
Masih pov Zayn yah guys..
Happy reading..
...----------------...
Pagi ini sebelum bekerja aku mampir terlebih dahulu ke mansion milik tuan Herold. Kemarin sebelum aku membuntuti Rizky, Abi memberi tahu pesan dari papahnya jika beliau ingin membicarakan sesuatu dan aku yakin sesuatu itu mengenai ayahku.
Sebenarnya aku ingin menemuinya malam tadi, tapi berhubung aku sudah menemukan Tasya maka aku baru bisa menemuinya pagi ini.
Tasya saat ini berada di apartemen ku, tentu saja awalnya dia menolak tapi mengingat cidera di kakinya maka akan sulit untuknya jika tetap tinggal di kostanya. Aku pun bisa lebih leluasa untuk merawatnya. Dengan berbagai pertimbangan Tasya akhirnya menyetujui usulanku dengan syarat dia tak mau sekamar denganku. Tentu saja tanpa dia minta pun aku akan melakukan hal itu.
Apartemen ku memiliki tiga kamar, dua di atas dan satu di bawah. Dua sudah ku gunakan dan tersisa satu di lantai bawah.
Aku tiba di mansion bertepatan dengan mereka tengah sarapan dan aku pun ikut bergabung dengan mereka atas paksaan dari ibu dan tuan Herold.
Selesai sarapan, tuan Herold mengajak ku untuk menuju ruang kerjanya dan sini lah kami berada.
"Maaf kan papah, nak. Papah tak bisa menepati janji padamu," ujarnya saat kami sudah duduk berhadapan di sofa.
"Maksud tuan apa?" Tanyaku tak mengerti namun sebenarnya aku mulai merasakan perasaan yang tak mengenakkan.
"Papah gagal membawa ayahmu, nak. Maafkan papah," katanya dan firasatku menjadi kenyataan. Seketika aku langsung merasa lemas, harapanku yang setinggi langit itu harus terhempas begitu saja.
"Kenapa? Kenapa, tuan menyerah begitu saja? Kita masih punya waktu setidaknya tiga hari lagi, tuan. Terlalu dini untuk menyerah sekarang." ujarku memaksa dengan harapan tuan Herold tak menyerah begitu saja.
"Tidak bisa, nak. Karena ayahmu.. Ayahmu sudah meninggal satu bulan yang lalu."
"Apa!" pekikku terkejut sekaligus tak terima dengan penjelasan tuan Herold. Bukan tak terima karena tak bisa mendengar suara Ayah, tapi aku tak terima jika aku harus gagal dan Tasya? Apa kami harus berpisah?
"Bagaimana bisa, tuan," keluhku frustasi.
"Bukan papah menjelek kan ayahmu, nak. Tapi, ayahmu adalah buronan polisi kasus pengedar obat-obatan terlarang, dia tak mau menyerahkan diri maka polisi dengan terpaksa menembaknya. Meski begitu mau sekarang atau nanti, seorang pengedar akan di jatuhi hukuman mati atau paling tidak penjara seumur hidup," jelas tuan Herold. Anehnya aku sama sekali tak merasakan kesedihan dengan apa yang terjadi pada Ayah. Aku hanya merasa ketakutan jika pada akhirnya aku dan Tasya harus berpisah. Tasya adalah nafasku, aku tak bisa membayangkan akan seperti apa hidupku jika tanpanya. Ya Tuhan, membayangkannya saja aku tak sanggup.
"Lalu apa yang harus Zayn lakukan, tuan?" keluhku lemah.
"Mumpung kau masih punya waktu, cobalah bicara pada keluarga Tasya. Mungkin mereka akan memkalumi keadaanmu," Benar juga apa yang di katakan tuan Herold, kenapa aku tak berfikir sampai sana?
"Baiklah, tuan. Kalau begitu saya pamit sekaligus izin tak masuk ke kantor untuk menyelesaikan urusan saya." pamitku namun tuan Herold menahan ku.
"Tunggu, nak. Kenapa kamu masih panggil saya dengan sebutan tuan? Sudah saya katakan, saya ini adalah papah mu!" Aku tersenyum malu karena bukan perkara mudah untuk memanggil orang besar sepertinya dengan sebutan Papah.
