
Setelah seharian bekerja, akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu pun tiba. Pukul lima sore para karyawan mulai meninggalkan gedung namun beberapa diantaranya masih tinggal di ruangannya masing-masing. Mungkin mereka mendapatkan jatah lembur.
Aku melangkahkan kaki menuju halte, hendak menunggu angkutan umum yang akan mengantarkan ku ke apartemen Tuan Abi.
Tak lama kemudian bus yang ku tunggu akhirnya tiba, beberapa orang berebut menaiki kendaran tersebut seolah takut akan di tinggal. Beberapa saat kemudian aku sudah berada di apartemen Tuan Abi tepat pukul tujuh malam. Lumayan memakan waktu ternyata, padahal jika menggunakan ojek tidak sampai satu jam pasti sudah sampai.
Walau tubuh ini rasanya lelah tak terkira, tetap saja aku harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah ku sepakati sebelumnya. Padahal jika boleh jujur, fisik ku tak terlalu kuat namun sok-sokan ingin terlihat seperti pahlawan kesiangan apalagi di depan Rizky kemarin. Aku ingin menunjukan di depan sepupu ngga ada ahlak itu bahwa aku hebat. Aku sudah tumbuh dewasa, karena dia terus terusan membuntuti ku dan menganggap aku anak kecil yang harus selalu ia jaga.
Namun, baru dua hari rasanya badan ku remuk semua. Kenyataan tak sesuai ekspektasi ternyata. Fyuuuhh!! rasanya aku ingin bersantai sebentar di salon spa, agar tubuh ini kembali rileks.
Malam ini, setelah menyelesaikan pekerjaan rumah aku langsung merebahkan diri di kasur setelah sebelumnya membersihkan badan yang terasa lengket. Tidak seperti biasanya yang akan menunggu Tuan Abi pulang dengan masakan yang siap menyambut kepulangan nya, malam ini rasanya badan ini sudah tidak kuat lagi untuk berdiri lebih lama. Aku bahkan melewatkan makan malam.
Ku akui seorang wanita karir apalagi yang berperan sebagai ibu rumah tangga itu wanita yang hebat.
Tak lama kemudian aku sudah menjelajah ke alam mimpi.
***
Daniel pov
"Tambah lagi," Ujar seorang wanita yang sedari tadi duduk di sampingku pada bar tender. Aku geleng-geleng kepala melihat wanita ini tampak kacau.
Dia adalah Celina Wilson, salah satu teman SMA ku dulu. Saat ini aku sedang berada di Jakarta untuk urusan bisnis. Tak di sangka kami bertemu tadi sore di sebuah restoran dan ia mengajak ku untuk menemaninya minum di sebuah klub malam yang cukup terkenal di sini.
"Udah, Cel. Lo udah mabuk itu," Celina yang sudah terlihat kehilangan kesadaran nya ini menepis tangan ku yang berusaha merebut gelasnya.
"Gue belum mabuk, yang mabuk itu dia, Hehe... Bisa bisanya dia suka dengan cewek rendahan seperti itu. Huuuu.... Apa gue kurang cantik Niel, apa gue kurang sexy... Gue orang kaya... Tapi, dia sama sekali tidak pernah ngelirik gue? Huuuu... Dia tega sekali pada ku. Bod*h!" Celina yang sudah mabuk terus meracau tak karuan. Sesekali ia terlihat menangis tapi tak lama kemudian ia juga tertawa.
Aku sudah tidak lagi bisa berkomentar. Dari dulu Celina memang suka sekali menghabiskan waktunya di bar. Ada atau tidak ada masalah ia pasti akan menghabiskan malamnya di tempat seperti ini.
"Lo kenapa sih?" Aku penasaran siapa yang membuatnya bisa sekacau ini? Terakhir aku bertemu dengannya tahun lalu ia sempat bercerita jika ia menyukai seseorang dari ia kuliah. Namun, saat itu ia tak mengatakan namanya pun aku tak bertanya. Tapi, sekarang aku penasaran. Aku yakin ia saat ini sedang patah hati, mungkin masih ada hubungannya dengan laki-laki yang ia sukai itu.
