I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 51



Hening menyelimuti ruangan di mana Zayn bekerja. Zayn memperhatikan Tasya yang sedari tadi hanya memandang kosong makanan yang katanya di masak sendiri. Entah kenapa dengan diamnya Tasya seolah menjadi pertanda buruk untuk hubungan mereka. Padahal Zayn berencana untuk langsung meminta kepada orang tua Tasya untuk dapat melangkah ke jenjang yang lebih serius. Tapi, diamnya Tasya membuatnya menjadi tak percaya diri.


"Sayang.." Sapa Zayn lembut tapi Tasya masih asik dengan lamunannya. Setelah di panggil berkali-kali barulah Tasya tersadar dari lamunannya. Ia memandang Zayn dengan tatapan bingung.


"Kenapa?"


"Apa yang kamu fikirkan?"


"Em.. itu.. Nenek bilang... dia menunggu mu bulan depan" Ucapan Tasya seketika membuat senyum Zayn merekah. Ternyata spekulasi yang selama ini bersarang di benaknya tidak berarti. Buktinya nenek Tasya yang dia tahu sangat menentang hubungan mereka justru mengundangnya secara langsung. Tapi sesaat kemudian senyumannya surut kala mendengar ucapan Tasya yang selanjutnya.


"Nenek mengundang mu untuk datang bersama orang tua kandungmu" Zayn seketika mematung mendengar hal itu. Mana mungkin ia bisa membawa orang tua kandungnya sedangkan ia sendiri lupa seperti apa wajah sosok yang dia panggil ayah dan ibu itu. Lalu bagaimana ia bisa mencari mereka, dan lagi hatinya benar-benar tak siap jika harus menemui mereka. Apa pun alasannya mau itu baik atau buruk, menelantarkan anak sendiri selama 30 tahun itu tidak di benarkan.


Zayn membenci mereka karena merasa dia hanya anak yang tak di inginkan, bahkan sama sekali orang tuanya tak memberi kabar. Teringat saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar, ia sering cemburu kala ada kegiatan di sekolah yang melibatkan orang tua murid, ia hanya bisa memandang kebersamaan teman-teman nya yang tertawa bahagia bersama dengan orang tuanya. Sedangkan dia, setiap hari ia hanya bisa berharap mereka akan menjemputnya namun, harapannya pupus saat tahun demi tahun ia lalui sama sekali tidak ada tanda-tanda orang tuanya yang mencari.


Jadi, bukan kah itu wajar jika sampai saat ini Zayn masih sangat membenci mereka? Walau tak di pungkiri saat ia membaca catatan harian ibunya kemarin ia mulai kembali berharap suatu saat nanti ia akan di pertemukan dengan mereka. Tapi tidak untuk saat ini.


"Maaf kan aku, Zayn. Aku tidak bermaksud melukai perasaan mu. Aku tahu kamu pasti masih kecewa dengan mereka kan. Aku sudah berusaha untuk mengganti syarat yang nenek ajukkan, tapi tetap saja nenek tua itu menolaknya mentah-mentah." Jelas Tasya tapi kini gantian Zayn lah yang malah mematung. Bingung dengan apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Haruskah ia turunkan egonya kemudian dengan lapang dada ia mencari jejak orang tuanya? Tapi hatinya masih teramat sakit. Atau Zayn acuh kan saja, dan menyerah?.


"Maafkan aku, Zayn. Bagaimana jika kita kawin lari saja?" Ucapan spontan Tasya berhasil menarik lamunan Zayn. Ia tak suka mendengar ide gila dari kekasihnya. Walau tak di pungkiri hal itu juga sempat ada dalam benaknya. Tapi, ia tak ingin membuat seorang anak membangkang terhadap orang tua nya. Cukup ia saja yang durhaka kepada orang tua nya Tasya jangan!


"Kamu jangan gila, Sya. Aku tahu sih pesona ku memang sulit untuk di tolak tapi ngga gitu juga konsepnya" Ujarnya. Zayn juga tak lupa menyelipkan kenarsisannya.


"Aku ngga mau kamu melawan orang tua mu. Aku juga ngga mau rumah tangga kita nanti tidak berkah karena tak mendapat kan restu dari mereka. Kamu tahu kan, jika ridho Allah tergantung dari Ridho orang tua dan murka Allah tergantung dari murka orang tua? Aku ngga mau kalau Allah nanti murka karena orang tua yang tidak meridhoi hubungan kita."


"Aku mencintaimu tapi aku ngga mau nekat. Biar aku yang berjuang, kamu cukup dukung dan semangati aku, yah. Jangan pikirkan apapun cukup tahu aku mencintaimu melebihi diriku sendiri." Tukas Zayn mantap membuat hati Tasya menghangat. Ia memang tidak perlu meragukan keseriusan Zayn, pemuda itu sungguh berjuang untuknya bahkan itu sudah di mulai saat pertama kali Zayn mengungkapkan janjinya dulu. Mengingat hal itu membuat cairan bening menetes dari pelupuk matanya.


Tasya terisak di balik tangan yang sudah menutupi wajahnya. Melihat hal itu Zayn pun ikut merasa sedih, ia meraih dua tangan yang sedari tadi menutupi wajah cantik Tasya. Di genggam nya erat tangan yang terasa bergetar itu.


