
"Sayang, maksud kamu apa?" Taysa menggeleng dan tersenyum getir kemudian memberikan ponselnya padaku. Awalnya aku tak mengerti maksudnya tapi sesaat kemudian mataku membola kala sebuah foto yang di tunjukan oleh Tasya. Jantungku rasanya ingin melompat keluar saat di dalam foto itu aku dan Celin.. Kami.. Berciuman?
Berciuman, sungguh? Tapi kapan? Aku benar-benar tak merasa pernah menyentuhnya apalagi sampai melakukan hal yang seperti itu. Kalian tahu kan, bahkan dengan wanitaku saja aku tak berani melakukan hal yang lebih dari sekedar gandengan tangan. Tapi, kenapa foto ini bisa seperti ini?
"Kamu dapet foto ini dari mana, Yank?"
"Kamu," Tasya menjawab pertanyaanku dengan begitu datar. Sungguh baru kali ini aku melihatnya benar-benar marah padaku dan ternyata marahnya dia bukan berteriak atau memaki aku tapi malah mendiamkan ku begitu. Jujur itu lebih menakutakan, bagiku lebih baik jika di pukul saja olehnya dari pada di diamkan seperti ini. Tapi, nanti malah jadinya KDRT dong? Entahlah, intinya aku tak ingin dia marah padaku.
"Aku dapat foto itu dari nomor kamu," Lanjut Tasya lagi membuatku mengrenyit bingung. Aku tak pernah merasa mengiriminya foto apapun, tapi kenapa Tasya bilang seperti itu?.
"Aku ngga pernah merasa ngelakuin hal kaya gini dan aku pun ngga pernah kirim kamu foto apapun yank, apalagi foto seperti ini. Aku rasa Celin juga ngga mungkin karena waktu itu dia lagi pingsan sehabis tak sengaja aku tabrak," aku menerka-nerka siapa yang sebenarnya mengirimi foto seperti itu pada Tasya.
"Ya sudah kalau ngga percaya. Ayo Ky, kita pulang!" Tasya mengajak Rizky pulang hingga membuatku kalang kabut.
"Tunggu, Yank!" Selaku membuat Rizky yang sudah berjalan satu langkah sambil mendorong kursi roda yang di duduki oleh Tasya berhenti. mereka membalikan badannya berhadapan lagi dengaku. Tapi tunggu dulu! Aku baru sadar Tasya saat ini sedang duduk di kursi roda. Saking bahagianya bisa menemukan Tasya aku sampai lupa jika keadaanya sedang tak baik-baik saja.
"Apa yang terjadi? Kenapa kakimu di pasang gips dan harus duduk di kursi roda? Siapa yang buat kamu kayak gini? Kasih tau aku, yank!" ucapku menodongnya dengan banyak pertanyaan.
"Masih berani kamu tanya, kenapa! Sadar nggak kalo-"
"Udah, Ky!" Sergah Tasya memotong ucapan Rizky membuat laki-laki itu memncebikkan bibirnya kesal.
"Aku ngga apa-apa! mana ponselku? Aku ingin istirahat," Tasya menyodorkan tangannya untuk meminta ponsel yang masih ku genggam. Alih-alih memberikan ponselnya, aku justru menggeser Rizky bermaksud mengantikannya mendorong kursi roda yang di duduki Tasya.
Setelah mengatakan pada Rizky jika aku yang akan merawat Tasya, aku pun mendorong kursi roda itu dan membawa Tasya keluar dari rumah sakit. Aku ingin mengantarkan Tasya meski dia menolakku tapi aku tak peduli. Bukankah mendapatkan penolakan darinya itu sudah biasa untukku. Aku hanya perlu menebalkan muka. Lagi pula jika Tasya tetap di antarkan oleh Rizky pasti akan begitu repot, karena Rizky kan datang kesini dengan mengendarai motor merahnya.
"Sayang, kemarin itu aku ngga sengaja nabrak Celin dan dia pingsan. Jadi aku menunggunya sadar sebagai bentuk dari rasa tanggung jawab tapi karena begitu panik aku melupakan ponsel yang jatuh habis ngasih kabar kamu. Beneran deh cuma itu aja, aku ngga ngapa-ngapain, yank. Sumpah di sambar janda deh kalo aku bohong!" Jelasku saat kami sudah ada di dalam mobil. Tapi lagi-lagi dia malah memelototiku seperti hendak memakan ku bulat-bulat.
"Oh.. Jadi sekarang kamu doyannya sama janda ya! Oke!" Ujar Tasya garang. Dia masih cemburu ternyata itu tandanya masih ada cinta untukku. Fyuhh..
