
Author POV
"Aduh bagaimana ini? Bisa habis di telen gue. Jam berapa sekarang? Lo punya charger ngga Ky? Duh si*l banget sih ngga cocok lagi. Akhhhhhh gimana ini?" Gerutu Tasya tiada henti. Ia benar-benar panik sekarang.
Tasya melupakan majikannya itu dan sekarang malah bersantai di sini. Seketika itu juga ketakutan menguasai dirinya di tambah ponselnya yang mati membuat dia tak bisa menghubungi Abi.
Zayn yang tak tega sekaligus penasaran apa yang membuat wanita pujaanya resah, ia kemudian berjalan mendekati Tasya.
"Lo kenapa?" Tanyanya membuat Tasya yang sedang kalut itu tersentak dan reflek menoleh ke arah sumber suara itu.
Saat melihat Zayn seketika senyuman terbit di bibir gadis itu.
"Ah.. Zayn... Kamu memang penolong ku" pekiknya senang, saking senangnya ia sampai tak sadar memeluk tubuh pria itu sepersekian detik. Walau begitu, tubuh Zayn seketika membatu, dadanya berdebar tak karuan. Karena bersentuhan dengan wanita pujaannya.
"Haish... kalian ini berisik sekali. Keluar sana!! gue mau kerja. Jangan ganggu, udah di kasih duit juga" Ucap Rizky kesal, pasalnya dua sejoli itu tidak menunjukan tanda-tanda ingin keluar dari ruangannya. Padahal mereka bilang jika anak-anak yang mereka bawa sedang menunggu, tapi yang di tunggu justru sedang asik peluk pelukan membuat mata sucinya tercemar.
Rizky bahkan sampai mendorong tubuh Tasya hingga keluar dari ruangannya. Tasya yang di perlakukan seperti itu, tentu saja menjadi kesal.
"Dasar Adek ngga ada ahlak!!" keluhnya pelan. Ia tidak bisa teriak-teriak seperti biasa jika ia sedang kesal, karena saat ini sudah banyak pasien yang sedang menunggu untuk di periksa.
"Udahlah.. mending kita balik lagi. Kita udah terlalu lama ninggalin anak-anak. Nanti mereka bingung" Ujar Zayn mencoba menenangkan Tasya. Gadis itu kemudian mengatur pernafasan nya terlebih dahulu agar menjadi tenang.
Kini mereka sedang berjalan bersisian menuju UGD di mana Lucky masih terbaring.
"Oh, Pak! Saya pinjam ponselnya boleh.. penting soalnya" Pinta Tasya yang teringat dengan Abi yang pasti sekarang sedang marah-marah, pikir Tasya.
"Ck. udah berapa kali gue bilang, panggil gue Zayn. Pak, pak,pak Mulu" Gerutu Zayn, tapi tetap saja ia menyodorkan ponselnya pada Tasya.
Tanpa menunggu waktu, gadis itu mengotak atik ponsel Zayn. Sebagai salah satu karyawan yang mempunyai posisi tinggi di kantor, tentu Zayn mempunyai nomor telepon Abi. Begitulah yang di fikiran Tasya.
Ia menggulir nama-nama yang ada di kontak, hingga ia temukan sebuah kontak yang ia cari.
Sedangkan di apartemen, Abi sedang berada di ruang CCTV gedung apartemen tersebut. Mencari tahu Inemnya itu pergi menggunakan transportasi apa. Beberapa menit kemudian, ia tengah menulis plat nomor kendaraan dari tukang ojek yang Tasya naiki.
Abi benar-benar merasa cemas. Sudah lebih dari tiga jam Inemnya itu tidak ada kabar. Karena itu, ia berada di sana. Belum sempat Abi menghubungi pihak ojek online itu, ponselnya bergetar karena ada panggilan masuk.
Abi tergesa-gesa melihat siapa yang menelepon nya. Ia sangat berharap jika itu adalah panggilan dari Tasya, tapi ternyata harapannya pupus. Bukan Tasya yang menghubunginya melainkan nomor GM nya.
