
Abi menghembuskan nafasnya pelan sebelum akhirnya satu kata keluar dari mulut Abi.
“Baiklah..”
Keputusan itulah yang akhirnya Abi ambil, membuatnya di landa dilema. Entah apa yang dia rasakan kini. Ada semacam perasaan sedih, rasa bersalah dan mungkin sedikit rasa bahagia.
Berbanding terbalik dengan Zayn yang mengembangkan senyum di wajah pucatnya, Tasya justru sudah terisak sambil menatap kedua kakak beradik itu dengan tatapan tak percaya dan juga rasa kecewanya, hatinya teramat sakit. Bagaimana bisa laki-laki yang dia cintai sepenuh hati justru memintanya menikah dengan orang lain.
Namun semua perasaan itu harus Tasya singkirkan saat melihat kondisi Zayn yang kembali drop. Dokter mengatakan Zayn kemungkinan tak akan bertahan lama karena luka tembak dan juga luka akibat reruntuhan bangunan karena bom bunuh diri tempo hari mengenai beberapa titik vitalnya. Zayn masih sempat sadar dan berbicara banyak saja itu adalah sebuah keajaiban.
Apa yang dokter sampaikan tersebut tentu saja membuat Tasya dan Abi kembali harus menelan kepedihan. Apalagi keluarga mereka masih menjalani perawatan karena luka yang di akibatkan bom itu membuat beberapanya terluka cukup parah.
Meski mereka selamat namun luka yang mereka alami membuat cacat fisik. Contohnya Rizky, sampai saat ini pemuda itu belum sadarkan diri padahal keadaannya sudah stabil. Kakinya mengalami patah tulang cukup parah, beruntung kakinya tak perlu di amputasi hanya saja butuh waktu untuk penyembuhan.
“Jadi.. keputusan apa yang akan kau ambil?” tanya Abi setelah sekian lama keheningan menyelimuti mereka.
Saat ini Abi dan Tasya sedang duduk di bangku tunggu. Keduanya terduduk dengan posisi kepala yang sama-sama tertunduk menatap lantai putih yang terasa begitu dingin.
“Jujur, tak pernah terbesit untuk bisa bersanding dengan anda, tuan. Saya tak tahu apa yang harus saya lakukan pun saya tak yakin ini akan berhasil.” Ujar Tasya masih dengan posisi yang menunduk. Abi tentu saja faham dan sangat mengerti apa yang Tasya rasakan.
“Aku sangat mengerti. Jika kau tak bisa menerima ku, paling tidak fikirkan apa yag baru saja kakak ucapkan. Fikirkan juga anak kalian. Dan perlu kau ingat, aku tak akan mengantikan kakak sebagai ayah dari anak kalian, karena selamanya ayah dari bayi kalian adalah Zayn Pranata. Tapi izinkan aku untuk menjadi pelengkap kekurangan kalian. Aku pun tak ingin menggantikan posisi kakak di hatimu, karena aku tahu sebesar apa cinta kalian, hanya saja aku mohon.. izinkan aku untuk menjadi bagian dari kisah cinta kalian.” Ujar Abi sungguh-sungguh sambil melihat Tasya meski gadis di sampingnya itu tak mau melihat ke arahnya.
“Butuh waktu untuk saya dapat menerima kehadiran anda, tuan. Namun, saya akan berusaha..” ucap Tasya kali ini ia pandangan keduanya beradu, mengantarkan makna yang sama-sama memancarkan sinar keseriusan.
“Semoga dengan ini Atta bisa bahagia..” lanjut Tasya.
Dan malam itu juga, di rumah sakit tepatnya di kamar rawat Zayn berkumpul keluarga inti Tasya , Abi, ada juga dua orang petugas KUA dan seorang penghulu di sana. Di samping ranjang Zayn, Abi menjabat tangan Ayah Tasya yang saat ini harus menggunakan kursi roda akibat kedua kakinya yang hancur.
