
Mencintai dan dicintai, siapa yang tak menginginkannya? Hidup bahagia, berbagi canda, tawa, keluh, dan kesah bersama. Menjaga dan di jaga pasangan masing-masing. Sejatinya, Tasya pun menginginkan hal tersebut. Tapi takdir ternyata tak mengizinkan mereka bersatu. Impian yang dia rajut bersama dengan kekasih hati pun harus kandas.
Di sini, di balkon kamar sebuah rumah berlantai dua, Tasya termenung melihat orang-orang yang hilir mudik sibuk dengan pekerjaan mereka. Di rumah itu pula, esok adalah hari yang paling ingin di hindari Tasya. Jika bisa, dia ingin untuk hari esok saja dia tak sadarkan diri. Pingsan, terlelap, menghilang atau yang sejenisnya.
"Fyuuuhhh,"
Tasya menghela nafasnya mencoba menenangkan perasaan yang gelisah itu. Ini keputusannya, keputusan untuk menikah dengan Daniel. Ya, besok adalah hari pernikahannya karena itu di bawah tepatnya di taman belakang rumah itu ramai orang yang sedang mempersiapkan pernikahanya. Tapi dia sama sekali tak bahagia. Jelas saja, semua ini hanya formalitas yang pada kenyataanya pernikahaan ini adalah bentuk 'Barter' yang orang tuanya inginkan.
Sejak pergi dari apartemen Zayn, Tasya memutuskan kembali ke kampung halamannya. Ia juga mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja. Di landasi rasa kecewa tanpa memikirkan apa pun, Tasya ingin menenangkan fikiran dan hatinya di rumah tempatnya selama ini berkeluh kesah, Ibunya. Tapi tanpa ia sangka, keputusannya yang dia fikir benar menjadi boomerang untuknya. Hari itu juga Tasya di boyong ke salah satu kediaman keluarga Wirasena, tepatnya rumah yang ada di Bandung. Itulah kenapa Zayn tak bisa menemukan keberadaan Tasya.
Seharusnya pernikahan Tasya dan Daniel di langsungkan tepat satu minggu setelah Zayn tak bisa memenuhi syarat yang di berikan keluarga Tasya. Tapi saat itu kondisi kaki Tasya tak memungkinkan. Yang seharusnya Tasya bisa kembali berjalan normal dalam satu bulan, tapi karena dia memaksakan untuk berjalan bahkan sampai di kampungnya, Tasya harus menjalankan pengobatan selama dua bulan dan baru sembuh dua minggu yang lalu.
"Kenapa?" Tasya tersentak mendengar sebuah suara di belakangnya. Meski suara itu pelan tapi karena Tasya sedang melamun makannya ia sampai terjingkat.
Jika biasanya dia akan mendelik kesal bila di buat terkejut begitu, dua bulan ini Tasya berubah menjadi pendiam dan murung. Ia hanya melirik sebentar pada Rizky dari sudut matanya kemudian kembali tenggelam dalam lamunanya.
"Apa yang lo lakuin di sini, Sya?" Karena merasa di cuekin maka Rizky kembali bertanya dengan nada yang terdengar kecewa, namun tetap saja Tasya masih tak bergeming.
"Bukannya lo minta pertanggung jawaban Atta tapi lo malah di sini dan dengan bod*hnya menerima perjodohan konyol ini!" geramnya, "Come on, Tasya! Ini bukan jalan keluarnya! Lo harus jujur dengan orang tua lo, kalau sekarang lo itu hamil anaknya Atta! Lo-"
"Cukup!!" Sentak Tasya setelah sekian lama terdiam. Membicarakan hal yang begitu sensitif bagi Tasya sekarang ini membuat emosinya meluap-luap. "Lo ngga tau apa-apa, Ky! Jangan ikut campur!"
"Apa yang gue pilih.. Bukan urusan elo. Ini hidup gue, berhenti selalu sok tau! Gue bukan anak kecil, gue tau apa yang gue lakukan!"
"Lo yang dengerin gue!" sentak Rizky tak kalah tegasnya mendengar ucapan Tasya yang menurutnya sangat bod*h itu. "Daniel itu bukan cowok baik-baik. Dia ngga akan mau nerima lo yang udah ngga gadis! Apalagi nerima anak yang jelas-jelas bukan darah dagingnya!" Sambungnya. Rizky sungguh geram dengan keputusan kakaknya itu. Ingin sekali rasanya dia membenturkan kepala Tasya ke tembok supaya kakaknya itu sadar, apa yang di lakukannya adalah sebuah kesalahan.
Ya, kini Tasya tengah mengandung hasil dari hubungan satu malamnya bersama Zayn dua bulan yang lalu. Sebenarnya dia di ambang kebingungan. Ia pun ragu apa ini adalah keputusan yang tepat? Tapi mengingat ucapan sang nenek sebelum dia menyetujui pindah ke Bandung, benar-benar membuatnya dilema.
