I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 93



"Minumlah." Ujar Rizky menyodorkan segelas teh hangat pada Angel yang sudah terbaring lemah di apartemennya sendiri. Sama seperti Abi, Angel pun memiliki apartemen dan ia tinggal sendiri di sini.


Karena kejadian tak terduga, Angel yang sudah berdandan semaksimal mungkin, secantik mungkin untuk membuat Rizky terkesan justru harus menelan kekecewaan karena tiba-tiba alerginya kambuh.


Tak jauh berbeda dengan Angel, Rizky pun sebenarnya tampak kecewa namun kekhawatirannya lebih besar dari pada rasa kecewanya. Jadi, Rizky memutuskan mengajak Angel pulang untuk istirahat dari pada melanjutkan kencannya. Dan pasti rencana untuk mengatakan perasaanya harus ia tunda terlebih dahulu karena kesehatan Angel lebih penting.


"Terimakasih." Angel meraih cangkir tersebut dan menyesapnya dengan perlahan.


"Lo kok ngga bilang sih kalo punya alergi?" Tanya Rizky.


"Lo ngga nanya!"


Rizky berpikir sejenak, memang dia tak pernah bertanya apapun tentang Angel. "Ya juga sih. Tapi bukannya Rhinitis Alergi atau Alergi serbuk bunga itu ngga berpengaruh pada bunga mawar?" Tanya Rizky lagi masih penasaran. Sebagai seorang dokter ia tentu tahu dengan keluhan yang di derita Angel, begitu pula dengan Angel sendiri.


"Ya memang." Sahutnya tenang. Angel bahkan kembali menyesap tehnya. "Kalau yang lo pake cuma kelopaknya aja. Lah ini? lo kan juga pakai semuanya apalagi di meja lo juga kasih bunga Baby's Breath -Jenis bunga yang mempunyai bentuk kecil-kecil. Sangat cocok untuk karangan bunga- Tau ngga? Tuh bunga biar kata kecil, bahaya buat penderita Rhinitis alergi kayak gue! Haaaciiimmm.." Gerutu Angel hingga membuat Rizky mematung. Meski sudah meminum obat yang selalu sedia di tasnya, tetap saja bersinnya masih ada meski tak separah tadi.


"Maaf, gue ngga maksud buat lo sakit kayak gini." Rizky menunduk sedih mengingat kecerobohannya. Untungnya, Angel telah terbiasa dan selalu membawa obatnya kemana pun ia pergi. Takut hal tak terduga seperti ini terjadi. "Gue tadinya cuma mau buat lo terkesan. Maaf gue malah bikin lo jadi kaya gini." Lanjutnya masih dengan kepala yang menunduk. Rizky tak berani menatap mata Angel atau rasa bersalahnya akan semakin di rasa.


"Ngga masalah, ini bukan sepenuhnya salah lo kok. Gue juga salah ngga ngasih tau elo sebelumnya. Ngga usah pasang muka melas kek gitu, Ky. Sumpah lo ngga ada pantes-pantesnya." Candanya bermaksud menghibur Rizky. Karena ia memang tak kenapa-kenapa. Jadi tak perlu ada yang di khawatirkan.


"Bener lo ngga apa-apa?" Sekali lagi Rizky memastikan dan benar demam yang sempat menyerang ketika mereka dalam perjalanan pulang tadi sudah turun.


"Iya. Makasih ya, lo udah nganterin gue balik. By the way.. Lo ngga mau pulang, Ky? Ini kan dah malem gue juga butuh istirahat. Haciiimm.." Memdengar hal itu sontak Rizky langsung melihat jam tangnnya. Memang benar waktu menujukan pukul sepuluh malam.


Akhirnya meski dengan berat hati meninggalkan Angel sendirian dalam keadaan sakit, Rizky pun berpamitan untuk pulang. Meski dia tak tega namum Rizky tak ingin hanya berduaan di rumah seorang gadis, lagi pula Angel juga sudah lebih baik.


Rizky melajukan kendaraanya membelah jalanan ibu kota di malam hari. Beberapa menit kemudian ia sudah sampai di kostannya. Setelah membersihkan badan dan menganti pakaiannya, Rizky merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur. Satu tangannya terulur untuk meraih kotak bludru berwarna merah. Ia membuka benda itu dan mengeluarkan sebuah kalung. Rizky mendesahkan nafasnya kasar.


"Gagal total.! Rupanya malam ini benda ini belum bisa bertengger indah di lehernya." Gumamnya kemudian dengan perlahan Rizky terlelap dalam tidurnya.


Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa kini matahari sudah bertengger cantik di atas langit sana. Di dalam kamar kostnya, Rizky tengah menikmati sarapannya, ia sudah rapih siap untuk kembali bekerja.


Tiba di rumah sakit ia melihat Angel yang sudah bisa kembali bekerja. Merasa khawatir Rizky pun menyusulnya karena Angel berjalan dengan tergesa-gesa.


"Angel!" Panggilnya namun sama sekali tak di dengar oleh gadis itu.


"Mungkin lagi ada keadaan darurat. Nanti aja deh gue samperin lagi. Gue juga harus jaga siang ini." Akhirnya Rizky memilih untuk mulai bekerja dan mengesampingkan rasa penasarannya.


****


Di lain tempat beberapa orang berbadan kekar, berwajah sangar dan berpakaian serba hitam lengkap dengan kacamata hitam khas tampilan para bodyguard berjalan dengan aura yang begitu dingin, siapa saja yang melihat mereka pasti merasa ngeri.


Di dalam mobil, seorang pria bermata sipit memperhatikan anak buahnya yang berjalan menuju sebuah rumah dengan bendera kuning di depannya, laki-laki yang tak laon adalah Maneger Jery.


Sedangkan seorang pria yang ada di dalam rumah tersebut terlihat panik saat menyadari ada sekitar lima orang pria berbadan kekar khas tukang pukul itu mendekat. Pria itu adalah Nakula, dia terlihat sangat gelisah. Berkali-kali ia mengintip dari jendela.


"Dis.. Gue bersumpah, gue ngga akan ninggalin lo sendiri, lo percaya kan sama gue?" Naluka tak menjawab pertanyaan Disty ia justru melempai Disty dengan pertanyaan. Nakula begitu terlihat gusar ia bahkan mengatakan kalimat tersebut dengan begitu cepat dan tanpa sadar mengenggam erat tangan Disty. Tentu saja mendapat perlakuan tiba-tiba seperti itu membuatnya terkejut dan reflek menganggukkan kepalanya.


Tepat saat Disty menganggukkan kepalanya pintu rumah yang tadinya tertutup di buka paksa oleh orang-orang Manager Jery.


Brakkkk


Sontak saja hal itu membuat Nakula dan Disty yang sedang berbicara itu terkejut bukan main. Lebih terkejut lagi saat salah satu dari orang berbadan kekar itu menggendong tubuh Nakula begitu saja dengan posisi seperti sedang mengangkut sekarung beras.


"Lepas!!" pekik Nakula sambil memukul-mukul punggung pria itu. Persis seperti seorang gadis.


"Hei! Turunkan Nakula! Kalian ini siapa?!" pekik Disty saat kesadarannya sudah kembali. Namun teriakannya sama sekali tak di hiraukan. Mereka terus saja melangkah keluar dan terjadilah aksi kejar mengejar dan juga tarik-tarikan. Nakula yang melihat Disty yang jatuh berkali-kali pun merasa nyeri di hatinya.


"Turunkan aku!" pintanya kini dengan nada yang sedikit melemah.


"Tapi, tuan-"


"Turunkan aku sekarang! Aku janji nggak akan kabur lagi. Aku hanya ingin berbicara sebentar dengannya. Ku mohon.." pinta Nakula memelas. Sesaat para bodyguard itu saling pandang sebelum akhirnya menurunkan Nakula.


Dengan setengah berlari, Nakula mendekati Disty yang masih mematung kala mendengar orang-orang berpakaian serba hitam ini memanggil Nakula dengan sebutan tuan. Siapa sebenarnya Nakula ini? Pertanyaan yang ada di kepala Disty namun tak mampu ia ucapkan.


"Dis, gue akan secepatnya balik. Gue harap lo mau nunggu gue, please jangan menjauh! Gue tau lo bingung dan gue akan jelasin semuanya saat kita bertemu lagi nanti. Tunggu aku, Dis..." Ucapan Nakula terdengar begitu lembut di telinga Disty ia bahkan tak bisa berkata-kata. Kejadian hari ini membuatnya syok.


Cup..


"Ingat!! Tunggu gue balik!" Nakula meninggalkan kecupan hangatnya di kening Disty membuat tubuh mematung Disty semakin menegang dan butuh beberapa detik untuknya kembali tersadar dari lamunan. Sayangnya, ketika kesadaran Disty telah kembali sosok Nakula sudah masuk ke dalam mobil mewah. Disty memandangi mobil tersebut dengan nanar tanpa terasa satu tetes air matanya meluncur bebas.


"Pada akhirnya lo pergi juga.. sama seperti yang lain!"


.


.


.


.


.


Bersambung...


...----------------...