
Budayakan like sebelum baca yah guys..
Terimakasih yang udah mampir😊😊
Happy reading
...----------------...
Sinar mentari pagi terasa hangat menyinari bumi. Memberi cahaya pada setiap makhluk di bumi. Tak terkecuali sebuah kontrakan yang tak begitu luas. Sampah berbagai bungkus cemilan berserakan di lantai, tapi seorang gadis tampak masih asik dengan mimpinya. Tak ia pedulikan telfon yang sedari tadi menyala. Seperti kebiasannya saat di rumah maka ia akan menggunakan mode silent.
Setelah beberapa saat ia mulai menggeliat di balik selimut. Kamarnya kini terasa dingin karena ia telah membeli AC, tak seperti beberapa waktu lalu ia harus kepanasan dan menggunakan sobekan kardus untuk menjadi kipas manualnya.
Tak lama kemudian, ia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya membuka mata nya dengan sempurna. Hal yang pertama yang dia lakukan saat bangun adalah melirik jam dinding yang bertengger sempurna di atas TV.
"Hoammm" Ia menguap beberapa kali kemudian duduk sebentar untuk mengumpulkan nyawa yang masih separuh itu.
"Masih jam 6" gumamnya. Perhatiannya teralihkan pada ponsel yang menyala di atas lantai. Ia berguling untuk bisa menjangkau ponselnya. Maklum saja ia masih malas bergerak.
Saat ponsel berhasil ia raih, benda itu tak lagi menyala. Ia mengotak atik benda persegi itu, membuka sebuah aplikasi chatting namun yang ia harapkan tak ada, jusrtu lima kali panggilan tak terjawab dari Nakula.
"Ngapain nih wayang nelponin pagi-pagi." Gumamnya. Ia kemudian meletakan kembali ponselnya tanpa berniat menguhubungi balik Nakula. Jika penting nanti juga dia akan telfon lagi, pikirnya. Kemudian ia mengambil ember kecil berisikan pernak pernik alat mandinya, yang ada di pojok kamarnya dan bergegas ke kamar mandi, takut antri.
"Kamu kemana sih yank? Giliran bareng cewek yang bening aja aku di lupain. Awas aja kamu ya, aku geprek baru tahu!" Gerutunya sambil memakai serangkaian perawatan wajah setelah mandi. Pada saat itu ponselnya kembali menyala, tertera nama Nakula di sana.
"Ini lagi.. Bukan elo yang gue tunggu woi!" Ia masih sempat-sempatnya menggerutu sebelum mengangkat telpon tersebut.
"Ha-" Begitu ia menggeser ikon gagang telpon warna hijau dan menempelkan ponsel itu di daun telinganya, bermaksud ingin menyapa si penelpon lebih dulu, namun urung ia lakukan karena Nakula lebih dulu berteriak hingga ia harus menjauhkan ponsel dari telinganya.
"TASYA!!! Dari mana aja lo!! gue telponin dari tadi juga!! Lo masih molor ya! Hallo Sya!! Tasya!! Woi!! Jawab!!" Nakula tensi sendiri karena Tasya sama sekali tidak menjawab ucapannya. Tentu saja tak di jawab saat ini ponselnya ada di lantai sedangkan dia sedang memasukkan beberapa barang ke dalam tas yang akan ia bawa.
"ANASTASYA PUTRI!!! CALON ISTRINYA DANIEL WIRASENA ABRAHAM!!!" Mendengar panggilan Nakula yang menyebutkan dirinya adalah calon istrinya Daniel sontak saja membuat Tasya kesal.
"RALAT!! CALON ISTRINYA ZAYN PRANTA!!" seru Tasya tak kalah kencangnya karena saat ini ia masih sibuk mencari kaos kaki yang entah ia lempar kemana.
"Oh ada orangnya ternyata! Gue kira mati lo!" Tasya melospeker panaggilannya jadi ia masih bisa mendengar suara Nakula walau saat ini ia sedang tak memegang ponselnya.
"Husss, masih pagi ini.. Jangan bawa-bawa mati!" Ujar Tasya, kini ia sudah selesai bersiap hanya tinggal memesan ojek. Ia pun duduk manis di atas kasur kecilnya sambil menempelkan kembali posel pada telinganya.
"Tapi, kayaknya cowok lo yang bakal mati!" Ucap Nakula. Kini ia pun sudah berbicara dengan nada santai. Tak lagi berteriak-teriak seperti di hutan. Untungnya, saat ini Nakula sedang ada di parkiran rumah sakit setelah mengurus segala keperluan Zayn.
