I Love You, My Secretary

I Love You, My Secretary
Bab 11



Zayn Pov


Braakk


"Zayn!!"


Suara melengking terdengar merusak gendang telinga ku. Aku yang sedang membaca sebuah buku terkejut akibat suaranya dan juga pintu yang tiba-tiba di buka dengan kasar.


Sang pelaku tampak tak peduli dengan kelakuannya yang menganggu ketenanganku atau tidak. Dia berjalan setengah berlari menghampiriku yang menatapnya dengan malas.


"Oh sayang ku... Aku merindukan mu!" Ujarnya sambil memeluk tubuhku dengan erat. Aku sungguh geli dengan tingkahnya ini.


Ia tak pernah berubah sejak aku datang ke rumah ini, selalu kekanak-kanakan.


"Ngapain sih? lepasin, Do! Geli tau ngga!"


Aldo mencebikan bibirnya, ia memandang ku sinis karena menolak nya.


"Ck! Lo ngga kangen apa sama gue? kita kan dah nggak ketemu 5 bulan. Tega banget Lo!" Ujarnya cemberut dan memalingkan mukanya sambil bersedekap.


Aku memutar bola mata malas melihat tingkahnya. Sungguh tak mencerminkan pemuda dengan usia 25 tahun. Kadang aku heran ia bertingkah seperti ini di depan ku, tapi jika berhadapan dengan perempuan sikapnya bisa berubah 180 derajat.


Dia Aldo kakak sepupuku, anak satu-satunya bibi dan paman. Aldo seorang Fotografer yang lumayan terkenal. Ia bahkan sudah mempunyai studio foto sendiri dengan 2 rekan lainnya.


Akhir-akhir ini ia sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga jarang sekali ada di rumah. Terakhir ia bahkan hanya 1 malam di rumah setelah itu ia terbang ke Jogja dan Bali.


"Lo bawa oleh-oleh buat gue ngga?" Tanya ku tak mempedulikan dirinya yang sedang kesal.


"Bawa lah"


"Mana?"


"Gue belum bisa ngasih sekarang, ntar 5 bulan lagi" Katanya.


Aku mengernyit bingung mencerna maksud dari ucapannya.


"Gue bawain lo oleh-oleh keponakan soalnya." Sahutnya datar. Aku langsung tersentak mendengarnya. "What!!"


Saking terkejutnya dengan pengakuan yang baru saja Aldo katakan, tanpa sadar aku berteriak membuatnya menutup telinga karena aku berteriak di samping telinganya.


Aku tahu dia memang playboy, apa lagi profesinya yang memang selalu di kelilingi model-model cantik. Tapi, aku sungguh tak menyangka dia berani sejauh ini sampai menghamili anak gadis orang, yang benar saja!.


"ck! Berisik Zayn," Gerutunya.


"Lo jangan macem-macem deh Do. Kasian paman sama bibi. Bisa serangan jantung ntar mereka!"


"Mereka kan bakal jadi kakek sama nenek. Nggak mungkin bakal mati dulu lah," Sahutnya santai.


"Hustt! kalo ngomong sembarangan. Lo nyumpahin mereka cepet mati?" Gerutu ku kesal.


Rasanya aku ingin sekali menghajar kepalanya itu jika berbicara selalu sesukanya, tak ada sopan-sopanya dengan orang tua. Apalagi yang ia bicarakan orang tua kandung sendiri.


Apa dia tak pernah memikirkan bagaimana berada di posisi ku yang bahkan sama sekali tak pernah mendapatkan sentuhan lembut dari tangan - tangan orang tua, pelukan yang menenangkan dari orang tua. Dia yang terlahir dengan segala kesempurnaan yang di berikan Tuhan malah seenaknya melukai perasaan mereka seperti itu.


"Maksud gue yang mau kasih keponakan itu bukan gue tapi si Reza. Lo mah seuzon mulu sama gue,"


Aku menghela nafas lega mendengarnya. Ku fikir tadi Aldo yang bertingkah, mengingat dia juga sering gonta ganti pacar. Seminggu bahkan bisa dua, tiga kali dia berganti pasangan.