Pernikahan yang jauh dari kata mewah bahkan gaun pengantin pun sama sekali tak di kenakan oleh Abi dan Tasya. Keduanya masih mengenakan pakaian tadi pagi. Tak ada panacaran kebahagian dari pernikahaan mereka karena keduanya berada dalam situasi yang sama, yaitu di bawah tekanan Zayn.
“Ananda Abidzar Akhriz Herold.. saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putriku satu-satunya, Anastasya Putri Binti Alan Hermawan dengan mas kawin uang tunai sebesar Tiga Ratus Dua Belas Juta, Dua Ratus Dua Puluh Dua Ribu rupiah dan sebuah pulau pribadi di bayar tunai!” ucap Ayah Tasya dengan di bimbing oleh penghulu.
“Saya terima nikah dan kawinnya Anastasya Putri Binti Alan Hermawan dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!” Abi menjawab dengan lantang dan satu kali tarikan nafas membuat semua orang di sana serempak mengucapkan kata “Sah”.
“Alhamdulilah..” ucap semua orang kembali serempak.
Setelah perjalanan yang begitu panjang, akhirnya detik ini Abi dan Tasya telah sah terikat oleh sebuah ikatan suci pernikahan. Semua orang tersenyum lega begitu juga dengan Zayn, ia tersenyum menyaksikan pujaan hatinya sudah berada di tangan yang tepat. Meski tak dapat di pungkiri hatinya merasakan sakit namun ia tak masalah. Zayn telah menerima takdirnya yang memang tak berjodoh dengan Tasya.
“Semoga kalian selalu bahagia..” doa tulus Zayn unuk Tasya dan Abi.
Bersamaan dengan itu nafas Zayn perlahan kembali terasa berat, sebisa mungkin ia tak menunjukannya meski sebenarnya ia sangat kesakitan.
“Bi..” lirih Zayn setelah selesai membacakan doa setelah ijab Kabul.
Abi yang di panggilpun mendekat, ia mengenggam tangan Zayn dan kesedihan kembali terlihat jelas dimatanya yang mulai memerah menahan tangis melihat sang kakak yang sangat lemah.
“Selamat untuk kalian. Tolong jaga Tasya dengan segenap jiwa dan ragamu. Jangan biarkan dia bersedih.” Ucap Zayn dan tentu saja ucapan itu membuat tangis seorang Abidzar pecah.
Zayn beralih menatap Tasya. “Sayang..” lirihnya dan Tasya pun melakukan hal yang sama dengan Abi namun Tasya sudah sejak tadi mengeluarkan air matanya.
“Apa aku masih bisa memanggilmu sayang?” tanyanya dan di balas anggukan kepala oleh kedua pengantin baru itu.
“Tentu saja! Seharusnya memang seperti itu, aku akan sangat marah jika kau melarangku memanggil adik ipar dengan sebutan sayang.” Ujar Zayn lagi meledek Abi namun bukannya mereka tertwa justru air mata yang jatuh semakin deras.
Bagaimana bisa Zayn menyebut Tasya dengan panggilan adik ipar dengan terlihat tenang seperti itu? Semua orang tahu seperti apa penantian dan perjuangan Zayn untuk Tasya, namun takdir justru mengharuskannya mengikhlaskan Tasya untuk menjadi adik iparnya.
Ini sangat tak adil untuknya, namun sekali lagi Zayn bisa apa jika dia memang tak berjodoh dengan Tasya. Dia tak bisa menentang apa yang sudah di gariskan oleh Tuhannya. Yang bisa Zayn lakukan adalah merayu sang pemilik kehidupan agar menjodohkannya dengan Tasya di keabadian nanti, semoga.
“Aku tak apa, sungguh. Ya, mungkin aku memang sedikit kecewa tapi tak apa. Aku baik-baik saja.” Ujarnya lagi.