"Maafkan Zayn, tuan. Eh, maksudnya Papah, maaf Zayn belum terbiasa,"
"Maka kamu harus membiasakannya mulai sekarang!"
"Baiklah, akan Zayn usahakan. Tapi, untuk sekarang izinkan Zayn pergi yah, Pah,"
"Hati-hati dan semoga kau berhasil, nak."
Di dalam perjalanan, aku menyempatkan untuk menelfon Rizky, mengatakan jika hari ini aku tak akan pulang karena ada urusan jadi aku memintanya untuk mengantikan ku menjaga Tasya dan dia bersedia meski dengan bersungut-sungut.
****
Tak terasa setelah melewati perjalanan panjang tanpa istirahat, aku tiba di depan pagar sebuah rumah yang paling luas di desa ini. Yap, aku sudah sampai di depan rumah orang tua Tasya dan setelah mendapatkan izin dari nenek Nita, aku memarkirkan mobilku di garasinya.
Aku merasa cukup gerogi kala berhadapan langsung dengan Ayah Tasya apalagi dengan ekpresi dari nenek Nita yang tersenyum miring mendapatiku datang sendirian.
"Wah, siapa tamu jauh ini? Masih ada tiga hari loh, Ta. Apa kamu sudah menyerah?" ucap nenek Nita seolah tengah mengejek ku.
"Ada hal penting apa sampai kau datang jauh-jauh kemari, Ta?" sambung Ayah Tasya. Namun, aku tak lantas menjawab pertanyaan mereka karena ibu Tasya baru saja datang dan membawakan kami minuman dingin.
"Silahkan di minum, Ta," Ibu Tasya adalah satu-satunya anggota keluarga Tasya yang memperlakukan ku dengan baik.
"Jadi, saya tak akan basa-basi. Saya datang kemari untuk meminta restu pada paman, bibi, dan nenek bahwa saya ingin menjadikan Tasya istri saya." Tukasku begitu ibu Tasya duduk bergabung bersama kami.
"Apa kau sudah menemukan kedua orang tuamu? Jika belum, maka maaf saja kami tak akan merestui hubungan kalian. Karena kau tahu sendiri bukan Tasya sudah kami jodohkan," Sahut Nenek Nita.
"Ini bukan lagi soal siapa yang berhak dan tidak nya, Atta. Tapi, ini soal janji seorang laki-laki. Bukannya kau berjanji akan memenuhi permintaan kami? Lalu jika kau saja tak bisa menempati janji mu bagaimana bisa kau membuat anak ku bahagia setiap hari? Laki-laki itu yang di pegang adalah ucapannya!" sahut Ayah Tasya sedangkan ibu Tasya dari tadi hanya terdiam melihat kami.
"Aku tahu itu, paman. Tapi, aku tak bisa membawa ayahku kesini karena beliau sudah tenang di sisi-Nya. Lalu apa aku bisa membawa ayah sambung saja? Karena aku hanya memilikinya sekarang," ujarku mencoba menawar tapi langsung saja di sanggah oleh nenek Nita.
"Jika bukan orang tua biologis mu maka maaf saja, Atta. Anggap saja kalian tak berjodoh dan kembalikan Tasya dengan cara yang baik atau kami sendiri yang akan membawanya?"
****
Aku termenung mentap langit-langit kamar memikirkan ucapan dari nenek Nita. Melepaskannya dengan baik-baik atau mereka akan mengambil paksa? Ck! Tentu saja itu tak akan pernah kulakukan. Lihat saja, aku pasti bisa mempersuntingnya terlepas dari perjanjian sialan itu.
"Baru beberapa jam tak melihatmu aku sudah sangat rindu, sayang. Bagaimana bisa mereka memaksa untuk aku melepaskan mu," Gumamku masih dengan posisi terlentang di atas kasur. Saat ini aku sedang istirahat di salah satu kamar hotel.
Setelah lamaranku di tolak mentah-mentah, aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta, tapi karena perjalanan yang begitu jauh maka aku putuskan untuk istirahat sebentar di hotel yang ku temui.
Karena Tasya masih sedikit marah, setelah tiba di Jakarta nanti aku akan menemui Celin lebih dulu dan menanyainya tentang foto yang di terima Tasya.
Jika saja dia yang merencanakan ini semua, maka aku akan membuatnya menyesal!
.
.
.
.
.
Bersambung