
Malam hari di jalanan ibu kota tampak ramai. Kendaraan berlalu lalang hilir mudik silih berganti. Diantara banyaknya kendaraan tersebut Tasya dan Zayn adalah salah satunya. Zayn sedang dalam perjalanan mengantarkan Tasya ke kostannya. Sejak tadi siang Tasya tak banyak bicara hatinya sedang bimbang. Apa dia akan memaafkan Disty karena Disty adalah sahabatnya atau justru akan menjauh dari gadis itu. Tapi, jika dia menjauh apa kedepannya semua akan sama?
"Yank," sapa Zayn yang sedari tadi memperhatikan Tasya tak banyak bicara.
Tasya menoleh, "Apa?" ketusnya hingga membuat Zayn cemberut. Padahal dia bertanya dengan nada yang lembut tapi respon Tasya justru seperti itu.
"Jangan galak-galak ngapa, yank? Aku kan jadi sedih," ujar Zayn dengan wajah yang memelas namun Tasya agaknya tak peduli ia justru memalingkan wajahnya ke luar jendela.
"Ta.. Menurutmu apa yang harus lakukan?"
"Memaafkan menurutku tak terlalu buruk," tukas Zayn cepat bahkan ia tak terlihat berfikir terlebih dahulu.
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di halaman Kostan Tasya. Zayn turun lebih dulu membukakan pintu mobil untuk Tasya.
"Sudah jangan terlalu di fikirkan, yang ada nanti kamu malah sakit." Ucap Zayn saat Tasya sudah berdiri di depannya. Zayn meraih jemari Tasya menggenggamnya erat.
"Kalau aku ada di posisi dia mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Jadi, kamu tenang saja semua akan baik-baik saja, oke!" Ucap Zayn lembut satu tangannya terulur untuk mengelus pipi Tasya tak lupa ia tersenyum begitu manis. Tentu saja perlakuan Zayn itu membuat Tasya merona. Buru-buru ia melepaskan genggaman tangannya dan berlari masuk ke dalam bangunan yang sudah beberapa bulan ia tinggali. Jantungnya sedang tak baik-baik saja sekarang dan pilihan terbaik adalah segera menghindar dari Zayn. Sebelum masuk Tasya sempatkan untuk berbalik dan mengusir Zayn.
"Pergi sana!!" Ketusnya keluar begitu saja padahal Tasya ingin mengucapkan terimakasih tapi yang keluar justru seperti itu. Tasya segera balik badan dan berlari masuk ke dalam bangunan tiga lantai itu. Zayn geleng-geleng melihat tingkah Tasya.
"Dasar! Ngga ada romantis-romantisnya. Bilang dulu dadah sayang, hati-hati di jalan, atau makasih sayang. Ini mah boro-boro dapet makasih apalagi sebuah ci*man yang ada gue malah di usir, Ck!" Gerutu Zayn namun senyumnya masih terlihat jelas di bibirnya.
"Astaga! Kenapa fikiran gue ngeres gini?"
Di lain tempat Disty berjalan dengan tergesa-gesa di temani Nakula menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan dimana ibunya di rawat.
Tiba di depan ruangan ibunya mereka melihat dari kaca jendela jika dokter masih menangani ibunya. Air mata Disty kembali mengalir deras, tubuhnya bergetar. Ketakutan kembali menyelimuti hatinya. Ia takut ibunya benar-benar meninggalkan Disty sendirian. Ia tak sanggup, tak ingin di tinggal lagi.
"Ibu.." lirihnya lemah.
Nakula yang melihat hal itu pun ikut merasakan kesedihan Disty. Nakula meraih kepala Disty untuk masuk ke dalam pelukannya, lagi.
"Lo harus kuat, Dis. Kita doakan ibumu agar bisa melewati masa kritisnya dan bisa berkumpul lagi sama lo dan kita semua." Ujar Nakula mencoba menenangkan Disty. Disty tak menjawab dia semakin terisak di pelukan Nakula. Perasaannya saat ini sedang kalut.
"Huaaa.. Nakul.. Gue takut.. Ibu.. Ibu akan pergi. Gue takut sendiri." akhirnya Disty mengungkapkan ketakutannya pada Nakula dan Nakula semakin mengeratkan pelukannya seolah memberikan Disty keyakinan jika dirinya tak akan membiarkan Disty merasa sendiri.
