
Author POV
Hari Jum'at pagi, suasana di jalanan ibu kota sudah padat oleh banyak kendaran. Bising suara klakson dari motor dan mobil saling bersahut-sahutan membuat suasana kian panas di pagi yang cerah.
Sorang laki-laki yang mengendarai motor sport kesayangan, terlihat sangat kesal. Pasalnya pagi ini tidak seperti biasanya, entah apa yang terjadi yang jelas hal itu membuatnya kesal.
Beberapa kali ia mencoba mendahului kendaraan yang lain namun, tidak bisa.
Tiiiinnnn
"Arghhh... Si*l banget!! Masih pagi juga. Ngga tau apa woy gue tuh ada operasi pagi ini. Arghhhhh!!" pekiknya kesal walau tak ada yang mendengar.
Dia adalah Rizky, dokter muda nan berbakat , hari ini ia dan tim akan melakukan operasi pada salah satu pasiennya. Namun, kekacauan pagi ini membuatnya kesal.
"Gue kira pake motor tuh bisa lebih cepet, nyatanya sama aja!!" Gerutunya lagi.
Beberapa saat kemudian, kemacetan yang sempat terjadi berangsur-angsur mulai kembali lancar. Saat itu Rizky yang sudah terlambat menaikan kecepatan laju kendaraannya. Namun...
Ckittttttt
Bruuukkkkk
Gesekan ban motor dengan aspal terdengar nyaring. Terkejut karena tiba-tiba ada seorang gadis yang menyebrang jalan, terpaksa Rizky menarik dalam rem miliknya membuat gadis tersebut terjatuh.
"Woy!!! jalan tuh pake mata!! Jangan seenaknya nyebrang. Lo kira nih jalanan punya bokap Lo!!?" Ujar Rizky benar-benar kesal. Ia yang memang sedang terburu-buru membuatnya mudah tersulut emosi.
Mendengar bentakan seperti itu membuat gadis yang terjatuh tersebut sontak berdiri dan menatap tajam manik mata milik dokter muda itu, seolah tak ada rasa takut dalam dirinya.
"Apa Lo bilang? Mata Lo itu yang jereng!! Manusia Segede ini ngga Lo liat? Udah nabrak bukannya minta maaf malah ngatain orang sembarangan. Tanggung jawab!!!" Umpat gadis itu geram.
"Tanggung jawab apa maksud Lo? jelas-jelas Lo jatuh sendiri! motor gue aja belum sempat nyenggol kok, Lo udah jatoh duluan! Amnesia Lo?" Motor Rizky memang belum sempat menyentuh kulit dari gadis itu, namun sang gadis sudah lebih dulu terjatuh. Untung saja motor miliknya bisa berhenti tepat sekitar satu centimeter dari badan gadis tersebut.
"Gue ngga peduli!!! Pokoknya Lo harus tanggung jawab. Gue jatuh karena terkejut liat Lo yang naik motor tuh ugal-ugalan! Punya SIM nembak, yah?" Cibirnya dan berhasil membuat Rizky mendelikkan matanya tak percaya dengan tuduhan gadis di depannya. Sudah jelas-jelas gadis itu juga salah tapi sama sekali tidak mau di salahkan.
"Sembarangan kalau ngomong! Lo tuh sekolah bolos mulu, ya? Cara nyebrang jalan aja ngga tahu! Sebelum nyebrang tuh liat kanan kiri dulu nona tunggu kosong baru boleh lewat. Kalo ngga mau repot nyebrangnya tuh di zebra cross. Enak aja nyalahin orang lain!"
"Gue ngga mau tahu, pokoknya Lo harus tanggung jawab!!" Karena ia memang salah akhirnya gadis itu memilih cari aman saja. Ia berjalan ke arah Rizky dan tanpa sungkan ia langsung duduk dengan nyaman di belakang. Tentu saja hal itu membuat Rizky menjadi geram. Tanpa seizinnya gadis aneh itu tiba-tiba membonceng motornya.
"Hei!! Lo ngapain? Turun Lo!!" Sentaknya sudah benar-benar kesal. Jika saja di bukan perempuan pasti saat ini sudah Rizky ajak duel. Sudah buang-buang waktu karena berdebat dengannya malah dengan seenak jidat gadis itu duduk manis di belakangnya.
"Ck!! Jangan banyak omong, cepet anterin gue ke rumah sakit HR Hospital" ujarnya santai.