Saat mengetahui jika yang sedang tak sadarakan diri itu Zayn, tanpa pikir panjang Nakula memecahkan kaca jendela mobil bagian belakang kursi kemudi untuk membuka kunci mobil tersebut.
Di bantu beberapa warga apartemen yang tadi ikut mengerubungi mobil Zayn, Nakula berhasil membawa Zayn ke rumah sakit. Tak lupa ia juga membuat surat izin untuk Zayn tiga hari kedepan.
"Cowok gue? Cowok yang mana?" Ucapan Tasya yang bernada polos itu membuat Nakula kembali naik darah. Bukannya Tasya baru saja bilang calon istrinya Zayn?Jangan bilang dia memang punya banyak cadangan!.
"Astaga, Muklis!!! Pacar lo nih yang katanya calon suami lo masuk rumah sakit!!" Seru Nakula benar-benar kesal sekaligus gemas. Ia bahkan tak peduli jika saat ini tengah menjadi pusat perhatian bagi beberapa orang yang kebetulan lewat.
"APA!! Kenapa?!! kapan?!!" Seketika Tasya menjadi panik karena ternyata yang di tunggu-tunggu sedang tidak baik-baik saja. Karena panik, Tasya reflek berdiri dan tas yang sedang di pangkunya terjatuh dan membiat isinya berhamburan keluar.
"Apa.. Apa!! Dari tadi gue mau ngomong elo malah ngajak ribut! Sekarang aja rusuh lo!" Ucap Nakula sewot. Ia yang tadinya ingin memberi kabar malah di buat kesal karen telpon yang tak kunjung di angkat. Begitu tersambung Tasya malah seperti mengacuhkannya. Kan Nakula juga kesel.
"HR Hospital ruangan VIP mawar melati semuanya indah..."
"Gue serius, UCUP!!" Sentak Tasya sewot. Ia yang sudah kadung khawatir malah masih juga di bercandai. Kan kalau Zayn beneran mati gimana? Eh..
Tasya menggelengkan kepalanya mengusir pikiran-pikiran buruk yang tiba-tiba memenuhi otaknya. Tidak mungkin terjdi sesuatu yang buruk pada kekasihnya itu kan. Ia sangat yakin kalau seandainya benar tidak mungkin Nakula sesantai ini kan. Tapi, tetap saja ia cemas. Tak biasanya Zayn samapai drop begini.
"Gue serius, Sya! Itu emang nama ruangannya"
"Ck! terserahlah.. Gue meluncur!!"
...----------------...
Di tempat lain, Abi yang beberapa hari ini memantau gerak gerik Zayn dan juga mengulik habis cerita hidup laki-laki yang di duga kakak tirinya itu pun mendapatkan kabar yang sama. Antara senang dan juga prihatin.
Senang karena ia bisa mengambil sampel darah Zayn untuk di lakukan tes dna secara sembunyi-sembunyi pastinya. Walau dari riwayat hidup pun sudah di pastikan jika Zayn memang kakak tirinya, tapi mengumpulkan bukti yang lebih banyak juga tak ada salahnya.
Abi merasa prihatin karena Zayn harus terbaring lemah di ranjang pasien rumah sakit, di mana itu adalah rumah sakit milik kelurganya. Jadi, mudah saja jika Abi ingin mengambil sempel darah dari Zayn. Abi sengaja tak memberi tahu orang tuanya tentang penemuannya ini. Biarlah jadi kejutan yang indah nantinya.
"Aku akan membuat sambutan hangat untukmu, Kak" Gumamnya menatap layar posel yang menamlilkan foto Zayn, dari saat masih di kandungan sampai saat ini.
"Bertahanlah sebentar lagi dan aku pastikan kakak akan bahagia"
"Aku menemukannya, Mah.. Anakmu tumbuh dengan baik.. Bahkan sangat baik."
.
.
.
.
.
Bersambung...
...----------------...
🙄Abi.. Zayn lagi butuh suntikan dana tuh, buat ngelamar Tasya yang matre.. buat beli 3 hektar kebun toge.
😏 Jangan kan tiga hektar, bahkan aku bisa kasih dia sebuah pulau plus isiannya..
🤪 Isian lu kira gehu alias tahu isi apa?
Holla hello readers tercintah ❤❤❤ Jangan lupa lemparin Nucha, apa???? 🙋♀️🙋♀️ (Jempol) iya, jempolnya jangan lupa.. ☕☕🌷🌷🌷
Happy reading all ❤❤❤