
Tasya, seorang gadis yang ceria, cantik, dan penuh semangat hari ini ia terlihat begitu rapuh. Di hadapan sepupunya Tasya menumpahkan segala keresahaanya dalam tiap butiran air mata yang jatuh membasahi pipinya.
Sebagai seorang perempuan, ia sungguh malu karena bisa sampai berbadan dua seperti itu. Ia menyesal karena tak pandai menjaga diri, menyesal karena begitu percaya pada laki-laki yang katanya sangat mencintainya namun justru tega menyakiti dia sampai seperti ini. Bahkan meski Tasya sudah menjauh, sebagian diri dari Zayn kini sedang mencoba tumbuh di rahimnya.
Meski begitu, ia sama sekali tak membenci calon anaknya. Tasya hanya merasa kecewa karena ia hadir dengan cara yang kurang baik.
"Lo ngga bisa kaya gini terus, Sya. Please bangun dan kita hadapi ini sama-sama ya." Rizky kembali membujuk Tasya untuk bertemu dengan ayah Alan, ayah dari Tasya.
Rizky tak pantang menyerah untuk menyadarkan Tasya, meski ia tak meraih uluran tangannya dan malah terduduk dan menangis tapi Rizky terus membujuknya. Pernikahan ini harus batal ia tak yakin jika Tasya akan bahagia bersama dengan Daniel. Oke! Anggap saja dia sok tahu, tapi entah lah firasatnya mengatakan demikian.
"Gue bingung, Ky.. gue takut.." mendengar gumaman Tasya Rizky segera membawa gadis itu dalam dekapannya berharap pelukannya membuat Tasya lebih baik.
"Ngga apa-apa, Sya. Lo ngga usah takut ada gue. Lo harus berani demi anak lo. Tapi, please jangan teruskan, ya. Kalau dia ngga terima gue takut lo yang akan di sakitinya. Sekali ini saja dengerin gue ya," pinta Rizky sambil mengelus punggung Tasya memberikan dukungannya dari usapan itu. Rizky sangat khawatir karena sedikit tahu perangai Daniel, ia tak yakin Tasya akan baik-baik saja. Apalagi kini Tasya bukan cuma melindungi dirinya sendiri ada nyawa yang harus dia jaga. Maka pergi adalah jalan terbaik menurut Rizky.
"Ayo.. kita temui mereka!" Setelah merasa lebih baik, Tasya memutuskan untuk mengikuti saran adiknya. Rizky benar, dia harus berani karena mau sekarang atau nanti orang tuanya pasti akan tahu jika saat ini ada nyawa di rahimanya.
Rizky benar, Daniel tak akan mau memnerima anaknya. Maka di sini lah mereka berada.
"Ayah, mamah, dan nenek.. Tasya ingin bicara sebentar, boleh?" Izinnya saat mereka sudah berada di ruang keluarga dimana mereka sedang bersantai setelah mengawasi para pekerja WO di halaman belakang. Atensi semua orang kini tertuju pada Tasya dan Rizky yang menatap mereka dengan serius.
"Kenapa, nak?" Tanya sang ibu lembut.
"Tasya.. Tasya.. Ingin membatalkan pernikahaan ini!" Tukasnya membuat semua orang terkejut tak terkecuali sang nenek yang begitu geram menghadapi cucunya yang satu itu.
Baru kemarin nenek Anita membujuknya tapi sekarang lagi-lagi Tasya berubah fikiran. Padahal nenek Anita sudah susah payah merangkai kata agar Tasya setuju tapi gadis itu malah plin plan seperti ini. Sekarang bilang nggak beberapa jam kemudian berubah fikiran lagi. Lama-lama nenek Anita kan juga hilang kesabarannya.
"Tasya!! Jangan mengada-ada! Pernikahan kalian tinggal menghitung jam. Jangan buat malu keluargamu!"
"Iya, nak. Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu tiba-tiba ingin membatalkan semua ini?" Ibu Tasya pun angkat bicara. Dalam hatinya ia mengucap syukur jika benar anak satu-satunya memilih mundur. Sebagai seorang ibu, entah kenapa ibu Tasya pun merasakan perasaan yang tak enak. Seperti, gelisah, takut, sedih, atau yang semacamnya yang jelas sulit sekali di jelaskan.
Tasya menoleh ke arah Rizky mencari dukungan dari adiknya itu. Rizky pun tersenyum dan mengangguk pun tangannya memegang erat tangan Tasya memberikan keyakinan pada kakaknya itu. "Tasya.." gumamnya ragu. Tasya bahkan tak sanggup mengankat wajahnya sungguh ia merasa sangat takut sekarang.