"Ck, mau ngapain dia? Inem juga kemana lagi. Sampai sekarang belum juga ada kabar" Gerutu Abi, ia dengan enggan akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
"Tuan..." Sapa sebuah suara dari sebarang sana membuat matanya membulat, ia sampai memeriksa kembali nama si penelpon di ponselnya. Mungkin ia salah baca, tapi memang di sana tertera nama Zayn.
"Tuan!!!" Pekik Tasya dari sebrang sana, kesal karena tak kunjung ada jawaban dari Abi.
"Ah INEM!!!! Lo di mana sih... jam berapa ini!!! Lo mau gue pecat ya?" Abi pun tak mau kalah, ia balas berteriak membuat Tasya reflek menjauhkan ponsel dari kuping nya. Zayn yang mengetahui jika Tasya menggunakan ponselnya untuk menghubungi laki-laki lain seketika wajahnya berubah menjadi kesal namun berusaha sekuat tenaga ia tahan.
"T A S Y A... Tasya tuan" Tasya yang geram karena majikannya itu selalu memanggilnya dengan sebutan Inem mengeja nama nya.
"Bodo amat, nanti gue beliin Lo gulai kepala kambing, biar Lo ngga protes" Tukas Abi, ia merasa lega karena gadis yang ia cemaskan akhirnya menghubunginya.
"Lo dimana sekarang? Gue udah kelaperan sampe rasanya pengen nelen orang tau ngga" Lanjutnya.
"Yang pasti jangan saya yang di telen ya, tuan. Daging saya alot tapi kalo buat jadi bantal gulingnya tuan sih empuk"
Abi yang mendengar ucapan Tasya tanpa sadar menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang mempesona. Untungnya ia sedang berada di dalam kamar karena tadinya ia ingin mengambil dompet, maka dari itu ia tidak malu untuk tersenyum saat mendengar ocehan Tasya. Namun detik berikutnya ia menjadi sangat panik.
"Saya sekarang di klinik..." ucap Tasya.
"APA!!! bagaimana bisa Lo di sana? lo di klinik mana? Gue kesana!" Tukas Abi cepat, ia bahkan tidak mau mendengarkan penjelasan Tasya.
"Tapi, tuan..."
"Lo dimana?"
Fikiran-fikiran buruk mulai memenuhi kepalanya. Bagiamana jika dia terluka parah? Ia akan sangat bersalah jika sampai itu terjadi.
Di Klinik...
"Ada hubungan apa antara Lo dan pak Abi?" Tanya Zayn serius, ia tidak suka melihat kedekatan Tasya dengan bosnya itu. Apalagi mendengar Tasya yang terlihat ceria saat berbicara dengan bos mereka. Berbeda dengannya yang selalu saja di beri wajah tak bersahabat dari Tasya.
Sebenarnya Zayn percaya jika Tasya memiliki sebuah rasa padanya sebagai sosok Atta, hanya saja orang yang sekarang sedang dekat dengan Tasya adalah Abidzar Akhriz Herold. Sosok pria sempurna yang di idam-idamkan kaum hawa. Apalah dirinya jika di bandingkan dengan Abi, jika di ibaratkan perbedaan Antara Zayn dan Abi bagaikan langit dan Inti bumi. Jauh sangat jauh berbeda. Karena itu Abi merasa tidak percaya diri.
"Hubungan?" beo Tasya tak mengerti maksud pertanyaan Zayn. Tentu saja hubungannya atasan dan karyawan, itu saja dipertanyakan fikir Tasya. Ia kemudian berlalu menuju brankar yang di tempati Lucky. Anak itu ternyata sudah siuman, dan sekarang tengah di suapi oleh Zaki.