"Sttt.. Lo ngga boleh ngomong gitu, ibu lo pasti sembuh. Beliau adalah wanita yang hebat dan sangat menyayangi lo kan? Gue yakin pasti ibu lo baik-baik aja."
"Tapi.. Tapi.. Huaaaa," Disty tak bisa meneruskan kata-katanya. Dadanya terasa sesak hingga ia tak bisa berkata-kata.
"Ya allah.. Hamba memang manusia yang sering ingkar, noda-noda dosa yang hamba lakukan tak lagi terhitung. Hamba pun tak pernah melaksanakan perintah-Mu.. Tapi hamba mohon kali ini tolong kabulkan lah doa hamba. Izinkan lah hamba untuk lebih lama merasakan kasih sayang dari ibu, Ya Allah.. Angkatlah semua rasa sakitnya. Jika ini semua hukuman untuk ku biarkan hamba lah yang merasakan sakitnya.. Tolong kabulkan lah doa hamba-Mu yang penuh dosa ini, Ya Allah.." gumam Disty dalam hatinya.
Sejak kecil Disty memang tak pernah mengenal agamanya. Ia di didik hanya untuk mengejar dunia, tak ada yang menuntunnya untuk mengenal Tuhan dan agamanya.
Tepat setelah Disty melangitkan doanya, pintu ruangan pun di buka dan tampak dokter yang menangani ibunya keluar dengan mata yang tampak memerah. Perasaan Disty dan Nakula seketika menjadi tak menentu. Mereka merasakan firasat yang buruk, meski begitu mereka masih berharap apa yang di fikirkan mereka tak menjadi kenyataan.
Disty segera bangkit dan menghampiri sang dokter setelah tadi sempat berada dalam pelukan Nakula dengan posisi terduduk di lantai.
"Bagaimana keadaan ibu, dok. Ibu baik-baik saja kan?" Tanya Disty tak sabar. Dokter menggeleng lemah untuk menjawab pertanyaan Disty merasa tak tega untuk memberi tahu mereka tapi ia harus menyampaikan kabar tersebut.
"Maaf kan kami.. Kami sudah berusaha.. Tapi Allah berkhendak lain.." ujar sang dokter dengan nada yang bergetar merasakan kesedihan yang sama dengan Disty karena bagaimana pun ibu Disty adalah pasiennya. Ia yang menangani ibu Disty dari sejak pertama kali ibu Disty di nyatakan sakit satu tahun yang lalu.
Disty menggeleng tak percaya lebih tepatnya tak ingin percaya, air matanya kembali mengalir deras. "Tidak!! Dokter pasti bohong kan? Dokter bilang sesudah dioperasi ibu akan sembuh.. Dokter bohong kan? Pasti bohong.. Huaaaa.. Ibu.." Disty yang histeris langsung masuk ke dalam ruang rawat ibunya.
Di sana ia melihat alat-alat yang selama ini menjadi sumber kehidupan ibunya sedang di rapihkan oleh perawat, sedangkan wajah ibunya sudah di tutup selimut putih. Lagi-lagi Disty histeris. Ketakutannya menjadi kenyataan. Ibunya benar-benar meninggalkan dia sendiri.
Dengan tangan yang bergetar Disty membuka selimut yang menutupi wajah ibunya. Ia kembali menangis saat wajah ibunya sudah pucat dan terasa dingin meski masih ada kehangatan yang di rasa oleh Disty.
"Ibu.. Kenapa, bu.." Disty tak sanggup lagi berbicara ia menangis sambil menciumi wajah pucat ibunya. Di sampingnya Nakula terus mengusap pundak Disty untuk memberikan wanita itu kekuatan. Nakula pun sama sedihnya, ia ikut menangis dan merasa sesak melihat ibu Disty terbujur kaku setelah perjuangan panjangnya.
"Istirahatlah, bu. Ibu tak perlu risau, aku akan menjaga Disty segenap jiwaku. Aku akan selalu ada di samping Disty dan membahagiakannya. Semoga ibu tenang di sisi-Nya." Gumam Nakula dalam hatinya.
.
.
.
.
.
Bersambung...
...----------------...