
Di sebuah rumah sakit, bunyi monitor jantung atau yang biasa di kenal dengan sebuatan Patient monitor mendominasi ruangan yang serba putih itu. Seorang wanita paruh baya terbaring tak berdaya di brangkar rumah sakit. Selang oksigen terpasang di hidung wanita paruh baya itu dan di tangannya yang tampak keriput terpasang selang infus.
Suasana di ruangan itu hening, tak ada yang berbicara meski ada empat orang yang menunggui wanita tua itu.
Ya, wanita tua itu tak lain adalah nenek Anita. Ia masih dalam kondisi yang bisa di katakan tidak baik-baik saja.
Setelah mendengar tuntutan dari tuan Wira, nenek Anita begitu syok membayangkan kemiskinan ada di depan matanya. Kejayaan yang ia bangun bertahun-tahun terancam hancur dan itu semua terjadi karena.. Tasya hamil!
Jika saja tuan Wira tak ada di sana, nenek Anita sudah berniat akan menggugurkan kandungan Tasya. Sayang sekali rencana yang sempat terlintas belum bisa dia utarakan apalagi terealisasi justru kehancuranlah yang menantinya.
Drrtttt..
Drrttt..
Dalam keheningan, ponsel Ayah Tasya terdengar begetar dan berhasil mencuri atensi semua orang. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, ayah Tasya keluar dari ruangan tempat ibunya di rawat untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Maafkan Tasya, mah." lirih Tasya saat sang ayah tak lagi terlihat. Ibu Tasya yang semula menatap sendu ibu mertuanya kini beralih melihat Tasya yang mulai membuka suaranya setelah sekian lama bungkam.
"Maafkan Tasya karena tak pandai menjaga diri hingga membuat Ayah dan mamah begitu kecewa. Maafkan Tasya, karena Tasya juga nenek seperti ini," sambungnya sendu sambil meremas jari - jari tangannya sendiri.
Sungguh ia sangat malu dengan kelakuannya, meski bukan sepenuhnya salah Tasya tetap saja jika ia tak mengiyakan keinginan Zayn untuk tinggal berdua di apartemennya tentu tak akan ada mahkluk kecil yang mencoba tumbuh di rahimnya sekarang. Tasya pun tak akan membuat orang-orang yang dia sayangi kecewa.
Tasya sedikit tersentak saat merasakan genggaman di tangannya. Ia menoleh dan mendapati Rizky tersenyum begitu manis padanya seolah meyakinkan dirinya jika Tasya tak sendirian. Dan benar, Tasya sedikit mersa lebih baik kala tangan hangat itu menggenggam tangannya.
"Kamu tahu, nak?" Ucap ibu Tasya tiba-tiba. "Kami membesarkanmu dengan penuh kasih sayang, menjagamu dengan sepenuh hati kami. Tapi, kenapa kau tak menyayangi dirimu sendiri? Jujur, mamah begitu kecewa denganmu. Anak gadis yang mamah banggakan nyatanya malah mempermalukan keluarganya seperti ini." sambung ibu Tasya tanpa mengalihkan atensinya dari wajah pucat sang mertua. Namun kali ini pandangannya nampak kosong.
"Ampun, mah. Tasya salah, tolong jangan benci Tasya.. Hiks," Tasya mulai terisak mendengar nada kekecewaan dari ucapan ibunya. Sungguh, Tasya tak sanggup melihat ibu yang dia sayangi bersedih seperti ini apalagi dia lah penyebabnya.
"Mamah begitu mempercayaimu. Mendukung mu apa pun keputusanmu, meski kamu sering sekali membangkang tapi mamah selalu percaya kau tak akan mengecewakan kami. Tapi hari ini... Mamah benar-benar kecewa.. Tasya.."
"Maafkan Tasya, mah,"
"Mungkin sebaiknya kau kembali saja ke Jakarta! Kejar lah cintamu, cinta yang membutakan mu itu! Cinta yang membuatmu keras kepala dan egois! Tak usah lagi fikirkan kami seperti biasanya!" Ucap ibu Tasya membuat Tasya dan Rizky terkejut.
Benarkah ibu yang selama ini melimpahinya kasih sayang, mengusirnya? Tasya terisak mendengar keputusan sang ibu. Hatinya hacur, namun ia pun sadar dirinya memang bersalah dan hanya mempermalukan keluarganya.
"Bi, jangan seperti ini. Tasya memang melakukan kesalahan tapi dia pun tak berdaya, Bi. Coba Bibi fikirkan dulu baik-baik. Tasya sedang hamil, cucu bibi!" Rizky yang sedari tadi hanya diam pun mencoba merubah keputusan sang bibi tapi sayangnya tak berpengaruh sama sekali.
"Pergi!"
"Mamah!"
"Pergi!"
"Tapi, bi.."
"Aku bilang pergi!"
Tasya menatap ibunya dengan air mata yang sudah menganak sungai. Apa kesalahannya begitu besar, hingga keluarga yang dia fikir akan melindunginya justru tak mau menerima mereka?
