
Setiap makhluk hidup pasti akan kembali kepada-Nya, tak ada satu pun yang luput dari Takdir-Nya. Namun sebagai manusia biasa, rasa kehilangan pasti ada. Sedih dan kecewa, merasa hidup ini tak adil tengah Disty rasakan. Disaat dia begitu memperjuangkan segalanya Disty justru kehilangan orang yang selama ini menjadi alasannya bertahan sejauh ini.
Ibu...
Satu sosok yang begitu Disty sayangi, namun malam ini dirinya harus menerima kenyataan pahit saat sang Maha Pencipta mengambil kembali satu-satunya harta yang berharga dalam hidupnya.
"Huuuu... Bu, Kenapa ibu tega ninggalin Disty sendiri?" Disty masih tak percaya jika dirinya kini sendirian. Ia terus menangis dan berbicara di samping jenazah ibunya berharap ibunya mendengarkan dirinya dan membuka matanya. "Ibu bilang.. Ibu ngga akan ninggalin Disty sendiri, tapi kenapa ibu bohong? ... huuuhuuhuu."
"Ayo bangun, bu. Ayo kita pulang! Disty takut Bu.. Huhuhuhul," Tangis pilu Disty membuat siapa saja yang mendengarnya ikut merasakan kepilauannya. Nakula pun tak bisa menahan air matanya, ia menyentuh pundak Disty yang masih memeluk jenazah ibunya.
"Nakul.. Ibu.. kenapa ibu masih menutup matanya? Ini mimpi kan? ini pasti mimpi! ibu ngga mungkin tega ninggalin aku sendiri kan, Nakul. Ibu pasti sedang membuat kejutan untukku kan? iya kan? huuu.. Ibu.." Disty tak sanggup melanjutkan ucapannya, ia kembali terisak di dalam pelukan Nakula.
Sungguh Nakula tak ingin melihat wanita yang ia cintai ini bersedih. Ia tak sanggup melihatnya.
"Dis.. kamu harus ikhlas, ibumu sudah tak lagi merasakan sakit. Kamu ngga boleh begini.. ibumu sekarang pasti sedih melihat anak kebanggaanya ini menangis." Tutur Nakula mencoba memberikan Disty semangat sambil mengusap punggung wanita itu. Disty semakin terisak dan mengeratkan pelukannya.
"Kamu masih ada aku kan? aku ngga akan bilang mengantikan ibumu, tapi di depan jenazah ibumu aku berjanji akan menemanimu apapun yang terjadi." Ujar Nakula membuat Disty mendongakan kepalanya menatap mata Nakula mencari kebenaran atas ucapan laki-laki ini.
"Jadi aku mohon jangan selalu merasa sendiri, aku akan selalu bersamamu." Tukas Nakula lagi dengan senyuman yang begitu menenangkan.
Perlahan Disty melepaskan pelukannya dan menghapus kasar air matanya. Disty sudah lebih tenang sekarang meski kesedihan masih terlihat jelas di wajahnya namun kini ia tak lagi terisak.
Disty kemudian memandang sekali laki wajah tenang ibunya dan mencium kening sang ibu dengan penuh cinta dan kepedihan. Sungguh hatinya merasa begitu sakit, butuh waktu untuk bisa menerima kenyataan bahwa kini ia sebatang kara.
"Istirahat lah dengan tenaga, Bu. InsyaAllah Disty ikhlas."
Disty memutusakan akan menguburkan jenazah ibunya di kampung halaman sang ibu, karena itu setelah jenazah sang ibu selesai di mandikan dan di kafani Disty dan Nakula kini dalam perjalanan menuju kampung halaman sang ibu.
Sebelumnya Nakula menyelesaikan segala admistrasi atas nama Almarhumah ibu Disty. Namun, ternyata Disty baru melunasi setengah tagihan perawatan ibunya. Nakula bimbang saat melihat nominal yang tak sedikit itu.
"Sebanyak ini? Tabungan gue selama kerja ngga mungkin cukup." Gumamnya dalam hati.
"Ada sih tapi kalo gue paksain bisa aja Minggu depan gue ngga makan." Nakula kini benar-benar bingung di satu sisi ia tak ingin membebankan Disty dengan masalah biaya rumah sakit meski memang itu adalah kewajibannya tapi dia tahu Disty tak punya cukup biaya untuk membayar semuanya. Terbukti Disty mengambil pekerjaan sampingan yang cukup nekad demi mendapatkan uang lebih cepat.
"Gimana, mas?" Suara seorang suster yang bertugas di bagian admistrasi, karena saat ini Nakula masih berada di sana.
Nakula menghembuskan nafasnya kasar kemudian mengeluarkan dompetnya dan mengambil sebuah blackcard. Ia pandangi kartu tersebut cukup lama seolah ragu untuk menggunakannya.
"Sudah lebih dari satu tahun gue ngga lagi make kartu ini. Gue harap masih bisa di pake." Gumamnya lagi dalam hati sebelum menyerahkan kartu tersebut pada suster. Ia tarik nafas dalam sekali lagi.
"Coba pake ini, sus. Kira-kira masih bisa di pakai tidak." Suster segera melakukan apa yang Nakula pinta dan ternyata transaksi berhasil.
