I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 111



"Jadi, Tasya hamil? Gadis yang kalian bangga-banggakan ini hamil? Kalian menawarkan gadis murahan ini untuk anak kebanggan kami?!" tuan Wirasena ayah Daniel begitu geram mengetahui jika ia telah di tipu mentah-mentah oleh sahabat neneknya ini. Meskipun sebenarnya ia tak begitu menyukai perjodohan itu akan tetapi tidak seharusnya seperti ini.


Tuan Wira ingin melihat persiapan pernikahan putranya, memastikan jika semuanya sudah sempurna. Tapi, di luar dugaan dia justru mendengar kabar yang begitu mengejutkan. Calon menantunya ternyata sedang hamil dan pastinya itu bukanlah bayi dari Daniel karena anaknya itu sedang di sibukan oleh pembukaan cabang baru hotel mereka di Singapura dan baru kembali minggu lalu.


"Tu.. Tuan, saya bisa jelaskan," sahut nenek Nita. Hanya dia lah satu-satunya yang berharap pernikahaan ini akan terjalin. Padahal ia sudah punya rencana terkait anak yang di kandung Tasya, tapi rencana itu harus pupus saat calon besannya mengetahui kebenaran ini.


"Apa lagi yang akan kalian katakan, hah!? Apa kalian bilang aku salah dengar? Jelas-jelas aku dengar semuanya, bahkan ayah dari bayi itu pun aku mendengarnya!" geram tuan Wira melihat satu persatu wajah-wajah yang sudah mempermainkanya.


"Bukan begitu, tuan! Tapi semua ini kan bisa di atur. Tasya akan mengugurkan kandungannya dan rencana kita akan berjalan sebagaimana mestinya!" tutur nenek Nita yang masih kekeh mempertahan kan apa yang sudah ia impikan sejak dulu. Mendengar rencana neneknya, Tasya dan Rizky sontak terkejut dengan hal itu. Bagaimana bisa neneknya begitu tega pada anak yang bahkan tak tahu apa-apa. Berbeda dengan nenek Nita, ayah Tasya justru tampak diam saja, ia enggan menimpali usulan ibunya yang sungguh di luar nalar. Ibu Tasya pun sama terkejutnya dengan Tasya namun ia sama sekali tak mengatakan apapun.


Tuan Wira terkekeh pelan dan lama-kelamaan kekehannya berubah menjadi tawa. "Apa anda sudah tak waras, nyonya? Untuk apa saya membayar barang bekas begitu mahal? lebih baik saya carikan Daniel yang lain dari pada harus bersanding dengan anak gadis kalian. Memalukan!" sarkas Tuan Wira.


"Jaga ucapan anda, tuan! Jangan samakan anak saya dengan barang bekas!" Ibu Tasya yang sedari tadi terdiam pun akhirnya membuka suaranya saat sang anak jelas-jelas di hina oleh orang lain. Meski anaknya memang salah, tapi sebagai ibu ia tak rela anaknya di rendahkan seperti itu.


"Kalau bukan barang bekas lalu apa namanya jika sudah hamil begitu? Jangan sok suci di depan ku! Aku tak sudi melihat wajah munafik kalian, mulai detik ini kesepakatan kita batal! Sebagai ganti rugi kalian harus membayar denda 5 M atau tuan Alan yang terhormat akan menanggung akibatnya!" Setelah mengatakan hal itu, tuan Wira pun pergi dari sana. Namun sebelum benar-benar pergi, tuan Wira mengusir keluarga Tasya dari rumah itu.


Nenek Nita sungguh terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Impiannya menjadi orang kaya pun harus berakhir begitu saja. Padahal ia sudah menantikan saat itu sangat lama namun gara-gara Tasya semuanya hancur begitu saja.


Tak hanya gagal menjadi orang kaya, mereka pun harus membayar ganti rugi pada keluarga Wirasena 5 Miliyar rupiah. Keluarga Tasya pun terancam bangkrut dan karena hal ini nenek Tasya jatuh pingsan membuat orang-orang yang masih mematung itu terkejut.


"Nenek!"


"Ibu!"


Pekik mereka serentak dan segera membawa nenek Nita ke rumah sakit terdekat setelah sebelumnya Rizky memastikan kondisi neneknya itu, tapi kerena detak jantung sang nenek lemah maka harus di larikan ke rumah sakit.


Di tempat lain..


