I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 35



Nenek Nita POV


Saat kehidupan yang semakin menggila dan tak terkendali, kebaikan dan keramah-tamahan hanyalah ilusi. Tak ada sesuatu yang di berikan atas dasar "Ikhlas" percayalah semua itu hanya kepalsuan. Aku sudah hidup puluhan tahun, tak juga ku temukan kebaikan atas dasar kemanusiaan. Semuanya membutuhkan imbalan.


Karena hal itulah selalu aku tanamkan pada anak cucuku "Jangan memberi jika tak akan kembali" Itulah motto hidupku. Bukannya tak bersyukur, tapi rasanya hidup ini tak adil, karena sekali memberi mereka akan datang kembali, tapi saat aku membutuhkan uluran tangan mereka kebaikan yang ku lakukan dengan "Ikhlas" justru tak membuat mereka mau menolongku dan aku benci hal itu.


Aku di kenal dengan nenek lintah darat, tak apa aku tak masalah justru aku menyukainya karena dengan julukan itu orang-orang akan segan denganku.


Bukan tanpa sebab aku di beri julukan seperti itu, karena segala kebaikan ku harus kembali dan tentu harus menguntungkan. Apalagi sesuatu yang bernama uang.


Jika uang ku melimpah, maka orang-orang akan segan dan menghormatiku. Namun sebaliknya, jika aku tak punya uang orang-orang tak akan pernah mau mengenal atau sekedar melirikku. Ini adalah hukum alam yang kaya yang berkuasa.


Tak ku pedulikan bagaimana aku mendapatkan kekayaan ini, termasuk menukar cucu kesayanganku dengan sejumlah harta, akan ku lakukan. Lagi pula anak itu bukan lagi anak manis yang baik hati dan penurut, sekarang dia lebih sering membangkang dan membantah ucapanku. Bahkan dia pernah beberapa kali kabur. Setidaknya dia harus bermanfaat hidup di dunia ini.


"Mah" Sapa anak laki-laki sulungku, dia adalah ayah Tasya yang entah dimana keberadaan anak itu sekarang.


"Kenapa, nak?" Tanyaku lembut. Setidaknya aku ingin terlihat seperti ibu yang baik di depan anak-anak ku.


"Tasya bilang besok dia akan pulang, Alam harap gadis itu tak lagi memberontak" Ujarnya Aku pun merasakan perasaan yang sama.


Sebenarnya Tasya adalah gadis yang penurut, hanya saja semenjak dia kenal dengan laki-laki bernama Ata membuatnya menjadi sosok yang sering membantah dan yang lebih parahnya lagi ia bisa membentak kami selaku orang tuanya padahal sebelum itu Tasya anak yang penurut dan membanggakan, karena hal itu juga aku sangat menyayangi nya. Tapi, semuanya berubah saat anak yang tak jelas asal usulnya itu muncul di kehidupan kami. Inilah alasanku membencinya, laki-laki itu membawa pengaruh buruk untuk cucuku.


"Hmm... Aku pastikan kali ini dia tidak akan bertindak bod*h" Tukasku mantap. Aku sudah mempunyai rencana licik untuk membuat Tasya tak berkutik. Apalagi dia tak bisa menemukan keberadaan Attanya itu.


.


.


Nenek Nita POV end


.


.


.


Seperti yang sudah kami rencanakan, setelah sarapan beberapa karyawan tampak berpencar. Ada yang hanya menikmati liburan di kolam renang yang ada di hotel, ada juga yang bermain banana boat, ada juga yang sekedar berenang di pinggir pantai.


Sedangkan aku sendiri ikut bersama Nakula, Disty dan beberapa orang lainnya untuk snorkeling. Kami harus menggunakan perahu untuk bisa sampai di view bawah laut yang indah. Tak terlalu jauh tapi cukup dalam.


Ada sekitar lima perahu yang menuju tempat ini dan tiap perahu berisi sepuluh orang. Aku duduk bersama Disty, sedangkan Atta duduk bersama Nakula, yang membuatku malas ternyata kami satu perahu dengan trio ulat bulu. Aku harap mereka tak mencari gara-gara denganku, karena kalau sampai hal itu terjadi bisa di pastikan aku yang akan kalah. Ini di laut dan ini adalah kelemahanku.


