
Abidzar POV on
Pagi hari di rumah kali ini terasa berbeda, karena pelita dalam keluarga kami tak lagi terlihat murung. Walau di depan ku Mamah selalu menampakkan wajah cerianya, tapi aku tahu sorot matanya berkata lain. Itulah sebabnya aku ingin memberikan nya hadiah yang begitu istimewa di ulang tahun nya yang menginjak angka 52 tahun.
Mamah bahkan sudah sedari tadi subuh sibuk di dapur, katanya ingin menitipkan bekal untuk kakak Zayn. Rasanya sungguh seperti mimpi. Tak pernah terbayangkan dalam benakku bahwa karyawan ku sendiri adalah orang yang selama ini ku cari. Rasanya agak aneh saat memanggil nya dengan sebutan kakak.
"Bi, mamah titip bekal untuk Atta yah, nak?" Pinta mamah saat kami semua sedang sarapan. Aku memperhatikan tas yang baru saja bibi letakan di samping mamah. Sedangkan papah hanya terdiam memperhatikan kami sambil mulai memakan roti bakar selai kacang kesukaan papah.
Saat sarapan papah yang mempunyai darah keturunan bule memang lebih suka memakan roti dan segelas susu dari pada makanan berat seperti nasi atau kentang. Berbeda dengan aku dan mamah, kami lebih suka memakan nasi dan secangkir teh manis hangat saat sarapan.
"Kok cuma satu, mah? Abi ngga mamah buatkan bekal juga?" Tanya ku cemberut saat bibi hanya meletakkan satu tas saja. Aku tak benar-benar kesal, hanya sedang menggoda mamah yang hari ini begitu antusias tak seperti biasanya. Rupanya ucapanku membuat mamah terkesiap dan tersenyum canggung karena ternyata aku di lupakan nya. Sedih sih tapi aku juga maklum dengan sikapnya.
"Abi mau bawa bekal juga, nak? Mamah siapkan dulu ya?" Ucapnya segera beranjak namun aku segera menolaknya.
"Abi cuma bercanda, mah. Ngga apa-apa kok, lagi pula Abi ada meeting pagi ini. Ya kan pah?" Ucapku dan segera di angguki kepala oleh papah setelah menghabiskan segelas susunya.
"Iya mah. Pagi ini kami akan membahas tentang pengangkatan jabatan Atta di kantor." mendengar hal itu seketika mata mamah nampak berkaca-kaca hingga membuat papah panik. Tampak sekali papah tak rela saat melihat air mata mamah tumpah.
"eh... papah salah ngomong ya, mah? maafin papah, papah ngga sengaja." ujar papah panik sambil menggenggam tangan mamah dengan penuh cinta, aku jadi iri. Semoga saja ketika aku sudah berumah tangga nanti, cinta kami pun akan terus utuh hingga kami menua. Entah dengan siapa aku pun tak tahu, jodoh ku belum terlihat.
Nucha tega banget bikin aku jomblo gini.
"Ngga pah." Ucap mamah sambil tersenyum setelah menghapus air matanya yang sempat menetes itu. Aku cukup jadi pendengar saja, tak ingin ikut campur.
"Mamah terharu. Papah mau menerima Atta saja mamah sudah sangat bahagia. Mamah tidak menyangka papah memikirkan Atta sampai seperti itu, padahal Atta bukan anak kandung papah" Ucap mamah dengan nada yang terdengar bergetar.
"Sttt.." Papah mengangkat dagu mamah hingga wajah yang tadinya tertunduk itu mendongak menatap wajah sendu papah. Aku seperti nyamuk sekarang.
"Atta juga anakku, Honey. Aku akan memberikan kasih sayangku padanya sama rata dengan kasih sayangku untuk Abi. Mereka adalah anak-anak ku. Jadi, sudah sewajarnya aku memberikan apa yang memang menjadi haknya Atta. Bukan begitu Bi?" Aku mengangguk yakin untuk menjawab pertanyaan Papah karena saat ini mulutku penuh dengan nasi goreng.
"Terimakasih, Sayang" Ucap mamah dan di sambut pelukan Papah membuatku menghela nafas jengah.
"Jomblo masih di sini loh!" Ketusku membuat mamah dan papah terkekeh meledekku.
"Makannya segera lah cari pacar. Jangan mengharapkan kekasih dari kakakmu itu! Papah liat kakakmu sangat mencintainya. Papah yakin dia tidak akan pernah melepaskan kekasihnya." Ujar Papah membuatku membulatkan mata tak percaya. Sejak kapan aku mengharapkan wanita aneh itu. Sedikitpun tak pernah terlintas dalam pikiranku untuk menjadikan nya teman istimewa apalagi istriku.
Sebenarnya ini rahasia, tapi untuk kalian ku rasa tidak masalah jika sedikit terbuka.
Jadi kalau sekedar mengenal lebih jauh sosok Anastasya Putri.. mungkin sempat terlintas. Karena menurut ku dia itu unik dan apa adanya. Bahkan di depanku pun dia tak ragu menunjukan sifat aslinya. Kesal memang, tapi kalau sehari tak mendengar ocehannya rasanya seperti ada yang kurang. Tapi, saat aku tahu ternyata dia sudah punya tunangan aku pun tak ingin berharap dan segera menepis keinginan itu. Aku takut dari rasa penasaran ini kemudian akan tumbuh rasa yang lain. Aku belum siap sakit hati!.
