
Zayn Pov
Pernyataan pria yang tiba-tiba datang tadi sungguh membuat jantungku serasa di tusuk ribuan anak panah. Sakit! Aku tidak menyangka dan tidak mau percaya pada kebenaran yang terucap dari mulut nya. Sulit sekali rasanya percaya.
Cinta ku, penantian ku, apa akan berakhir di sini? Bahkan sebelum sempat aku mengungkapkannya? Benarkah ini akhirnya?
Air mata sudah ingin menerobos keluar dari pelupuk mataku, tapi sekuat tenaga aku berusaha untuk menahannya. Tidak ingin membuat pertanyaan pada orang-orang yang melihat. Aku juga tak ingin terlihat cengeng, entah kenapa cinta ini seolah menjadikan ku laki-laki yang lemah tapi di saat yang bersamaan ia juga menjadi kekuatan ku.
Rasanya aku ingin sekali menghajar laki-laki ini, dengan lancangnya ia mengaku tunangan Sasya bahkan dengan percaya dirinya mencium punggung tangan dari gadis ku. Di depan mata ku!
Jika tidak ingat ini adalah tempat umum, sudah ku pastikan saat ini dia pasti sedang berada di ICU.
Arghhhhh
Aku kecewa, kesal, marah dan perasaan lainnya yang tak bisa ku jelaskan. Bagaimana bisa aku yang teramat mencintainya menyaksikan sendiri pemilik hatiku di klaim oleh orang lain.
Apa aku sungguh terlambat?
Di satu sisi aku merasa senang karena itu artinya ia belum menikah. Namun, di sisi lain aku pun sangat marah. Sekuat tenaga aku menahannya hanya untuk tak di pandang aneh oleh Sasya. Mengingat ia tak mengetahui apa pun tentang ku.
Apa sudah saatnya aku ungkapkan perasaan ku padanya? tapi, aku tak tahu ia benar mencintai ku sebagai Atta atau tidak? Sekarang apa? apa yang harus aku lakukan?
Baru saja hendak memulai mendekatinya, tapi justru seseorang memulai start lebih dulu. Kecemburuan tentang kedekatan Sasya dan Tuan Abi belum mereda, kini aku kembali di suguhkan pandangan yang lebih menyakitkan.
Aku duduk dengan gelisah seiring penjelasan dari laki-laki ini yang mengaku telah melamar Sasya dan orang tua mereka setuju namun aku menyadari jika Sasya tak tahu menahu masalah perjodohan ini, terbukti ia yang terus-menerus terbelalak kala mendengar kata demi kata yang laki-laki ini ucapkan.
Cukup! Aku tak tahan melihat ini, aku tak tahan dengan rasa panas dan sakit di hatiku. Aku butuh penjelasan.
"Sudah siang. Kita harus kembali ke kantor Sya" Ucapku tegas tak terbantahkan. Semua mata tertuju padaku tapi aku tak peduli. Aku terus berjalan dengan langkah tergesa meninggalkannya tanpa menunggu jawabannya.
Sesampainya di dalam mobil, ku tarik nafas dalam dan ku hembuskan perlahan dari mulut beberapa kali mencoba menenangkan hati yang resah. Setelah aku merasa lebih baik, aku menyalakan mesin mobil dan melajukannya menunju lobby dimana Sasya sudah berdiri menunggu.
Setelah Sasya merasa nyaman aku menekan pedal gas hingga membuat mobil melaju. Aku melirik Sasya dengan ekor mataku beberapa kali ragu untuk bertanya tapi aku juga penasaran.
"Sya," Sapaku pelan membuatnya menoleh ke arahku.
"Bapak pasti mau tanya masalah tadi kan?" Ucapnya menebak apa yang hendak ku ucapkan dan itu memang benar.
"Saya juga tidak tahu, pak-"
"Zayn, panggil aku Zayn saja jika sedang di luar kantor," potongku karena merasa risih dari tadi ia terus menyebut ku 'pak' terkesan sudah tua jika di panggil seperti itu, tapi alasan utamanya sih sebenarnya supaya lebih akrab.
"Iya, Zayn. Aku ngga tahu apa-apa. Ayah dan ibuku pun tak mengabari ku. Makannya aku lumayan kaget saat dia mengaku tunangan ku. Padahal jelas aku sama sekali ngga kenal. Ketemu juga baru sekarang," Jelasnya dan itu cukup melegakan. Namun sesaat kemudian...
Ckittttttt
Aku menekan pedal rem secara mendadak hingga membuat nya nyaris terantuk dengan dashboard seiring dengan klakson panjang lagi nyaring terdengar dari belakang mobilku.
Sadar dengan tindakan yang ku lakukan membahayakan nyawa, tak hanya nyawa ku tapi juga nyawa orang-orang, aku kemudian menurunkan kaca mobil meminta maaf pada pengendara lain dan segera menepikan mobilku di sisi jalan.
