I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 56



"Yank, lihat bintang-bintang itu?" Seru Zayn menunjuk ke langit, dimana kini dia dan Tasya sedang berbaring di atas rerumputan.


"Hmm.. Kenapa? Apa kamu mau bilang kalau banyak bintang di langit hanya satu yang bercahaya, banyak gadis cantik hanya aku yang kau cinta?" Zayn langsung menoleh ke arah Tasya ia seakan tak percaya dengan ucapan kekasih nya itu.


"Loh kamu tahu dari mana? Aku baru mau bilang" Gerutunya kesal. Niat hati ingin merayu kekasihnya tapi ternyata rayuannya mudah di tebak. Maklum saja dia kan memang orang yang kaku mana bisa dia berkata manis. Padahal dia sudah menghafal bait itu sejak kemarin untuk malam yang romantis ini.


Tasya terkekeh dan memiringkan tubuhnya menghadap Zayn yang sedang cemberut.


"Kamu tahu, Atta.. Bagiku, aku tak butuh kata-kata manis mu, cukup kamu berjalan bersama ku melewati jalanan terjal di depan kita. Seperti sepasang sepatu yang selalu berjalan bersama melindungi kaki kita. Begitu juga kita yang berjalan bersama untuk melindungi cinta kita, agar tak ada luka." Ucapan Tasya membuat Zayn tersenyum, ia pun menghadap kan wajahnya ke samping memandang wajah cantik Tasya yang semakin cantik kala ia tersenyum.


"Aku ngga tahu kamu bisa bicara semanis itu, yank" Ujarnya.


"Apa kamu lupa? Aku bahkan berani merayu pemilik perusahaan" Ia terkekeh setelah mengucapkan hal itu. Mengingat kembali pertemuan pertama nya dengan Abi. Siapa sangka laki-laki itu ternyata menjadi penghubung antar keduanya.


"Hem.. Saat itu aku kesal sekali... Inginnya sih ku hajar batang hidungnya itu, karena berani membuatmu terpesona dan melupakan ku" Mengingat momen itu membuat Zayn kesal.


"Kau yakin bisa menghajar batang hidungnya? aku rasa justru batang hidung mu yang akan patah" Cibir Tasya mengingat Zayn kan tak bisa berkelahi. Terbukti satu kali pukul saja Zayn bisa tersungkur dan yang lebih parahnya lagi seorang perempuan lah yang melakukannya. Yaitu dirinya sendiri.


"Hais.. Kamu ini sebenarnya pacar siapa? Bukannya membanggakan ku ini malah sebaliknya!" Zayn yang kesal memalingkan wajahnya kembali terlentang. Kesal karena apa yang Tasya ucapkan itu benar.


Setelah ini ia berjanji pada dirinya sendiri untuk belajar ilmu bela diri. Yang benar saja masa dia tak bisa melindungi diri sendiri, lalu bagaimana caranya dia melindungi Tasya nantinya.


Melihat hal itu membuat Tasya semakin semangat menggoda Zayn.


"Kenapa juga kamu yang harus jadi pacarku! Padahal Abi jauh lebih tampan, kaya, mapan, aku juga sudah bertemu dengan ibunya. Dan kau tahu apa yang ibunya katakan?" Tasya melihat wajah Zayn yang sudah memerah. Laki-laki mana yang tahan saat pacarnya sendiri memuji laki-laki lain? Apalagi Tasya jelas-jelas membandingkan keduanya. Ya, dia sadar diri memang dirinya tak ada seujung kuku pun di bandingkan dengan Abi, tapi lihatlah! bukankah dia yang berjuang bukan Abi!


"Ibunya meminta kami untuk menikah.. Bukannya itu artinya kami sudah mendapatkan lampu hijau?" lanjutnya. Kini Zayn sudah tak bisa lagi menahan kekesalannya.


Zayn langsung terduduk dan menatap tajam manik mata Tasya.


"Anastasya Putri Bin Alan Hermawan!.. Bagaimana kalau besok kita nikah saja! Nikah siri pun ngga masalah. Kau menyebalkan sekali!" Gerutu Zayn tentu saja ajakannya itu tak sungguh-sungguh. Impiannya adalah menghalalkan Tasya dengan ayahnya sendiri yang mengantar putrinya duduk di depan penghulu bersamanya.


"Ehehehe Zayn Pranata, adalah laki-laki terbaik walau di luar sana pun laki-laki yang baik tak terhitung. Namun, hanya Zayn Pranata yang selamanya bertahta di hatiku. I love you sayangku" Ucapan Tasya terdengar begitu manis di telinga Zayn, hingga membuat laki-laki itu tersipu. Untungnya, keadaan di sini gelap jadi tak ada yang menyadari bagaimana air muka Zayn saat ini.