Jika dia bisa memutar waktu, ia pun tak akan ceroboh hingga membuat kakinya patah dan membuatnya tak berdaya saat bahaya datang. Tapi, kini semuanya sudah terjadi dan tak mungkin waktu bisa di putar kembali. Ia bukan Doraemon yang punya mesin waktu, ia hanya manusia biasa yang penuh dosa.
Tasya keluar dari ruangan tersebut dengan gontai dan di papah oleh Rizky. Seluruh tubuhnya tak bertenaga, ia lemah dan juga bingung. Apa yang akan ia lakukan setelah ini?
"Semuanya akan baik-baik saja, Sya. Gue yakin! Lo pasti kuat dan memang lo harus kuat demi nyawa yang ada di dalam sini," tutur Rizky sambil mengelus perut Tasya yang masih rata. Kini mereka sudah berada di parkiran, entah kemana Rizky akan membawanya Tasya tak menolak. Hanya pada Rizky kini satu-satunya keluarga yang dia punya.
Tak lama kemudian motor Rizky pun melaju membelah jalanan Kota Bandung. Tepat saat mereka menghilang di telan ramainya kendaraan di jalanan sore itu, sebuah mobil mewah memasuki halaman rumah sakit tersebut. Dua orang pemuda tampan keluar dari mobil tersebut, mereka adalah Abi dan juga Zayn yang ingin mencari keberadaan Tasya. Sebelumnya mereka sudah mendatangi kediaman Daniel tapi orang-orang di sana mengatakan jika Tasya sekeluarga berada di rumah sakit dan akhirnya di sini lah mereka berada.
"Pasien atas nama nyonya Anita berada di ruangan VIP mawar 004," ucap suster yang berjaga di meja resepsionis setelah Zayn menanyakan kamar rawat nenek Tasya. Zayn berharap kali ini ia akan bertemu dengan Tasya. Sungguh ia sangat merindukan pujaan hatinya itu, ia ingin meminta maaf karena sudah merenggut hal yang paling berharga dalam hidup wanitanya.
Sungguh! Seandainya Tasya tak menerima maafnya ia akan melakukan apapun agar hubungannya kembali membaik dengan wanita yang sampai saat ini masih menjadi kekasihnya.
"Ayo kita ke atas!" ajak Abi dan mereka pun berjalan beriringan menaiki lift menuju lantai lima tempat dimana nenek Tasya di rawat.
Tiba di ruangan tersebut Zayn langsung di berikan tatapan yang begitu tajam dari orang tua Tasya hingga tanpa di sadarinya ia menelan salivanya dengan susah payah.
"A.. Apa kabar, paman dan bibi," sapa Zayn gugup hendak menyalami tangan kedua tangan orang tua Tasya. Namun alih-alih menerima uluran tangan dari Zayn, tangan ibu Tasya justru melayang begitu saja dan mendarat di pipi kanan Zayn.
Plaakkkk!
"Masih punya muka kamu datang ke sini?!" sentak Ibu Tasya dengan nafas yang memburu. Ia sangat emosi melihat wajah pria yang merusak anaknya.
Abi tentu sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi apalagi Zayn yang jelas-jelas mendapatkan tamparan itu. Ia merasakan panas dan perih di pipinya dan ia yakin pasti pipinya kini memerah.
"Tante! Apa yang tante lakukan!" ujar Abi tak terima kakaknya tiba-tiba di perlakukan seperti itu.
"Apa! Kamu tidak terima? Laki-laki pengecut seperti ini memang pantas mendapatkan tamparan bahkan lebih!" sentak ayah Tasya membuat Abi terdiam. Sepertinya ada kesalah fahaman di sini. Kenapa orang tua Tasya begitu murka pada kakaknya, apa sebenarnya mereka sudah tahu tentang malam itu? Pikir Abi.
"Bibi, aku datang ke sini untuk minta maaf. Aku tahu yang ku lakukan adalah kebodohan. Izinkan aku bertemu Tasya. Aku mohon!" pinta Zayn memelas. Tapi bukannya kasihan Ayah Tasya justru terlihat semakin murka dan tanpa ba bi bu, lagi-lagi pipi Zayn menjadi sasaran kemurkaan ayah Tasya.
Bughhhh...
Sebuah bogeman Ayah Tasya hadiahkan untuk Zayn hingga membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Dengar ini! Karena kebodohan mu itu telah membuat keluarga ku hancur! Kau lihat di sana! Ibuku terbaring lemah dan tak sadarkan diri karena kebodohan mu! Aku bangkrut pun karena kebodohanmu!" Melihat suaminya yang sudah di luar batas, ibu Tasya mengusap punggung suaminya agar lebih tenang.
"Maksud anda, tuan?" tanya Abi tak mengerti arah pembicaraan sekaligus alasan kemarahan orang tua Tasya itu.
"Karena kebodohan pria ini!" Tunjuk Ayah Tasya tepat di depan hidung Zayn. "Membuat anakku hamil! Dan semua yang sudah kami rencanakan berantakan! Apa kau puas, hah!" lanjut ayah Tasya dengan nafas yang memburu.
Kedua pria itu seketika mematung, apa mereka tak salah dengar? Apa tadi katanya? Hamil?
"Apa? Jadi Tasya hamil, paman!"
.
.
.
.
.
.
Bersambung..