I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 126



“Gue nggak nyangka lo secantik ini, Sya?” Ucap Aldo ketika ia menyambangi kamar Tasya dan kebetulan ia baru saja selesai di rias.


Gaun pengantin berwarna putih berbalut indah di tubuhnya dan make up pengantin dari tangan ahli yang di tunjuk oleh keluarga Zayn, membuat Tasya semakin terlihat cantik pun aura seorang pengantin begitu terpancar di wajahnya. Ia juga mengenakan siger di kepalanya yang menjadi ciri khas dari pengantin adat sunda.


Hari ini Aldo lah yang akan menjadi fotografer untuk adik sepupunya, ia memotret Tasya dan tersenyum melihat hasil jepretannya.


“Lo bisa aja, Do.” Ujar Tasya dengan tersipu mendengar pujian Aldo.


“Nggak salah emang Zayn milih elo. Kayak ketiban durian runtuh dia.. hahaha,” lakarnya membuat Tasya ikut tertawa.


Di sela-sela tertawaan mereka, tiba-tiba pintu kamar Tasya yang memang tak di tutup itu di ketuk seseorang hingga membuat orang-orang yang ada di dalam kamar tersebut menoleh serempak kearah pintu dan langsung bisa melihat siapa yang datang.


Seorang wanita yang amat Tasya kenal tersenyum begitu tulus padanya. Tasya terpaku di tempatnya dengan mata yang berkaca-kaca begitu juga wanita tersebut. Ia melangkah dengan perlahan menghampiri Tasya.


“Kau sangat cantik, nak,” ucapnya saat ia sudah berdiri di depan Tasya. Ia mengelus lembut pipi Tasya dan ketika itu air mata mereka luruh begitu saja. Mereka terisak dalam bahagia.


“Mamah..” lirih Tasya di dalam pelukan wanita tersebut yang tak lain adalah ibunya.


Tasya begitu bahagia karena ibunya ternyata bersedia datang di acara yang begitu berarti untuknya saat ini.


“Mamah.. di sini?” ucap Tasya lagi sambil melepaskan pelukannya.


“Bukan cuma mamah tapi ayahmu juga di sini, dia ada di tempat akad menunggu calon suamimu, sayang.” Jawab ibu Tasya tak lupa dengan senyuman yang selalu membuat Tasya merasa tenang hingga ia pun ikut tersenyum.


“Jangan menangis, sayang. Nanti make up mu luntur dan membuat wajahmu berantakan. Nggak lucukan, masa pengantinnya Atta malah jadi jelek di hari bahagianya,” canda sang ibu membuat Tasya tersenyum dan sekuat tenaga menahan agar air mata yang tak sopan itu berhenti mengalir.


“Huaaa.. dia nggak mau berhenti. Dia keluar sendiri, aku nggak nangis!” ucap Tasya membuat mereka yang ada di sana tersenyum.


“Tapi bagaimana mamah bisa di sini?” tanyanya setelah berhenti menangis.


“Suamimu yang menjemput kami,” jawab ibu Tasya.


“Calon suami, mah!” Ibu Tasya terkekeh mendengar sanggahan dari Tasya.


Tanpa mereka sadari, momen yang begitu manis itu di abadikan oleh Aldo lewat lensa kameranya dan Aldo tersenyum puas melihat hasil jepretanya yang memuaskan karena ekspresi Tasya dan ibunya begitu natural.


Sementara itu di tempat akad, Abi tengah mematutkan wajahnya karena mendengar omelan ibunya yang membuat telinganya terasa memanas. Bagaimana sang ibu tidak marah, Abi yang di percaya untuk membawakan cincin pernikahan kakaknya itu malah melupakan benda penting tersebut di mansion.


“Kamu ini gimana sih, Bi! Masa seperti itu saja kamu tidak bisa? Padahal mamah hanya memintamu untuk membawakan cincin yang nggak sampai satu kilo beratnya. Kenapa bisa kamu lupakan?”