"Kamu apa-apaan sih, Zayn. Bahaya tau ngga!" omel Sasya ketika baru saja ku tarik rem tangan.
Tanpa mempedulikan pertanyaannya, aku justru sibuk menarik beberapa lembar tisu dan membasahinya dengan air mineral. Sasya tampak mengernyit bingung dengan apa yang sedang ku lakukan terlebih tanpa bicara aku menarik tangan kanannya bermaksud untuk mengelap bekas kecupan orang itu.
"Kamu aneh banget deh, kenapa sih?"
"Sttt diam!! Ini harus di bersihkan, nanti kamu terjangkit virus kalau nggak langsung di bersihkan!" Ucapku ketus.
Setelah membersihkan tangannya dengan tissue yang sebelumnya sudah di basahi, aku juga menyemprotkan handsanitaizer beberapa kali supaya benar-benar bersih. Aku tidak rela tangannya di sentuh laki-laki lain.
Setelah itu, aku kemudian melanjutkan perjalanan yang tinggal sedikit lagi.
"Kenapa kamu tanya kaya gitu?"
"Ya ngga, Setahuku Wirasena itu bukan keluarga biasa. Kekayaan mereka melimpah walau tak sekaya Tuan Abi sih. Tapi, kalau kamu menikah dengannya otomatis kamu akan resign kan?" Ucapku mencari alasan yang cukup masuk akal. Aku belum siap mengungkapkan jati diriku yang sebenarnya di depan Sasya. Setidaknya tidak untuk saat ini.
"Ngga tau," Singkatnya terdengar tak semangat membahas hal ini tapi mau bagaimana lagi, aku akan sangat penasaran jika tak menemukan jawaban yang sebenarnya sekarang.
"Kok gitu, kalau di lihat-lihat laki-laki tadi itu tampan kan. Nggak mungkin kamu ngga terpesona," Pancingku. Sejujurnya aku merasa sakit kala memuji laki-laki yang jelas-jelas akan menjadi rivalku tapi aku harus melakukannya. Untuk mendapatkan apa yang kita mau bukankah harus sedikit berkorban?
"Tampan? Ya, dia memang tampan. Tapi, aku sama sekali ngga bisa membangun hubungan dengan orang lain. Aku... Mencintai seseorang," Tukasnya dan malah membuatku semakin penasaran.
"Jangan bilang kamu naksir Tuan Abi?" Tanyaku membuatnya langsung menolehkan kepalanya ke arahku tak lama kemudian ia terkekeh.
"Apa sih? Aku naksir Tuan Abi? Iya sih, tapi bukan cinta," Ucapnya terdengar ambigu bukan cinta tapi naksir? maksudnya gimana coba.
"Udah sampe. Ayo kita turun, pak."
Tanpa terasa karena asik mengintrogasi Sasya, aku tidak sadar jika sudah tiba di depan kantor. Padahal tinggal sedikit lagi aku bisa mengorek isi hatinya tapi ternyata alam tak memberikan kesempatan lebih padaku. Ya sudahlah, mungkin lain kali.
.
Zayn pov end
.
Sementara itu, Daniel yang telah mengetahui seperti apa calon tunangan nya tak ingin tinggal diam. Berbagai rencana untuk mendekatkan dirinya pada sang calon sudah ia susun.
"Ikuti kemana tunangan ku pergi," Ujarnya pada seseorang di sebrang telfon.
"Jangan lupa dengan laki-laki yang menjadi atasannya itu. Pantau terus apa yang dia lakukan. Jika terbukti dia berani menyentuh tunanganku segera laporkan," Imbuhnya dengan tegas.
Setelah telfon dimatikan, ia duduk dengan seringaian di bibirnya. Daniel berani melakukan hal itu karena saat ini ia tengah duduk sendirian restoran tengah menunggu seseorang. Sedangkan Feby sepupunya sudah lebih dulu pergi tak lama setelah Zayn dan Tasya pergi.
Tap...
Tap...
Tap..
Suara sepatu high heels terdengar beradu dengan lantai tampak menghampiri Daniel. Seorang wanita cantik dengan pakaian kurang bahan tampak tersenyum ke arah laki-laki itu.
"Hai, Sayang.." Sapa wanita itu menghampiri Daniel tak lupa ia juga memberikan kecupan di pipi laki-laki itu.
"Hai," Balas Daniel tangannya pun tak tinggal diam ia sedikit menyapa bagian belakang wanita itu membuat sang wanita tersenyum.
"Apa sudah lama menunggu?" Tanya sang wanita saat ia sudah duduk di depan Daniel.
"Lumayan, tapi tak masalah kau harus membayarnya nanti karena berani membuat seorang Daniel menunggu. Kau harus bekerja keras setelah ini," Ujar Daniel menyeringai dan di balas kekehan kecil oleh sang wanita.
"Dengan senang hati... Sayang,"
.
.
.
Bersambung...