I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 41



Matahari perlahan mulai kembali ke peraduannya, berganti dengan cahaya bulan yang menerangi gelapnya langit malam.


Semua orang tengah berkumpul di tepi pantai selepas makan malam. Seperti yang sudah di rencanakan acara yang paling di nanti semua orang kini akan segera di mulai.


Semua orang berkumpul, berbaur menjadi satu bergembira bersama di bawah sinar bulan yang bersinar terang.


Di depan sana orang-orang penting, petinggi perusahaan sudah nampak duduk dengan manis di barisan paling depan. Di atas sebuah panggung Abi, Richard, Marx yang merupakan tiga pemegang saham terbesar di perusahaan Herold Grup duduk di sebuah meja dengan tulisan "JURI". Mereka yang akan memilih calon juara yang akan mendapatkan hadiah menarik untuk tiga pemenang nantinya.


Di belakang panggung, sembilan orang peserta tengah berlatih suara mereka masing-masing. Ada yang berlatih tangga nada dari yang terendah sampai tertinggi. Ada juga yang sedang menyetel ulang gitar mereka. Diantara peserta ternyata Maya pun tak mau kalah. Ia ikut andil dalam acara malam ini.


"Kenapa cuma sembilan orang?" Tanyanya pada diri sendiri. Karena di dalam tenda yang di tempati peserta tak ada yang boleh masuk kecuali panitia dan peserta itu sendiri. Karenanya Maya kini duduk menyendiri.


"Bukannya peserta tahun ini sepuluh orang?" Gumamnya lagi sambil menghitung kembali jumlah peserta.


Sementara itu di barisan penonton, Disty dan Nakula saling tatap dengan menggerakkan mata, alis dan bibir untuk memberikan kode. Entah apa maksudnya yang jelas mereka tidak ingin ada orang lain yang tahu tentang suatu hal yang mungkin sedang mereka rencanakan.


Tasya yang berada di antara keduanya merasa ada yang aneh, ia pun melirik ke arah mereka dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Kalian kenapa? Sawan ya?" Tanyanya yang berhasil membuat Nakula dan Disty gelagepan seketika.


"Eh.. Ekhm.. engga ko" Elak Disty.


"Bohong!!" Ujar Tasya menatap tajam Disty, tentu saja hal itu membuat Disty merasa semakin terpojok.


"Ngga ada apa-apa, Sya. Kita cuma khawatir ke elo. Bukannya Lo masih sakit, kok malah ngikut kita ke sini? apa ngga sebaiknya Lo istirahat di kamar aja?" Potong Nakula, di antara ketiganya hanya Nakula yang masih bisa terlihat santai walau keadaan terdesak sekali pun.


Pernyataan Nakula tentu saja berhasil membuat Disty lepas dari interogasi Tasya.


"Ya elah, gue dah ngga apa-apa. Sehat wal Afiat lah gue" Ujar Tasya.


"Tapi ngomong-ngomong.. Ayang gue kemana ya, dari tadi ngga keliatan?" Imbuhnya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari sosok Zayn. Karena sedari tadi setelah makan malam ia tak lagi melihat kekasihnya Itu.


"Aciye... Yang udah punya ayang! maunya nempel Mulu" Goda Disty yang tak di tanggapi sama sekali oleh Kedua sahabatnya.


Di atas panggung, Rico maju ke tengah panggung membawa sebuah iPad dan microfon. Ya, dialah yang akan memandu acara malam ini.


Tak..tak..tak..


Rico mengetuk mic untuk memastikannya sudah aktif atau belum.


"Oke.. Assalamualaikum, selamat malam semuanya...." Sapa Rico mulai membuka acara tersebut dengan salam hangatnya di sambut gemuruh suara dan tepuk tangan para karyawan yang saat ini menjadi penonton.


"Wa'alaikumsalam..." Ujar semuanya serentak.


"Hem.. lemes banget nih jawabnya belum pada makan ya? Sekali lagi yah?.. Assalamualaikum semuanya!!" Ulang Rico meninggikan satu oktaf suaranya.


"Wa'alaikumsalam!!" Jawab semuanya serentak yang juga menambah satu oktaf suara mereka.


"Wah... Rame banget, udah pada siap liat jagoan-jagoan kalian berkompetisi malam ini?!!"


"Siappp!!!"


"Anya...Yeayyy!!!"


"Adit...Loph yu pul!!"


"Bianca!!! Aku padamu!!!"


Dan teriakan-teriakan lainnya saling bersahutan memanggil nama jagoan-jagoan mereka, membuat suasana semakin riuh.


"Oke!! pertama-tama ayo kita sama-sama ucapkan bismilah untuk membuka acara Lomba menyanyi suka-suka Herold Grup tahun 20xx" Ujar Rico lagi yang langsung di ikuti oleh semua orang.


"Alhamdulillah tahun ini kita bisa kembali berkumpul bersama dalam acara tahunan yang diselenggarakan oleh perusahaan. Beri tepuk tangan meriah untuk kita semua!!!"


Prok..prok..prok...


"Selanjutnya mari kita sapa juri utama kita sekaligus pemilik perusahaan Tuan Abidzar Akhriz Herold, beri tepuk tangan yang meriah!!"


Abi yang merasa di panggil pun berdiri dari kursinya dan menunduk dengan hormat tak lupa kedua tangan yang ia tangkupkan di depan dada dan senyuman yang tak pernah luntur dari bibirnya, menyapa karyawan yang saat ini menjadi penonton. Salam serupa di lakukan oleh dua juri lainnya. Richard dan Marx.


Setelah memperkenalkan juri yang akan bertugas, aturan serta syarat untuk menjadi juara, akhirnya acara pun di buka oleh penampilan peserta pertama.


