hari kami lalui bersama dan kami kembali dekat, hingga tanpa bisa di cegah satu malam panjang ku lalui bersamanya.


Satu bulan setelah malam kami berbagi peluh, suami ku akhirnya pulang setelah sebelumnya pergi berbulan-bulan. Saat itu juga aku menuntut pisah darinya tapi ia tak terima, apalagi mengetahui jika aku tengah hamil yang pasti itu bukan lah anaknya. Ia bertambah murka dan tak segan-segan untuk melakukan kekerasan fisik padaku.


Lebam hampir di sekujur tubuhku. Sekuat tenaga dan semampuku, aku melindungi perut ini agar tak terkena amukannya. Malam itu aku benar-benar terluka. Apalagi dia yang ingin menjual Atta katanya lagi-lagi untuk melunasi hutang.


Aku tak habis fikir, baru saja hutang itu lunas lagi-lagi sudah ada orang yang lain mengih padanya dan jumlahnya selalu tak main-main. Ku dengar Baron suka sekali menghambur kan uangnya di meja judi. Jika ia kalah ia akan berhutang dan jika ia menang ia akan menghamburkan uang itu untuk menyawer biduan-biduan dangdut atau untuk membayar wanita-wanita untuk bisa memenuhi has*atnya.


Aku tak mengerti sejak kapan dia punya kelakuan buruk seperti itu.


Malam itu kami ribut besar, dan aku memutuskan untuk melarikan diri menemui kakak perempuan ku, Mba Lusi. Aku tak mau Atta menjadi korban kegilaan ayah nya sedangkan aku pun tak bisa menjaganya di saat perutku semakin membesar.


Singkat cerita aku tak pernah menghubungi atau sekedar mencari tahu tentang Atta karena aku takut Baron akan menguntit ku. Saat itu keadaanya begitu rumit. Singkatnya aku berhasil lepas dari jerat Baron tapi ia tak membiarkan ku hidup tenang. Menjelang persalinan Robert tak pernah meninggalkan ku, ia selalu menemaniku.


Seorang bayi laki-laki tampan pun lahir dari rahimku. Kami menyambutnya dengan suka cita, Robert memberi bayi itu nama Abidzar Akhriz Herold.


Satu bulan kemudian kami melangsungkan pernikahan walau tanpa resepsi tapi aku bahagia, karena akhirnya kami bisa menikah. Hari-hari kami lalui dengan penuh kebahagiaan namun aku masih tak berani menemui Atta. Walau aku tahu Robert sebenarnya bisa melindungi Atta namun Baron pun tak kalah liciknya. Aku semakin tak mengenal sosok mantan suamiku itu.


Hingga tanpa terasa enam belas tahun terlalui aku semakin tak bisa menahan kerinduan ini. Akhirnya aku pun jatuh sakit karena rindu ini. Dan Robert memutuskan untuk membawa Atta apapun yang terjad. Tapi sayang, saat itu Atta tak ada di tempat dan aku tahu ia tinggal bersama dengan kakak ku yang lain, Lisa.


Aku begitu antusias karena Atta ku sudah tumbuh dewasa dan ia berada dekat denganku. Tapi lagi-lagi aku tak bisa menemuinya walau aku ingin.


Sehari sebelum menemui Atta, aku mendapatkan teror dari Baron. Ia mengancamku untuk memberikan Atta padanya jika aku tak menuruti kemauannya Abi lah yang akan menjadi gantinya.


Aku pun merasa tertekan. Keduanya begitu berarti untuk hidupku karena seringnya mendapatkan teror akhirnya aku di nyatakan dokter mengalami gangguan mental.


Robert melaporkan tindakan Baron pada pihak berwajib. Dan aku tak tahu lagi apa yang terjadi dengan Baron. Butuh waktu lama untuk ku bisa sembuh dari penyakit ini. Hingga pencarian Atta harus terhenti karena fokus mereka padaku dan juga Abi.


Saat aku sudah membaik rupanya jejak dari kakak ku tak lagi terendus. Entah kemana keberadaan nya. Terakhir kami bertemu saat aku menitipkan Atta pada nya seminggu sebelum aku di nyatakan dokter "Gila".


Sejak hari itu, aku tak lagi bisa hidup tenang. Aku selalu memikirkan Atta bagaimana keadaannya? apa dia baik-baik saja? atau justru Baron berhasil mendapatkan Atta?.


Lenny Agustina Herold POV end.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.....