"Jangan menangis!" Ujarnya bersamaan tangan kiri Zayn terangkat untuk mengusap lelehan air mata yang sudah membasahi pipi Tasya.


"Karena air matamu adalah kelemahan ku. Tolong beri aku semangat hanya dengan senyuman mu. Aku pasti akan membawa orang tua ku ke rumah mu, saat itu tiba tidak ada alasan dari keluarga mu untuk menghalangi kita bersatu" Lanjutnya menatap dalam maik mata Tasya membuat gadis itu semakin terisak. Tanpa di suruh Tasya menenggelamkan wajahnya di dada Zayn.


"Aku mencintaimu.. Zayn" Hanya itu yang bisa Tasya ucapakan sambil mengeratkan pelukannya seolah memberikan keyakinan pada Zayn bahwa ia akan selalu berada di sampingnya.


"I Love you more than you can imagine too. Please don't ever leave me, i can't be without you..I Love you, My Secretary" Senyum terukir di bibir ranum Tasya kala mendengar sebuah kata cinta yang keluar dari bibir Zayn.


Kata cinta yang entah sudah berapa kali Zayn ucapkan namun tetap saja hatinya menghangat setiap kali Zayn mengatakannya, dan entah siapa yang memulai untuk pertama kalinya bibir mereka kini sudah saling bersentuhan. Hanya sekedar kecupan tanpa bertaut, karena baik Tasya maupun Zayn sama-sama baru pertama dan Zayn sangat menjaga batasannya untuk tidak menyentuh kekasihnya, sebelum Ayah Tasya sendiri yang menyerahkan tanggung jawab atas Tasya padanya. Itu adalah janji seorang Zayn Pranata.


"Terimakasih.... Atta" Ujar Tasya saat kening mereka bertemu. Senyum terlukis di bibir keduanya.


.


.


.


.


Malam menjelang gedung Herold Grup sudah mulai kosong. Karyawan yang lain sudah kembali ke rumah masing-masing. Zayn dan Tasya tampak baru sampai di parkiran dengan tangan yang saling bertautan. Beruntung, tempat mereka bekerja tidak mengekang karyawannya untuk menjalin hubungan. Jadi, mereka tak perlu sembunyi-sembunyi ketika menunjukan kemesraan seperti saat ini atau saat di pantai kemarin. Zayn bahkan dengan percaya dirinya melamar Tasya walau akhirnya ia harus babak belur.


"Oh!!" Ujar Zayn tiba-tiba saat sudah sampai di sisi mobilnya.


"Cincin! Cincin yang kemarin aku kasih ke kamu, kemana ya?" Ujarnya panik. Ia baru ingat dengan benda penting itu. Sejak kemarin banyak yang ia pikirkan jadi melupakan hal tersebut.


"Ya ampun! Aku kira apa. Ya mana ku tahu, aku saja bangun besoknya" Ujar Tasya kesal jika mengingat waktu kemarin membuatnya kesal, karena harus mendapatkan luka yang sama di tempat yang sama pula.


"Aduh.. gawat!!"


"Kenapa sih? Terlalu mahal ya? Makannya beli apa-apa itu jangan terlalu berlebihan, kalau ilang gitu kan kamu sendiri yang repot"


"Bukan harganya. Harganya murah kok, kan baru lamaran tak resmi jadi mau yang imitasi juga sah-sah aja.. Tapi, masalah nya itu cincin Aldo aku pinjem.. Katanya dia mau kasih ke pacarnya.. Duh bisa di ceramahin siang malam aku ini" Ucapan Zayn sungguh membuat Tasya tercengang, bagaimana mungkin Zayn melamar dirinya dengan cincin hasil pinjam.


"APA!!! Maksud kamu mau lamar aku pake cincin imitasi itu apa? Terus maksud kamu, seandainya kemarin cincin itu berhasil kamu sematkan di jari aku pas di belakang panggung kamu minta lagi gitu?!!" Ujar Tasya kesal. Bagaimana bisa ada laki-laki yang berpikir seperti kekasih nya itu. Bukankah gaji GM itu lebih dari cukup untuk membeli satu set perhiasan.


"Iya!!" Dan jawaban spontan dari Zayn benar-benar membuat Tasya kesal.


"Arghhhhh.. Zayn aku benci padamu.. Aku pulang sendiri aja!!" Ujarnya kesal dan pergi begitu saja dari hadapan Zayn yang menatapnya bingung. Sepertinya pemuda itu tidak menyadari kesalahannya.


"Loh.. Sya.. Mau kemana? Ayo biar ku antar!!" Teriak Zayn berusaha mengejar Tasya.


"Jangan ikuti Aku!!! Pergi kamu!!!" Sentaknya membuat Zayn mematung.


"Kok dia marah? Memangnya ada yang salah dengan ucapankua?" Gumamnya sambil memandang kepergian Tasya yang saat ini sudah berada di sisi jalan.


.


.


.


.


.


Bersambung...


......................


😅 Ya ampun, Zayn! Baru juga Nucha meleleh denger omongan lo. Tapi pelit lo itu bikin Nucha geleng-geleng kepala.


🙄 Cha Lo kan cewek ya, dia kenapa ko ngambek?


😒 ngga peka emang, Lo!


......................


Holla hello Readers tercintah ❤️❤️❤️ jangan lupa lemparin Nucha jempol, bunga sama kopinya ya..


Happy reading...