"Bi!!" Aku tersentak karena panggilan cukup keras dari Mamah. Ternyata aku malah melamun saat membahas wanita itu. Bahkan tanpa ada sosoknya di hadapan ku pun wanita itu membuat konsentrasi ku buyar.
"Benar kan! Abi memang suka dengan sekertaris Atta itu" Ujar papah bangga karena tebakannya mungkin ia anggap benar. Padahal tidak sama sekali. Aku tekan kan sekali lagi, Aku tak menyukai Tasya!.
"Jadi maksud papah, pacar Atta itu sekertaris nya sendiri?" Mamah memang belum tahu tentang kekasih Kak Zayn karena mungkin mereka sibuk bercerita tentang Ayahnya kakak. Yang ku dengar Kak Zayn harus bisa membawa orang tua kandungnya ke hadapan orang tua Tasya jika ingin menikahinya.
Papah pun bercerita tentang Tasya dan mengatakan jika Tasya pernah menjadi art pengganti di apartemenku. Tentu saja Mamah terkejut karena tahu siapa yang di maksud.
"Mau sampai kapan papah bercerita tentang wanita aneh itu? ini sudah sangat siang, pah!" Ujarku sambil beranjak untuk mencium punggung tangan mamah sebelum berangkat.
"Bi! kamu ngga pamit sama papah?" Teriak papah karena saat ini aku sudah berada di ruang tamu.
"Abi berangkat duluan, pah! Papah juga jangan lama-lama! Jagan pacaran mulu!" Teriak ku tak kalah lantang.
"Dasar pilih kasih!" Gerutu papah yang masih bisa ku dengar.
****
Beberapa jam kemudian tepatnya pukul dua siang, Kak Zayn kami undang untuk ikut meeting bersama para pemegang saham yang lain. Setelah diskusi yang cukup alot karena beberapa yang keberatan dengan keputusan yang aku dan papah ambil tentang pengangkatan jabatan Kak Zayn, akhirnya kesepakan pun diambil.
"Tuan Zayn Pranata selaku General Manager di Herold Grup sekaligus anggota keluarga Herold yang telah lama menghilang. Saya selaku perwakilan dari seluruh pemegang saham di Herold Grup mengucapkan selamat datang kembali dan kami turut bahagia untuk keluarga tuan Herold." Ucap Richard mewakili seluruh orang yang mengikuti meeting pada kak Zayn. Sedangkan kak Zayn hanya bisa tersenyum canggung.
"Untuk itu.. Kami telah sepakat mengangkat tuan Zayn untuk menduduki kursi Direktur Utama di perusahaan Herold Grup ini. Selamat untuk anda Tuan!" Ujar Richard lagi di iringi tepuk tangan dari peserta meeting termasuk aku dan juga Papah. Walau awalnya usulan kami ini di tentang akhirnya keputusan akhir mendukung pengangkatan jabatan untuk Kak Zayn. Namun, ku lihat ekspresi kak Zayn tampak biasa saja. Apa dia tak suka? Atau mungkin dia tak menyangka akan mendapatkan berita seperti ini sehingga lupa untuk berekspresi?
"Terimakasih sebelumnya untuk tuan Herold, tuan Abi, tuan Richard dan tuan-tuan semua yang hadir di sini atas sambutan hangat kalian pada saya. Alhamdulillah memang benar bahwa saya adalah salah satu bagian dari keluarga Herold. Namun jujur, saya sama sekali tidak pernah menginginkan adanya sebuah pengakuan atas status saya ini. Saya cukup sadar diri bahwa posisi Direktur Utama yang tuan-tuan sekalian percayakan pada saya tak pantas untuk saya."
"Memang betul bahwa saya menginginkan posisi tersebut. Tapi, saya ingin meraihnya dengan usaha dan kerja keras saya, bukan karena saya adalah anggota keluarga dari pemilik perusahaan. Sedangkan kinerja saya pun akhir-akhir ini menurun karena suatu hal. Saya merasa sangat tak pantas untuk memegang tanggung jawab tersebut dalam keadaan saya yang belum siap. Maafkan saya tuan-tuan sekalian jika kata-kata dan tindakan saya membuat anda semua tersinggung dan terimakasih karena telah memberikan saya kesempatan." Tukas kak Zayn membuat kami semua mematung karena heran. Kenapa ia malah menolak posisi yang memang menjadi hak nya? Kalau bisa aku bahkan ingin memberikan posisi COO.
Akhirnya keputusan pun di ambil, Kak Zayn tetap mengemban tugas sebagai GM namun kali ini ia memiliki 10 persen saham di perusahaan yang di peroleh dari saham papah.
Sayang sekali dia tak mau mengambil kesempatan emas ini. Aku pun tak bisa memaksa karena itu adalah keputusannya.
.
.
Abidzar POV end
.
.
.
.
Bersambung...
...----------------...
😄 Maafkan Nucha, Bi. Nucha belum ikhlas kalau sampai Lo dapet jodoh soalnya. Lo Nucha kekepin di bawah bantal dulu lah ya 😁😁
😭 Nucha lu tega banget sama gue! Cape tau jadi nyamuk Mulu! kaga punya gandengan. Padahal gue kece badai kayak gini, masa sih jomblo.
Holla hello Readers tercintah ❤️❤️❤️ jangan lupa lemparin Nucha jempol sama gifnya yah.. Terimakasih untuk kalian yang sudah mampir. Lophe you phlen ❤️🤗🤗
Happy reading all ❤️❤️❤️