"Apa boleh buat. Gue berharap mereka ngga menyadarinya. Bisa bahaya kalau sampai mereka menemukan gue, lagi." lagi Nakula hanya berbicara di hatinya.
****
Di tempat lain, seorang wanita tengah menonton sebuah film Korea di layar televisi berukuran besar yang ada di ruang santai sebuah apartemen.
Gadis itu tengah menonton sambil merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di ruangan tersebut. Di sampingnya, tepatnya di lantai ada sewadah popcorn yang isinya tinggal setengah. Sampah berbagai makanan ringan dan minuman kemasan berserakan di lantai. Sedangkan si wanita tampak tak peduli dengan keadaan yang begitu berantakan ia masih asik mengikuti film yang di tontonnya dan sesekali tampak ia menguap.
Ceklek
Terdengar suara pintu yang di buka namun si wanita tak mendengarnya karena asik dengan film yang di tontonnya dan lagi ruangan itu memang ada di lantai dua.
Abi si pemilik apartemen baru saja pulang karena hari ini pekerjaannya cukup banyak hingga mau tak mau ia harus lembur. Saat pertama kali membuka pintu pemuda itu sedikit mengrenyitkan dahinya merasa samar-samar mendengar suara televisi. Maka dari itu, Abi melangkah dengan perlahan agar tak menimbulkan suara apapun. Abi penasaran siapa yang berani masuk ke dalam apartemennya sedangkan keamanan di gedung ini sangat ketat.
Sedangkan wanita itu sama sekali tak menyadari kehadiran Abi dibelakangnya. Ia semakin terhanyut dalam film yang ia tonton hingga saat di mana dalam televisi itu terlihat sang tokoh utama wanita meninggal karena suatu penyakit membuat wanita yang sedang menonton itu ikut meneteskan air matanya bahkan air matanya begitu deras mengalir.
Wanita itu meraba-raba meja di depannya mencari tissue untuk menghapus air matanya sedangkan pandangan wanita itu masih terfokus pada layar televisi. Sadar apa yang di carinya tak juga terjangkau oleh tangannya, wanita itu pun melihat ke arah meja kemudian menggerutu saat menyadari tak ada tissue di sana.
"Ck! Kenapa gue lupa nyiapin tissue sih. Hiks.. hiks.. Shrooottttt." Gerutu wanita itu sambil menyusut ingusnya yang meler. Abi yang berada di belakang wanita itu meringis geli, ia pun merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan kemudian menyodorkan ke samping wanita itu.
Melihat ada sebuah tangan yang terulur memberikan sebuah sapu tangan, dengan cepat ia mengambilnya tanpa melihat ke belakangnya.
Sesaat kemudian setelah ia mengelap air mata sekaligus ingusnya, wanita itu tersentak dengan mata membola sempurna saat teringat jika di apartemen itu ia hanya sendirian. Wanita itu menelan salivanya dengan kasar.
"Apa ada makhluk lain di apartemen ini?" pikirnya dan dengan tubuh yang tampak kaku pun jantung kini berdebar tak karuan, wanita itu memutar kan badannya dengan perlahan untuk melihat siapa yang tadi telah memberinya sapu tangan. Meski ia takut dan ragu tapi rasa penasaran mengalahkan semua itu. Dan keterkejutan nya semakin nyata kala Abi saat ini sedang menatapnya dengan tajam dan kedua tangan yang menekan pinggang.
"Aaaaaahhh.. Setaannn!!!!!" Pekik wanita itu terkejut sambil menunjuk ke depan wajah Abi dan satu tangannya menutup telinganya sendiri.
Aneh memang! bukannya jika kita merasa takut akan menutup mata atau wajah tapi wanita itu justru menutup satu telinganya.
Pletak..
Abi menyentil kencang kening wanita itu hingga menimbulkan rasa panas dan perih di sana dan tentu saja tanda merah terlihat jelas karena kulit wanita itu begitu putih.
Wanita itu mengusap keningnya yang terasa perih dan memicingkan matanya menatap Abi kesal, jangan lupakan bibirnya yang pink alami itu mengerucut lucu.
"Setan embah mu!! Dasar ngga sopan!" Ketus Abi kesal karena wajah tampan nya di samakan dengan setan, yang benar saja!.
"Sakit tau, Bang!" Keluh wanita itu.
"Itu hukuman untuk mu. Sudah lancang masuk ke rumah orang sembarangan menyampah pula. Lihat! Ya ampun, dek! kamu itu dokter loh tapi kok jorok gini sih?" Keluh Abi tak habis pikir karena adik sepupunya itu membuat ruangan bersantainya kotor.
"Ya elah baru juga segini, bang. Entar juga bersih lagi." Sahut wanita itu santai ia justru sekarang sudah kembali duduk dan melanjutkan kegiatan menontonnya sambil memakan popcorn yang tinggal sedikit lagi.
"Siapa yang bakal beresin ini, dek!" Keluh Abi.
"Ya Abang lah!!" Sahut wanita itu santai.
.
.
.
.
.
Bersambung...
...----------------...
😝 Ganteng juga buat apa kalau masih jomblo, Bi 🤣🤣 Ada yang bisa nebak siapa wanita itu?
Holla hello Readers tercintah ❤️❤️ jangan lupa lemparin Nucha jempol sama gifnya yah ☕🌷 Lophe you phlen ❤️🤗