I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 12



Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa matahari sudah bersinar terang di tengah langit. Setelah penat dengan segudang pekerjaan, akhirnya waktu makan siang pun tiba.


Aku bergegas menuju kantin yang ada di lantai bawah. Cacing di perut ku sudah sedari tadi berdemo. Aku menekan angka 1 pada tombol di lift, saat melewati lantai 8, 2 orang masuk menyapa ku.


"Hai Sya," Sapa perempuan cantik yang mengenakan blazer berwarna navi dan rok span senada dengan warna blazer nya. rambut kecoklatannya ia biarkan tergerai indah di tambah jepit rambut dengan aksen mutiara di sisi sebelah kanannya membuat ia tampak semakin cantik.


Aku mengernyit merasa tak asing dengan wajahnya. Tapi, aku benar-benar lupa. Sudah ku bilangkan jika aku ini tipe wanita yang susah menghafal wajah seseorang.


Please.. Jangan memojokkan aku tentang hal ini, karena sungguh aku tak berbohong. Aku pun tak ingin memiliki penyakit ini jika saja ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit yang ku derita, aku pasti akan membelinya seberapa mahal dan juahnya obat itu.


Aku tersenyum meski aku tak tahu namanya. "Hai juga!" sahut ku karena takut di kira sombong.


Aku beralih menatap seorang pemuda yang berdiri di samping wanita ini hanya menunduk tak berani memandang ku. Kenapa ya?


"Ah kenalin ini Nakula, dia satu tim bareng gue," Kata nya menjelaskan. Yang bisa ku lakukan hanya tersenyum canggung, tak ingin membuatnya kecewa karena aku yang tak bisa mengingatnya.


Aku memandang Id card yang ia kalungkan di leher nya. Sesaat kemudian aku baru ingat setelah menggumamkan namanya berkali-kali di benak ku. Dia ini yang menyapa ku hari Jum'at di kantin waktu itu. Ck! Ingatan ku sungguh payah!


"kalian mau ke kantin?" Tanya ku memandang mereka bergantian.


Ku lihat Nakula melirik ku dari balik kaca mata yang ia kenakan. Dia sama sekali tidak bersuara dari tadi.


"Iya, lo juga kan? kita bareng ya?"


Aku mengangguk.


Tak lama kemudian kami bertiga sudah duduk manis di kantin. Beberapa menu terhidang di meja.


Siang ini aku memilih gado-gado untuk menu makan siang, Disty memilih ayam goreng dan tumis kangkung, sedangkan Nakula ia memilih mie instan rasa soto. Padahal ada menu soto di sini tapi ia malah memilih mie instan.


"Nakul, Ko Lo diem aja dari tadi, kenapa?"


Tanya ku penasaran karena ia tak kunjung mengeluarkan suaranya. Aku jadi curiga jangan-jangan dia ini tak bisa berbicara.


Disty melihat ke arah Nakula membuat pria itu merasa canggung. Karena pandangan kami tertuju padanya.


"Ngga ko," Jawabnya singkat dan kembali fokus pada makanannya.


Akhirnya dia mau bersuara meskipun sangat singkat dan mematahkan prasangka konyol ku barusan. Pria berkacamata yang bisa di bilang sangat rapih cendrung terlihat culun. Ia juga mengenakan celana bahan warna hitam panjangnya sampai sebatas perut. Rambutnya yang hitam legam pun senantiasa klimis di sisir ke sebelah kiri.


Kalau di lihat-lihat memang dia ini culun tapi percayalah di balik itu Nakula adalah pria yang cukup tampan, hanya sedikit saja merubah gaya berpakaiannya ku pastikan banyak kaum hawa yang terpesona dengannya.


"Sya... Lo jangan tersinggung yah. Nakul memang kayak gitu. Kalau baru bertemu orang asing pasti malu-malu tapi kalau udah kenal... Beuh... Malu-maluin abisssss!" Ujar Disty seraya menarik tangan kanan dan kiri nya yang semula ia takutkan di depan dada secara perlahan dan berlawanan seirama dengan huruf "S" yang dia ucapkan sepanjang nafasnya.


Aku terkekeh melihat tingkahnya apalagi Nakula yang di ledek pun mengerucut kan bibirnya. Lucu, dia seperti anak kecil.


