I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 25



Mengetahui fakta bahwa ternyata pak Zayn mengenalku ketika kami masih kanak-kanak, membuat konsentrasi dalam bekerja buyar. Aku tidak bisa lagi fokus, ingin segera menanyakannya tapi pak Zayn sedang tidak ada di kantor. Ia izin pulang lebih awal karena urusan mendadak katanya.


Sekarang di sinilah aku berada, pukul lima masih berkutat dengan tumpukan berkas yang akan di periksa pak Zayn nantinya sebelum sampai pada Tuan Abi.


Walau dengan sisa kewarasan yang ada, aku mencoba semampuku untuk menyelesaikan pekerjaan sebelum pulang. Karena terlalu memaksa alhasil aku pulang sedikit terlambat.


Gedung kantor mulai sepi, karena memang sudah lewat jam pulang kerja. Langit di luar pun sudah mulai menggelap. Hanya ada beberapa karyawan yang masih tampak sibuk di depan komputernya masing-masing.


Sebelum pulang, aku pergi ke toilet terlebih dahulu untuk mencuci muka yang mulai mengantuk agar terasa lebih segar. Tidak ada yang aneh awalnya, tapi tiba-tiba bulu kuduk ku terasa meremang. Aku merasa was-was seolah sedang di awasi.


Aku memutar kepala melihat ke kanan, kiri, belakang, atas bahkan bawah kalau-kalau memang benar ada mahluk lain di sini. Aku bukannya takut hanya saja.... Tidak berani, jika bertemu dengan mereka-mereka yang berbeda dunia dengan ku.


Aku bergegas mencuci tangan sebelum keluar dari toilet. Tidak ingin berlama-lama. Baru saja aku membalikan badan aku terkejut melihat penampakan di belakangku. Apalagi serangan mendadak yang ia lakukan padaku.


Srak...


"Auhhhh"


Plak... Plak...


"Hei!!! cewek ngga tau diri Lo!!!" Bentak seorang wanita tepat di depan mukaku, setelah sebelumnya ia menjambak rambutku dengan tenaga super hingga membuatku mendongakan kepala merasakan sakit yang luar biasa di kepalaku. Saking begitu sakit Hingga rasanya rambutku akan tercabut dari sana. Di tambah lagi tamparan yang mendarat sempurna di kedua pipiku, membuat rasa panas dan perih terasa sekali di sana.


Serangan yang begitu mendadak, membuat ku sama sekali tidak bisa melawan. Yang ku lakukan hanya bisa meringis merasakan sakit yang luar biasa di wajah dan kepala.


Apa sekarang aku sedang di bully? Jadi begini rasanya jadi Feby waktu itu. Pantas dia menangis ini memang rasanya sakit.


Aku melihat ada tiga orang yang telah mengibarkan bendera perang padaku. Satu berambut panjang, satu lagi berambut sebahu, dan yang satunya memakai kacamata.


Siapa sebenarnya mereka?


"Ssshh... Kalian mau apa?" Tanyaku dengan menahan rasa sakit yang luar biasa.


"Mau kita? tentu saja Lo harus mengundurkan diri dari tempat ini!!!" sentak si wanita berkacamata. Cantik sih, tapi kalau kaya gini kan sudah tak lagi menarik. Aku bahkan tidak tahu apa salah ku hingga mereka malah main keroyokan begini. Coba saja satu lawan satu, aku yakin mereka tidak akan berani.


"Jadi.. kalian yang sedari tadi ngawasin gue?" Tanyaku berusaha terlihat biasa saja walau sebenarnya luar biasa sakitnya.


"Kenapa? apa kau takut?" cibir si perempuan berambut panjang, aku tidak tahu siapa namanya karena baru pertama kali melihatnya.


"Huh... gue kira Mba Kunti tadi, ternyata... Mak lampir"


"Apa Lo bilang?!!!" Teriak si rambut pendek.


Plak


plak


plak


Tiga tamparan keras dari tiga tangan berbeda berhasil mendarat sempurna di pipiku... Lagi. Si*l!! Tidak bisa di biarkan!


"Kalian mau apa sih? Gue salah apa emangnya? apa gue kenal kalian?"


"Keluar dari perusahaan ini!!! jauhi Tuan Abi!! Dia itu milik gue! Lo jangan kecakepan!" Sentaknya dengan sekuat tenaga bahkan urat lehernya sampai menyembul.


Jadi masalah Abi? Cara kuno banget main labrak-labrakan kayak gini. Dia kira aku bocah SMA apa? Di gretak kayak gini langsung ciut?


Bugh...


"Akhhhh.. Si*lan!!!" Teriak si perempuan berambut panjang sambil memegang kaki yang telah ku tendang. Melihat temannya mendapatkan serangan tentu saja dua lainnya tampak tidak terima, mereka menyerangku bersama-sama.


Satu tangan ingin kembali menamparku, tapi gerakan yang sama tentu mudah sekali untuk di baca. Ku tangkap tangan milik si rambut pendek dan memelitirnya membawa ke belakang punggungnya. Terang saja ia langsung berteriak kesakitan. Di saat seperti ini aku tidak ingin meninggalkan jejak kekerasan pada tubuh mereka. Takut nanti mereka malah memutar balikan fakta. Jadi yang ku inginkan hanya keluar dari tempat ini.