"Eh ngga gitu, sayang. Kalau aku sumpah di sambar geledek nanti beneran terjadi terus aku terhempas ke alam lain gimana? Nanti siapa yang jagain kamu?"
"Berarti kamu memang ngelakuin hal itu kan sama di Celin itu. Astaga! Apa kurang nya aku, Zayn?" Tasya mulai mau banyak berbicara, tapi sekalinya buka suara nadanya terdengar bergetar pun matanya tampak berkaca-kaca seperti sedang menahan tangis. Ya ampun! Sepertinya aku salah ngomong lagi.
"Eh, sayang-"
"Padahal kamu selalu bilang kalo kamu itu cinta sama aku, Tapi.. Tapi kenapa kamu tega main serong sama wanita lain,"
"Sayang-" Aku mulai tak kosentrasi menyetir sekarang saat mendengar tangisannya pecah. Ini pertama kalinya aku melihat dia menangis dan aku merasa begitu telah menyakitinya.
"Cukup! Turunkan aku! Aku benci kamu, Zayn!" Bak benar di sambar petir, kata "Benci" yang keluar dari mulutnya membuatku mamatung dengan sakit yang begitu terasa di sudut hatiku, rasanya seperti di cubit.
"Sayang, ini ngga lucu!"
"Aku serius, Zayn. Aku benci kamu.. Aku sangat benci kamu. Aku.."
"Cukup, Sya. Aku ngga mau denger lagi. Selamanya kamu cuma akan jadi milik aku dan tak akan pernah pergi kemana pun!" Aku sudah habis kesabaran dan tanpa sengaja malah meninggikan suaraku. Aku melirik Tasya takut jika dia akan merasa ketakutan padaku, tapi kenapa dia malah tersenyum? tersenyum di tengah tangisannya.
"Tapi aku tak peduli! Aku bilang aku benci kamu, Zayn.. Aku benar-benar cinta kamu!" Teriaknya lagi membuatku semakin tersulut emosi.
"Aku bilang, aku tak mau dengar!" Sahutku garang tapi sesaat kemudian aku tersentak saat mengingat apa yang baru saja dia ucapkan. Tunggu! Tadi di bilang benar-benar cinta kan? Aku tak salah dengar kan? Untuk memastikannya aku menoleh ke arah Tasya.
"Apa! Katanya tadi ngga mau dengar, ya sudah!" Sahut Tasya ketus. Ia memalingkan wajahnya tapi aku masih bisa melihat wajah cemberutnya dan itu sangat mengemaskan.
"Ayolah katakan sekali lagi, yank. Tadi aku benaran nggak denger," pintaku memelas namun ia masih saja acuh.
"Nggak!"
"Yank,"
"Nggak!"
"Ya udah kalo ngga mau," Aku memelankan laju kendaraanku dan membuka satbelt kemudian tanpa ragu..
Cup
"Aku mencintaimu, Anastasya Putri," Aku melabukan satu kecupan di pipinya tiba-tiba hingga membuatnya terkejut dan reflek menoleh dan ini lah yang aku tunggu.
Cup
Lagi, aku mengecup bibir merah delimanya membuat Tasya semkain terkejut. Akh.. rasanya aku ingin menyesap benda kenyal yang berwarana pink alami itu, tapi aku takut tak bisa berhenti. Hanya dengan mengecupnya singkat saja mampu membuat darah ku berdesir dan berdebar tak karuan seperti ini.
"Atta! Apa yang kamu lakukan!" Pekik Tasya dengan pipi yang bersemu, tapi aku tak bisa menikmati rona wajah nya lebih lama karena ia menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik telapak tangan sambil mengeleng-gelengkan kepalanya, lucu.
"Sayang, jangan di tutup. Aku masih mau lihat," pintaku dan Tasya langsung membuka tangannya dan bukan wajah malu-malunya yang ku lihat justru wajah yang garang. Ku rasa dia sudah bisa mengendalikan dirinya.
"Dasar Bebek!" Ujarnya ketus sambil memelototiku. "Main nyosor-nyosor sembarangan! Setelah kemarin habis ciuman dengan wanita lain, sekarang kamu masih berani nyosor gitu!"
"Sayang, aku ngga ngapa-ngapain kemarin. Suer deh!" Ujarku sambil menunjukan jari tengah dan telunjukku membentuk huruf V ke arahnya. "Kalau kamu ngga percaya, besok aku akan kasih buktinya!"
"Terserah!"
"Aku janji, sayang,"
.
.
.
.
.
Bersambung...
...----------------...
🥱 Janji-janji mulu buktinya mah zonk!