Aku suka naik perahu tapi tidak untuk berenang. Jadi kalau sampai mereka menyerang ku dan aku terjun bebas ke dalam air laut itu, sudah di pastikan.. Nyawaku taruhannya.


Sampai di tempat tujuan, aku hanya duduk manis di atas perahu dengan bapak nelayan dan aku menjadi fotografer dadakan untuk Nakula dan Disty. Mereka tengah bersiap-siap memakai kacamata renang yang ada pipa panjangnya, aku tak tahu apa namanya karena memang aku tak tertarik untuk tahu.


"Lo beneran ngga mau ngikut ke bawah?" Tanya Nakula masih mencoba membujuk ku dan aku hanya menggeleng kan kepala seraya tersenyum manis.


"Ayo ikut aja, nanti pacar kesayangan mu ini pasti jagain kok" Ujar Atta benar-benar membuatku geli apalagi Disty dan Nakula malah terkekeh, seolah tengah meledekku.


"Engga!! Kalian turun aja, nanti gue fotoin dari sini ya. Udah gih turun" Ujarku berusaha menyakinkan mereka.


"Lo beneran, Car?" Tanya Atta lagi. Dia hanya memanggil ku car? apa maksudnya dia menyingkat panggilan pacar jadi car? Astaga!


"Iya, udah Lo pada turun sana. Bawain gue kupu-kupu, yah?" Ujarku menbuat mereka mengernyit.


"Emang di bawah laut ada kupu-kupu? Di sini kan ngga ada taman bunga" Gumam Disty dan di balas anggukan kepala oleh Nakula


"Ada Butterfly fish" Ujarku.


"Ya udah ayang ngangon dua bocah dulu ya. Mbeb di sini aja tungguin pangeran berkuda mu ini kembali" Ujar Atta seraya mengelus lembut pipiku. Kata-kata nya itu sungguh membuat perutku mual. Untuk anak ABG mungkin akan terdengar indah, tapi untuk aku yang sudah cukup dewasa di panggil seperti itu justru membuat telingaku sakit.


"Atta!!! Bisa ngga sih panggilan nya yang normal dikit. Geli tau ngga dengernya!" Gerutuku dan malah di balas kekehan olehnya.


"Kamu lucu deh kalau lagi kesel gitu, Sya. Aku ngga jadi turun deh, mojok aja di sini sama kamu"


"Apa sih, udah sana... Yang lain nungguin tuh" Ujarku pelan seraya membuang muka, menghindari tatapan nya. Ku rasa saat ini pipiku merona.


"Duh manis banget sih, cium boleh ngga?" Candanya sambil memajukan wajahnya ke depan wajahku sontak saja hal itu mengejutkan ku dan membuat jantung ini rasanya mau terjun bebas.


"Nih... Cium!!!" Geram ku sambil menunjukan kepalan tangan ku di depan wajahnya.


"Ck, jadi cewek tuh jangan galak-galak. Ya udah lah kalo ngga mau...


Cup...


Apa, apa dia baru saja mencium tangan ku?


Blussss


Seketika pipiku menjadi merona, ku pandangi tangan yang tadi di kecupnya. Singkat tapi terasa hangat, dan hangatnya sampai ke dalam hatiku.


Tak lama kemudian setelah bujukan mereka gagal akhirnya mereka terjun satu persatu hingga tersisa aku, pak nelayan, dan trio ulet bulu. Mereka masih bersiap-siap.


Cekrek... Cekrek...


Aku mengambil beberapa potret Nakula di permukaan air. Berbagai gaya ia perlihatkan, aku jadi terkekeh kala mengingat pertemuan pertama kami. Saat itu ia sangat irit bicara, bahkan melirik ku pun tidak. Sempat terpikir olehku kalau dia tak bisa bicara malahan. Tapi sekarang, lihatlah dia jadi sosok yang menyenangkan.


Puas berpose mereka bertiga mulai berenang menjauh untuk menikmati keindahan bawah laut yang di tawarkan. Aku yang bosan pun mulai mengambil beberapa gambar.