"Lo pikir gue tukang ojek! Turun ngga Lo!!"
"Ngga! Cepetan jalan atau gue sendiri nih yang bawa motor Lo?" Ancaman gadis itu berhasil membuat Rizky mengalah. Tak apa lah lagian mereka juga satu tujuan Rizky pun sudah sangat terlambat tak ada waktu lagi untuk berdebat dengan gadis yang satu ini. Anggap saja amal, semoga ada malaikat lewat.
.
.
.
.
Walau terus menggerutu, akhirnya mereka kini sudah berada di parkiran rumah sakit HR Medika dengan selamat, sehat, sentosa. Rizky di buat kesal dengan gadis cantik yang dengan seenaknya meminta tebengan padanya dan yang membuatnya lebih kesal, gadis itu justru langsung pergi begitu saja saat mereka baru sampai di parkiran rumah sakit.
Boro-boro di bayar ucapan terimakasih pun sama sekali tak terdengar di telinga dokter itu.
"Dasar gadis ngga tau di untung!! makasih kek, main kabur gitu aja! Seurgent apa emangnya urusan dia? Sampe bikin orang emosi aja!" Gerutu Rizky menatap kesal kepergian gadis itu.
"Gue tandai muka Lo" Lanjutnya lagi seolah tak bosan untuk menghujatnya. Jika saja ponselnya tak berbunyi mungkin Rizky masih saja menghujat gadis itu.
Salah satu dokter rekan timnya menghubungi Rizky, karena lima menit lagi operasi akan segera di lakukan. Mau tak mau Rizky pun berlari menuju ruangannya untuk mempersiapkan diri.
"Karena korban kecelakaan adalah ibu hamil jadi katanya akan ada dokter Obgyn dari rumah sakit lain. Masih keponakan pemilik rumah sakit ini sih" Ujar dokter Hendra saat ia dan Rizky berjalan menuju ruang operasi di temani tiga perawat yang akan menjadi tim mereka kali ini.
Rizky hanya mengangguk-angguk kepalanya tanpa berniat bertanya lebih lanjut. Toh tak penting juga, pikirnya. Yah, Rizky adalah sosok laki-laki yang cuek dan tak ingin mau tahu urusan orang lain. Ia tak peduli mau ada dokter tambahan atau pasien tambahan sekalipun, yang penting ia bekerja dengan prosedur yang berlaku. Cepat, tanggap, dan tepat. Mau dengan siapa pun nanti partner bekerja nya dia tak peduli.
Rombongan Rizky telah sampai di ruang operasi. Lampu mulai di nyalakan, alat-alat seperti gunting dan pisau operasi di cek kembali. Suntikkan anastesi sudah lebih dulu di suntikkan pada kantung infus pasien.
Semua tim sudah bersiap, begitu juga dengan Rizky dan Hendra mereka menarik sarung tangan medis dan mengangguk satu sama lain untuk memulai operasi. Keadaan pasien stabil tanda tindakan siap di lakukan.
Saat Rizky dan Hendra akan memulai, tiba-tiba suara seorang perempuan membuat semua yang ada di sana menoleh.
"Anda dokter Angel?" Tanya Hendra, karena cuma ia yang tahu tambahan tim tersebut.
Dokter wanita yang di panggil Angel itu mengangguk dan menunjukkan id cardnya.
"Iya, maaf tadi ada sedikit kendala di jalan" Ucapnya lagi benar-benar merasa tidak enak, karena untuk pertama kalinya ia terlambat saat ada keadaan darurat seperti ini.
Angel adalah dokter obgyn yang masih muda dan juga selalu tepat waktu. Namun, hari ini entah kenapa ia bisa terlambat.
Akhirnya operasi tersebut pun di lakukan dengan penuh keseriusan dan berlangsung cukup lama. Karena bukan hanya menangani cedera di kepala pasien tapi, juga untuk proses persalinan yang ternyata pasien tersebut mengandung anak kembar.
Tiga jam kemudian lampu di atas pintu ruang operasi pun padam bersama dengan tiga dokter yang menangani pun keluar dari ruangan tersebut. Di sambut dengan raut khawatir dari keluarga pasien, dokter Hendra dan dokter Angel menjelaskan keadaan pasien yang sudah baik-baik saja.
Ketiga dokter muda tersebut pamit setelah keluarga pasien berterimakasih pada mereka.
"Dokter Angel, Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar. Selamat anda sangat hebat" Ujar dokter Hendra sambil mengulurkan tangannya bermaksud untuk dapat berjabat tangan dengan dokter cantik itu.