"Diam di tempat!!! Atau tangan teman kalian ku patahkan!!!" Pekikku garang kala melihat mereka sudah ingin maju.


"Akhhh... lepasin.." Teriak si rambut pendek.


"Lepasin temen kami!!!"


Aku tak mempedulikan teriakan ketiganya. Aku justru berjalan menuju wastafel hendak mengambil tasku yang tergeletak di sana, tanpa berniat melepaskan cengkramanku.


"Lepaskan!!! Dasar J****!!!" Makinya dan aku sama sekali tidak peduli. Setelah mendapatkan apa yang ku mau, Ku seret wanita yang sedang berada dalam Cengkraman ku menuju pintu keluar.


"Akhhhh... Dasar J*****!!! Dasar monster!!! Kurang aj*r!!! Akhhhh" Teriak mereka yang masih ku dengar.


Setelah aku membuka pintu, ku dorong tubuh wanita berambut pendek ini hingga terjerembab di lantai. Ia berteriak memakiku, mungkin merasa tidak terima karena rencannya untuk menindasku gagal. Sebelum berlalu, aku mengunci pintu toilet dengan gagang pengepel lantai yang kebetulan ada di sana.


Mereka pikir aku selemah itu?


"Selamat tinggal, selamat bermalam di kamar mandi" Ucapku di balik pintu sebelum benar-benar pergi.


"Tasya si*lan!!! Buka!!!!"


"Gimana sih ini ceritanya? Kita yang mau ngebully dia kenapa malah sekarang kita yang terkurung di sini? Ahhhh..."


"Perempuan itu benar-benar menyebalkan!"


Cara kampungan seperti itu mau meminta ku hengkang, mana bisa!!. Tapi, mereka siapa ya? Fans fanatiknya Tuan Abi kah? Kalau iya mengerikan juga ya? yang jadi pacarnya Tuan Abi nanti pasti bakalan kena si*l mulu.


Aku jadi teringat ucapan Disty waktu itu, jadi ini yang dia maksud...


"Segini mah kecil... Timbang mites kutu doang mah, udah lulus gue" Ucap ku jumawa.


"Tapi... gaplokannya lumayan juga. Lima kali! Shhh" lanjutku masih merasa perih di pipi. Aku yakin pasti sekarang memar. Apa aku perlu visum buat jaga-jaga? ya siapa tahu nanti mereka nyari gara-gara lagi kan?


Sambil berjalan ke arah lobby aku menghubungi Rizky memintanya untuk menjemputku. Untung anak itu sudah selesai praktek jadi dapat Tebengan lagi.


Drttt... Drttt...


Suara getar dari ponselku menandakan ada panggilan masuk. Ku geser ikon berwarna hijau untuk menjawab panggilan tersebut.


"Kamu dimana, Baby?" tanya sebuah suara dari sebrang sana. Yah, yang menghubungi ku Daniel. Karena kami memang ada janji.


"Masih di kantor, Niel. Aku minta maaf kayanya aku ngga bisa dateng malam ini"


"Loh kenapa? aku udah nyiapin semuanya loh. Masa kamu mau buat aku kecewa sih?"


"Sorry banget Niel. Aku harus ke rumah sakit. Mungkin besok ya?"


"Rumah sakit? kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Tanyanya.


"Ngga... aku lupa aku sudah janji lebih dulu dengan adikku. Maaf ya?"


Setelah mengucapkan maaf aku langsung mengakhiri panggilan tersebut. Tak lama kemudian jemputan ku pun sampai. Rizky membuka helm nya kala melihatku mendekat.


"Loh... Pipi Lo kenapa, kok memar gini? Mana berdarah lagi. Lo buat masalah lagi?" Tanya Rizky sembari menyentuh pipi ku.


"Ish... Apa sih.. sejak kapan gue bikin masalah? ini tuh kelakuan manusia kurang kerjaan. Anterin gue visum ya? sapa tau nanti mereka cari gara-gara lagi... Lumayan kan gue punya bukti. Nanti gue bakal minta ganti rugi. Lumayan, buat jajan es jeruk" ujarku yang langsung mendapatkan toyoran di kepala darinya.


Plak...


"Ngga sopan tau, pegang-pegang kepala.. Mau gue kutuk jadi manekin Lo!!" ujar ku sewot setelah menampik tangannya.


"Mau dong di kutuk jadi ganteng. Hehehe" Lakarnya garing.


"Ganteng juga buat apa, ngga laku juga"


"Kaya sendirinya laku aja"


"Udahlah ayo jalan, malah ngajak gelut" Ujarku ketus.


Motor yang kami tumpangi pun melaju di jalanan sore menuju rumah sakit seperti rencana awal. Setelah hari ini aku harus lebih berhati-hati. Mereka tidak mungkin tinggal diam sebelum apa yang mereka mau tercapai.


.


.


.


Bersambung...