Abi terdiam cenderung malas mendengar ocehan ibunya. Menurutnya yang pentingkan sudah ijab Kabul, sah terus mau apalagi? Ada atau tidak ada cincin kan tetap sah juga jadi suami istri.


“Astaga! Aku loh ini, lagi patah hati. Nggak ada kah yang ngertiin perasaan ku sama sekali. Nggak cukupkah dengan hatiku yang remuk ini, masih juga di suruh bawain cincin buat mereka? Huft.. yang benar saja! Mau seremuk apa hatiku sekarang. Menatap wajahnya langsung saja aja rasanya tak sanggup malah..”


“Abi!” gerutuan Abi yang hanya bisa ia sampaikan di dalam hatinya harus terhenti saat panggilan dari ibunya memaksanya tersadar dari lamunan.


“Apa sih mah?” tanya Abi malas.


“Apa sih, apa sih! Dari tadi mamah ngajak kamu ngomong, kamu nggak dengerin ya!” gerutu sang ibu.


“Ngajak ngomong apanya? Jelas-jelas dari tadi mamah hanya mengomeliku!” Gertu Abi lagi yang pastinya masih dia ucapkan dalam hati.


“Sekarang juga kamu pulang dan bawa cincin itu!” perintah sang ibu.


“Males ah, suruh Rico aja sih mah!” Ibu Abi pun mendelik mendengar penolakan anaknya.


“Yang berbuat salah itu kamu! Kamu kan sudah dikasih amanat, malah kamu tinggal. Sekarang kamu harus bertanggung jawab dong, Bi!”


“Tapi kan, mah..”


“Nggak ada tapi-tapian! Berangkat sekarang juga!”


“Tapi..”


“Sekarang Abidzar Akhriz Herold!” tukas sang ibu tak terbantahkan.


Akhirnya meski berat hati Abi berjalan dengan gontai menuju mobilnya, dalam hatinya ia terus menggerutu. Abi merogoh saku jasnya mencari kunci mobil di sana, ketika sudah ia dapatkan apa yang ia cari, tiba-tiba seseorang menyenggol bahunya hingga membuat kunci mobil itu terlepas dari gengamannya dan terjatuh di canblok masjid tersebut.


Abi membungkuk untuk mengambil benda tersebut sambil matanya tak lepas dari punggung pria yang menyenggolnya tadi menjauh dari pandangannya dan hendak masuk ke dalam. Mungkin itu adalah tamu kakaknya, pikir Abi. Ia hanya menggelengkan kepalanya karena orang tersebut sama sekali tak ada berbasa-basi sekedar meminta maaf atau membalikkan badannya.


“Dasar tidak sopan!” gerutunya masih memandang punggung orang tersebut.


Abi hendak melangkah namun seketika ia tersentak dan kembali menoleh kebelakang untuk melihat orang tersebut, namun ia sudah tak terlihat lagi di sana. Abi sedikit mengrenyit dan mengendikkan bahunya.”Mungkin aku salah liat!” gumamnya.


Tadi saat menunduk Abi seperti melihat sebuah benda menjuntai berwarna merah di bawah jaket hitam yang di kenakan pria tersebut, terlihat seperti kabel. Ia penasaran dan hendak mengejar orang tersebut namun tiba-tiba ponselnya berdering karena panggilan dari ayahnya membuatnya urung dan melupakan niatnya itu.


“Kamu dimana, Bi? Bisa cepat sedikit tidak? Sebentar lagi acara akan di mulai!” ujar sang ayah dari sebrang telfon membuat Abi menghela nafasnya lelah.


“Sabar sedikit kenapa sih, pah?” gerutu Abi sambil meninggalkan pelataran masjid.


Tanpa Abi dan orang-orang sadari, seorang pria yang memkai jaket hitam tersebut memasuki tempat dimana Zayn akan mengucapkan ijab Kabul berbaur dengan tamu undangan lainnya. Ia berjalan dengan langkah yang mantap namun sebenarnya di dalam hatinya ia merasa ragu dan takut tentunya.