"Ck!! gue ngga Lo kasih selamat tuh!" Cibir Rizky yang merasa jengah dengan kelakuan rekannya itu yang sedari tadi tak henti-hentinya tebar pesona pada dokter Angel. Sedang dokter Angel sendiri hanya bisa menahan senyuman di balik masker yang masih mereka kenakan.
"Apa sih Lo, ganggu aja. Namanya juga usaha" Ujar dokter Hendra cemberut.
"Selamat juga, dokter Hendra dan dokter..." Ujar Angel terlihat bingung karena sedari tadi Rizky memang tak memperkenalkan dirinya.
"Anggap aja dia makhluk astral. Ngga usah di hiraukan" ujar Hendra meledek rekan kerja sekaligus sahabatnya.
Rizky dan Hendra mereka sudah kenal sejak kuliah dulu, dan masih sama-sama sendiri. Karena itu tak ada kata canggung di antara mereka.
"Sembarangan, gue Rizky" ujarnya membuat Angel mengangguk tanda mengerti.
Mereka bertiga akhirnya berjalan beriringan menuju toilet. Setelah sampai mereka kembali mengobrol ringan sebelum berpisah.
"Ngga nyangka dokter Angel ternyata orangnya ramah ya? pasti pasiennya juga banyak yang betah" Ujar Hendra sambil tanganya membuka masker yang sedari tadi menutupi wajahnya.
"Dokter bisa aja" Balas Angel yang juga melepaskan masker miliknya. Saat masker yang sedari tadi menutupi wajah ayunya. Seketika itu juga Rizky tampak mematung di tempat memandangi wajah Angel.
"Woy Ky!! jangan melotot gitu Lo nakutin kita tau ngga" Ujar Hendra kala menyadari Rizky yang sama sekali tak menggerakkan badannya bahkan bulu matanya pun tak bergerak sama sekali.
"Woy!! kesurupan lo?" Tanya Hendra yang sama sekali tak mendapat kan respon dari Rizky.
Rizky mengerjap saat tersadar dari lamunannya, seketika itu juga ia memicingkan matanya menatap Angel.
"Lo kan? Oh hoo ternyata Lo di sini?" Ujarnya sambil melepaskan masker yang masih menempel di wajahnya, membuat Angel pun sama terkejutnya dengan Rizky.
Ia kira saat berpisah tadi di parkiran, mereka tak akan bertemu lagi tapi nyatanya justru mereka satu tim?
Gadis cantik itu adalah gadis yang sama yang hampir di tabrak Rizky pagi ini. Sungguh ia tak menyangka akan kembali bertemu dengannya.
"Lo masih punya hutang ke gue!" ujar Rizky membuat Hendra bingung karena ia sama sekali tak mengerti arah pembicaraan dua rekannya itu. Di tambah lagi ia tak menyangka ternyata mereka saling kenal. Sejak kapan? itu yang saat ini di pikirkan nya.
"Lo juga harus tanggung jawab dong! Jadi cowok kok ngga gentle banget!" Tak mau kalah Angel pun menuntut Rizky yang menurutnya salah karena membuatnya hampir tertabrak walau belum kena sih. Tapi angel sama sekali tidak ingin kalah berdebat dengan laki-laki yang menurutnya menyebalkan.
Tanggung jawab yang di inginkan Angel sebenarnya hanya kata maaf tapi berbanding terbalik dengan yang di fikiran Hendra. Fikiran dokter itu justru sudah melanglang buana entah kemana.
"Ngga bisa! Lo aja udah nyuri kesempatan dalam kesempitan kok! mana mau enaknya aja lagi!" Tukas Rizky yang semakin menambah Hendra pusing.
"Bodo amat!!" Ujar Angel kemudian pergi begitu saja melewati dua dokter tampan itu begitu saja.
"Woy!! Bayar dulu hutang Lo!!" Teriak Rizky tapi, sama sekali tak di gubris Angel. Perempuan itu tetap melanjutkan langkahnya menuju toilet wanita tentu saja Rizky tidak bisa menyusul.
Tinggallah dua pria yang masih sama-sama mematung di tempat dengan fikiran mereka masing-masing.
"Awas aja kalau ketemu lagi, ngga bakal gue lepasin!!" gumam Rizky sebelum dirinya juga masuk ke toilet pria.
.
.
.
.
Bersambung....