"Baiklah tanpa buang buang duit...."


"Waktu!!!" Potong penonton saat Rico sengaja membuat lawakan garing. Ya, mau gimana lagi Rico memang tipe pria yang kaku, tapi malam ini malah di tunjuk menjadi pembawa acara. Jadilah seperti ini.


"Iya itu maksudnya... Tanpa buang-buang waktu mari kita sambut peserta pertama.... Nindy!!!"


Alunan merdu music yang tercipta mulai terdengar, membuat para penonton hanyut dan menikmati lagi yang di bawakan. Para juri tak lupa melakukan tugasnya.


Beberapa saat kemudian, Nindy di gantikan oleh peserta kedua, ketiga, ke empat, dan seterusnya hingga tiba saatnya Maya naik ke atas panggung.


"Wah.. Ulet bulu ternyata ikutan?" Ujar Tasya takjub tak menyangka Rivalnya itu bisa bernyanyi. Ia pikir Maya hanya bisa berkoar-koar yang tak penting saja.


"Yah, Maya memang tiap tahun turut berpartisipasi dalam setiap kesempatan, tapi sama sekali belum pernah mendapatkan juara apalagi hadiah" Tutur Disty yang di angguki oleh Tasya dan Nakula.


"Selamat malam semuanya..." Sapa Maya yang di jawab serempak oleh penonton termasuk Tasya.


"Malam ini saya akan membawakan sebuah lagu... Perfect dari Ed Sheeran semoga kalian suka" Ujar Maya kemudian ia berjalan menuju sebuah piano yang sudah di sediakan.


Maya duduk dengan anggun di depan piano hitam itu. Jari-jari lentiknya ia letakan dia atas tuts piano. Satu persatu ia tekan hingga suara merdu terdengar mengalun indah.


"Woah... Ulat bulu bisa keren juga ternyata" gumam Tasya dan di angguki oleh dua temannya.


Prok... Prok.. Prok...


Gemuruh suara tepuk tangan penonton menjadi pertanda berakhirnya penampilan memukau dari Maya. Semua orang tampak terhibur dengan penampilannya.


"Wah.. beri tepuk tangan yang meriah untuk penampilan luar biasa dari Maya" Ujar Rico yang sudah mengambil alih kembali panggung.


Prok...Prok... Prok...


"Oke peserta terakhir... Mari kita sambut penampilan sepesial dari.... Anastasya.." Ujar Rico di sambut gemuruh tepuk tangan penonton tapi tidak dengan Tasya.


"Gue?" Ujarnya tak percaya. Bagaimana bisa dia yang jelas-jelas tak tahu menahu acara apa ini malah jadi peserta? sejak kapan ia mendaftar pun ia tak tahu. Lalu bagaimana bisa dia menjadi peserta?


"Udah gih Sono naik.. Nyanyi yang bagus jangan bikin malu kita" Ujar Disty dengan senyuman yang terlihat menyebalkan di mata Tasya.


Mendengar ucapan Disty sekarang ia faham kenapa dari tadi Nakula dan Disty seolah saling memberikan kode. Rupanya ia sedang di kerjai oleh dua mahluk astral itu.


"Kepada saudari Anastasya mohon segera naik ke atas panggung, mengingat waktu yang sudah semakin larut" Ujar Rico lagi menyadarkannya dari lamunan.


"Ngga punya nyali kali dia tuh!!" Teriak sebuah suara yang tak lain adalah Sindy membuat dada Tasya semakin memanas.


"Diskualifikasi aja, buang-buang waktu!!!" Suara Irma semakin menambah kekesalan Tasya. Kalau saja bukan karena olokan mereka Tasya tak akan mau untuk naik ke atas panggung.


Dengan hati yang berdebar tak karuan dan tubuhnya yang tiba-tiba bergetar hebat Tasya mulai naik ke atas panggung. Walau dengan langkah penuh ke ragunan namun ia tak ingin di anggap pengecut oleh Trio ulat bulu, jadilah dia di sini sekarang...


"Hah... Sebenarnya saya sama sekali tidak tahu kalau ternyata saya ikut menjadi peserta..." Ujarnya sambil mengambil nafas sebanyak-banyaknya untuk mengurangi kegugupannya. Sepertinya saat ini Tasya di landa demam panggung.


"Maka dari itu.. Maaf kan saya jika suara saya sangat tidak berkenan di telinga kalian. Saya pun kurang yakin kalau suara saya terdengar nyaman di telinga..." Ucapnya lagi membuat penonton mulai merasa was-was. Apakah suara Tasya seburuk itu, apa suaranya akan merusak gendang telinga mereka sungguhan?


Tasya melangkah menghampiri petugas pengiring music yang stand by di depan sebuah keyboard untuk memilih lagu dan juga nada yang akan ia mainkan. Karena Tasya sama sekali tidak berlatih jadi ia harus berunding terlebih dahulu dengan pemain music.


"Oke... Saya tidak mau sendiri di sini, jadi saya panggilkan Nakula dan Disty untuk naik ke atas panggung menemani saya... Maaf sebelumnya para juri" Ujar Tasya lantang mau tak mau nama yang di panggil pun akhirnya naik ke atas panggung karena mendapat kan tekanan dari penonton yang lain.


"Lah kita juga kena!" Keluh Disty saat sudah ada di atas panggung.


"Dah lah auto ngga punya muka ini mah" Nakula pun tak mau kalah ia pun ikut ikutan mengeluh.


"Sahabat akan selalu ada di saat apa pun..." Ujar Tasya datar membuat keduanya bungkam.


"Ekhm...


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....