Bukannya dia tak mau menerima dan merahasiakan calon anaknya, tentu saja sebagai seorang perempuan dia bahagia mendapatkan kepercayaan dari Tuhan untuk menjadi seorang ibu, terlepas seperti apa prosesnya, ibu tetaplah ibu. Hanya saja dia takut untuk mengatakan masalahnya pada keluarga terutama sang ayah.
Memang benar ayahnya sangat menyayangi Tasya, tapi hamil di luar nikah adalah aib bagi mereka dan sang Ayah tak akan memberikan toleransi atas kesalahan tersebut meski itu adalah Tasya, anak kandungnya sendiri.
"Meski gue ngga gadis, gue yakin Daniel bakal tetap terima gue. Buktinya selama ini dia memperlalukan gue dengan baik, dia menyayangi gue, dia pasti mengerti," Ucap Tasya lemah tak lagi mengebu-gebu. Ia pun tak yakin dengan ucapannya, tapi Tasya tak ingin mendengar lebih banyak ucapan Rizky karena apa yang adiknya ucapkan itu banar.
"Lo jangan jadi orang bod*h, Sya! Buka mata lo! Untuk apa Daniel mau nikahin lo, jelas-jelas dia tampan dan kaya, perempuan yang cantik dan sexy pun di sekeililingnya banyak. Kenapa mau bayar lo segitu mahalnya?" Tasya terdiam tak bisa menjawab ucapan Rizky.
"Fikir baik-baik, Sya. Semua ini belum terlambat,"
"Tapi.. Gimana nasib ayah jika gue sampe batallin pernikahan ini?" Tanya Tasya ragu. Ucapan sang nenek terus terngiang di telinganya membuat Tasya gamang.
"Memang apa yang nenek katakan?"
"Waktu itu.."
Flashback Tasya pov
"Sudah berapa kali Tasya bilang, Tasya ngga mau nikah sama dia!" Ucapku kala baru saja merebahakan diri di kamarku. Mengistirahatkan kaki yang seperti mati rasa saking sakitnya. Tiba-tiba nenek tua, sang ibu ratu di rumah ini datang menemuiku dan langsung membahas perjodohan.
"Kamu tidak bisa menolak. Ini demi kebaikan mu!" Ucap nenek membuat darahku terasa mendidih. Kebaikan ku katanya? Jelas-jelas kebaikan mereka dan bukan aku, orang-orang serkah. Tapi, si*lnya orang-orang serakah itu orang tuaku.
"Tasya tidak peduli! Kenapa bukan nenek saja yang nikah sama dia?" ucapku saking geramnya.
"Tapi, Nek!"
"Dengarkan nenek dulu... Nasib keluarga kita ada di keluarga Wirasena, Nak.. Untuk kali ini saja, tolong kasihani kami. Jika kau menolak keluarga kita akan di jebloskan ke penjara, Nak," ucap nenek ku kini dengan nada yang memelas. Untuk sejenak aku tertegun dengan pengakuan itu tapi aku sungguh tak bereaksi apapun. Aku hanya terdiam tak mengerti.
"Seperti yang kamu tahu, kami sudah menandatangani perjanjian itu. Di sana di tertulis jika kami ingkar, maka kami harus mengganti denda sebanyak 5 miliyar rupiah sebagai bentuk dari point awal dimana keluarga Wirasena meminjamkan dana sebesar 2 Miliyar rupiah untuk kami. Lebih dari itu ayahmu akan di tuntut dengan tuduhan penipuan," tutur nenek membuat hatiku sakit bagai tersayat. Keluarga ini sungguh gil* bagaimana bisa ada penjulan anak dengan kedok pernikahan seperti ini.
Aku menatap nenek tak percaya, aku kecewa dengan mereka. Tidak ada kah yang memikirkan perasaan ku? Kenapa ayahku begitu mudah setuju dengan iming-iming uang?
"Kalian.. Kalian.. Kejam!"
Flashback Tasya pov end
Untuk sesaat baik Rizky maupun Tasya, masih termenung setelah mendengar kenyataan itu. Tak menyangka, keluarga yang mereka kira harmonis nyatanya begitu egois.
"Mau sekarang atau nanti tetap saja paman akan di tuntut juga kan nantinya?"
"Kalau begitu, lebih baik katakan sekarang aku sungguh tak mengikhlas kan lo nikah dengan cowok yang modelan Daniel itu."
"Tapi, Ky.."
"Sekarang atau lo akan menyesal, Sya!"
"Ky.."
"Ayo! Kita hadapi sama-sama. gue selalu ada di samping lo. Apapun yang terjadi, gue ingin lo bahagia, bukan dengan cara ini pastinya. Ayo!" Rizky mengulurkan tangannya mengajak Tasya untuk menemui keluarga mereka yang juga sedang sibuk di bawah.
Tasya menatap lekat tangan Rizky, tangan ini yang dari dulu selalu terulur untuk menolongnya. Tangan ini pula yang selalu melindunginya. Tasya beralih menatap binar mata Rizky yang penuh keyakinan mengakhiri hal konyol seperti ini.
"Rizky.." suara Tasya tampak bergetar menahan tangis.
"Jangan takut, aku akan melindungimu!"
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...