
"Bisa jalan lebih cepat, tidak? Jalan mu lama sekali. Dasar siput!"
Aku mendecakkan lidah di belakang punggungnya. Sumpah yah, ada gitu manusia berhati batu seperti dia ini. Sudah jelaskan ini semua juga salahnya yang tidak mau mendengarkan penjelasan ku.
Aku mencoba berjalan dengan lebih cepat meski beberapa kali aku hampir terjatuh. Aku yakin orang yang melihat cara jalan ku pasti akan tertawa. Sudahlah tidak bisa memakai sepatu berhak ini di tambah jalan yang harus di lewati adalah jalanan berbatu dan masih tanah merah karena belum tersentuh perbaikan.
Dengan susah payah, akhirnya aku bisa menyusul Pak Zayn yang sudah lebih dulu sampai dan sedang berbicara dengan pak kepala proyek.
"Cepat catat apa saja yang penting! Dasar lelet!" Perintahnya, tak lupa ia juga mencibir ku.
Dia pikir aku ini pohon pisang apa, punya jantung tapi tak punya hati. Jika terus-terusan menghina ku seperti itu lama kelamaan aku juga akan sakit hati. Walau dengan hati dongkol akut karena sedari tadi ia tidak berhenti menghina, aku tetap melakukan apa yang dia perintahkan.
Tak terasa diskusi kami memakan waktu yang cukup lama, sekitar empat puluh lima menit. Yang lebih mengesalkan, para laki-laki ini tak mempedulikan wanita seperti ku. Mereka asik berdiskusi dengan posisi masih berdiri mengelilingi sebuah meja persegi panjang, di atasnya terdapat cetak biru denah taman ini nantinya.
Sumpah ya, hari ini adalah hari terburuk selama aku bekerja. Kakiku sampai kebas, sakit, dan perih juga. Aku yakin tungkai kaki ku pasti sekarang sudah lecet-lecet.
"Terimakasih, Bapak sudah mau menyempatkan diri meninjau kemari," Ujar kepala proyek menandakan berakhirnya diskusi kami.
Pak Zayn tersenyum ramah dan menerima uluran tangan pak kepala proyek. Dengan orang lain saja dia bisa tersenyum, giliran dengan ku marah-marah Mulu. Heran deh!.
Kami akhirnya pamit kembali ke kantor. Rasanya aku ingin menangis hari ini benar-benar menguji kesabaran ku.
"Hei, Siput! Astaga! Lama sekali, cepat sedikit!" Teriak Pak Zayn, saat aku tertinggal jauh darinya. Tak ku pedulikan teriakannya itu, aku tetap berjalan dengan hati-hati. Bukan hanya karena tak nyaman tapi kaki ku memang terluka.
Setelah cukup lama berjuang, akhirnya aku bisa sampai juga di depan laki-laki dingin dan kaku yang sudah memasang ekspresi tak bersahabatnya.
"Kamu-" Ia menatap ku dengan kesal, namun belum selesai ia berbicara aku sudah lebih dulu memotong ucapannya. Karena yakin yang akan keluar dari mulutnya hanyalah hinaan jadi akan lebih baik bicara duluan.
"Pak, saya lapar. Ayo kita makan dulu,"
"Kamu memerintahku?" Tanyanya tak percaya apalagi saat aku langsung masuk ke dalam mobil tanpa mempedulikannya.
Kesal kan, sesekali orang tidak peka sepertinya memang harus di kasih pelajaran biar tidak 'tuman'
"Ayo pak, buruan!" Seru ku lagi dari dalam mobil, karena pak Zayn sama sekali tidak beranjak. Dia masih berdiri di samping mobil.
Pak Zayn beranjak dan mulai memutari bagian depan mobilnya. Aku tersenyum melihatnya menggerutu di luar. Rasakan pembalasanku, huahahaha!
Mobil akhirnya melaju membelah jalanan yang padat siang ini. Tidak butuh waktu lama, kami akhirnya tiba di restoran.
Kami turun dari mobil, namun baru beberapa langkah lagi-lagi aku tersungkur. Membuat pak Zayn menatap ku heran karena tanpa sebab tiba-tiba aku tersungkur ke tanah.
"Malah nemplok di tanah, mau cosplay jadi kadal kamu?" Ketusnya dan seketika membuatku menatapnya sinis. Yang mau duduk di sini juga siapa? Karena kesal aku melemparkan sepatu ku ke arahnya. Sepertinya batas kesabaran ku sudah habis.
