
"Untung ada dia, jadi gue bisa lolos"
"Lagian jatoh di mana lagi tuh dompet? malu-maluin abis sumpah!" gerutu Angel saat sudah jauh dari tukang bubur tadi.
Angel bukannya tak mampu bayar, hanya hari ini nasib si*l sedang menghampirinya, mungkin. Pagi tadi Angel dan dua orang temannya melakukan kegiatan rutin akhir pekan nya untuk joging di taman tak jauh dari rumahnya.
Beberapa waktu yang lalu ia berpisah dengan dua sahabatnya karena ada urusan mendadak katanya.
Seperti biasa, setelah selesai ia akan mencari sarapan. Kebiasaanya setelah susah payah ia membuang kalori dan lemak jahat dalam tubuh, tapi tak lama kemudian ia pun memasukan kembali lemak yang terbuang. Aneh tapi ya, memang seperti itu lah sosok Angela Hastania Fashanu. Walau ia dokter namun ia jarang sekali menerapkan gaya hidup sehat yang sering ia gaungkan pada pasien-pasien nya.
Tiba di sebuah halte, Angel menunggu taksi online pesannya. Bukannya ia tak memiliki kendaraannya sendiri, tapi mobil kesayangannya masih berada di bengkel usai mogok kemarin. Oleh sebab itu Angel bisa berada di pinggir jalan dan bertemu dengan Rizky.
"Semoga ini pertemuan ketiga dan terakhir gue sama tuh cowok nyebelin" ucapnya sambil sesekali melihat ke kiri dan kanan, menunggu taksi yang akan menjemputnya.
Dari jauh seorang laki-laki yang menaiki motor sport berwarna hitam, melihat Angel dari kejauhan.
"Ini dia... Gue kerjain balik nih cewek!" Gumamnya kemudian ia menaikan kecepatan laju motornya. Bertepatan dengan itu Angel bangkit dari tempat duduknya dan maju satu langkah ke depan hingga berdiri tepat di ujung trotoar, dan ia tak menyadari ada sebuah genangan di depannya hingga sebuah motor melaju kencang di depannya dan..
Byuuuuurrrrrrr...
"Akhhhhh!!!" Pekik Angel saat dinginnya air kotor itu mengguyur sebagian baju kaos dan juga celana training nya. Bahkan wajahnya pun tak luput dari sapuan air tersebut.
"Akh!!! Ya ampun!!" Pekiknya sambil mengusap wajahnya yang basah.
Pengendara motor yang tak lain adalah Rizky itu berhenti hanya untuk melihat ekspresi menderitanya Angel. Dari balik helm full facenya Rizky mengembangkan senyum penuh dengan kemenangan, karena merasa berhasil membalas perbuatan wanita itu yang berani memukul perutnya.
"Woi!!! Ngga punya mata Lo, ya!!?" Pekik Angel memaki pengendara motor yang membuatnya jadi teramat kotor seperti itu. Angel tak tahu saja jika yang melakukan hal itu adalah Rizky. Jika saja ia menyadarinya sudah di pastikan api permusuhan di antara keduanya semakin berkobar.
"Woi!!! Tanggung jawab, Lo!!" Pekiknya lagi karena Rizky malah melajukan kembali motornya meninggalkan Angel yang tengah mengeluarkan tanduknya itu.
"Awas aja kalo ketemu lagi, gue tendang tuh bok*ngnya sampai ke Pluto" Gerutunya kesal. Benar-benar hari yang si*l sudahlah dompetnya hilang, malah kena guyur air kotor pula.
.
.
.
.
Tok...Tok..Tok..
Pintu ruang meeting room yang penuh ketegangan itu di ketuk dari luar, membuat keputusan yang baru saja akan Abi keluar kan dari bibirnya terjeda.
"Masuk!!" Teriaknya dan tanpa menunggu waktu yang lama pintu tersebut di buka dan terlihat lah dua orang karyawan nya.