Zayn terlihat sangat kacau, rambutnya berantakan, matanya tampak sayu dengan mata panda yang terlihat jelas di sana, badannya pun kini terlihat kurus dan lemah. Seminggu ini Zayn hanya termenung tak jelas. Abi yang menemaninya pun kehabisan cara untuk mengembalikan semangat kakaknya itu.


"Huft! Apa setiap orang yang patah hati akan sepertinya. Makan tak enak, mandi tak basah, bergeser dari tempatnya duduk pun engga! Ck.. Ck.. Ck. Mengerikan sekali sudah seperti mayat hidup," gumam Abi saat melihat Zayn lagi-lagi termenung di balkon kamarnya.


Abi menghampiri Zayn dan duduk di sampingnya, "Kak," sapanya, namun Zayn masih diam.


"Kak, ayolah, jalan hidup kakak itu masih panjang. Jangan hanya masalah satu wanita buat kakak jadi kayak gini! Bangkit, kak! wanita bukan cuma dia, jangan menyiksa diri kayak gini!" ujar Abi mencoba menyemangati kakaknya tapi juga sebenarnya ia jengah dengan kelakukan Zayn.


"Aku sedang mencoba, Bi. Tapi rasanya sangat sulit. Sakit sekali mengingat apa yang pernah aku lakukan padanya," ujar Zayn, ada nada putus asa dari ucapannya.


"Kalau gitu, ayo kita liburan supaya kakak ngga murung terus kayak gini. Lagi pula salah dia sendiri kenapa bukannya minta tanggung jawab malah nikah sama laki-laki lain," ujar Abi geram. Ia heran dengan Tasya setelah malam itu bukannya dia meminta pertanggung jawaban Zayn malah memilih menikah dengan Daniel.


"Menurutmu apa Tasya bisa hamil?" Abi tersentak dengan pertanyaan Zayn. Bingung harus menjawab apa, karena hal itu sama sekali tak terlintas dalam benaknya.


Zayn telah bercerita segalanya pada Abi termasuk malam kelam yang ia lewati bersama Tasya. Awalnya Abi terkejut dan ingin sekali menghajar wajah Zayn, tapi setelah mendengar keseluruhan cerita kakaknya ia pun tak bisa menghakimi Zayn begitu saja. Namun, Abi pun sangat menyayangkan apa yang di lakukan Zayn itu adalah keceroboh hingga membuat rugi diri sendiri.


"Soal itu, bisa iya bisa juga tidak. Aku pun tak tahu pasti, kak."


"Ayo!" tiba-tiba Zayn berdiri membuat Abi terheran.


"Ayo? Apa? Kemana?"


"Kemana lagi, aku harus menemukan Tasya!" tukas Zayn mantap sedangkan Abi hanya bisa menghela nafasnya lelah. Harus dengan bahasa apalagi supaya kakaknya itu menyerah dan berhenti berharap. Waktu bertahun-tahun yang di lewati Zayn hanya lah kesia-siaan menurutnya. Tapi, menolak orang yang sudah bucin akut sampai ke tulang sum-sum pun rasanya sulit. Ibaratnya Abi tengah berbicara dengan tembok.


"Kak, dia akan menjadi milik orang lain. Berhenti menunggu hal yang tak pasti, karena semuanya hanya akan sia-sia!"


"Aku tahu! Tapi, aku pun ingin memastikan dengan mata kepalaku sendiri kalau Tasya bahagia, aku pasti akan melepaskannya. Tapi jika dia tak bahagia maka aku tak akan membiarkan dia lari lagi dari pelukanku!" Tukas Zayn penuh keyakinan. Dia sudah merenungkan keputusannya ini semalaman dan dia yakin dengan apa yang ia pilih.


Cinta Zayn pada Tasya telah mengakar begitu kuat di hatinya. Tak peduli seperti apa Takdir Tuhan coba memisahkan mereka, Zayn tak akan pernah mundur. Dia akan membersamai Tasya entah sekarang atau nanti, hanya Tasya yang akan ia perjuangkan. Itu adalah janjinya sejak dulu. Berpegang pada janjinya itu Zayn kembali memiliki semangat hidupnya.


"Cintamu mengerikan, kak!" Abi bukannya merasa takjub justru merinding ngeri sendiri melihat semangat kakaknya.


"*Tunggu aku, yank! Aku akan menjemputmu, tak peduli meski aku harus menapaki jalan penuh duri untuk bisa bersama mu, aku akan selalu berdiri dan berjalan menjemputmu di ujung bahagia!"


.


.


.


.


.


.


Bersambung*...