Sambil menunggu Abi, Tasya bertanya apa yang membuat Lucky terluka. Ternyata saat itu Lucky sedang ingin menyebrang jalan karena ingin membeli air minum menggunakan uang yang baru saja ia dapat pagi itu, tanpa ia sangka seorang pengendara melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Lucky yang terkejut reflek menghindar, walau begitu lengan nya sempat bersentuhan dengan motor itu hingga membuatnya jatuh tersungkur.
Karena motor melaju dengan cepat, walau hanya sedikit menyenggol tapi tubuh Lucky yang kecil membuatnya tersungkur cukup kuat hingga luka di kakinya pun lumayan parah akibat benturan keras tersebut.
"Lucky juga salah saat itu karena belum lampu merah tapi Lucky sudah menyebrang" Ujar Lucky mengakhiri ceritanya.
"Lain kali kalian harus hati-hati ya, jangan sampai terulang lagi" Ujar Tasya lembut sembari mengelus pucuk kepala Lucky.
Anak-anak tersebut mengangguk untuk menjawab ucapan Tasya, Tiba-tiba pintu ruangan tersebut di buka dengan kasar membuat semua orang yang ada di dalamnya terkejut.
Brakkkkkk
"INEM!!!" pekik Abi yang ternyata sudah sampai di sana. Tasya yang mengenali suara gaduh itu hanya bisa menutup wajahnya merasa malu dengan majikannya itu karena terlalu ribut dan tidak tahu tempat.
Abi berlari melihat satu persatu brangkar yang ada di ruangan itu, mencari dengan tergesa-gesa karena rasa khawatirnya. Ia bahkan tidak mengindahkan tatapan tak suka dari para pasien yang merasa terganggu karena ulahnya.
Abi mematung melihat Tasya yang ternyata baik-baik saja. Hal itu membuat Abi menghembuskan nafas lega.
"Lo ngga apa-apa? dimana yang lecet? mana yang sakit? apa yang Lo rasain? kenapa ngga ngasih gue kabar sih, gue kan-"
"Sttt berisik, Tuan" Sela Tasya yang merasa pusing karena Abi memutar-mutar badannya membuat kepala dan telinganya sakit.
Plak... Plak...
Zayn yang memang sedang cemburu tak menghiraukan jika Abi adalah atasannya atau bukan, ia menepuk kedua tangan Abi yang masih memegang pundak Tasya. Hal itu tentu saja membuat Abi merasa tersinggung.
"Di kantor anda memang atasan kami, tapi sekarang kita lagi di Klinik. Suara anda menganggu pasien yang butuh istirahat" Ucap Zayn tegas dan berhasil membungkam mulut Abi yang sudah bersiap mengajaknya berdebat.
Tanpa menghiraukan Zayn, Abi menuntut penjelasan dari Tasya dan gadis itu menjelaskan dengan sejelas-jelasnya dari ia keluar lobby hingga berakhir di sini.
Abi menghembuskan nafasnya lega, dan pandangan nya beralih pada anak-anak yang sedari tadi hanya diam melihat ketiga orang dewasa tersebut.
Abi bertanya pada anak-anak itu beberapa hal. Seperti nama dan tempat tinggal mereka. Setelah mendengar kan cerita anak-anak itu Abi merasa iba dengan nasib ketiganya, ia mengajak ke empat anak tersebut untuk tinggal di panti asuhan yang baru saja ia bangun dan tentu saja dengan senang hati anak-anak itu menerima tawaran tersebut.
Hari itu Zayn mengantarkan anak-anak ke panti asuhan yang Abi maksud. Zayn tentu saja tahu dimana alamat panti asuhan tersebut. Sedangkan Tasya langsung pulang ke apartemen bersama Abi membuat Zayn semakin merasa panas di dadanya.
Pertanyaan yang belum mendapatkan jawaban, ada hubungan apa antara Tasya dan juga Abi? kenapa Abi sepanik itu ketika mendengar Tasya berada di klinik? Apa benar hanya atasan dan bawahan? Pikir Zayn yang membuat moodnya benar-benar buruk.
.
.
Author POV end
.
.
.
Bersambung...