“Berjanjilah untuk selalu bahagia bersama Abi. Dan jangan pernah lupakan aku meski kita tak lagi menghirup oksigen yang sama. Kenalkan aku sebagai ayah untuknya jika dia suatu saat nanti bertanya, katakan juga padanya aku sangat menyayanginya meski aku belum pernah bertemu dengannya.” Lagi Zayn kembali berucap membuat semua orang disana menangis bahkan nyonya Herold sudah tak bisa menopang berat tubuhnya sendiri karena begitu merasakan kesedihan.
Ucapan Zayn seolah menjadi jawaban jika dia akan meninggalkan mereka semua untuk selamanya.
“Ibu.. aku menyayangimu dan tak akan berubah sejak tiga puluh dua tahun yang lalu. Terimakasih sudah menjadi ibu yang baik untukku, dan maafkan aku jika aku masih juga tak bisa memmbuatmu bahagia.” Kali ini Zayn beralih pada sang ibu.
“Dan bibi.. terimakasih untuk semuanya maafkan aku yang selalu merepotkanmu dan paman.. aku menyayangi kalian semua..”
“Jangan bicara yang tidak-tidak. Kamu tak akan pergi kemanapun kita akan membesarkan anak kita bersama!” ujar Tasya lagi.
“Aku ingin tidur!” ujar Zayn dan semua orang pun pergi dari ruangannya meski awalnya mereka enggan dan ingin menemani Zayn namun denga paksaan dari Abi akhirnya di ruangan itu hanya tersisa tiga anak muda.
“Aku ingin tidur! Jangan ganggu aku!” tegas Zayn. Perlahan Zayn mulai menutup rapat matanya ia ingin terlelap dan menikmati rasa sakitnya seorang diri. Ia tak ingin membuat semua orang yang Zayn sayangi khawatir meski sebenarnya ia sangat kesakitan terutama di bagian dada. Jantungnya mulai berdetak tak normal dan setiap detakannya membuat kesakitan yang luar biasa pada tubuhnya.
Detik demi detik tak sekalipun Abi dan Tasya melepaskan pandangannya dari sosok Zayn yang sedang terbaring. Pandangan mereka focus pada satu arah yaitu, dada. Mereka ingin memastikan jika Zayn masih bernafas dengan melihat dada bidang pemuda itu naik turun.
Namun keduanya tersentak saat tiba-tiba dada Zayn berhenti naik turun. Hal itu tentu saja membuat Abi dan Tasya panik.
“Atta!”
“Kakak!”
“Tidak jangan tinggalkan aku Atta! Aku mohon bertahanlah selalu! Huhuhu..” Tasya sudah terisak-isak menyaksikan sendiri orang yang dia sayangi menghembuskan nafas terakhirnya. Bayangan akan kenangan yang mereka lalui selama ini langsung berkelebatan di dalam memori otaknya. Ia sangat ingat dimana Zayn dulu selalu marah-marah padanya dan berubah menjadi begitu manja seperti terakhir mereka bertemu.
“Kakak!” Abi pun tak kalah terpukulnya ia tak menyangka dirinya akan kehilangan sosok kakak dengan begitu cepat dan tiba-tiba. Dia belum merasakan apa itu kasih sayang seorang kakak justru Tuhan mengambil kakaknya bahkan sebelum Abi sempat bermanja dan berkeluh kesah.
“Atta!”
“Kakak!”
Raungan keduanya saling bersahut-sahutan membuat bising kamar rawat tersebut dan mengusik penghuni kamar itu dari tidurnya.
“Berisik!” gumam Zayn masih dengan mata yang terpejam. Tentu saja hal itu mengejutkan Tasya dan Abi. Mereka bahkan sampai mundur satu langkah.
“Ka.. kau belum mati?” pertanyaan polos Tasya membuat Zayn mendecakkan lidahnya pelan.
“Aku ingin tidur saja tidak bisa. Kalian berisik sekali! Kenapa kalian tak menikmati malam pertama kalian, malah di sini dan menganggu orang sakit!” keluh Zayn sambil membuka matanya, membuat Abi dan Tasya menatap bingung kearahnya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...