“Tuhan.. maafkan aku, semoga apa yang ku korbankan membuat mereka bisa hidup lebih baik, **** aku tak ada ada di samping mereka.” ujarnya dalam hati.


Pria itu duduk di tengah kerumunan tamu undangan yang akan menjadi saksi dimana Zayn dan Tasya menjadi suami istri.


Dari luar bangunan tersebut, dua orang berpakaian serba hitam dan memakai tutup kepala serta topeng itu tengah mengawasi situasi dengan teropongnya dari sebuah rumah tak terpakai.


Jaraknya lumayan jauh tapi mereka masih bisa melihat orang-orang yang ada di sana.


“Bagaimana?” tanya seorang yang sedang berjongkok di bawah kaki rekannya yang sedang mengamati. Ia tengah mengecek sesuatu yang akan menjadi hadiah untuk pengantin baru tersebut. Sebuah senjata api laras panjang di siapkannya, ia memasang alat peredam di ujung moncong alatnya.


“Dia belum terlihat, mungkin sedang dimake up,” ujarnya tanpa menurunkan teropongnya. Sedetik kemudian ia tersentak dan menatap sinis rekannya.


Pletak!


“Aduh! kenapa kau malah memukulku!” gerutu pria yang sedang berjongkok sambil mengusap menengadahkan kepalanya hanya untuk bisa menatap sinis rekannya karena sudah berani memukul kepalanya.


“Bodoh! Kenapa kau bertanya padaku! Kau bisa melihat sendiri dengan alatmu itu! Dasar bodoh!” maki pria yang baru saja memukul kepala pria yang berjongkok tersebut.


“Aku hanya bertanya, siapa yang menyuruh mu menjawab!”


“Diamlah! Bersiap, karena sebentar lagi kita akan berpesta!”


Dan merekapun bersiap pada posisi ketika melihat mobil yang di tumpangi Zayn memasuki pelataran masjid.


“Target sudah terlihat!” Ujar pria yang sedang membidik Zayn tepat didada kirinya, itu adalah letak jantung. Rupanya para pria misterius itu sedang mengincar nyawa Zayn!


Sedangkan sang pria yang sedari tadi mengawasi situasi melihat pergelangan tangannya. Ia melihat jarum jam yang terus perputar. “5 detik lagi!” serunya.


“Lima!”


“Empat!”


“Tiga!”


“Dua!”


Dan..


Bbbuuummmmm…


.


.


.


.


.


.


Bersambung..


...----------------...


...🤪 hai.. Hai.. Hai.. Nucha kembali menyapa nih teman-teman. Gimana kabarnya hari ini? Semoga selalu sehat dan bahagia untuk kita semua ya.....


Hari ini adalah....


.


.


Bukan hari apa-apa sih.. 😁


BTW, Nucha lagi ada di Pangandaran nih, dan karena itu mohon maaf jika lagi-lagi Nucha bolos up padahal cerita ini tuh harusnya dah mau tamat beberapa bab lagi. Tapi karena lagi nggk konsen jadi ya.. Lagi-lagi molor


Tapi, ya sudahlah semoga kalian nggak bosen dan masih mau menunggu cerita nggak jelas ini..


Sekian dulu Nucha cuap-cuap terimakasih untuk kalian yang masih setia mantengin cerita gaje aku ini..


Oh iya, Nucha nggak akan ngundang kalian untuk datang di acara akad mereka, karena sesuatu yang besar akan terjadi di sana.. Jadi Nucha saranin kalian di rumah aja jangan pada minta ngikut apalagi punya rencana buat ngerampok rendang sama cilok di sana..


Spill next story nih man teman, tungguin ya..🤭


Ya sudah lah ya udah dulu..


Lophe you banyak-banyak.. 😘😘