"Hei! Kamu apa-apaan sih!" Sentaknya tak menyangka mungkin karena mendapat serangan tiba-tiba dari ku.
"Bapak yang apa-apaan, saya sudah bilang saya tidak bisa pakai sepatu itu tapi bapak tidak mau dengar. Lihat! Sekarang saya terluka malah bapak ejek. Dimana hati nurani bapak sebagai manusia? saya juga sakit, pak!" Tukas ku sambil menunjuk dadaku sendiri dan mendramatisir ucapanku membuat pak Zayn menatap ku malas.
"Ngga usah banyak drama. Bangun!" Ujarnya sembari meraup mukaku membuatku reflek menepis tangannya kasar. Benar-benar tidak ada sopan-sopanya.
Setelah mengganti sepatu ku dengan sendal jepit milik pak Zayn yang selalu ia bawa kemanapun, kami saat ini sudah duduk manis menunggu pesanan makan siang kami. Tak ada obrolan di antara kami, karena aku masih kesal dengannya begitu juga pak Zayn, mungkin ia juga masih kesal karena sikap ku yang terlalu berlebihan.
Beberapa saat kemudian kami sudah kembali berada di parkiran hendak kembali ke kantor. Namun, belum sempat langkah sampai di mobil, terdengar suara merdu dan lembut dari balik punggungku.
"Zayn!" Panggil seseorang yang ku yakini adalah seorang wanita.
Pak Zayn reflek menoleh ketika mendengar namanya di panggil namun detik selanjutnya ia tampak tertegun, membuat ku penasaran dan segera menoleh. Siapa sebenarnya yang bisa membuat orang kaku bak kanebo kering ini menjadi bertambah kaku.
Seorang wanita cantik nan berkelas tersenyum ramah ke arah kami, lebih tepatnya ke arah pak Zayn. Rambut coklat gelap sebahunya ia biarkan tergerai indah. Di belakang wanita cantik ini, berdiri seorang wanita muda yang membawa banyak dokumen.
"Zayn, tidak menyangka. kita bertemu lagi di sini. Apa kabar?" Tanya wanita ini.
Pak Zayn tampak berdehem sebelum membuka suara.
"Hai, Cel. kabar gue baik," Ujar pak Zayn singkat.
"Lo?" Wanita ini mengalihkan pandangannya padaku. ia memperhatikan ku dari atas sampai bawah dan sesekali ku lihat ia tampak mengernyit walau tak ketara namun aku sempat menyadarinya. Entah apa yang di fikiran wanita ini.
"Ah ini, ini pacar gue," Sahut pak Zayn cepat membuatku tersentak begitu juga dengan wanita ini. Aku sudah hendak protes tapi posisi kami yang memang sejajar dan pundak kami menempel membuat pak Zayn dengan leluasa mencubit lenganku sebagai kode, tanpa di sadari oleh wanita di depan kami.
"Ah, Zayn bercanda lo itu ngga lucu," Sahut wanita ini tak percaya. Namun, saat tangan pak Zayn yang melingkar di pinggangku berhasil membuatnya terbungkam.
Ia menatap ku tajam, seolah siap mengibarkan bendera perang. Sedangkan aku sendiri di buat bingung dengan situasi yang terjadi di sini. Ada hubungan apa sebenarnya antara mereka, dan kenapa juga aku harus di tarik terlibat di kisah mereka.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun wanita ini pergi meninggalkan kami. Pandanganku mengikuti kemana Wanita itu pergi hingga tidak terlihat lagi di mataku dan ketika aku memalingkan wajah bermaksud untuk protes pada pak Zayn aku di buat terkejut, karena sepasang mata dingin pak Zayn yang selalu ia tunjukan padaku tengah mantap ku tak berkedip.
Namun, kali ini bukan tatapan dingin seperti biasa justru yang ku lihat tatapannya berubah sayu ketika pandangan kami bertemu.
Deg...
Deg...
Deg...
Jantung ku rasanya berdetak lebih cepat kala mata kami bertemu. Aku pun merasa panas di area wajahku.
Pak Zayn masih menatap ku lekat, tak tahu apa yang di fikirkannya. Aku sadar tapi entah kenapa tubuh ini seperti membeku tak bisa ku gerakan walau ingin.
"Terimakasih... Sasya," Ujarnya, kemudian ia berlalu begitu saja, meninggalkan ku yang masih terpaku di tempat.
Sasya? Nama ku kan Tasya. Lalu wanita siapa yang dia panggil itu. Tapi... kenapa nama itu serasa tak asing, ya?
.
.
.
.
Bersambung...