I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 36



Zayn POV


"Gue ke atas dulu, yah" Ujarku pada Nakula yang kebetulan ada di depanku. Saat ini kami mengambang berenang di permukaan, jadi kami masih bisa berkomunikasi dengan suara.


"Lah kenapa, pak? Bentar lagi lah nanggung nih... Mana tuh kupu-kupu belum ketemu" Ujar Disty teman perempuan Tasya. Yah, kalau tak salah itu kan namanya.


"Iya, tapi kayaknya kita udah ninggalin Tasya terlalu lama" Ujarku seraya melihat Tasya yang sedang foto Selfi di atas perahu. Entah kenapa perasan ku menjadi tak enak, apalagi aku melihat trio ulet bulu sudah naik lebih dulu ke atas perahu. Aku takut mereka akan nekat.


Aku berenang mendekati perahu kami dan mulai menaikinya. Tapi, saat kaki ku baru saja berhasil mendarat di sana, mataku di buat terbelalak dan jantungku rasanya berhenti berdetak sesaat.


Byuuuuurrrrrrr


"TASYA!!!!" Pekikku kala melihat Tasya jatuh ke dalam air membuatku tersentak dan berlari ke arah mereka, tak ku pedulikan perahu yang mulai goyang seiring dengan derap langkahku. Bahkan kalau pun perahu ini bocor aku tak peduli, yang sekarang ada dalam fikirkan ku adalah keadaan Tasya.


Byuuuuurrrrrrr


Tanpa pikir panjang aku langsung melompat masuk ke dalam air, bahkan aku sempat menabrak bahu trio ulet bulu yang menghalangi jalanku, mereka terlihat masih mematung. Jika terjadi sesuatu dengan Tasya aku tak akan mengampuni mereka.


Aku tahu mereka memang suka membully karyawan yang terlihat lemah pun mereka tak menyukai Tasya, tapi aku sungguh tak menyangka mereka akan senekat ini. Apa mereka tak tahu Tasya itu tak bisa berenang.


Aku mencari keberadaan Tasya yang tak kunjung muncul ke permukaan. Aku panik benar-benar panik karena tak ku temukan keberadaannya di tepat ia terjatuh.


Tak patah semangat aku kembali menyelam dan mengedarkan pandanganku ke sekeliling, hingga akhirnya aku melihat Tasya tersangkut sebuah tali, entah tali apa dan dari mana aku tak peduli. Karena saat ini aku benar-benar cemas karena Tasya sama sekali tak bergerak.


Aku berenang mendekat dan meraih pinggangnya, kemudian aku bawa naik ke permukaan.


"Bertahanlah, sayang. Tolong jangan tinggalkan aku lagi" ucapku dalam hati. Aku benar-benar cemas. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk dengan Tasya. Apalagi melihat wajahnya yang sudah pucat.


Saat sampai di permukaan, aku melihat orang-orang sudah ramai di atas perahu. Tanpa banyak bicara aku mengangkat tubuhnya dan di sambut oleh Nakula, dia juga sudah kembali.


"Tasya... Ya ampun! Kalo mau ikut berenang di kolam renang aja, ngapa ngikut di sini sih! Jadi repot gini kan." Ujar Disty. Di saat seperti ini dia masih bisa bercanda?.


"Husss.. mulut Lo tolong jaga dulu ngapa Dis. Temen lagi kayak gini malah Lo ledekin" Timpal Nakula yang mungkin juga kesal mendengar candaan Disty yang tak tahu tempat.


"Eh.. Dia beneran pingsan?" Tanyanya polos.


"Suka-suka Lo lah"


"Udah-udah... Ayo baringkan di sini!" Ujar karyawan yang lain menengahi perdebatan dua orang tak bermutu itu.


Aku pun melangkah mendekati Tasya dan menggosokkan tangannya, tak ku biarkan ia kedinginan. Untungnya ia masih bernafas, tapi nadinya lemah.


"Ayo, pak kita ke daratan sekarang" Ujar salah seorang karyawan pada pak nelayan yang membawa kami.


Aku mulai menekan bagian bawah tulang rusuknya untuk mengeluarkan air yang tertelan. Entah benar atau tidak, setidaknya ia harus di berikan pertolongan pertama.


"Kasih nafas buatan aja, Pak" kata salah satu dari karyawan yang ikut mengerubungi Tasya membuat udara kian sesak.


"Iya, tapi kalian harus mundur dulu kasih ruang buat Tasya bisa bernafas dengan benar" Ujar Nakula dan di angguki oleh semua orang. Kini mereka telah menyingkir dan aku mulai melakukan tindakan. Ku pencet hidung mungil Tasya dengan jari jempol dan telunjuk ku kemudian mulai memberikan nya nafas buatan melalui mulut. Ku lakukan hal itu sampai tiga kali hingga akhirnya.


Uhuk ... Uhuk... Uhuk...


Tasya terbatuk dan mengeluarkan banyak air, dan hal itu membuat nafasku lega. Aku terduduk di sampingnya dengan lemas, karena sedari tadi aku sangat tegang melihat Tasya yang sama sekali tak bergerak. Tanpa sadar air mata ku menetes begitu saja. Ini bukan air mata kesediaan tapi ini adalah air mata kekhawatiran. Aku tak peduli jika di sebut dengan laki-laki yang cengeng, karena bersama Tasya aku tak bisa menyembunyikan emosiku.


