I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 100



"Jadi, kau dan sepupu gadis aneh itu sekarang berpacaran?" Tanya Abi tak percaya, lebih tepatnya tak ingin percaya saat Angel selesai menjelaskan perihal dirinya yang datang ke ruang rawat Tasya bergandengan tangan dengan seorang pria yang tak lain adalah Rizky.


Angel mengangguk untuk menjawab pertanyaan kakaknya dan hal itu membuat Abi frustasi. "Astaga!" gumamnya sambil mengacak-ngacak rambutnya. Menurutnya kenapa keluarganya harus berhubungan dengan Tasya.


Pertama Tasya bekerja di perusahaannya, kedua Tasya adalah cinta pertama kakaknya, lalu sekarang? Kenapa sepepupu Tasya harus menjalin hubungan dengan sepupunya?


"Apa di sini hanya aku yang tak memiliki pasangan? Oh astaga, kau benar-benar membuatku ingin mencakar wajahmu wahai penulis! Dimana harga diri seorang CEO dan kaya raya seperti ku?" Gerutu Abi dalam hatinya, karena ia tak mungkin mengeluh secara terang-terangan apalagi di depan Angel, itu melukai harga dirinya.


"Tidak ada kah pria lain, dek?" tanya Abi lemah setelah cukup lama terdiam. Mereka sedang berberbicara di depan ruang rawat Tasya, hanya ada mereka berdua di sana.


"Pria lain itu banyak, tapi bagiku hanya dia yang memberikan kenyamanan. Aku merasa bahagia saat berada di dekatnya." Jelas Angel sambil tersenyum begitu manis. Jika membicarakan Rizky, matanya selalu memancarkan binar ketulusan dan itu dapat Abi lihat dengan jelas. Jika sudah seperti itu ia bisa apa?


Abi menghembuskan nafasnya pelan, "Kalau kayak gini kakak bisa apa? Semoga bahagia selalu menyertaimu, dek. Jika dia berani menyakitimu, beri tahu kakak segera, mengerti?!" Ujar Abi tegas. Ia begitu menyayangi adik sepupunya itu, jadi tak akan Abi biarkan Angel terluka meski hanya sedikit.


"Terimakasih, kak. Kakak memang yang terbaik, aku menyayangimu," Ujar Angel bahagia ia memeluk dan mengecup pipi Abi sebagai ucapan terimakasihnya.


"Bisa biasa aja nggak? ngga usah cium-cium segala!" Gerutu Abi kesal sembari mengusap bekas kecupan Angel, namun gadis itu tak peduli ia justru tertawa bahagia bisa membuat kakaknya kesal.


Sedangkan didalam ruangan, Rizky menatap prihatin keadaan Tasya. Ia sudah bertanya pada dokter yang menangani kakaknya itu, Tasya mengalami luka di kepalanya akibat benturan cukup keras namun tak begitu serius. Kakinya patah dan butuh waktu sekitar dua bulan agar Tasya bisa berjalan normal kembali.


"Apa sebenarnya yang lo pikirin sih? Ini sudah kali ke dua lo berakhir di rumah sakit padahal belum ada sebulan kalian jadian. Kalau Atta tak bisa jagain elo kenpa dengan lantang dia mengumbar janji yang begitu manis tapi kenyataanya nol besar. Cih, memalukan!" Gerutu Rizky antara khawatir dan juga kesal. Rizky tentu tahu jika hari ini Tasya akan bertemu dengan Zayn. Karena itu, mendengar kabar Tasya berada di rumah sakit tanpa ada Zayn membuat Rizky begitu kesal.


Gerutuan Rizky terhenti saat melihat jari-jari tangan Tasya yang bergerak dan matanya pun teelihat mengerjap-ngerjap seolah ingin terbuka namun begitu sulit. Rizky tersenyum dan membimbing Tasya agar segera bangun.


"Sya, lo bisa denger suara gue? Ini gue Rizky, buka mata lo pelan-pelan ya? Ayo, Sya! Lo pasti bisa!" Ucap Rizky pelan dan benar kelopak mata Tasya mulai terbuka.


Tasya merasa pandangannya masih samar-samar jadi ia mengerjap kan matanya beberapa kali agar pandangannya menjadi jelas.


"Udah tidurnya?" Pertanyaan dari Rizky membuyarkan ingatan yang baru saja muncul.


"Sshh, kepala gue kenapa sakit banget? Kaki gue juga kenapa ngilu banget Ky?" Keluh Tasya.