"Hais.. kalau kayak gini mana bisa aku marah!" Keluhnya kemudian beranjak dari duduknya membuat Tasya heran.


"Mau kemana?"


"Ayo pulang, berduaan dengan mu membuatku tidak bisa menahan diri untuk membawa mu ke KUA" Ujarnya seraya mengulurkan tangannya di depan Tasya.


.


.


.


Suasana jalan malam terasa sepi, mungkin karena sudah terlalu larut. Sepasang kekasih tak pernah melepaskan genggaman tangan mereka, saling memberi kehangatan pada pasangannya.


Tasya memandangi wajah Zayn yang sedang fokus menyetir. Ia bahagia sekali karena akhirnya bisa bersama dengan pemuda ini, walau dalam hatinya entah kenapa seolah tak yakin jika ini akan berhasil. Tapi, sedikit berharap rasanya tak terlalu buruk.


"Kenapa memandangi ku begitu? Aku tampan kan?" Ujar Zayn tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan yang sepi.


"Ya, kau adalah laki-laki paling tampan di mataku... Setelah ayahku pastinya." Zayn tak menjawab ia tetap memfokuskan pandangannya pada jalanan. Hingga ucapan Tasya mengalihkan nya dan memandangi wajah Tasya dengan serius.


"Apa yang kamu bicarakan? Entah sudah berapa kali aku ucapkan ini, tapi biar ku katakan lagi.. Aku mencintai mu, aku tak masalah jika harus berjuang untuk mendapatkan mu. Aku tak masalah membuka kembali luka ku, karena aku yakin.. Kamu.. Kamu adalah wanita yang pantas di perjuangkan, kamu adalah bahagia ku. Jadi membuka luka untuk bahagia tak berarti apa pun untukku" Tukas Zayn mantap.


Demi wanita ini, ia rela terluka. Demi wanita ini, pula ia akan suka rela menyerahkan nyawanya jika memang perlu.


"Atta.. Kau membuatku terharu"


Cup


Zayn mengec*p lembut punggung tangan Tasya penuh kelembutan, hingga membuat gadis itu tersipu. Hanya sebatas itu memang kontak fisik keduanya, tak lebih.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, tiba-tiba mereka melihat seorang perempuan sedang menangis di pinggir jalan. Tampilannya acak-acakan dan ia menundukkan wajahnya. Tasya yang melihat itu fikirannya sudah tak bisa lagi positif.


"Ta.. Itu.. Apa itu mba Kunti?" Yah, fikiran Tasya memang tak jauh-jauh dari hal seperti itu, berbeda dengan Zayn yang masih bisa berfikir jika itu adalah seorang wanita yang baru saja di jambret atau semacamnya, mungkin.


"Bukan, aku rasa dia butuh pertolongan!" Zayn segera menepikan mobilnya tak jauh dari wanita itu. Namun, saat Zayn ingin keluar tangannya di tahan oleh Tasya. Gadis itu menggeleng tak mengizinkan Zayn untuk keluar.


"Ngga apa-apa sayang. Kamu di sini saja kalau takut ya, biar aku yang melihatnya. Siapa tahu memang dia butuh bantuan" Ucap Zayn penuh kelembutan. Ia juga mengusap lembut pipi Tasya menyakinkan wanita itu bahwa tak ada yang perlu di takutkan.


"Tapi.."


"Ngga apa-apa, sayang" Zayn memberikan senyuman manisnya, hingga Tasya tak punya pilihan untuk mengizinkan kekasihnya.


"Tunggu! aku ikut, yank!" Ujarnya lagi. Ia tak mau di tinggal sendirian jika tiba-tiba muncul sesuatu di sampingnya bagaimana? Jadi, pilihan terbaiknya adalah ia harus berada di samping Zayn apapun yang terjadi.


Mereka berjalan mendekati wanita yang masih menangis itu. Langkah mereka ternyata di sadari oleh wanita itu, ia pun mendongak kan kepalanya melihat siapa yang mendekati nya itu.


Saat wajah wanita itu terangkat Zayn tersentak, ia membulatkan matanya tak percaya. Hal sama pun di lakukan oleh wanita yang sedang menangis itu.


"Loh.. Cellin" Ucap Zayn..


.


.


.


.


.


.


Bersambung....


...----------------...


Holla hello Readers tercintah ❤️❤️ ❤️ Like, like, komen, bunga sama kopinya jangan lupa yah..


Happy reading all ❤️❤️❤️