"Keluar lo!" Ujar ku ketus. Tak tahu apa jika aku saat ini sedang kesal malah di ajak bercanda.


Sejak tadi pagi mood ku benar-benar berantakan. Semua yang ku lakukan serba salah karena itu aku mengurung diri di kamar. Kalau ke luar aku takut melampiaskan amarah ku bukan di tempat yang tepat.


"Galak bener, bang. Dah kayak emak-emak nagih utang," Ledeknya padaku.


"Berisik!!! Keluar lo!"


"Iya.. Iya bawel. Galak banget! pantes jomblo karatan sampai sekarang. Pasti cewek pada kabur lah kalo sikap lo kaya gini," Lagi-lagi Dia malah meledek ku. Tak tahu apa aku ini kan lelaki paling setia. Bahkan jika Sasya sudah memiliki suami, aku bersedia menunggu nya sendiri malah di ledek seperti itu.


Ku lemparkan bantal guling ke arahnya yang sudah hendak mencapai pintu. Ia hanya terkekeh karena lemparan ku sama sekali tak mengenainya.


***


Keesokan harinya, aku terbangun sebelum azan subuh berkumandang. Suatu kebiasaan yang jarang ku tinggalkan yaitu selalu melaksanakan kewajiban dua rakaat ku di masjid bersama bapak-bapak di kompleks kami.


Sarapan kali ini terasa lebih hangat karena kehadiran Aldo. Dia sungguh sangat sibuk, hingga jarang berkumpul seperti ini. Rasanya sangat bahagia jika bisa bersama dengan orang-orang yang menyayangi kita.


Aku melihat betapa perhatiannya bibi kepada Aldo, ia melayani anaknya itu dengan senyuman yang tulus. Paman pun tak mau kalah, ia suka sekali meledek Aldo hingga anak itu kesal dan mengadu pada bibi. Sungguh pemandangan yang indah. Andai aku pun memiliki keluarga seperti ini, kebahagian ku pun pasti akan terasa sangat lengkap.


Keluarga?


Aku beranjak dan berpamitan pada paman dan bibi karena hari sudah semakin siang. Aku melajukan kendaraan ku dengan cukup kencang.


Tiba di kantor, aku di suguhkan pemandangan yang lagi-lagi menyesakkan dada. Aku melihat Sasya ku turun dari mobil Tuan Abi. Mungkinkah tak sengaja Tuan Abi melihat Sasya di tengah jalan dan memberinya tumpangan? Tapi, apa Tuan Abi tahu jika Sasya adalah karyawan nya?.


Aku ingat ketika Sasya yang saat itu menggoda Tuan Abi tanpa tahu tempat. Pada saat itu aku benar-benar kesal tapi aku juga bingung bagaimana caranya mendekati seorang gadis. Aku sama sekali tak mempunyai pengalaman dengan hal seperti itu.


Jika bertanya pada Aldo aku takut justru nanti ia akan menyesatkanku. Karena itu aku tak pernah memberi tahu tentang hal seperti itu.


Tuan Abi dan Sasya terlihat sangat akrab sesekali mereka tersenyum bahkan tertawa, hal yang tak pernah Tuan Abi lakukan pada karyawan yang lain termasuk juga sekertaris nya.


Aku tiba di ruangan tak lama setelah Sasya pun sampai di ruangan nya. Aku masih mendiamkan nya karena masih merasa sesak kala mengingat kejadian kemarin.


"Pukul 11 nanti anda ada meeting dengan perwakilan WM Corp di restoran XX pak,"


Ujar Sasya ketika sudah berada di ruanganku. Ku rasa hari ini aku akan sedikit sibuk. Namun aku tak lagi kesal seperti dulu, karena aku bisa lebih lama bersamanya. Bukankah itu menyenangkan?.


.


.


.


.


.


Bersambung...