"Tasya.."
"Kenapa!" Ayah Tasya ternyata tak sabar mendengar apa alasan yang membuat putrinya itu ingin mundur.
"Tasya.. hamil!" Ucap Tasya lirih membuat semua orang mematung kecuali Rizky. Mereka syok mendengar pengakuan Tasya, kenyataan itu sungguh di luar dugaan mereka.
"Apa? Coba katakan sekali lagi!" Pinta ayah Tasya masih tak percaya lebih tepatnya tak ingin percaya.
"Maafkan Tasya, Yah.. hiks.. hiks.." lirih Tasya mulai terisak. Dan ucapan maaf dari Tasya membuat Ayah Tasya meradang.
Plakkk...
Tamparan mendarat sempurna di pipi mulus Tasya, bukan hanya sekali tapi dua kali. Ia yang tengah lemah pun merasa pandangannya berkunang-kunang. Rasa panas dan perih seketika terasa olehnya. Namun, hatinya teriris. Orang yang selama ini menjadi cinta pertamanya, tempatnya merasa terlindungi nyatanya tega melukainya. Memang benar Tasya yang salah dan membuat ayahnya tersulut emosi.
"Ampun, yah. Tasya mohon maafkan Tasya, huhuhu.." Tasya tergugu dalam tangisnya. Terluka karena melihat kekecewaan yang mendalam di mata sang ayah. Bukan hanya ayahnya, tapi neneknya, dan juga Ibunya. Bahkan ibunya sampai tak bisa berkata-kata saking syoknya. Ibu Tasya hanya bisa menangis.
"Astaga! Dimana otak kamu Tasya! Siapa? Siapa ayah bayi itu? Atta!!" Ayah Tasya mengusap wajahnya frustasi. Ia sungguh kecewa dengan kelakuakan anak gadisnya. Didikan yang selama ini ia ajarkan rupanya sama sekali tak berguna oleh Tasya.
"Maaf kamu bilang, hah! Setelah kamu lancang melemparkan kotoran di wajah kami, dengan entengnya kamu bilang maaf?!"
"Dasar anak tidak tahu di untung! Apa pernah kami mengajarkan mu hal menjijikan seperti itu sampai membuat perut mu membesar, hah! Kenapa kamu sangat bodoh sampai membuka pahamu pada laki-laki bukan suami mu, Tasya!" Geram ayah Tasya begitu menyakiti hati Tasya. Tanpa tahu apa yang terjadi, ayahnya tega mengatakan hal kejam seperti itu. Memang benar dia hamil tapi dia kan dalam posisi tak berdaya saat itu. Siapa yang ingin berada di posisinya sekarang? Setiap wanita pasti ingin menjadi ibu dan menikmati prosesnya dengan bahagia bersama pasangan, Tasya pun demikian. Tapi jika takdirnya seperti ini ia bisa apa?.
"Ampun, Yah!"
"Dasar jal*ng!" Umpatayahnya lagi kali ini tak hanya Tasya yang terkejut mendengar kecaman itu tapi juga semua orang yang mendengarnya.
"Ayah!"
"Paman!"
Ibu Tasya dan Rizky yang dari tadi hanya diam pun angkat bicara.
"Cukup, yah! Tasya juga anakmu! Jangan katakan hal menyakitkan seperti itu!" Mendengar istrinya membela Tasya, ayah Tasya yang sedang di balut kecewa pun tak mengindahkan ucapan istrinya yang sudah menemaninya hampir 30 tahun.
"Mulai hari ini.. dia bukan anak ku lagi! Aku tak sudi memiliki anak yang begitu gampang menjual mahkotanya!"
"Paman! Ini semua salah faham! Tasya tak sepenuhnya bersalah. Saat itu.."
"DIAM! aku tak butuh pembelaan mu! Segera angkat kaki dari hadapanku! Aku tak sudi melihat wajahmu lagi!"
"AYAH!!"
"Apa!? Jangan ikut campur! Segera bawa gadis ini enyah dari hadapanku! Aku tak sudi mengakuinya anak apalagi bayi yang ada di perutnya!"
"Apa! Bayi?" Di tengah-tengah ketegangan itu, tiba-tiba ayah dari Daniel muncul etah dari kapan. Mendengar ucapan calon besannya tentu saja membuatnya syok.
"Tuan Wira!" lirih nenek Anita yang sedari tadi hanya diam begitu terkejut, tambang emasnya mengetahui masalah yang di ciptakan cucunya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...