Mereka berjalan dengan perlahan karena kaki dari si wanita yang tak lain adalah Tasya itu masih terasa lemas. Sedangkan Zayn senantiasa melingkarkan tangannya pada bahu Tasya, bermaksud untuk memapah gadis itu.
Tasya sebenarnya di anjurkan untuk menggunakan kursi roda, namun bukan Tasya namanya jika mau menuruti ucapan dokter. Ia meninggalkan kursi rodanya di lobby, karena menurutnya kursi roda hanya untuk orang yang tak bisa jalan. Sedangkan dia merasa dirinya baik-baik saja karena itu Tasya memaksa untuk di rawat di rumah saja.
Saat di rumah sakit begitu Tasya siuman, Zayn menceritakan kehadiran Abi yang pergi begitu saja setelah mengatakan akan memberikan pelajaran pada Maya cs. Mendengar hal itu tentu saja membuat Tasya khawatir, karena biar bagaimana pun Maya tak bersalah. Jadi, Tasya memaksa dokter yang menangani nya untuk bisa di rawat di rumah saja.
Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya Tasya pun di izinkan pulang dan di sinilah mereka kini berada.
"Loh, Nem ko kamu udah keluar?" Tanya Abi heran sekaligus lega ia bahkan sampai beranjak menghampiri Tasya.
"Iya, tuan. Saya ngga apa-apa. Karena itu jangan apa-apakan Trio ulat bulu ini, tu-"
"Heh!!! Siapa yang Lo panggil ulat bulu, hah!!?" Sentak Sindy sahabat Maya yang berambut pendek sebahu. Dia yang suka sekali beradu argument dari pada Maya dan juga Irma si wanita berkacamata. Mendengar Tasya menyebut mereka ulat bulu tentu saja Sindy tak terima. Baginya yang ulat bulu itu Tasya karena sudah menggoda Zayn, malah kini mereka pacaran.
Tasya tak menanggapi ucapan Sindy, malah ia tak menganggap keberadaan tiga orang itu. Ia tetap fokus pada tujuannya datang ke tempat itu.
"Tuan.. Saat di perahu tadi, Saya memang di desak oleh trio ulat bulu itu. Tapi saya jatuh bukan di dorong oleh mereka saya jatuh karena memang terkejut-"
"Tapi... Bukannya Zayn bilang lenganmu tertembak? Dan saya tidak akan mentolerir karyawan saya ada yang membawa senjata tajam apa lagi sampai di gunakan untuk aksi kejahatannya. Itu sudah sangat keterlaluan" Tutur Abi bahkan ia menyela ucapan Tasya saking geramnya dengan tingkah Maya cs itu.
"Tunggu!!! Maksud tuan? Tuan menuduh kami melukai cewek kegatelan ini dengan menembaknya? Kalau saya saya lebih suka menembak langsung isi kepalanya dari pada hanya sekedar lengan!" Tukas Sindy yang lagi-lagi memotong ucapan Tasya saat gadis itu akan menjelaskan.
"Memang seperti itu, dokter sudah memastikan"
"Kami sama sekali tidak membawa senjata api itu, tuan. Bahkan senjata tajam yang lain pun kami tak punya. Kami hanya membawa cermin dan satu kantung penuh alat make up. Kalau tuan tidak percaya tuan biasa periksa sendiri" Ujar Maya yang sedari tadi hanya diam.
"Iya kami sama sekali tidak berniat melukai Cewek kegatelan ini, tapi kalau menghabisinya sih masih kami rencanakan" Tambah Irma yang sedari tadi hanya menyimak. Sontak saja ucapannya itu mendapatkan tatapan tajam dari semua orang di sana.
"Apa? Aku hanya bicara fakta" Ujarnya santai.
