I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 65



Berada di antara pasangan yang tengah kasmaran memang membuat kita merasa tak nyaman sendiri. Ada perasaan kesal, iri, malu, semuanya bercampur menjadi satu. Begitu juga yang di rasakan oleh Aldo.


Walau ini bukan pertama kalinya ia berada di antara orang-orang yang sedang jatuh cinta, tapi jika orang itu adalah Zayn entah kenapa membuatnya malah merasa aneh.


Zayn yang dia kenal itu adalah sosok yang cuek dan kaku tapi hari ini ia melihat sisi yang lain dari adik sepupunya itu. Zayn jadi lebih banyak berbicara dan juga tersenyum hanya dengan memandang Tasya. Hingga dirinya di lupakan.


Uhuk...


Tak tahan dengan situasi yang seperti itu, Aldo mencoba untuk menarik kembali perhatian mereka.


"Sayang.. Apa kamu dengar ada suara? kenapa bulu kuduk aku berdiri ya?" ujar Zayn sambil mengusap tengkuknya yang baik-baik saja.


"Kenapa Do? Lo keselek nyamuk?" Tanpa menghiraukan ucapan Zayn, Tasya justru merespon apa yang di lakukan oleh Aldo. Di perlakukan seperti itu tentu Aldo dengan senang hati meledek Zayn. Ia menjulurkan lidahnya ke arah Zayn yang sudah mematutkan wajahnya.


Entah kenapa Tasya suka sekali membuat nya kesal. Entah itu karena ucapannya atau tindakannya. Tapi, ia sama sekali tak bisa marah pada gadis itu.


"Berada di antara kalian itu membuat gue kaya yang ngontrak ngga bayar aja tau ngga?" Keluhnya.


"Tuh Lo sadar. Jadi ngapain masih di sini? Lo mau apa jadi nyamuk?" Ketus Zayn ia pun merasa terganggu dengan adanya Aldo di sana. Walau yakin Zayn tak akan berbuat apa-apa tapi tetap saja kan meninggalkan wanita dan laki-laki yang bukan muhrim dalam satu ruangan itu tak baik. Aldo hanya ingin menjaga mereka, tak lebih.


"Males banget sebenernya, tapi kan kalo cuma berduaan di kamar mana belum sah lagi, nanti yang ketiganya setan." Tekan Aldo.


"Iya, setannya kan elo!" Zayn jadi sewot sendiri dengan ucapan Aldo. Entahlah hanya melihat wajah sepupunya itu membuat Zayn naik darah.


"Kalian ini kenapa? bukannya malah ramai kalau bertiga gini, Ta? jadi udahlah biarin aja. Lagian yang di bilang Aldo itu benar?" Lagi Tasya malah membela Aldo dari pada dirinya. Itu semakin membuat Zayn kesal dengan keberadaan Aldo.


"ngga peka emang!" Ujar Zayn lirih hingga yang terlihat hanya bi bir nya yang tampak bergerak tanpa suara.


Perdebatan ketiganya terhenti karena sang bibi ternyata masuk dan membawakan ketiganya minum. Bibi Lisa juga mengundang mereka bertiga untuk makan malam. Dengan patuh ketiga nya turun dan kini sudah duduk mengelilingi meja makan yang ternyata penuh dengan macam-macam hidangan.


Tasya yang terbiasa sendirian merasa bahagia berada di antara keluarga Zayn, ia merasa seperti berada di antara keluarganya sendiri. Apalagi keluarga Zayn menerimanya kehadirannya dengan tangan terbuka.


Usai makan malam, Tasya berpamitan untuk pulang namun rupanya Zayn tak mengizinkan. Paling tidak ia ingin bersama dengan Tasya setengah jam lagi. Mau tak mau Tasya pun menuruti permintaan sang kekasih. Kini keduanya sudah berada di dalam kamar Zayn tapi kali ini hanya mereka berdua. Aldo sudah kembali ke kamarnya sendiri. Karena hanya berdua pintu kamar Zayn di biarkan terbuka dengan lebar.


"Sini duduk" Zayn menepuk-nepuk sisi ranjang yang masih kosong di sebelahnya sebagai isyarat untuk Tasya duduk di sana. Tanpa di perintah dua kali Tasya kini sudah duduk dengan nyaman di samping Zayn.


Zayn mengambil sebuah kotak di dalam laci nakasnya. Sebuah kotak dari kayu dengan ukiran namanya di permukaan kotak tersebut. Ia membuka benda tersebut dan mengeluarkan sebuah kalung dari sana. Itu adalah benda yang ia ambil di rumahnya waktu itu.


"Apa itu?" Tanya Tasya penasaran dengan kalung yang di tunjukan oleh Zayn.


