
Rizky POV
"Hai!!! Sepupu"
Uhuk...Uhuk...
Seketika rasa perih merambat dari tenggorokan ke hidungku. Aku yang saat itu sedang meneguk air putih setelah selesai menghabiskan menu makan siangku, terkejut bukan main mendengar suara rusuh yang selama ini memenuhi Indra pendengaran ku.
Seorang gadis yang tidak ada anggun anggunnya sama sekali berjalan santai memasuki ruangan ku dan duduk di atas ranjang pasien. Ia bahkan tidak merasa bersalah sama sekali dengan keadaanku yang jelas-jelas adalah ulahnya. Ia malah tersenyum tanpa beban ke arah ku.
Tak ingin terlalu lama memperhatikan nya aku beralih memandang seorang pria yang di bawa kakak sepupuku itu. Aku mengerutkan kening seperti pernah melihatnya, tapi dimana ya?
"Ah ini pak Zayn atasan gue di kantor" ujar Tasya mengerti dengan arti tatapanku.
Aku memperhatikan pria yang masih betah berdiri di depanku. Ku pandangi dari atas ke bawah, dan dari bawah ke atas. Ku lakukan hal itu secara berulang. Iya aku ingat, dia yang kemarin datang ke kosan Tasya dan pergi begitu saja dari sana.
Tapi, aku rasa bukan itu. Struktur wajahnya terasa tidak asing di mataku, hanya saja aku lupa. Atau mungkin ini hanya perasaanku? Entahlah aku pusing.
"Mau ngapain Lo ke sini?" Tanyaku pada Tasya, karena tidak biasanya dia ada di sini. Jika ku ingat lagi ini kali pertama dia datang ke tempat kerja ku. Untung saja sekarang masih jam istirahat, jadi kedatangan nya tidak terlalu menganggu walau sebenarnya aku malas meladeninya.
Jika bukan karena pesan dari Tante, aku mana peduli apa yang di lakukannya. Terlalu menyusahkan, apalagi jika sudah ada maunya. Mana ngga ada sopan-sopanya pula. Jika bukan saudara sudah ku getok kepalanya itu dengan tiang penyangga infusan, saking geramnya.
Lihat saja, di klinik seperti ini dia masih berlaku semaunya. Bisa kalian bayangkan jika kami ada di ruangan yang sama?
"Gue mau minta duit dong" ujarnya santai berhasil membuat mulutku menganga lebar.
Dia selalu saja seperti itu, tau saja tanggal gajian ku. Apa dia lupa selama ini kan biaya hidupnya aku yang menanggung. Bahkan uang sewa kos saja aku yang bayar. Tapi, ia masih saja meminta lagi.
Aku sudah sering bilang untuk mengurangi cemilannya tapi ia tidak mau dengar. Sekarang jika duitnya habis sebelum tanggal gajiannya. Ujung-ujungnya aku juga yang harus keluar modal.
"Kan Minggu kemarin udah gue kasih"
"Ck. gue ngga ngerasa Lo ngasih, yang ada Lo tuh cuma ngasih selembar warna merah aja. Itu juga Lo potong dua puluh ribu. Dasar perhitungan" Gerutu Tasya terdengar lucu di telingaku.
Ku ambil beberapa lembar warna merah yang ada di dompetku.
"Satu...dua...tiga..Em..."
hap
"Makasih yah" Ucap Tasya cepat setelah merebut lembaran uang dari tanganku, bahkan sebelum aku selesai menghitung lembaran tersebut. Aku memutar bola mataku malas. Tasya, paman, dan nenek itu sama jika melihat uang pasti langsung garcep.
"Gue ke toilet dulu ya? bapak di sini aja nanti saya ke sini lagi. Kalian yang akur ya jangan main cakar-cakaran" pesannya sebelum keluar.
Kini hanya tinggal kami di dalam ruangan ini. Seketika atmosfer di dalam sini berubah menjadi dingin. Aku melihat Laki-laki yang ada di depanku terlihat gugup namun ia masih mencoba untuk bersikap biasa dan mata ku ini tidak bisa di bohongi.