Tasya memutar bola matanya malas, dia ingin memihak kebenaran tapi malah tak ada yang mau mendengarkannya. Padahal sudah susah payah Tasya membujuk dokter untuk bisa segera keluar dari rumah sakit dan memberi keterangan sejelas-jelasnya, tapi malah tak ada yang mau mendengarkannya. Tasya menggaruk pelipis dan menghela nafasnya kasar.
"Tuan... Mereka memang tidak membawa senjata api seperti yang tuan tuduhkan. Dan perlu di garis bawahi saya tergores bukan tertembak! Peluru itu hanya menggores lengan saya karena itu saya terkejut dan tak sengaja kaki saya mundur satu langkah dan ternyata tidak ada lagi pijakan. Jadi, saya hilang keseimbangan dan berakhir jatuh ke air" Jelasnya. Akhirnya bisa juga ia menyelesaikan penjelasannya.
Semua orang yang mendengar hal itu tampak terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja Tasya ucapakan.
"Nah kan.. Kami ngga bersalah, tuan!" Pekik Maya membuat semua orang kembali tersadar dari lamunan mereka masing-masing.
"Kamu yakin, Nem?" Tanya Abi tak percaya.
"Iya, tuan"
"Yang jadi pertanyaan sekarang, siapa yang sudah melakukan penyerangan itu?" ujar Zayn yang sedari tadi hanya menyimak.
"Kamu ngga liat sesuatu yang mencurigakan, Nem?" Tanya Abi lagi. Kalau sudah begini itu artinya ada seseorang yang ingin merusak acara tahunan tersebut dan Abi tak mungkin hanya tinggal diam.
"Saya terlalu syok, tuan. Jadi, saya tak memperhatikan sekeliling" Ujarnya lagi membuat keheningan kembali tercipta di ruangan tersebut.
Beberapa saat kemudian mereka satu persatu membubarkan diri setelah Maya cs di bebaskan dari tuduhan. Tiba di luar ruangan, Tasya lagi-lagi di hadang oleh Maya cs.
"Jangan coba-coba menyentuh Tasya. Satu goresan saja kalian torehkan di kulitnya, bakal gue balas lebih menyakitkan. Kali ini kalian selamat karena tak ada bukti yang memberatkan kalian" Tukas Zayn menatap tajam ketiganya. Yang di ancam hanya bisa tersenyum sinis tanpa kenal takut dengan ancaman Zayn tersebut.
"Gue ngga ada urusan sama Lo, jadi lebih baik minggir" Ucap Sindy sinis.
"Urusan Tasya juga urusan gue!!"
"Udahlah Zayn, kamu ini kenapa? mereka ngga akan mungkin ngajak aku adu cakaran di sinis kan? kalau iya itu artinya mereka sedang menggali sendiri lubang kuburannya" Ucap Tasya menengahi perdebatan empat orang ini.
"Minggir Lo!!" Sentak Maya sambil mendorong kasar bahu Zayn.
Maya menatap tajam Tasya yang kini tengah menyenderkan bahunya pada dinding sambil menyilang kan tangannya di depan dada. Satu langkah, dua langkah hingga akhirnya jarak keduanya hanya tinggal beberapa centimeter saja.
Tasya pun membalas tatapan Maya tak kalah tajamnya. Ia bahkan menaikan sedikit dagunya untuk menunjukan sisi kesombongannya.
"Gue.. Ngga tau maksud Lo apa" Ujar Maya dengan nada yang datar.
"Tapi.. Makasih..." Lanjutnya kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Zayn dan Tasya yang masih ternganga dengan apa yang baru saja Maya ucapakan.
"Itu.. Itu beneran Maya bukan sih? Apa kuping gue kemasukan air ya? Jadi pendengaran gue agak terganggu" Gumam Tasya mantap punggung Maya cs yang semakin menjauh.
"Kayaknya kita emang lagi ngimpi, Yank." ujar Zayn yang juga sama terkejutnya dengan Tasya.
.
.
.
.
.
Bersambung...