"Ini adalah benda yang di berikan ibuku. Awalnya aku tak tertarik untuk menyentuh apalagi memakainya. Tapi, benda ini adalah satu-satunya yang di tinggalkan orang tuaku" Tutur Zayn datar. Tak ada ekspresi yang berlebihan saat mengatakan hal itu. Sejujurnya ia masih setengah tak ikhlas untuk mencari keberadaan orang tuanya.


"Jadi ini adalah petunjuk pertama mu? Boleh aku liat?" Zayn memberikan kalung dengan liontin berbentuk oval itu pada Tasya.


Tasya memperhatikan bandul kalung tersebut dengan seksama. Ia mengernyit beberapa kali saat melihat ukiran nama Zayn yang ada di belakang bandul tersebut dan juga bentuk bandul itu sendiri. Ia seperti merasa tak asing dengan kalung ini. Tapi, ia pun lupa dimana ia pernah melihat. Maklum saja yah guys Tasya memang orang nya pelupa.


"Aku seperti nya pernah melihat kalung ini.. Tapi.. aku ngga inget.. Hehe" Jelas Tasya tak lupa ia pun menunjukan deretan gigi-gigi putihnya untuk menutupi rasa malunya. Malu karena di usianya yang masih muda, ingatan Tasya justru tak bisa di andalkan.


"Ngga apa-apa, mungkin cuma perasaan kamu aja.. Tapi kalau kamu udah inget kasih tau aku ya?" Tutur Zayn kemudian menyimpan kembali kalung yang Tasya pegang pada kotak tersebut. Ia beralih melihat sebuah foto yang sudah usang. Bahkan warna dari foto tersebut sudah luntur. Zayn tak tahu apa itu, tapi dari buku diary ibunya bisa ia tebak kalau foto itu adalah foto ibu kandungnya. Sayangnya, bagian wajah adalah yang paling parah mendapatkan kerusakan.


"Ada tulisan di belakang nya, Ta!" Seru Tasya hingga membuat Zayn membalik foto tersebut. Di sana tertulis nama ibu kandungnya dan juga alamat tempat tinggal nya. Mungkin dulu orang yang mencari dirinya bermaksud untuk memberi tahu dimana keberadaan ibu kandungnya dengan menuliskan nama dan alamat nya di sana. Namun, karena ibu Lusi yang tak rela kehilangan Zayn merahasiakan hal ini.


"Wah iya, ini adalah alamat rumah. Aku bisa ke sana besok!" Seru Zayn senang. Akhirnya ia menemukan titik terang dari pencariannya. Tak perlu repot-repot seperti apa yang di bayangkan nya selama ini. Ia juga sudah mengambil cuti selama tiga hari.


"Kalau niat kita baik ternyata Allah akan selalu mempermudahkan jalannya, yah?" ujar Zayn takjub.


"Karena itu, kita harus selalu menyertakan Dia di saat dan dalam keadaan apapun. Insyaallah semua nya akan baik-baik saja" Zayn mengangguk menyetujui ucapan Tasya. Ia tersenyum ceria karena merasa tak lama lagi ia bisa bersama dengan kekasihnya itu.


Zayn menyimpan kembali barang-barang tersebut di dalam laci. Ia kembali meraih jemari Tasya dan menggengam nya dengan lembut.


"Sayang.. Apapun yang terjadi kedepannya.. Aku mohon tetaplah berdiri di sampingku. Aku tak akan sanggup jika kau tak ada di sisiku!" Tatapan Zayn kini terlihat sayu menatap manik mata Tasya. Sedangkan Tasya tak tahu harus menjawab apa. Dalam hatinya ia pasti akan melakukan hal itu, tapi di sisi lain ia seperti merasakan perasaan yang... Entah, Ia pun bingung untuk menjelaskannya.


"Aku.. Berjanji aku, Anastasya Putri akan selalu bersama dengan mu, Zayn Pranata dalam keadaan apapun.. Selamanya.." Tukas Tasya menyakinkan Zayn sekaligus meyakinkan dirinya sendiri.


.


.


.


.


.


Bersambung...


...----------------...


😱 udah malem, oi!! jangan pacaran Mulu!! Kasian itu yang jomblo ngintip di samping pintu..


😣 Nucha ganggu Mulu deh.. Malam Minggu ini.. Pergi Sono yang jauh.. Syuuuhhh!!


😒 Di kira gue ayam kali.. Kasih kopi dulu sini buat temen gadang!!


Holla hello Readers tercintah ❤️❤️❤️ Mohon dukungan nya ya buat karya Ranucha ini. Lembarin Nucha jempol nya dong sekalian sama giftnya..


Terimakasih yang sudah mau mampir...


Happy reading all ❤️❤️❤️