"Dia, jahat!"
Bruuk....
Usai mengatakan hal tersebut Celina terjatuh ke lantai tanpa sempat aku tangkap. Ck! dia benar-benar menyusahkan. Sudah ku bilang berhenti tetap saja ngeyel. Kalau sudah seperti ini aku harus apa? Aku tidak tahu dimana rumahnya pun aku takut ia akan di amuk keluarganya jika mereka melihat anaknya kembali dalam keadaan seperti ini.
.
Beberapa saat kemudian aku sudah berada di hotel, dengan susah payah akhirnya aku berhasil merebahkan tubuh Celina di atas kasur.
Dia yang belum sepenuhnya tertidur sesekali masih tampak bergumam. Suaranya pelan sekali hingga aku tak tahu apa yang ia ucapkan. Ck, wanita ini dari dulu sangat merepotkan. Aku pikir setelah beberapa tahun tidak bertemu kebiasaan buruknya ini sudah hilang, tapi justru lebih parah.
Setelah memastikan ia terbaring dengan nyaman aku beralih untuk melepaskan sepatunya. Namun belum sempat bangun tubuh ku di tariknya. Entah sadar atau tidak dengan yang di lakukannya, ia melahap habis bibir ku dengan kasar. Aku yang memang cukup berpengalaman dengan hal seperti ini pun sampai kewalahan mengimbangi pangutannya.
"Cel," Gumam ku masih mencoba menyadarkannya. Walau aku seorang pemain namun aku cukup pemilih dalam mencari wanita yang akan menemani tidurku. Dan Celina adalah wanita yang sama sekali tak menarik di mata ku.
Bukan karena dia tak cantik atau sexy. Justru bagiku dia adalah wanita yang sangat cantik dan bentuk tubuhnya sudah pasti membuat kaum Adam akan berebut untuk menjadikan Celin wanita ranjang mereka. Tapi, tidak dengan ku entah kenapa dia tak semenarik itu di mata ku. Apalagi beberapa hari yang lalu aku sudah di jodohkan dengan seorang wanita dari desa oleh keluarga ku.
Satu yang menjadi prinsipku, selagi belum berkeluarga aku masih bebas untuk berkelana mencari kehangatan di luaran. Tapi, ketika aku sudah berikrar di depan Tuhan dan juga penghulu aku berjanji akan setia dengan anak dan istri ku kelak. Karena sebentar lagi aku akan bertunangan jadi sedikit demi sedikit aku sudah merubah kebiasaan itu.
Tapi, godaan ternyata begitu berat. Sebagai laki-laki normal di suguhkan dengan keadaan seperti ini tentu aku tak akan menolak. Apalagi aku pun sempat minum beberapa gelas. Namun, aku masih mencoba untuk sadar.
"He.. hentikan, Cel..Shhh," Dengan kesadaran yang masih tersisa aku mencoba untuk menyingkir dari dekapannya.
"Aku, menginginkan mu.. Daniel," Satu kalimat yang berhasil meruntuhkan pertahanan ku. Dengan menyebut namaku itu artinya dia masih sadar.
Aku menyeringai tak lagi memikirkan janji yang ku ucap. Melihat mangsa yang datang dengan sukarela pada serigala lapar ini, siapa yang bisa menolak?
***
Keesokan harinya, aku bangun kesiangan dan tak lagi menemukan Celina. Mungkin dia sudah pergi, aku tak peduli. Hari ini aku ada janji dengan sepupu ku di restoran hotel ini. Itulah sebabnya aku membawa Celina menginap di sini agar aku tak perlu bolak-balik.
"Abang, sudah lama nunggu, ya?" Tanya nya.
"Hm, lumayan. Sampai lumutan Abang nunggu kamu,"
"Abang bisa aja," Kekehnya.
"Kenapa ngajak ketemuan disini?"
"Feby, mau minta bantuan Abang. Sekarang ini hotel lagi mengalami krisis. semakin hari pendapatan hotel menurun. Abang kan udah banyak pengalaman masalah kayak gini. Jadi, Feby minta tolong Abang.. Mau ya?" Pintanya. Feby adalah anak dari adik ayahku. Ia punya dua orang kakak laki-laki.