"Ck! jelek! ketahuan banget takutnya" Gerutuku saat melihat hasil jepretan ku. Wajah yang tegang dan pelampung ini.. Terlihat memperburuk penampilanku, padahal aku sudah berdandan cetar membahana seperti ini.


"Gue buka aja kali, ya. Ngga papa kan ya?" Gumamku.


"Tapi, kalau di buka terus gue nyemplung ke sana gimana?"


"Tapi, ini jelek"


Setelah berdebat dengan batinku akhirnya aku putuskan untuk membuka sebentar jaket pelampung untuk mengambil beberapa gambar di ujung perahu.


Di atas perahu hanya ada aku dan pak nelayan, trio ulat bulu sudah turun. Jadi, aku rasa tak masalah kalau membuat pelampung ini sebentar. Tidak akan mungkin juga mereka tiba-tiba nongol dan mendorongku kan? Lagian aku juga aneh, sudah tau tak bisa berenang tapi tetap saja ngeyel pengen ngikut, sekarang jadi repot sendiri kan.


"Nah... ini baru bagus" ujar ku kala melihat hasil jepretan ku.


"Oh... Hay girl!! lihat ini! siapa yang di sini sendirian?" Pekik sebuah suara yang mengejutkan ku. Aku terlalu fokus pada ponsel hingga tak menyadari kehadiran trio ulat bulu.


"Oh ternyata sang *****" Ujar si perempuan yang berambut sebahu, aku tak tahu namanya, tapi hanya dia yang suka sekali mengajak ku berdebat.


Sekarang apa ini? Apa kekhawatiran ku akan menjadi kenyataan? Apa aku akan di kroyoknya. Ck mana pelampung ku ada di samping mereka berdiri pula. Posisiku yang berada di ujung perahu sangat tak menguntungkan.


Tubuh ku rasanya gemetar sekarang, entah kenapa aku merasakan firasat yang kurang baik.


"Mau apa lagi kalian? bukankah aku sudah tak lagi berada di sekeliling tuan Abi, seperti permintaan kalian?" Tanya ku tenang, tapi jujur saat ini badan ku tak berhenti bergetar dan ku harap mereka tak menyadari gelagat tubuhku yang tak biasa ini.


"Iya sih, tapi kau masih menganggu pandangan kami, apalagi kau malah dengan berani mengaku pacaran dengan Zayn? Kau tak tahu kah Zayn itu hanya milik gue!!" Pekik wanita berkacamata dan aku juga tak mengetahui namanya.


"Hahahaha... Jadi, kalian repot-repot mengikuti ku hanya untuk bilang seperti itu? Jika dia memang milikmu, ambillah itu pun kalau Zayn sudi melirik salah satu di antara kalian" Ucapku dan sesaat kemudian aku merutuki kebod*hanku. Karena, ucapanku yang terlalu jujur mereka tampak tersulut emosi.


Mereka mendekatiku dengan tatapan yang siap mencabik-cabik mangsanya. Ku lihat pak nelayan berjalan menghampiri kami, mungkin ia takut kami akan bertengkar di sini dan berakhir menghancurkan perahunya.


Selangkah mereka mendekat, selangkah pula aku mundur. Aku kesulitan menelan Saliva ku sendiri, dan ku rasa wajahku mulai pias.


"Lo takut?" Ucap Maya seraya tersenyum memandangi ketakuatanku. Tidak, itu bukan senyuman itu lebih ke seringaian.


Aku terpojok, benar-benar terpojok. Saking gugupnya aku tak menyadari jika di belakang ku tak lagi ada pijakan, dan tanpa bisa di cegah hal yang ku takutkan terjadi.


Byuuuuurrrrrrr


Aku merasakan dinginnya air yang menyesakkan dadaku. Aku tak bisa berenang! Aku meronta mencoba meminta pertolongan pada siapa saja tapi lama-lama rasanya kesadaranku menghilang.


Apa aku akan berakhir di sini?


Apa aku akan mati?


Pasti aku akan mati di sini!!


Gelap.. Semuanya gelap..


.


.


.


.


.


Bersambung....