I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 123



“Keluar atau kami dobrak!”


Ayah dan Ibu Tasya semakin ketakutan di dalam rumah dan tak lama kemudian..


Brakkk


Pintu kontrakan yang memang tak terlalu kuat itu berhasil di buka paksa hanya satu kali dorongan. Ada 5 preman yang ruapanya adalah bodyguard tuan Wira yang menyeret paksa ayah dan ibu Tasya, membuat mereka seketika menjadi tontonan warga sekitar.


Ketua RT atau RW pun tak ada yang berani mendekat karena merasa takut pada bodyguard yang mempunyai badan besar dan wajah yang sangar.


Mereka meneyeret ayah dan ibu Tasya tepat di hadapan tuan Wira dan seketika mereka mendorong ayah dan ibu Tasya membuat mereka terjerembab jatuh tepat di bawah kaki tuan Wira.


Pemandangan ini persis seperti saat dulu dia masih menagih hutang pada orang-orang bersama ibunya. Jika dulu orang-orang yang bersujud dibawah kaki ayah Alan, kini dialah yang harus bersujud pada orang lain.


Mungkin ini yang di namakan roda kehidupan akan selalu berputar.


“Wah kau rupanya bersembunyi ya, tuan Alan Hermawan! bagaimana dengan hutangmu? Aku rasa dengan kau yang bersembunyi itu tanda jika kau tak bsa melunasi hutangmu kan? Seret dia!” ujar Tuan Wira pada Bodyguard nya.


“Tidak tuan! Beri kami waktu lagi, saya mohon!”ujar Ayah Alan memelas berharap jika tuan Wira mau berbaik hati padanya. Tapi, apa yang dia harapkan? Tentu saja Taun Wira tak akan melepaskannya begitu saja.


“Seret dia!” seru tuan Wira lagi tak menghiraukan ucapan Ayah Alan.


“Lepaskan mereka!” Sebuah suara tiba-tiba terdengar membuat keadaan yang tadinya ricuh itu kini senyap seketika.


Dua orang pria berpakaian rapih berjalan mendekati mereka dan berhenti tepat di depan tuan Wira, membelakangi ayah dan ibu Tasya.


“Siapa kalian? Berani ikut campur dengan urusanku!” tanya Tuan Wira geram.


“Berapa hutang mereka?” tanya salah satu pria itu.


“1 M, kau mau apa?!” tantang tuan Wira.


“Bohong, Ta! Hutangku hanya 500 juta, tidak mungkin menjadi sebanyak itu hanya dalam waktu satu minggu!” sergah Ayah Alan tak terima. Ah, sekarang dia benar-benar merasakan apa yang orang-orang rasakan karena keserakahannya dulu.


“Tolong kau urus masalah ini, Co!” ujar pria itu yang tak lain adalah Zayn dan Rico.


Pagi ini rencananya Zayn ingin menemui ayah dan ibu Tasya untuk meminta anak gadis mereka lagi. Tak di sangka mereka justru melihat pemandangan yang sangat langka.


Seharusnya Zayn di temani oleh papa Robert, tapi berhubung ayah sambung Zayn tersebut ada urusan yang mendadak jadi papah Robert mengutus Rico untuk mengurusnya. Tadinya dengan Abi sekalian, tapi Abi mengatakan sedang banyak pekerjaan yang tak bisa ditinggal, jadilah kini keduanya ada disini.


Padahal yang sebenarnya, Abi sedang melindungi hatinya agar tak terlalu sakit saat nantinya ayah Tasya akan menerima lamaran Zayn. Dan Rico tahu akan hal tersebut maka ia tak banyak bertanya dan hanya mengikuti scenario yang atasannya susun.


Ayah dan ibu Tasya terkejut dengan kedatangan Zayn yang setiba-tiba ini dan lagi keadaan mereka yang sedang sangat memperihatinkan, menurut mereka.


“Atta, kau disini?” Ucap ibu Tasya takjub sekaligus heran, Zayn datang bak pahlawan untuk mereka.


“Mari kita masuk dulu, paman dan bibi,” Ajaknya seolah dia adalah sang tuan rumah. Dan hebatnya, ayah Alan yang biasanya akan bersungut-sungut jika melihat wajah Zayn kini pria paruh baya tersebut hanya diam mengikuti apa yang Zayn katakan.


Mereka pun masuk ke dalam rumah kontrakan yang pintunya sudah jebbol tersebut, meninggalkan Rico yang sedang berdiskusi sengit dengan tuan Wira.


“Jadi bagiamana, tuan? Berapa banyak hutang tuan Alan sebenarnya?” Tanya Rico saat sudah melihat Zayn masuk ke dalam rumah.


Zayn kini juga adalah majikannya, jadi ia pun menurut apa yang di katakana oleh Zayn namun tetap semua yang dia lakukan di bawah komando Abi, karena biar bagaiamanapun Abi yang menggajinya.