Setelah terbatuk Tasya masih asik memejamkan mata, dan aku sama sekali tak melepaskan genggaman tangan ku padanya. Karena terfokus untuk membuatnya sadar aku tak melihat ada luka di tubuhnya.


"Pak Zayn, Lengan Tasya sepertinya terluka, pak" Ujar Disty membuatku tersentak dan reflek menoleh ke arah yang di tunjuk Disty. Iya memang benar ada seperti noda darah dan ternyata darahnya sudah membanjir. Aku terbelalak dan segera menyobek ujung baju yang ku kenakan tapi si*l, aku masih mengenakan baju renang.


"Pakai ini aja, pak" Ujar salah satu karyawati sambil menyodorkan ku sebuah sapu tangan. Aku mengambilnya dan tak lupa juga ku ucapkan terimakasih.


Kini perahu telah bersandar sempurna di bibir pantai, aku segera melompat untuk menerima tubuh Tasya yang masih lemah dari tangan Nakula. Karena perahu yang kami naiki mempunyai pinggiran yang cukup tinggi, jadi aku kesulitan untuk membawa tubuhnya langsung.


Aku berjalan dengan tergesa-gesa mencari tumpangan untuk membawaku ke klinik terdekat. Sambil sesekali ku lirik Tasya yang terkulai dan wajah yang pucat. Melihatnya lemah seperti ini membuatku semakin terluka.


Aku telah gagal, aku gagal melindungi Tasya. Wanita yang ku cintai, dan belum ada dua puluh empat jam kami pacaran, aku sudah lalai untuk menjaganya. Aku merasa tak berguna, sangat mencintai apanya? Aku bahkan tak bisa menjaganya padahal dia ada di dekatku.


"Bertahan lah, sayang! aku mohon, jangan tinggalkan aku" Gumamku seraya tak henti-hentinya menggosok telapak tangannya yang terasa dingin.


Saat ini aku sudah berada di dalam ambulance. Untungnya, Nakula sempat menelfon pihak rumah sakit untuk menjemput Tasya. Dia memang paling bisa di andalkan.


"Ayo bangun! Buka matamu! jangan menakutiku seperti ini. Aku mohon sayang, Kasih aku kesempatan untuk membuktikan janjiku. Jangan seperti ini" Ucapku sambil menggengam tangannya erat.


Beberapa saat kemudian kami telah sampai di rumah sakit, tak sekali pun pandanganku teralihkan dari wajah pucat Tasya. Tiba di depan ruang UGD kami di sambut oleh beberapa perawat yang bertugas.


Aku ingin selalu berada di dekat Tasya, aku tak ingin ia merasa sendiri. Tapi, peraturan yang ada tak membolehkan ku masuk. Aku menunggu di depan ruang UGD dengan gelisah, cemas, panik, dan marah.


Marah pada diriku sendiri yang tak bisa melindungi Tasya, marah pada Trio ulat bulu yang sudah berani membuat Tasya seperti ini. Bicara tentang mereka, aku tak akan membiarkan mereka begitu saja. Tidak untuk kali ini. Bahkan mereka dengan sengaja melukai Tasya.


"Pak Zayn!!!" Pekik Disty yang baru sampai bersama Nakula. Ia berlari tergopoh-gopoh ke arahku. Aku yang tengah terduduk dengan posisi kepala yang menunduk pun mendongakan kepala ke arahnya.


"Bagaimana keadaan Tasya, pak? Dia baik-baik aja kan? Ngga ada yang serius kan? Tasya udah bangun kan? Se-"


"Masih di tangani dokter" Tukas ku, menyela pertanyaannya yang beruntun itu. Aku terlalu malas menanggapi ocehannya.


"Elo gimana sih, Tasya kan baru aja nyampe" Ujar Nakula. Sedari tadi hanya dia yang mau menimpali ucapan tak penting gadis ini.


"Hehe.. Gue kan panik"


Tak lama kemudian pintu yang sedari tadi tertutup akhirnya terbuka menampakkan seorang dokter laki-laki yang rambutnya tampak memutih.


"Keluarga saudari Anastasya?" Panggilnya membuat aku segera menghampiri dan menyergapnya dengan pertanyaan serupa yang beberapa menit lalu di tanyakan Disty padaku.


"Untungnya ia segera mendapatkan pertolongan, ia pun belum terlalu banyak menelan air laut. Tak ada hal yang perlu di khawatirkan. Dia hanya terlalau terkejut. Luka di lengannya pun tak terlalu berbahaya, untung nya ia hanya tergores oleh timah panas" Tukas dokter membuat kami semua bernafas lega.


"Alhamdulillah..." Ucap kami serentak, tapi tunggu dulu, tadi dokter itu bilang..


"Timah panas?!!!" Pekikku kala menyadari kata terakhir dari dokter.


.


.


.


.


Bagaiman bisa ada peluru di laut, dan itu menyasar pada Tasya?


Ada apa ini sebenarnya? Apa yang terjadi?..


.


.


.


.


.


Zayn Pov end


.


.


Bersambung....