Yang pertama memilih mengabdikan dirinya pada negara, yang kedua meneruskan usaha keluarga yang lain dan Feby di beri tanggung jawab mengurus hotel padahal ia baru saja wisuda tiga bulan lalu.
Aku menyanggupi permintaannya dan akan berada di sini sementara waktu untuk membantunya. Sedang asik berdiskusi Feby tiba-tiba berteriak memanggil seseorang di belakang punggung ku.
"Tasya!" Pekiknya, seketika membuat kami menjadi pusat perhatian. Dasar kekanakan seperti ini sudah di beri tanggung jawab yang cukup berat pantas dia uring-uringan.
Penasaran siapa yang ia panggil, aku pun menoleh melihat seorang wanita dan juga laki-laki sedang menikmati makanan mereka. Wanita yang di panggil Feby tampak mengernyitkan alisnya, tak sempat menjawab teriakan Feby tadi tangan wanita ini sudah di tarik oleh Feby menuju ke arah ku.
Aku dan wanita ini sama-sama mengernyit kan alis bingung begitu juga dengan laki-laki yang tadi duduk bersamanya memberikan reaksi serupa dengan kami.
"Bang, Kenalin ini Tasya teman baru Feby. Dia yang nolongin Feby waktu di bully itu," ucapnya membuat wanita yang bernama Tasya ini terkesiap.
"Ouh, lo Feby itu?" Tanyanya memastikan, mungkin ia melupakan Feby karena itu ia memberikan reaksi bingung sama sepertiku.
"Kok Lo udah lupain gue sih?" Tanya Feby tampak tak terima.
"Sorry Feb, waktu itu Lo kan bonyok di sana sini gue ngga nggeh kalo ternyata Lo secantik ini, gue jadi pangling. Sorry ya?" Elaknya namun berhasil membuat Feby merona.
"Ya udah, ini kakak gue, Daniel," Ujar Feby memperkenalkan ku yang sedari tadi hanya menonton drama wanita-wanita ini.
"Tasya," Ujarnya menyodorkan tangannya ke arah ku seraya tersenyum ramah. Sesaat aku terkesima dengan senyumannya itu membuat ku tertegun, namun di balik itu sebenarnya aku merasa tidak asing dengan wajah dan namanya.
"Daniel,"
"Daniel, Feby. Kenalin ini atasan gue Pak Zayn," Ujarnya pada laki-laki yang sedari tadi mencetutkan wajahnya.
Kami akhirnya duduk bersama dan berbincang. Pandangan ku tak lepas dari sosok Tasya hingga lama kelamaan aku mulai mengingatnya.
"Sya, Kamu Anastasya Putri?" Tanya ku memastikan.
Ia nampak tertegun, begitu juga dengan Feby dan Zayn. Sesaat kemudian ia mengangguk dan benar ternyata ingatan ku tak salah. Tasya ternyata lebih cantik dari di foto dan aku tak menyangka takdir mempertemukan kami di sini. Padahal ku pikir tidak akan bertemu dengannya secara langsung.
"Kalau begitu kita harus kenalan dengan lebih baik," Ujar ku seraya menarik tangannya untuk kembali bersalaman karena ia duduk di sampingku. Ia terlihat bingung tapi tak menarik tangannya.
"Kenalkan, aku Daniel Wirasena Abrraham, tunangan mu.. Anastasya Putri,"
Cup...
Ujarku tak lupa meninggalkan kecupan manis di punggung tangganya membuat Tasya tersentak begitu juga dengan Feby dan Zayn. Namun, aku melihat hal lain dari ekspresi Zayn, ia tampak mengeraskan rahangnya pun tubuhnya terlihat kaku bak sebuah pohon. Ia terlihat kesal, tapi kanapa? Apa dia menyukai Tasya? Kalau benar aku tidak bisa tinggal diam. Aku sudah menyukai Tasya dari pertama kali melihatnya pun dia memang di jodohkan dengan ku.
Aku tak akan melepaskannya begitu saja.
.
.
.
.
Bersambung....