“Memangnya apa urusanmu? Apa kau yang akan membayar semua kerugian ku, Hah!” sentak Tuan Wira namun masih di tanggapi dengan santai oleh Rico.


Beberapa saat kemudian Rico mengeluarkan kartu nama Abi pada tuan Wira, menyuruhnya untuk menemui Abi di kantor untuk membahas masalah tersebut.


“Ku pikir kau akan langsung memberiku cek!” cibir tuan Wira setelah selesai menghubungi Abi untuk mengkonfirmasi apa yang di sampaikan Rico.


“Saya tidak punya hak untuk melakukan hal itu!” tukas Rico sebelum ia pamit untuk menyusul Zayn karena usrusan mereka sudah selesai.


Sementara itu di dalam rumah terjadi kecanggungan antara Zayn dan ayah Alan.


“Apa kau datang untuk menertawakan keadan ku sekarang?” tuduh ayah Alan membuat Zayn tersenyum.


“Tidak! Aku datang ke sini menemui kalian untuk ke sekian kalinya masih hal yang sama. Paman dan bibi saya, Zayn Pranata ingin meminta restu paman dan bibi untuk bisa menikahi putri kalian satu-satunya, Anastasya Putri yang saat ini sedang mengandung calon anak ku!” ujar Zayn lugas. Dia sangat percaya diri kali ini lamarannya akan di terima, kerena orang tua Tasya tak ada alasan lagi untuk menolaknya kan?


“Dia bukan anakku lagi!” ketus ayah Alan, padahal jauh di lubuk hatinya dia pun ingin menemui Tasya dan meminta maaf padaya karena sudah memaksa anaknya demi memenuhi ambisinya. Namun, karena begitu merasa malu pada tasya ayah Alan tak berani datang menemui anaknya itu.


“Apa anda tak merindukannya, paman?” tanya Zayn. Tepat setelah bertanya demikian Rico datang dan bergabung bersama mereka.


“Maaf menganggu!” ujarnya dan ia pun dipersilahkan duduk oleh ibu Tasya.


“Saya ingin menyampaikan jika tuan Wira mulai sekarang tak akan lagi menganggu anda, tuan. Saya berjanji untuk hal itu. Jika mereka datang lagi segera hubungi saya atau tuan Zayn!” ujar Rico sambil menyodorkan kartu namanya dan membuat ibu Tasya menangis haru karena masih ada orang yang baik pada mereka.


Ayah Alan memeluk istrinya sebagai ungkapan rasa syukurnya dan sangat berterimakasih pada Rico dan Zayn, meski lidahnya terasa kaku saat mengucapkan kata tersebut pada Zayn.


“Apa Tasya bahagia bersamamu, Ta? Bisa kamu menjamin hidupnya? Bisa kamu menjaganya lebih baik dari kami? Bisa kamu sabar menghadapinya?” Tanya ayah Alan setelah beberapa saat mereka terdiam.


Zayn menganguk mantap. “Saya tidak bisa berjanji, tapi saya akan berusaha memberikan Tasya yang terbaik!” tukas Zayn mantap.


“Kau menang!” singkat ayah Alan sambil menyenderkan punggungnya pada senderan kursi. Ia menghela nafasnya dalam.


“Apa memang dia adalah jodoh dari anakku? Sekuat apapun coba ku pisahkan mereka pada akhirnya mereka akan bersatu! Huft!” gumam Ayah Alan dalam hatinya.


“Jadi kapan kalian akan melangsungkan pernikahaan, nak?” tanya Ibu Tasya terdengar antusias membuat Zayn mengembangkan senyumnya.


“Minggu depan!” singkat Zayn dan berhasil membuat ayah Alan tersentak.


“Kau gila! Mana ada orang yang mempersiapkan pernikahan secepat itu!” protes ayah Alan.


“Tentu saja ada, aku orangnya!” balas Zayn dengan banganya. “Paman dan bibi tenang saja semua bisa diatur, yang jelas kalian harus datang karena aku ingin paman sendiri yang menyerahkan tanggung jawab atas Tasya padaku langsung,” sambungnya.


“Aku tak mau!” ketus ayah Alan membuat Ibu Tasya mengelengkan kepalanya, sedangkan Zayn tersenyum smirk mendengar jawaban ayah Tasya. Zayn sama sekali tak tersinggung dengan sikap Ayah Alan yang ketus itu, ia justru mengaggap itu adalah hal yang lucu.


“Baiklah terimakasih atas restu kalian paman dan bibi. sampai jumpa minggu depan, bibi dan… ayah mertua!” ujar Zayn kemudian berpamitan untuk kembali ke Jakarta dan mempersiapkan pernikahannya.


“Siapa yang kau panggil ayah mertua itu, hah! Dasar anak nakal!” gerutu ayah Alan namun tak di gubris oleh Zayn.


.


.


.


.


Bersambung…