Ku akui ia memang berwajah datar nan dingin tapi di balik itu, sekali lihat saja bagaimana caranya memandang Tasya sudah bisa ku pastikan jika ia menyimpan sebuah rasa.
"Lo suka dia, kan?" Ujarku to the poin. Ku lihat Zayn tampak terkesiap dan aku yakin ia pasti bakal mengelak. Orang seperti nya pasti segan untuk mengungkapkan kejujuran pada orang asing seperti ku. Tapi tenang! aku bukan lah pria yang mudah di bohongi.
"Iya" Di luar dugaan sih dia ini jujur sekali. Bahkan ia mengatakan hal tersebut tanpa ragu. Mengingatkan ku pada...
"Dan hanya dia yang gue mau... Gue mencintainya dan selamanya tidak akan berubah" Ucapnya tegas dan tak ku temukan keraguan dalam matanya.
"Lo.."
"Atta?.. Lo.." Aku tak bisa meneruskan kata-kataku. Semua pertanyaan serasa tercekat di tenggorokan ku.
"Iya ini gue. Sama kaya Lo, gue juga ngga ngenalin Lo awalnya. Sorry" Mulutku tak bisa berkata-kata ini sungguh mengenjutkan ku.
Orang yang selama ini kakak ku cari-cari ternyata berada jelas di depannya. Bahkan mereka selalu bersama. Takdir macam apa ini? lalu bagaimana dengan rencana keluarga kami? mereka jelas saling mencintai. Pun tidak ada alasan untuk menolak pria di depanku.
Sebagai bagian dari keluarga Nenek Anita tentu keluarga ku pun di beri tahu tentang perjodohan yang akan di lakukan oleh paman untuk Tasya. Tapi, jika begini apa yang harus ku lakukan?
Atta telah kembali...
"Apa Tasya tau siapa Lo?"
"Ngga, gue rasa gue ngga terlalu penting dalam hidupnya. Tapi ngga masalah, gue akan buat dia jatuh cinta. Tapi, yang jadi masalahnya sekarang... Tasya itu mau tunangan kan?" Ujarnya terdengar lirih, seolah putus asa dengan nasib percintaannya.
Sebagai ajudan Tasya dari dia dalam kandungan, tentu aku tau bagaimana kerasnya lelaki ini untuk meyakinkan Tasya kecil saat itu jika dia benar mencintainya. Pun Tasya aku tahu bagaimana ia memendam rasa dengan laki-laki ini hingga saat ini. Kisah cinta yang rumit, tapi jika saja mereka terbuka ku rasa tidak akan serumit ini.
"Terus mau Lo apa? Lo ngomong aja apa adanya susah amat. Pusing gue liat kalian. Jalan yang lurus aja ada Lo berdua malah milih jalan yang berbatu mana banyak lobangnya lagi"
"Mau gue Lo cukup dukung hubungan kami aja. Masalah identitas gue, biar gue nanti yang kasih tau sendiri"
Aku menghela nafas mendengar kemauan nya. Sumpah ya, apa jatuh cinta seribet ini? Aku jadi takut.
Tak lama kemudian, orang yang kami bicarakan pun menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Entah apa yang sedang di lakukannya, aku tak peduli.
Waktu praktek sebenar lagi akan di mulai, aku mulai membereskan meja yang berantakan. Sedangkan dua manusia ini masih setia di dalam sini. Aku tak peduli apa yang akan mereka lakukan.
Namun sudut mata ku menatap sebuah plastik hitam di atas ranjang pasien. Aku yang penasaran pun membuka bungkusan tersebut.
"Ini punya Lo bukan?" Tanyaku pada Tasya yang saat ini sedang berbicara dengan Zayn entah apa.
Tasya menolehkan kepalanya menatap bungkusan yang ada di tanganku.
"ASTAGA!!! MAMP*S GUE!!!" pekiknya membuat suaranya memenuhi gendang telingaku.
.
.
.
.
Rizky POV end
.
.
.
Bersambung....