"Selamat datang di hotel putih! Mulai hari ini sampai tiga hari kedepan lo akan menjadi salah satu penghuni di sini!" Ujar Rizky, bukannya menjawab pertanyaan Tasya malah berkata yang membuat Tasya semakin pening.


"Akhh.. Ini rumah sakit kan? Apa dokternya cuma elo doang? Gue mau ganti dokter!" Keluh Tasya lemah. "Gue cuma tanya apa yang terjadi, kenapa lo muter-muter. Bikin gue tambah pusing aja!"


"Ck! yang seharusnya tanya tuh gue! Lo itu kenapa sampai bisa ke tabrak mobil? Bukannya lo seharusnya tuh jalan sama si Atta?" Mendengar ucapan Rizky ia kembali teringat saat Cellin mengirimkan foto-foto kebersamaanya dengan Zayn. Mengingat hal itu hatinya kembali sakit dan tanpa di minta air matanya menetes begitu deras. Rizky yang melihat itu bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka.


"Gue minta jangan beri tahu Atta kalau gue ada di sini. Gue pengen menghindarinya." Bayangan penghianatan membuat Tasya tak ingin bertemu dengan Zayn. Meski ia tak tahu kebenarannya namun tetap saja ia tak ingin melihat wajah Zayn atau hatinya akan kembali sakit. Jika benar Zayn mencintainya maka Zayn pasti akan menemukan Tasya dimana pun dia bersembunyi.


"Lo yakin?" Tasya mengangguk pasti untuk menjawab pertanyaan Rizky. "kalau begitu lo harus meyakinkan adiknya juga kalau begitu," Tasya tak mengerti maksud dari ucapan Rizky namun ia segera paham saat pintu ruang rawat Tasya di buka seseorang yang tak lain adalah Abi dan Juga Angel karena mereka sudah selesai berbicara.


Abi melangkah mendekati ranjang Tasya dan tersenyum saat melihat Tasya sudah sadar dari pingsannya. "Bagaimana keadaanmu? Apa yang sakit? Maaf, Rico tak sengaja menabrakmu tadi dia tidak melihat dengan jelas karena hujan begitu deras," jelas Abi penuh penyesalan.


"Dia sedang meeting menggantikan aku,"


"Baiklah, tapi saya punya satu permintaan untuk anda, tuan. Apa anda bisa mengabulkannya,? Ujar Tasya membuat Abi mengrenyit bingung.


"Apa itu?"


"Rahasiakan apa yang terjadi dan keberadaan saya dari Atta. Apa anda bisa?" Permintaan Tasya semakin membuat Abi bingung namun pada akhirnya ia mengangguk tanpa banyak pertanyaan.


"Baiklah,"


****


Langit di atas sudah berubah menghitam tanda malam sudah menyapa. Hujan pun sudah reda sejak sore tadi yang tertinggal hanya genangan air di mana-mana.


Di dalam kamar rawat yang lain, Zayn mulai membuka matanya dan menguap, ia baru saja terbangun dari tidurnya. Zayn meregangkan otot-ototnya karena begitu terasa pegal. Dia rasa sudah lebih baik, Zayn kemudian mengedarkan pandangannya kesekilingnya. Bau obat-obatan dan ruangan yang bernuansa putih.


"Oh, astaga!" pekik Zayn saat menyadari dimana dia sekarang.


"Lo udah bangun, Zayn?" Tanya Celin dengan suara seraknya. Rupanya ia juga tertidur.


"Cel, bagimana keadaan lo?" Zayn ingat kalau dirinya berada di sana karena menunggu Celin sadar dari pingsannya tapi malah tertidur.


"Gue udah baikan kok, besok pagi gue udah boleh pulang. Makasih ya udah mau nungguin gue, lo pasti capek sampe tertidur pules banget," Celin berbicara dengan nada yang begitu lembut, memainkan peran orang baiknya.


"Ah gue minta maaf karena ngga sengaja nabarak elo. Gue ngga liat soalnya gue lagi nyari ponsel gue yang jatoh abis nelfon.." Ucapan Zayn yang mengantung membuat Celin mengrenyitkan dahinya bingung namun sesaat kemudian ia terperanjat kaget karena pekikan Zayn.


"TASYA!! Asataga! gue lupa, gue ada janji sama dia. Gue harus pergi sekarang!" Zayn pun pergi begitu saja tanpa mendengar jawaban dari Celin.


"Tapi.. Zayn!! Tapi.. Tasya mu itu sudah begitu kecewa dengan mu! Hahahahah,"


.


.


.


.


.


Bersambung...