"Yang ada Lo tuh yang malu-maluin gue!" sahut Nakula ketus masih dengan bibir yang senantiasa mengerucut. Aku di buat gemas, ingin ku remas bibirnya itu tapi tak mungkin ku lakukan, bisa di bilang tak waras nanti.


Disty dan Nakula, mereka teman pertama ku di sini, semoga saja mereka benar-benar baik tidak seperti sebelumnya.


"Kalian udah lama kerja di sini?" Tanya ku.


"Yah, lumayan baru 3 tahun. Tapi kalo Nakula dia baru di mutasi dari kantor cabang yang ada di Bandung ke kantor pusat sekitar 6 bulanan." Jawab Disty. Tangan Disty yang jahil tak mau tinggal diam, dengan sengaja ia menambahkan dua sendok sambal pada makanan milik Nakula.


"Ah.. Disty!!" Keluh Nakula. Namun Nakula tak serta memarahi Disty, ia hanya mengerucutkan bibirnya sambil mendengus kesal.


Keisengan Disty tak hanya sampai di situ, ia bahkan meminum habis teh tawar milik Nakula saat melihat pemuda itu kepedasan.


Aku yang merasa kasihan pada Nakula karena wajahnya sangat merah dan duduk dengan gelisah pun menyodorkan minuman kesukaan ku yang belum sempat tersentuh padanya.


"Ah, Leganya.. Makasih, Sya. Untung Lo baik, ngga kaya nenek lampir di samping gue!" Ucapnya padaku dengan sedikit sindiran pada Disty.


"Siapa yang Lo bilang nenek lampir?" Ujar Disty ketus.


"Lo lah siapa lagi! Orang yang sukanya menindas kaum lemah kayak gue." Tak peduli dengan ucapan Disty yang terdengar tak ramah, Nakula justru semakin memancing amarah Disty.


Plak!


"Dan Lo Grandong nya!" Disty menggeplak kepala Nakula tak ketinggalan pula cibiran untuk lelaki ini. Nakula yang mendapatkan pukulan di kepalnya memicingkan matanya menatap Disty sembari mengusap kepala yang mungkin terasa sakit.


Aku tak mempedulikan dua manusia yang asik berdebat, aku hanya fokus pada makan siang ku.


***


Jam makan siang usai, kami pun kembali ke ruangan masing-masing dan berpisah di lantai 8 tempat dua teman baruku bekerja.


Tiba di ruangan, Aku kembali berkutat dengan setumpuk berkas yang di berikan Pak Zayn tadi pagi. Pak Zayn agaknya belum kembali dari meeting siang ini ruangannya masih tampak sunyi.


Aku memeriksa sebuah email yang baru saja masuk, yang rupanya pemberitahuan tentang acara Family Gethring tahun ini yang akan di adakan dua minggu lagi.


"Akhirnya liburan, Yeah!!" pekik ku girang karena ini adalah liburan pertama setelah aku bekerja.


"Liburan apa?" Tanya sebuah suara membuat ku terperanjat kaget. Aku menoleh ke sumber suara menampakkan sosok pria tegap proporsional sedang memandangiku dari bingkai pintu yang terbuka.


Aku mengusap dada dan menghembuskan nafas kasar. Sumpah yah, punya atasan tak ada sopan-sopanya! masuk ke ruangan orang seenaknya membuatku jantungan saja.


"Eh pak Zayn. Itu Family Gethring yang di adakan perusahaan dua Minggu lagi di Pantai Batu Karas," Ujar ku senang. Aku senang karena itu adalah salah satu tempat wisata yang ada di tempat kelahiran ku.


Jujur, sebagai warga yang berasal dari sana aku sama sekali belum mengunjungi tempat wisata yang lain selain Pantai Pangandaran. Jadi, untuk acara kali ini aku sangat antusias.


"Batu Karas?" Tanyanya.


Aku mengangguk dengan senyum yang tak luntur dari wajah ku.


"Bukan kah itu berada tak jauh dari Pantai Pangandaran?" Tanyanya memastikan.


"Iya pak. Tempat nya dekat dengan tempat tinggal saya," Ujar ku bangga, tak menyangka pilihan akan jatuh ke tempat itu.


"Oh ya? apa aku boleh mampir. Aku ingin bicara pada orang tua mu, bahwa aku telah jatuh cinta pada anaknya," Ujar Pak Zayn berhasil membuat ku mematung.


.


.


.


.


Bersambung...


...----------------...